بسم الله الرحمن الرحيم

Dermawan dan Murah hati

Alloh SWT berfirman:
ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة
Dan mereka (kaum Anshar) mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu) (QS Al-Hasyr 9)
    A’isyah berkata, bahwa RasuluLloh SAWW bersabda :
السخي قريب من الله تعالى قريب من الناس قريب من الجنة. والبخيل بعيد من الله, بعيد من الناس, بعيد من الجة, قريب من النار. والجاهل السخي أحب الى الله تعالى من العابد البخيل
    Orang yang murah hati dekat dengan Alloh, dekat dengan manusia, dekat dengan surga dan jauh dari neraka. Orang yang bakhil jauh dari Alloh, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang murah hati lebih disukai Alloh daripada orang ahli ibadah yang bakhil.
    Syaikh Abu Ali Ad Daqaq berkata, “Tiada perbedaan bagi lidah ilmu antara kedermawanan dan murah hati. Al-Haqq tidak disifati dengan kedermawanan karena ketiadaan pemberhentian. Hakikat kedermawanan adalah ketiadaan pemberian yang memberatkan hati.
    Murah hati bagi suatu kaum menempati tingkatan yang pertama kemudian tingkatan dermawan dan akhirnya tingkatan pengutamaan.
    Orang yang memberikan sesuatu kepada sebagian manusia dan menyisakan sebagian, maka dia adalah orang yang murah hati. Orang yang memberikan sebagian besar miliknya dan menyisakan sedikit untuk dirinya maka dia adalah orang yang dermawan. Orang yang siap menahan panas penderitaan demi untuk mengutamakan orang lain dengan penganugerahan total, maka dia adalah orang yang memiliki keutamaan.
    Syaikh Abu Ali Ad Daqaq menyampaikan ucapan Asma’ bin Kharijah, seorang tabi’in dari Kuffah, “Saya tidak suka memenuhi kehendak seseorang dari tuntutan hajatnya, karena jika dia mulia maka saya akan menjaga kehormatannya, dan jika dia hina, maka saya menjaga kehormatan saya”.
    Dikatakan bahwa Mauriq Al-Ajali sangat halus dalam memasukkan kelembutan kasih sayangnya pada kawan-kawannya. Suatu hari dia meletakkan seribu dirham pada kantong mereka.”Peganglah uang ini sampai saya kembali”.Pesannya. Dia pergi dan tidak lama kemudian ia mengirim seorang untuk menyampaikan pesan, “Engkau halal memakai uang itu”.
Seorang pria dari Manbaj (suatu wilayah dibawah kekuasaan pemerintah Syiria) berjumpa dengan seorang pria dari penduduk Madinah.
“Dari penduduk mana lelaki itu ?” Tanya dia
“Dari Madinah”.
“Telah berkunjung kepada kami seorang pria dari kaummu yang dikenal dengan panggilan Hakim bin Muthalib. Dia memberi kekayaan kepada kami”.
“Bagaimana mungkin, saya tidak pernah datang kepadamu melainkan hanya dengan pakaian jubah sufi”.
“Dia tidak memberi kekayaan kepada kami dengan harta, tetapi mengajari kami kemuliaan, sehingga masyarakat kami kembali saling berbuat memberi kekayaan”.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq bercerita, “Ketika seorang pelayan Khalil menuduh kaum sufi menjalankan ajaran sesat, maka khalifah memerintahkan algojo untuk menangkap dan menghukum mereka dengan hukuman pancung. Sementara Imam Al-Junaid selamat dari tuduhan tersebut karena tertutupi dengan ajaran fikih. Beliau mengajarkan faham mazhab Abu Tsaur, sedangkan yang lainnya seperti Asy-Syahham, An-Nuuri dan beberapa sufi yang lain telah ditangkap dan dibawa ke hadapan algojo. Ketika eksekusi hendak dijalankan, An-Nuuri minta untuk didahulukan. Seorang pemimpin algojo menjadi heran.
“Sadarkah engkau, ketempat mana engkau minta disegerakan ?” tanyanya kemudian.
“Ya”
“Apa yang membuatmu ingin didahulukan ?”
“Saya ingin mengutamakan kehidupan sesaat kepada kawan-kawanku”.An-Nuuri berkata sambiil memasrahkan lehernya untuk segera dipancung.
Algojo itu bingung. Dia tidak bisa mengambil keputusan dan untuk melakukan eksekusi sebagimana yang diperintahkan. Akhlak lelaki yang hendak dipancungnya begitu menawan hatinya. Dia berusaha menyembunyikan berita ini jangan sampai terdengar oleh khalifah, karena itu untuk mengetahui keadan sebenarnya para tawanan itu, maka dia mengembalikan mereka kepada seorang hakim. Hakim yang ditunjuk untuk menangani kasus itupun datang, menemui mereka. Dia mendekati Ali Abu Hasan An-Nuuri lalau menanyakan beberapa masalah fikih dan dijawabnya dengan benar.
“Sesungguhnya Alloh Adalah Zat Yang Disembah. Jika mereka (kaum sufi) menegakkan, maka mereka menegakkan dengan Alloh, jika mereka berbicara, mereka berbicara dengan Alloh”. Jelas An-nuuri. Dia kemudian berdiri dan berjalan sambil bibirnya melantunkan syair-syair ketuhanan sehingga mengucurkan airmata sang hakim. Maka sang hakim itu segera mengirim surat kepada khalifah dan mengatakan, “Jika mereka orang-orang (orang sufi) itu kafir, maka apakah akan ada di permukaan bumi ini seorang yang muslim ?”
Dikatakan, bahwa Ali bin Fudhail jika jika membeli sesuatu, dia melakukannya dari serambi pasar. Seseorang menyarankannya, “Kalau tuan masuk pasar, tentu akan diberi harga murah.” Dia menjawab, “Mereka dekat dengan saya karena mengharapkan manfat dari saya”. Diceritakan, ada seseorang diutus untuk mendatangi sekumpulan pelayan. Lelaki yang mengutusnya itu sedang duduk bersama kawan-kawannya. Dia mengatakan, “Sangat buruk jika saya menjadikan pelayan itu hanya untuk saya, sementara kalian hadir. Saya tidak senang mengkhususkan pelayanan hanya pada seseorang. Kalian semua punya hak dan penghormatan.” Orang-orang yang hadir berjumlah delapan puluh orang, dan setiap seorang didampingi seorang pelayan.
Ubaidilah bin Abi Bakrah pernah kehausan di dalam suatu perjalanan. Dia meminta minum pada seorang wanita yang sedang tinggal di rumahnya. Wanita itupun megeluarkan minuman lalu berjalan kearah pintu dan berdiri di baliknya.
“Menyingkirlah dan biarkan pelayanmu yang mengambilnya,” pintanya dengan halus. “Saya adalah seorang wanita arab yang ditinggal mati pelayan saya dalam beberapa hari.”
Ubaidilah menuruti permintaan wanita itu. Dia pulang dan tidak lama kemudian pelayan UbaidiLlah datang sambil menyodorkan minuman yang diberikan wanita tadi.
“berikanlah 10.000 dirham ini kepadanya”. Pesan Ubaidilah kepada pelayannya setelah meminum air pemberiannya.
“SubhanaLloh, engkau menghina saya ?” Wanita itu marah yang ditujukan kepada Ubaidilah.
“Berikan kepadanya uang 20.000 dirham ini”. Pesannya lagi.
“Saya hanya mohon keselamatan pada Alloh.”
“Wahai pelayan, bawalah uang 30.000 dirham ini kepadanya.” Kata Ubaidilah.
Sebelum pelayan Ubaidilah tiba di pintu, wanita itu telah menutupnya. Dari dalam dia mengumpat, “Celakalah kamu !”
Akan tetapi pelayan itu tidak kehilangan akal. Dia meletakkan uang itu di depan pintu dan ditinggalnya pergi. Wanita itu mengambil dan menyimpannya. Dia tidak pernah menyentuhnya sampai banyak orang yang mengambilnya.
Diaktakan bahwa kedermawanan adalah pemenuhan bisikan hati yang pertama.
Dikatakan pada Qais bin Sa’ad bin Ubadah.” Apakah engkau pernah melihat seseorang yang lebih murah hati daripada anda ?”
“Ya, ketika saya turun ke desa,” Jawabnya. “Saya bertemu pada seorang wanita, lalu suaminya datang. Isteri itu berkata kepada suaminya, “Engkau kedatangan seorang tamu.”
Maka lelaki itu keluar mengambil seekor unta dan menyembelihnya. Esok hari, datang tamu yang lain, dan keduanya melayaninya sebagaimana hari kemarin. Saya heran melihat sikapnya yang aneh itu. ‘Tuan’, sapa saya kepadanya. ‘Saya belum makan apa yang tuan sembelih kemarin melainkan hanya sedikit. Saya pikir tuan tak perlu memotong unta lagi.’ Dia menjawab, ‘Saya tidak akan memberi makan tamu-tamu saya dengan makanan yang sudah menginap satu malam.’ Saya tinggal di rumahnya selama dua atau tiga hari, sementara langit masih mencurahkan hujan dan dia tetap memperlakukan tamu-tamnya seperti itu. Ketika saya hendak berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, saya meletakkan uang 100 dinar di rumahnya tanpa sepengetahuannya. ‘Terimakasih dan maafkan segala kesalahan saya. Saya hendak melanjutkan perjalanan,’ Kata saya kepada tuan rumah, kemudian sayapun berangkat. Ketika matahari telah naik setingi beberapa tombak, tiba-tiab saya dikejutkan oleh suara lelaki yang berteriak-teriak di belakang saya. ‘Berhentilah hai musafir hina ! Engkau telah memberiku harga pelayananku pada tamu-tamuku !’ Dia berkata dengan nada sengit. Dia tetap mengejarku sampai kudanya sejajar denganku dan kemudian menghadang di depanku. ‘Ambil uang itu’. Katanya memerintah. ‘Jika tidak, maka engkau akan saya tikam dengan pisau ini’.
Sayapun mengambil dan berpaling melanjutkan perjalanan sambil mendendangkan syair :
Jika saya mengambil pahala
Yang telah saya berikan padanya
Maka cukup dengan demikian
Bagi orang yang memperkeruh
Ahmad bin Atha Ar-Ruzabari masuk rumah salah seorang sahabatnya. Namun dia tidak menemukan tuan rumah. Penghuninya pergi sementara pintunya tertutup. Dai berfikir, tuan rumah ini mengaku orang sufi, tetapi mengapa pintu rumahnya tertutup.
“dobrak dan pecahkan pintunya.” Perintahnya.
Kemudian dia bersama muridnya mengumpulkan semua yang ada di dalam rumah , kemudian membawanya ke pasar dan menjualnya. Lalu dia dan muridnya kembali ke rumah itu dan tinggal di dalam rumah tersebut. Ketika pemilik rumah tiba, dia tidak berkata apa-apa selain diam, kemudian menyusul isterinya. Dai masuk rumah dengan mengenakan baju yang bagus. Baju itu kemudian dilepaskan sambil berkata, “wahai orang-orang yang tinggal di dalam rumah, baju ini juga termasuk harta benda yang harus disingkirkan, maka juallah”.
“Mengapa engkau memberatkan dirimu dengan pilihanmu ini, “tegur suaminya.
“Diamlah, seperti inilah, syaikh ini telah menyadarkan kita dan menghukum kita. Masih ada milik kita yang harus kita hinakan.”
Suami isteri itu diam menekuri hidupnya.
Bisyr bin Harits mengatakan, “Memandang pada orang yang bakhil dapat mengeraskan hati.” Dikatakan ketika Qais bin Sa’id bin Ubadah sakit, maka teman-temannya menangguhkan untuk hadir. Mereka sengaja memperlambat kunjungan. Qais menanyakan tentang mereka lalu dijelaskan, “Mereka merasa malu tentang hutang mereka yang belum dibayarkan kepadamu”.
“Semoga Alloh menghinakan harta yang mencegah kawanku mengunjungi saya”.
Kemudian Sa’id memanggil seseorang untuk mengumumkan pesannya yang berbunyi : Barang siapa mepunyai tanggungan utang kepada Qais, maka dia telah menghalalkannya. Semenjak pengumuman itu, banyak pengunjung yang datang.
Dikatakan pada AbduLlah bin Ja’far, “Engkau memberikan yang banyak jika diminta, dan bakhil dengan yang sedikit jika dicegah”.
AbduLlah kemudian meluruskannya, “Sesungghnya saya memberikan hartaku dan bakhil dengan akalku”.
Dikisahkan bahwa AbduLlah bin Ja’far keluar dan menuju ke pekarangan. Dia turun dari kudanya lalu memasuki kebun seorang tuan tanah. Di dalam kebun itu terdapat seorang budak hitam yang usianya masih remaja. Budak itu bekerja dengan giat seolah-olah tidak mengenal lelah. Ketika waktu makan tiba, seorang suruhan tuannya membawakan makanan kepadanya lalu pulang. Belum sampai ia menyentuh makanan, ada seekor anjing liar masuk kebun dan mendekati budak itu. Budak itu memandangnya sejenak lalu melemparkan makanan itu kepada anjing dan anjing pun segera melahapnya. Dai melempar lagi dan terus melempar hingga jatah makannya habis dimakan anjing. AbduLlah memperhatikan dengan seksama, kemudian dia mendekati budak itu.
“Wahai anak muda, berapa kali sehari engkau dikirimi makanan oleh tuanmu ?” tanya AbduLlah.
“Apa yang ingin engkau lihat ?”
“Mengapa engkau mengutamakan anjing ini ?”
“Ini memang bukan bumi anjing, akan tetapi dia datang dari tempat yang sangat jauh. Dai tentu sangat lapar,dan saya tidak suka menolaknya”.
“Apakah engkau melakukannya setiap hari ?”
“Saya kosongkan perutku dan melipatnya pada hari ini”. Budak itu bermaksud mengatakan bahwa ia sangat lapar.
“Betapa dermawannya budak ini, dia lebih dermawan dari pada saya”. Kata AbduLlah dalam hati. Dia kemudian pergi menuju majikan budak itu, membeli kebun beserta budaknya dan peralatan di dalamnya, lalu memerdekakan budak tersebut sekaligus memberikan kebun itu kepadanya.
Diceritakan ada seorang pria mendatangi kawannya lalu megetuk pintunya dan tuan rumah pun keluar seraya bertanya, “Untuk apa engkau mendatangiku ?”
“Untuk 400 dirham yang engkau hutangkan kepadaku”.
Tuan rumahpun kemudian masuk, mengambil uang sejumlah yang dibutuhkan tamunya, dan memberikan kepadanya. Setelah tamunya pulang, dai menangis. Isterinya heran melihat sikap suaminya.
“Apakah engkau merasa keberatan dengan memenuhi permintaan tamu itu ” tanya isterinya.
“Saya menangis sampai tidak mengetahui keadaannya sehingga dia datang untuk mengutarakan hajatnya kepada saya”.
Mutarrif bin Asy-Syakhir berkata, “Jika salah seorang dari kalian membutuhkan sesuatu kepada saya, maka sampaikanlah secara tertulis. Karena saya tidak suka melihat hinanya kebutuhan di wajahnya.”
AbduLlah bin Abbas adalah seorang ulama sufi terkenal dizamannya. Seseorang bermaksud menjebaknya dalam permainan kotornya, maka orang itu mendatangi tokoh-tokoh masyarakat sambil meninggalkan pesan, “AbduLlah bin Abbas mengundang kalian pada acara jamuan makan besok pagi.” Orang-orang pun akhirnya datang dan memenuhi ruangan AbduLlah.
“Ada apa ini.”? Tanya AbduLlah heran melihat para tamu yang tidak diundang ikut memenuhi rumahnya.
Kemudian seseorang dari mereka menceritakan, tentang undangan yang disebarkan kemarin. AbduLlah diam. Dia tidak berkata apa-apa selain segera memerintahkan para pelayannya untuk pergi membeli buah-buahan, roti, daging, dan meminta mereka untuk memasaknya dengan baik. Setelah acara selesai, dia bertanya kepada wakil para undangan,”Apakah acara ini harus kami adakan setiap hari ?”
“Ya” jawab mereka.
“Kalau begitu datanglah kalian tiap hari mulai besok.” Pesannya
Ustadz Sahal Ash-Sha’luki ketika datang berwudhu di halaman rumahnya, ada seorang pengemis datang meminta sesuatu dan dia tidak segera mengabulkan permintaannya.
“Sabarlah sebentar sampai saya menyelesaikan wudhu.” Katanya pelan.
Pengemis itupun sabar menunggu.
Ambil bejana dan keluarlah,” kata ustadz.
Dia mengambil dan membawanya pergi. Setelah tahu bahwa pengemis itu telah jauh, Abu Sahal berteriak, “Seseorang telah masuk halaman rumah dan mengambil bejana tempat wudhu.”Orang-orang yang mendengar segera mencari orang yang dituduh mencuri bejana dan mereka tidak menemukannya. Abu Sahal melakukan demikian karena tahu bahwa penghuni rumah seringkali memakinya akibat sikapnya yang berlebihan dalam memberi.
Ustadz Abu Sahal memberikan jubah musim dinginnya kepada seseorang. Kemudian dia pergi mengajar dengan memakai jubah wanita karena memang tidak ada jubah lain selain yang dipakainya. Tidak beberapa lama, datanglah beberapa utusan kenegaran dari persia yang diantara mereka terdapat beberapa tokoh ulama dari berbagai kalangan. Diantra mereka adalah ulama fikih, ulama ahli teologi, dan ulama ahli bahasa. Abul Hasan, si pemmpin rombongan menyodorkan surat yang isinya meminta ustadz untuk menghadap ulama pemerintah. Ustadz kemudian masuk ke dalam lalu kemudian keluar dengan memakai baju besi yang melapisi jubah wanitanya lalu berangkat. Begitu tiba di tempat tujuan, sang imam menyindir,”Dia sebenarnya sengaja menganggap enteng kami, seorang imam negara, dengan memakai baju besi yang dilapsisi jubah wanita.” Kemudian diskusi kenegaraan pun dimulai. Mereka membahas berbagai masalah hukum. Masing-masing ulama saling melemparkan pendapat dengan argumen yang berbeda. Tetapi, tidak satupun pendapat yang bisa menandingi pendapat sang ustadz. Pendapat ustaz mengungguli semua disiplin ilmu yang dikuasai para ulama yang hadir dalam diskusi tersebut.
Syaikh AbduRrahman As-Sulami berkata, “Ustaz Abu Sahal tidak pernah memberikan sesuatu kepada seseorang dengan tangannya selain melemparkannya terlebih dahulu ke tanah supaya seseorang yang membutuhkannya mengambilnya sendiri. Ketika ditanya dia menjawab,”Dunia lebih sedikit menkhawatirkan saya daripada yang saya lihat pada keagungan tangan di atas daripada tangan di bawah. RasuluLloh SAWW bersabda :
اليد العليا خير من اليد السفلى
Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Abu Murtsid adalah seorang dermawan yang mulia, pernah mendapat pujian dari seorang penyair. Ketika pujian itu diperdengarkan di hadapannya, dia berkata,” Saya tidak mempunyai sesuatu yang dapat saya berikan kepada tuan. Akan tetapi tuan bisa mengajukan saya di hadapan hakim dengan tuduhan mencuri uang tuan sebesar 100.000 dirham. Saya akan mengakui tuduhan itu. Dengan demikian hakim akan memenjarakan saya dan tentunya keluarga saya tidak membiarkan saya dipenjara. Mereka akan menebus saya dengan memberikan uang ganti rugi kepada tuan,”
Penyair itu benar-benar melakukan saran Abu Murtsid. Dia akhirnya dipenjara, kemudian dikeluarkan setelah keluarganya memberikan ganti rugi kepada penyair. Abu Murtsid selamat dair penjara dan si penyair mendapat uang 100.000 dirham.
Diceritakan bahwa seseorang meminta sesuatu kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA, lalu beliau memberinya 50.000 dirham dan 500 dinar sambil memberikan pesan,”Bawalah seorang pelayan yang akan meembawakan barang-barang ini untuk anda”. Kemudian dia datang dengan ditemani seorang pelayan dan Hasan memberikan jubbah hijaunya kepada pelayan sambil berkata, “Untuk ongkos pelayan biar saya yang menanggung”.
Dikisahkan tentang seorang wanita yang meminta semangkok madu kepada Al-Laits bin Sa’ad. Lalu dikirimkan kepadanya sekantong besar yang penuh dengan madu. Pelayannya mengingatkan, “Dia hanya meminta semangkok madu.”
“Benar, dia meminta sebatas kebutuhannya, dan saya memberi sebatas kepuasan saya.”
Ada seorang ulama melakukan shalat di masjid Asy’ats di Kufah. Dia memohon kepada Alloh supaya diberi kemampuan membayar hutang. Setelah salam, dia menemukan sepasang sandal dan sepotong baju baru di depannya.
“Apa ini ?” tanyanya kepada seseorang.
“Al-Asy’ats baru tiba dari Makkah dan beliau memerintahkan kepada beberapa muridnya untuk membagikan barang ini kepada semua jama’ah masjidnya.”
“Tetapi saya datang untuk memohon kepada Alloh supaya dibebaskan dari hutang, dan saya bukan termasuk jama’ahnya.”
“Sedekah ini untuk semua yang hadir.” Jelas mereka.
Diceritakan bahwa ketika kematian Imam Syafi’i hampir tiba, dia berpesan, “Datangkanlah seseorang yang akan memandikan jenasah saya.” Pria yang dimaksud adalah orang asing. Lalu disampaikan kepadanya pesan sang imam. Lelaki itu tidak mengerti maksudnya, dan diminta untuk mengingat sesuatu, dan akhirnya menemukan bahwa dia mempunyai hutang 70.000 dirham. Imam Syafi’i meminta pelayannya untuk memberikan uang sejumlah itu kepada pria tersebut. “Inilah mandi jenazah saya”. Kata sang imam.
Diceritakkan juga ketika Imam Syafi’i tiba di Makkah dari kota San’a, dia membawa uang 10.000 dinar.
“Apakah tuan hendak membeli budak ?” taya seseorang
Dia langsung merobohkan kemahnya dan keluar ke pinggiran kota Makkah. Uang yang dibawanya dituangkannya ke tanah dan kepada seriap orang yang datang dia memberinya segenggam uang. Ketika waktu zuhur tiba, dia berdiri lalu menepuk bajunya dan tidak satupun uang yang tersisa di dalamnya.
diceritakan, pada saat hari lebaran, Sary As-Saqthi keluar rumah. Kemudian seorang tokoh masyarakat menerima kunjungannya. Dia menyambutnya dengan hormat, tetapi As-Saqhty membalasnya dengan biasa. Bahkan dia membalas salamnya kurang lengkap.
“Dia seorang pembesar.”Seseorang mencoba mengingatkan.
“Saya tahu”.
“Tetapi mengapa ?”
Lalu dijawab, “Seorang perawi mengatakan,’ jika dua orang islam bertemu maka 100 rahmat dibagi diantara keduanya. Yang 90 bagian bagi untuk mereka yang lebih murah senyum, dan saya ingin dia memperoleh yang lebih banyak.'”
Dikisahkan bahwa khalifah Ali bin Abi Thalib pada suatu hari menangis, lalu ditanyakan kapadanya,”Apakah yang membuat tuan menangis ?”
“Semenjak seminggu saya tidak kedatangan tamu. Saya takut Aloh menghinakan saya”. Jawabnya
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia berkata, “Zakat rumah adalah penggunaannya untuk menerima tamu”.
Mengenai ayat yang berbunyi :
هَلْ أَتَاكْ حَدِيْثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيْمَ الْمُكْرَمِيْنَ
Sudahkah sampai kepadamu cerita tentang tamu Ibrahim (para malaikat) yang dimuliakan ? (QS Adz-Dzariyat 24)
Menurut seorang mufasir pengertiannya adalah pelayanannya kepada mereka dengan dirinya sendiri.
Ibrahim bin Al-Junaid berkata, “Empat hal yang tidak boleh dipandang rendah meski dia seorang amir atau penguasa : berdiri dari majlis untuk menyambut orang tua, melayani tamu, melayani guru yang telah mengajarinya, dan bertanya tentang sesuatu yang belum diketahui.”
Alloh SWT berfirman :
ليس عليكم جناح أنتأكلواجميْعاأوأشتاتاً
Tidak ada halangan bagimu untuk makan bersama mereka atau sendirian.
Menurut Ibnu abbas, RA ayat tersebut mengandung pengertian ketidak bolehan seseoarng makan dengan sendirian, lalu mereka diberi keringanan.
Diceritakan bahwa AbduLlah bin Amir bin Kariz menjamu seorang pria dengan jamuan terbaik. Ketika tamu itu hendak melanjutkan perjalanan, para pelayannya tidak membebaskannya. Lalu hal itu dilaporkan kepadanya, dan AbduLlah menjawab, “Sesungguhnya mereka bermaksud menahannya untuk tidak melanjutkan perjalanan dari kami”.
AbduLlah bin Bakuwaih mendengarkan syair Al-Muttanabi berkaitan dengan hal di atas :
Jika engkau pergi dari kami
Sungguh mereka kuasa
Untuk tidak berpisah dengan mereka
Maka pergi adalah lebih penting.
AbduLlah bin Mubarak berkata, “bermurah hati dari apa yang ada di tangan manusia (tidak tertarik atau iri) adalah lebih utama daripada bermurah hati dengan memberi.
Seorang sufi berkata, “saya masuk rumah Bisyr bin Harits pada hari yang sangat dingin. Dia melepaskan pakaiannya sehingga tubuhnya tampak menggigil kedinginan. “Hai Abu Nashr” sapa saya.” Orang-orang pada musim dingin memakai pakaian rangkap tetapi engkau malah menguranginya.”
Dia menjawab, “Saya mengingat orang-orang fakir yang tidak seperti mereka, sementara saya tidak memiliki sesuatu untuk diberikan kepada mereka selain dengan seperti ini. Karena itu saya berusaha memenuhi hak mereka dengan tebusan diri saya yang saya biarkan kedinginan”.

2 November 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 3 Komentar

Akhlak

Alloh SWT berfirman :
وانك لعللى خلق عظيم
    Dan sesungguhnya Engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qalam 4)
    Dari Anas bin Malik diriwayatkan tentang makna “yang paling baik akhlaknya” ditanyakan kepada Nabi SAWW, “Ya rasululLoh, siapakah orang mukmin yang paling utama imannya ?”
    Jawab beliau, “yang paling baik akhlaknya”.
    Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Akhlak yang baik adalah perjalanan hamba yang paling utama. Dengan akhlak yang baik maka cahaya sikap kesatrianya akan Nampak. Manusia yang tertutup (mastur) dari makhluk akan tersingkap akhlaknya”.
    Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Sesungguhnya Alloh mengkhususkan Nabi-Nya dengan apa-apa yang memang hanya dihususkan untuknya. Dia tidak memujinya dengan sesuatu dari sifat-sifatnya seperti yang dipujikan oleh makhluk-Nya. Alloh menegaskan fainnaka la’alla khuluqin adim.
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Sedangkan menurut tafsiran Muhammad Al-Washiti, ayat tersebut bermakna Tuhan mensifati Nabi Muhammad SAWW dengan akhlak yang agung karena beliau adalah manusia terbaik diantara penduduk alam dan cukup dengan pujian Alloh. Dia juga mengatakan, bahwa akhlak yang agung adalah ketiadaan orang yang membantah dan dibantah karena pengetahuannya yang begitu mendalam mengenai Alloh. Makna akhlak yang mulia menurut Husin bin Mansur adalah ketiadaan buih (kesia-siaan) bekas makhluk dalam diri seseorang setelah pencapaian penglihatan pada Al Haqq. Sedangkan menurut Ahmad bin Isa Al Kharaz adalah ketiadaan keinginan atau cita-cita selain yang ditujukan kepada Alloh.
    Menurut Muhammad Al-Kattani akhlak tercermin dalam sikap sufi. Artinya tasawuf adalah akhlak yang menjadi bekal dalam kebersamaanmu dengan Alloh.
    Fudhail bin Iyadh berkata, “Seandainya seorang hamba memperbaiki semua kebaikannya sementara dia mempunyai seekor ayam lalu memperlakukannya dengan tidak baik, maka dia bukanlah seorang yang berakhlak.
    Dikatakan bahwa Ibnu Umar RA jika melihat salah seorang budaknya yang memperbaiki salatnya maka dia memerdekakannya. Akhlaknya yang demikian itu sempat diketahui oleh budak-budak yang lain, maka mereka memperbaiki salatnya dengan menampak-nampakannya di hadapan Ibnu Umar dan Ibnu Umar memerdekakan mereka. Seseorang memprotesnya, “mereka shalat dengan ria” lalu dijawab, barang siapa menipuku didalam Alloh, hakikatnya dia sesungguhnya menipu saya karena Alloh”.
    Harits Al-Muhasibi berkata, “Kami mencari tiga hal yang hilang yaitu eloknya wajah bersama pemeliharaan kesucian diri, bagusnya ucapan bersama amanat, dan bagusnya persaudaraan bersama pemenuhan”. AbduLlah bin Muhammad Ar-Razi berkata, “Budi pekerti adalah sikap yang menganggap kecil pada apa yang berasal darimu, dan menganggap besar dari apa yang berasal dari selain dirimu”.
    Ditanyakan pada Ahnaf bin Qais, “Dari siapa Tuan belajar akhlak ?”
    “Dari Qais bin Ashim Al-Munqiry”.
    “Sampai sejauh mana akhlaknya ?”
    “Ketika kami duduk di rumahnya, tiba-tiba seorang budak wanita datang dengan mebawa besi panas, sebagai alat pemanggang daging. Benda itu lepas dari tangannya dan jatuh menimpa anak laki-laki Qais sehingga menyebabkan kematian-nya. Budak itu sangat ketakutan, tetapi Qais justru menghiburnya dengan megatakan, “Jangan takut, engkau bebas karena Alloh”.
Syah Al-Kirmani berkata, “Tanda akhlak yang baik diantaranya menahan penderitaan dan menangggung siksaan.” RasuluLloh SAWW bersabda, “
انكم لن تسعواالناس باموالكم فسعواهم ببسط الوجه وحسن الخلق
sesungguhnya kamu tidak akan bisa memuaskan manusia dengan hartamu, puaskanlah mereka dengan kecerahan wajah dan bagusnya budi pekerti”.
Ditanyakan kepada Dzunun Al-Mishri, “Siapakah yang paling menggelisahkan manusia ?”
“Yang paling buruk akhlaknya”.
Wahab mengatakan bahwa tidaklah seseorang yang menjalankan akhlak yang baik selama 40 hari melainkan Alloh SWT akan menjadikan akhlak itu sebagai karakternya.
Firman Alloh SWT berfirm :
وثيابك فطهر
Dan pakaianmu maka sucikanlah”.
    Dikatakan bahwa ada seorang dari jama’ah haji memiliki seekor kambing. Dia melihatnya sedang terpancang di atas tiga tombak.
    “Siapa yang melakukan ini ?”
    “Saya,” Jawab seorang anak budak.
    “Kenapa engkau lakukan ini ?”
    “Untuk menjagamu “. Kata budak itu.
    “Tidak, bahkan untuk menutupi perkaramu. Pergi dan engkau kini bebas.” Jawabnya.
    Ditanyakan kepada Ibrahim bin Adham,”Apakah egkau pernah bahagia di dunia ?”
    “Ya..dua kali”.
    “Apa saja itu ?”
    “Pertama, ketika saya sedang duduk, datang seseorang mengencingi saya. Kedua, ketika saya duduk, datang seseorang dan langsung menampar saya”.
    Adalah Uwais Al-Qarni apabila terlihat oleh anak-anak, maka mereka akan melempirnya dengan batu.
    “Anak-anak, “Sapanya lembut.
    “Jika kalian hendak melampariku dengan batu, saya mohon lemparilah dengan batu-batu yang kecil, agar lutuku tidak pecah sehingga menghalangiku dari mengerjakan shalat”.
    Ada seorang lelaki bengis mencaci maki Ahnaf bin Qais. Lelaki itu terus mengikutinya sambil mengeluarkan kata-kata kotor sampai dia malu sendiri dan berhenti dari mencaci maki.
    “Wahai kawan ,” Sapa Ahnaf.
    “Jika masih tersisa sesuatu di hatimu, maka muntahkanlah sekarang saja agar para ulama fikih tidak mendengarmu sehingga mereka akan mengadilimu”.
    Ditanyakan pada Hatim Al-Asham,” Apakah tiap orang memiliki tanggungan ?”
    “Ya, kecuali dirinya,” jawabnya.
    Dikisahkan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib RA memanggil seorang budak dan budak itu tidak menyahutinya. Beliau mengulanginya sampai tiga kali dan tetap tidak mendapat respon. Khalifah melangkah mendekat dan melihat budak itu sedang berbaring enak-enakan.
    “Apakah kamu tidak mendengar wahai bujang ?”
    “Mendengar,” Jawabnya ringan.
    “Apa yang membuatmu tidak menyahut ?”
    “Saya merasa aman dari ancaman siksamu, karena itu saya bermalas-malasan.”
    “Pergilah, engkau bebas karena Alloh”. Jawab Khalifah Ali RA.
    Diriwayatkan bahwa Ma’ruf Al Kharqi turun ke sungai Daljah untuk mengambil wudhu. Dia letakkan mushaf dan jubah luarnya, tiba-tiba datanglah seorang wanita dan mengambil dua barang itu. Ma’ruf melihat lalu membuntutinya.
    “Wahai saudariku, “sapanya. “Saya adalah Ma’ruf AL-Kharqi. Anda jangan takut sebab anda tidak bersalah. Apakah engkau memiliki anak yang bisa membaca ?”
    “Tidak.”
    “Sudah menikah ?”
    “Belum”
    “Kalau begitu, kembalikan mushaf saya dan ambilah baju itu”.
    Sekelompok pencuri memasuki rumah Syaikh Abu AbduRrahman As-Sulami dengan terang-terangan. Mereka berlagak seolah – olah tidak merasa takut. Mereka mengambil semua apa yang dijumpainya. Abu AbduRrahman mengetahuinya, namun membiarkan mereka pergi dengan begitu saja. Pada hari berikutnya dia keluar dan menemukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus pencurian.
    “Ketika saya melewati pasar,”jelasnya..,”saya melihat jubah saya pada seseorang yang sedang menawarkannya. Saya segera berpaling dan tidak menoleh kepadanya.”
    Ahmad Al-Jariri berkata, “Saya kembali dari Makkah dan segera mendahului Al-Junaid agar dai tidak menyulitkan saya (melayaniku sehingga membuatku sibuk membalasnya). Saya ucapkan salam kepadanya kemudian meninggalkannya dan terus beranjak pulang. Ketika saya shalat subuh di masjid, tiba-tiba dia berada di shaf belakang saya. Selesai shalat, saya berkata kepadanya, “Kemarin saya mendahuluimu supaya engkau tidak menyulitkan saya”.
    Dia menjawab, “Itu adalah keutamaanmu dan ini adalah hakmu”.
    Abu Hafsh pernah ditanya mengenai akhlak lalu dijawab, “Akhlak adalah apa yang dipilihkan Alloh SWT untuk Nabi-Nya sebagaimana yang tertulis di dalam firman-Nya :
خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهاين
    “Jadilah pemaaf, dan suruhlah orang berbuat kebajikan, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”.
    Disamping itu, banyak pendapat yang memberikan makna akhlak dalam beberapa pengertian. Ada yang mengartikan sebagai keberadaan seseorang yang dekat dengan manusia dan disertai keterasingannya dengan hal-hal yang berlaku di tengah-tengah kehidupan mereka. Ada juga yang mengartikan sebagai penerimaan sesuatu yang mendatangi dari kesia-siaan makhluk dan kepastian Al-Haqq, tanpa merasa jemu dan gelisah.
    Abu Dzar Al-Ghifari datang ke kolam hendak mengambil air untuk air minum untanya. Akan tetapi sebagian pengambil air yang lain menyerobotnya dengan kasar. Abu Dzar hanya bisa memandang , lalu duduk kemudian berbaring. Seseorang yang melihatnya heran dan bertanya, kemudian dijawab, “Sesungguhnya RasuluLloh SAWW memerintahkan kita jika seseorang marah, maka hendaknya ia duduk. Jika dengan duduk tidak juga hilang, maka hendaklah ia berbaring”.
    Disebutkan di dalam kitab injil, “Hamba-Ku, ingatlah Aku ketika engkau marah, maka Aku akan mengingatmu ketika Aku marah”.
    Luqman bertanya kepada anaknya,” Tidak akan diketahui tiga hal kecuali dalam tiga hal : Kasihan ketika marah, keberanian ketika dalam perang, persaudaraan ketika dibutuhkan”. Nabi Musa AS pernah mengadu kepada Alloh SWT, “Tuhan saya memohon kepada Engkau untuk mengatakan kepadaku apa yang tidak ada pada diriku”. Alloh mewahyukan kepadanya, “Engkau tidak melakukan demikian untuk-Ku, maka bagaimana Saya memperlakukanmu ?”
    Yahya bin Ziad Al-Haritsi memilki seorang pelayan yang sangat buruk akhlaknya. Tetangganya heran lalu menanyakan kepadanya, “Mengapa engkau pertahankan pelayan itu,”
    “Supaya saya bisa mengajarinya sifat asih,” Jawabnya.
    Firman Alloh SWT :
    واصبغ عليكم نعمه ظاهراوباطنا
    “dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya yang lahir maupun yang bathin”.
    Dalam ayat ini terkandung pengertian bahwa nikmat lahir adalah kelurusan akhlak, sedangkan nikmat bathin adalah kejernihan budi pekerti. Al Fudhail bin Iyadh mengatakan, “berkawan dengan orang durhaka yang berakhlak baik lebih saya sukai daripada berkawan dengan orang ahli ibadah yang berakhlak buruk”. Dikatakan bahwa akhlak yang baik adalah kemampuan memikul sesuatu yang dibenci dengan menggantinya dengan kebaikan yang ia tebarkan.
    Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin Adham keluar melewati segerombolan tentara. Seseorang dari mereka menemuinya dan berkata, “Dimana tempat hiburan ?” Ibrahim menunjuk ke arah kuburan. Wajah tentara itu memerah. Dia tersinggung dan langsung memukul kepada Ibrahim. Setelah dia pergi, seseorang memberitahukan tentara itu bahwa yang dipukulnya adalah Ibrahim bin Adham seorang ulama sufi yang zuhud yang berasal dari khurasan. Tentara itu terkejut dan ia menyesali perbuatannya dan langsung pergi menyusul Ibrahim.
    “Tuan maafkanlah saya, saya menyesal telah memukul tuan”
    “Ketika engkau memukul saya.” Kata Ibrahim, “Saya memohonkan kepada Alloh surga untukmu”.
    “Mengapa ?”
    “Saya tahu bahwa saya memasukkan perangkap terhadapmu. Saya tidak ingin mendapatkan bagianku yang baik darimu dan bagianmu yang buruk dariku”.
    Diceritakan bahwa Said bin Ismail Al-Hirri diundang seorang laki-laki untuk jamuan makan. Ketika sampai di depan pintu rumahnya, lelaki itu berkata, “Wahai Ustaz, bukan sekarang waktunya. Saya menyesal tidak bisa mengabarimu terlebih dahulu”.
    Abu Said pulang, dan sebentar kemudian kembali lagi. Ketika tiba didepan pintu, tuan rumah buru-buru keluar sambil menyapa,”Maaf Ustaz, undangan belum dimulai. Saya menyesal belum sempat mengabari ustaz. Datanglah sejam kemudian”.
    Abu Said berdiri mohon pamit kemudian pergi. Pada saat yang dijanjjikan tiba, dia berangkat dan ketika sampai di depan pintu, ia memperoleh jawaban yang sama sepeti semula. Dia pulang, datang lagi dan kembali pulang sampai bebeapa kali. Lelaki itu kagum menyaksikan ketabahan Abu Said. Dai menyesali sikapnya.
    “Wahai Ustaz, saya hanya ingin mengujimu,” Kata lelaki itu seraya menyambutnya dengan rasa hormat.
    “Jangan kau memujiku atas dasar perilakuku yang kau teukan seperti anjing. Anjing jika dipanggil dia datang, dan jika dicegah dia pergi.” Abu Said kemudian pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
    Abu Said ketika melewati sebuah gang besar, seseorang menumpahkan abu kotor dari balkon rumahnya. Teman-temannya yang melihatnya marah. Mereka mencaci maki orang yang melempar abu yang kotor tadi.
    “Janganlah kalian mengatakan sesuatu. Barang siapa yang patut mendapat siksaan neraka, lalu menerima lemparan abu itu dengan baik, maka baginya tidak boleh marah”. Katanya.
    Dikatakan bahwa ada seorang fakir yang singgah di rumah Ja’far bin Hanzalah. Ja’far melayaninya dengan baik. Orang fakir itu berkata,”Sebaik lelaki adalah engkau jiak saja engkau bukan orang yahudi”.
    “Akidahku tidak akan menodai apa yang engkau butuhkan untuk dilayani. Mintalah kesembuhan pada dirimu sendiri, sedang diriku butuh hidayah”.
    Diceritakan bahwa AbduLlah seorang penjahit, menenerima jahitan dari seorang Majusi. Setelah selesai, orang majusi tersebut membayarnya dengan uang palsu dan AbduLlah menerimanya. Bertepatan dia hendak keluar karena suatu urusan, majusi tadi datang lagi untuk membayar ongkos jahitan yang kesekian kalinya. Murid AbduLlah yang menerimanya mengetahui bahwa yang diterimanya itu adalah uang palsu maka dia menolaknya. Bahka orang majusi itu diserahkan kepada seorang peneliti uang. Beberapa saat kemudian AbduLlah datang dan bertanya kepada muridnya, “Mana baju majusi itu ?”
    Murid itu menceritakan kepada sang guru apa yang telah terjadi. Tentang kebohongannya, kepalsuannya, penolakannya, dan tindakannya kepada majusi itu.
    “Buruk sekali apa yang telah engkau lakukan !. sudah berapa kali dia memperlakukan saya seperti itu, dan saya sabar menerimanya. Uang palsu itu saya lemparkan ke sumur agar tidak menumbulkan bahaya kepada orang lain.” Tegur AbduLlah.
    Akhlak yang buruk menyempitkan hati pemiliknya karena tidak memperluaskan tempat selain yang dikehendaknya sebagaimana tempat yang sempit yang tidak tidak memberi keleluasaan selain pemiliknya. Akhlak yang baik tidak akan menjadikan engkau berubah sebab karena seseorang yang berdiri di shaf di sampingmu. Sedangkan keburukan akhlak terdapat pada kejatuhan pandanganmu pada keburukan akhalak terhadap selainmu. RasuluLloh SAWW pernah ditanya tentang kesialan lalu dijawab,” Keburukan akhlak”.
    Abu Hurairah RA menceritakan, “Seorang sahabat bertanya”
    “Ya RasuluLloh, mohonkanlah kepada Alloh agar kita dapat menghancurkan orang-orang musyrik.” Beliau menjawab, “Saya diutus untuk menebarkan kasih sayang, bukan siksaan”.

13 Oktober 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

Firasat

FIRASAT
Alloh SWT berfirman :
إنّ في ذلك لآيةٍ للمتوسمين
    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda,(QS Al-Hijr 75)
    RasuluLloh SAWW bersabda, :
اتّقوافراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله
    “Takutlah kalian dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Alloh“.
    Ustadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Firasat adalah suara bathin yang masuk ke dalam hati dan meniadakan kontradiksi. Setiap suara hati memiliki nilai hukum yang menguasai hati. Kata firasat merupakan pecahan dari kata farasa yang mengandung makna menerkam atau memburu.Farisah as-sabu’u memiliki makna terkaman binatang buas. Akan tetapi makna pembandingnya tidak bisa diartikan dalam konteks hati secara apa adanya. Keberadaannya mengukuti kualitas iman. Setiap orang yang imannya lebih kuat, pasti firasatnya lebih tajam.”
    Abu Said Al-Kharaz mengatakan “Barang siapa melihat dengan cahaya firasat berarti dia melihat dengan cahaya Al-Haq. Sumber ilmu yang dipakai memandang berasal dari Al-Haq. Dia dapat melihat dengan tanpa lupa dan lalai. Hukum kebenaran Tuhan mengiringi gerakan lidah. Manusia semacam ini berbicara dengan menggunakan pancaran sinar kebenaran Tuhan. Ucapanya yang menyatakan dia memandang dengan cahaya Al-Haq artinya melihat dengan cahaya yang dikhususkan Alloh kepadanya.”
    Muhammad Al-Washiti mengatakan, “firasat adalah pancaran cahaya yang memancar ke dalam hati, dominasi ma’rifat yang membawa rahasia-rahasia ke dalam hati, dari sesuatu yang gaib menuju yang gaib sehingga dia mampu melihat sesuatumenurut sisi mana Tuhan memandang. Dia bisa berbicara dengan hati makhluk.”
    Abul Hasan Ad Dailami mengatakan, : Saya pernah memasuki kota Antakiya wilayah Turki, karena sebab seorang pria yang berkulit sangat hitam. Menurut kabar yang saya terima, dia bisa berbicara yang sifatnya sangat rahasia. Sayapun tinggal bersamanya sampai dia keluar dari daerah pegunungan Lukam. Sewaktu keluar, dia membawa sesuatu yang mubah yang hendak dijualnya. Sementara keadaan saya sudah dua hari tidak makan apa-apa. Saya lihat apa yang dibawanya bisa dimakan.
    “Berapa hargnya ?” tanya saya.
    Saya membayangkan bisa membeli sesuatu yang berada di tangannya.
    “Duduklah sampai saya selesai berjualan dan memberikan kamu apa yang hendak kamu beli.” Dia memberi saran kepada saya.
    Saya tidak mempedulikan omongannya. Saya biarkan dia menyelesaikan urusannya, sementara saya berjalan ke penjual lain yang saya kira akan menawarkan dagangannya. Akan tetapi penjual itu tidak membutuhkan penawaran saya, sehinga membuat saya harus kembali kepada lelaki hitam tersebut. Saya mengulangi tawaran saya dengan suara yang agak keras,”Jika engkau menjual barang ini, maka katakan pada saya berapa harganya “.
    “Engkau telah kelaparan selama dua hari. Duduklah hingga saya menjual dan memberikan kepadamu apa yang hendak engkau beli.” Dia kembali memberi saran kepada saya. Sayapun akhirnya duduk. Ketika dia menjual dan memberikan sesuatu kepada saya, kemudian dia pergi. Saya penasaran lalu mengikutinya. Dia menoleh kepada saya dan mengatakan,” Jika kamu ditimpa keperluan, maka Alloh pasti menurunkannya kecuali jika nafsumu meminta bagian yang dapat menutupi keterkabulan dari Alloh.”
    Muhammad Al-Kattani mengatakan, “Firasat adalah ketersingkapan keyakinan, kemampuan melihat ghaib, dan dia merupakan bagian dari derajat iman.” Dikatakan, Imam Syafi’i dan Muhammad bin Hasan berada di Masjidil Haram. Kemudian seorang pria measuki masjid. Muhammad bin Hasan mengatakan, “Menurut firasatku dia adalah tukang kayu.’ Namun Imam Syafi’i megatakan, “Menurutku dia adalah seorang tukang besi.” Keduanya lantas mendatangi orang tesebut dan menanyakan statusnya. Lelaki itu menjawab, “Saya sebelum tahun ini memang tukang besi, tetapi sekarang saya bekerja dalam perkayuan”.
    Abu Sa’id Al-Kharraz mengatakan, “Orang yang memiliki sumber adalah orang yang meneliti hal-hal ghaib selamanya dan hal-hal ghaib tidak tertutup dari pandngannya. Tidak ada yang tersembunyi darinya. Dialah gambaran orang yang ditunjukkan Alloh dengan firman-Nya :
لعلمه الدين يستنبطونه منهم
    …tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) (QS An-Nisa 83).
    Orang yang mencari tanda atau firasat adalah orang yang mengetahui tanda. Dai mengetahui sesuatu yang tersimpan dalam kemurungan hati. Kemampuannya didukung dengan petunjuk-petunjuk dan alamat-alamat. Alloh SWT berfirman :
إنّ في ذلك لآيةٍ للمتوسمين
    Sesungguhnya yang demikian ini benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda). (QS Al-Hijr 75).
    Artinya orang-orang yang mengerti apa yang ditampakkan oleh Tuhan dengan berbagai alamat / tanda-tanda. Mereka terbagi menjadi dua golongan : para wali Alloh dan para musuh-Nya. Orang yang mempunyai firasat melihat dengan cahaya Alloh. Demikian itu merupakan pancaran cahaya yang memancar ke dalam hati, sehingga ia dapat melihat berbagai makna atau niali-nilai yang termanifestasikan dalam alam semesta. Hal itu merupakan keistimewaan iman. Kebanyakan mereka adalah Rabbany. Alloh SWT berfirman :
كونوا ربّانيين

    Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbany(QS Ali Imran 79).
    Rabbany artinya para ulama ahli hikmah yang berakhlak dengan akhlak Tuhan dan berpikiran dengan pandangan Tuhan.
Mereka kosong dari pengaruh makhluk, Kecenderungan dari melihat mereka dan kosong dari kesibukan dengan mereka.
    Abul Qasim Al-Munadi, seorang ulama sufi dari Naisabur terbesar di zamannya menderita sakit. Banyak ulama yang menjenguknya, diantaranya Abul Hasan Al-Busanji dan Hasan Al-Hadad. Sebelum tiba ditempat tujuan, keduanya sempat membeli beberapa buah apel di tengah jalan secara kredit. Keduanya kemudian membawanya kepada Abul Qasim. Ketika kedua tamu ini masuk dan duduk di sisi pembaringan. Abul Qasim berkata, ” Kenapa suasana menjadi gelap ?”
    Kedua tamu itu terkejut. Seolah-olah ucapan itu ditujukan kepada mereka berdua. Keduanya gelisah dan kemudian mereka keluar dan bergumam, “Apa yang telah kita perbuat ?” Keduanya mencoba berfirir.
    “Barangkali kita belum membayar penuh harga apel,” Kata mereka. Keduanya lantas pergi ke tempat penjual apel dan melunasi pembayarannya, kemudian kembali ke rumah Abul Qasim. Ketika pandangan beliau jatuh kepada mereka berdua, maka beliau bergumam, “Mungkinkah secepat ini kegelapan yang menyelimuti seseorang keluar darinya. Kabarkan pada saya ada apa yang terjadi pada kalian .”
    Keduanyapun menuturkan kisah tentang apel, tentang harga dan tentang pemenuhan janjinya. Ulama itu diam mendengarkan. Beliau menemukan penyebab kegelapan ruang tidurnya.
    “Memang benar seseorang dari kalian terlalu percaya pada temannya untuk tidak membayar penuh harga apel. Dia percaya dengan kebaikan penjual apel, sementara penjual apel itu malu untuk tidak memenuhi tawarannya. Dia sungkan dan takut berperkara karena sadar bahwa yang dihadapinya adalah ulama. Dia takut menagih. Sedangkan saya adalah penyebab utama. Engkau datang dengan membawa apel karna saya. Itulah yang saya lihat pada diri kalian.”
    Semenjak saat itu, Abul Qasim AL-Munadi masuk pasar setiap ada pelelangan. Dan ketika tangannya menjamah sesuatu yang sekiranya mencukupi harga senilai seperenam hingga setengah dirham, maka dia keluar dan kembali pada pangkal waktunya dan meniti-niti hatinya.
    Husain bin Manshur berkata, “Al-Haqq” Telah menguasai rahasia (hati), maka rahasia-rahasia itu akan menguasainya, mengurusi dan memberitahukan kepadanya rahasia-rahasia itu”.
    Seorang sufi ditanya tentang makna firasat, lalu dijawab, “Beningnya nurani yang berputar-putar di dalam kerajaaan (alam jasad, alam ruhani, dan alam ghaib) sehingga dia dimuliakan dengan kemampuan melihat makna-makna ghaib, berbicara trentang rahasia-rahasia penciptaan dengan pembicaraan yang nyata, dan dia tidak berbicara dengan dugaan atau persangkaan.”
    Dikatakan bahwa antara Zakariya Asy-Syahtani sebelum dia tobat, dan seorang wanita terjalin hubungan asmara. Suatu hari dia menghadap gurunya, Abu Utsman, setelah menjadi salah seeorang murid seniornya. Abu Utsman duduk sambil menekurkan kepalanya, sementara Zakariya duduk bersila di depan gurunya dengan pikiran melayang mengkhayalkan keasihnya. Abu Utsma mengangkat kepalanya dan menatap muridnya. “Mengapa engkau tidak merasa malu ?” tanya gurunya.
    Syaikh Abul Qasim menceritakan kisah awal perjalanan sufinya, dia mengatakan, “Ketika di awal perjumpaan saya dengan ustadz Abu Ali, beliau mengikat saya dalam suatu acara di majlis ta’lim di masjid Al-Mathuraz. Saya meminta izin beliau untuk keluar sebentar ke kota Nasa dan beliau mengizinkannya. Kemudian saya berjalan bersamanya. Di tengah jalan menuju majlis ta’lim, hati saya berbisik,”Sekiranya beliau mau menggantikan saya di majlis selama saya tidak ada…’ belum selesai hati saya berbicara, Ustadz Abu Ali menoleh dna mengatakan kepda saya, “Saya akan menggantikanmu selama kamu tidak ada.: Kemudian kami berjalan, “hati saya kembali berbisik, “seandainya beliau sakit dan mengalami kesulitan untuk menggantikan saya selama dua hari dalam seminggu atau paling tidak sekali seminggu.’ Tiba-tiba beliau menoleh kepada saya dan mengatakan, “Jika tidak mungkin menggantikan kamu dua hari seminggu, paling tidak saya akan menggantikanu seminggu sekali.” Kami kembali berjalan dan ketika hati saya berbisik lagi dengan hal yang lain, beliau juga menoleh dan memberitahukan kepada saya apa yang telintas di hati saya”.
    Syah AL-Kirmani seorang ulama yang terkenal memiliki ketajaman firasat mengatakan, “Barang siapa yang mengatupkan pandangannya dari sesuatu yang haram, mencegah dirinya dari syahwat, menetapi bathinnya dengan keabadian perasaan diawasi Alloh, meneguhkan zahirnya untuk tetap mengikuti sunah RasuluLloh SAWW, dan membiasakan makan halal, maka firasatnya tidak mungkin salah”.
    Abul Husin An-Nuri pernah ditanya, “dari mana firasat orang-orang yang ahli firasat itu lahir ?”
    :Dari firman Alloh yang berbunyi :

وَنَفَحْتُ فيْهِ روْحيْ

    Dan Kami tiupkan Ruh-Ku ke dalamnya (QS Al-Hijr 29)
    Barang siapa cahayanya lebih sempurna maka kesaksian hukumnya lebih tepat. Hukumnya dengan penglihatan firasatnya lebih benar. Mengapa kamu tidak melihat bagaimana peniupan ruh itu menjadikan keharusan sujud kepada-Nya ? Firman Alloh SWT :

فإذاسَوَيْتُهُ وَنَفَحْتُ فِيْهِ مِنْ رُوحِيْ فقعُوا لَهُ ساجدين

    Ketika Aku sempurnakan penciptaannya, dan aku tiupkan ruh Ku ke dalamnya, maka mereka bertiarap sujud kepadanya (QS Al-Hijr 29)
    Uatadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Tafsiran berikut ini dari Abul Hasan An-Nuri yang menerangkan bahwa ayat teersebut mengandung kesamaan pengertian dengan penyebutan peniupan roh, bukan pembenaran seseorang yang mengatakan dengan pijakan kaki ruh, dan tidak sebagaimana ruh yang menyinari hati orang-orang yang lemah.jika benar baginya peniupan, penyambungan dan pemisahan, maka dia adalah orang yang menerima pengaruh dan perubahan. Itulah diantara beberapa ketinggian sesuatu yang baru. Alloh SWT telah mengkhususkan orang-orang mukmin dengan penglihatan dan cahaya yang dengan cahaya itu mereka berfirasat. Pada hakikatnya hal ini merupakan pengetahuan yang didasarkan sabda RasuluLlah SAWW, ” Sesungguhnya Dia melihat dengan cahaya Alloh”. Artinya dengan ilmu dan penglihatan yang dikhususkan kepadanya. Dia diistemawakan Alloh dengan kedua anugerah tersebut dan dipisahkan dari yang bukan bentuk-bentuknya. Penamaan ilmu dan penglihatan dengan istilah cahaya adalah bukan sesuatu yang diada-adakan. Sifat demikian itu tidak dijauhkan dengan penipuan karena maksud dari ayat tersebut adalah penciptaan.”
    Husain bin Manshur mengatakan, orang yang punya firasat adalah orang yang menembakkan kebenaran dengan lemparan pertama menuju sasaran yang tepat. Dia tidak condong kepada penafsiran, persangkaan dan dugaan.” Dikatakan, firasat para murid masih pada taraf persangkaan, yang megharuskan peningkatan pada tataran pemastian. Sedangkan firasat para ahli ma’rifat adalah berada pada tataran pemastian yang mengharuskan pada tataran kepastian.
    Ahmad bin Ashim Al-Anthaki mengatakan, “Jika kalian duduk bersama-sama orang yang ahli kebenaran, maka duduklah dengan kebenaran karena mereka adalah para mata-mata (spionase) hati. Merekad dapat memasuki hati kalian dan keluar dari hati kalian tanpa kalian sadari.” Abu Ja’far Al-Hadad mengatakan,” Firasat adalah awal bisikan hati dengan tanpa penentangan. Jiak timbul penentangan dari jenisnya, maka dia hanyalah sekedar lintasan dan bisikan nafsu.”
    Abu AbdiLlah Ar-Razi ketika singgah di Naisabur mengalami pengalaman sufi yang menarik. Dia mengatakan, “Ibnul Ambari pernah mengenakan pada saya pakaian yang terbuat dari bulu domba. Ketika itu saya melihat di kepala Dalf Asy-Syibli terdapat topi manis yang diikat dengan kain wol. Saya berbisik dalam diri saya, ‘alangkah baiknya jika kedua hiasan tersebut berkumpul pada diri saya.’ Ketika Asy-Syibli berdiri dari duduknya, dia menoleh kepadaku dan saya mengikutinya. Biasanya jika saya ingin mengikutinya, dia pasti menoleh kepadaku terlebih dahulu, namun kali ini tidak. Dai langsung berjalan dan masuk ke rumah tanpa memperhatikan saya.
    “Lepaskan kain bulu itu.” Perintahnya.
    Sayapun melepaskannya. Dia kemudian dia melipat kain itu, lalu menggabungkannya dengan topi dan memerintahkan seseorang untuk membakarnya.”
    Abu Hafs An-Naisaburi megatakan, “Tidak patut bagi seseorang mengaku memiliki firasat yang tajam sementara dia takut pada firasat orang lain karena Nabi SAWW pernah bersabda,”Takutlah kalian pada firasat orang mukmin”. Beliau tidak mengatakan “Berfirasatlah”. Maka bagaimana mungkin sah firasat seseorang sementara dia masih takut di maqam firasat.”
    Ahmad nin Masruq mengatakan, “Saya memasuki rumah seorang laki-laki yang sudah lanjut usia. Dia adalah satu diantara kawan-kawan kami. Saya memangilnya tetapi tidak mendapat sahutan. Sayapun masuk ke dalam dan mendapatinya dalam keadaan setengah lemah. Saya bergumam dalam hati,”Dari mana dia mendapat pertolongan, sementara dia adalah orang yang sudah sangat tua ?” Tiba-tiba dia menyahut, “Hai Abul Abas, tinggalkan bisikan hatimu yang busuk itu. Sesungguhnya bagi Alloh ada kelembutan yang sangat samar.”
    Az-Zubaidi mengatakan, “Saya bersama sekumpulan orang fakir tinggal beberapa lama di masjid Baghdad. Dalam beberapa hari kami tidak mengkonsumsi apa-apa. Sayapun mendatangi Ibrahim AL-Khawash untuk meminta sesuatu. Ketika pandangannya mengarah kepada saya, dia menyindir,’ Kebutuhan yang menyebabkan engkau datang kepada saya karenanya, apakah Alloh mengetahuinya atau tidak ?’
    “Ya.”
    ‘Kalau begitu diamlah dan jangan menampakkannya pada makhluk.’
    Saya akhirnya kembali ke Masjid dan berkumpul dengan orang-orang fakir. Kami diam, pasrah di hadapan Alloh dan tidak berapa lama, kami dibukakan rizki yang melebihi dari cukup.”
    Diceritakan,Sahal bin AbduLlah suatu hari tertimpa kelaparan. Dia mencoba berjalan tetapi jatuh. Rasa lapar dan penderitaan yang membuatnya tidak mampu bertahan hingga ia tergeletak di serambi masjid. Akan tetapi ia masih sempat berpesan, “Jika Syah AL-Kirmani mati pada hari ini atas kehendak Alloh, maka tulislah hal ini dan kirimkan kepadanya.” Waktupun berjalan dan apa yang difirasatkan itu benar terjadi.
    Ketika Abu AbdiLlah At-Turghandi seorang ulama besar di zamannya pergi ke kota Thus dan ketika sampai di daerah Kharwa, dia berkata kepada muridnya, “Belilah roti”.
    Daipun berangkat dan tidak lama kemudian kembali dengan membawa roti yang cukup dimakan untuk dua orang.
    “Belilah yang lebih banyak” pintanya lagi.
    Murid itupun berangkat dan membeli roti yang sekiranya cukup dimakan oleh sepuluh orang. Dai memang sengaja membeli lebih, tetapi tidak tahu apa maksudnya. Dia hanya berfikir bahwa perintah ini adalah perintah yang terakhir. Ketika keduanya melanjutkan perjalanan dan naik ke atas gunung, mereka dikejutkan oleh sekumpulan orng-orang yang ditawan para penyamun. Kaki dan tangan para tawanan itu dalam keadaan terikat. Kondisi mereka sangat tragis dan sudah beberapa hari tidak makan. Mereka meminta makanan kepada kedua orang tersebut.
    “Berikan makanan itu kepada saya,” pinta Abu AbdiLlah kepada muridnya.
    Ustadz imam Al-Qusyairi menuturkan kisah sufinya. “Ketika saya bersama Uastadz Abu Ali Ad-Daqaq” kisahnya..maka pengajian Syaikh Abu AbduRrahman As-Sulami sedang berlangsung. Dia sebenarnya lebih senang mendengar sambil memenuhi keluhan orang-orang fakir dari pada berbuat yang tidak jelas arahnya. Dalam keadaan yang sama, Ustadz Abu Ali juga mengatakan seperti apa yang dikatakan Syaikh Abu AbduRrahman . barang kali diam lebih utama baginya. Kemudian dalam majlis tersebut Ustadz berkata, “Pergilah kesana, engkau akan mendapati dia sedang duduk di ruangan perpustakaan pribadinya. Di dalam perpustakaan itu terdapat beberapa jilid buku sampul merah yang salah satunya berbentuk segi empat ukuran kecil yang di dalamnya terdapat tulisan beberapa syair Husin bin Manshur. Ambilah dan bawa kemari jilid yang ada syairnya dan jangan berkata apa-apa kepadanya.’
    Ketika itu matahari berada di pertengahan langit . saya berangkat di tengah terik matahari, kemudian masuk dan di dalam perpustakaan saya menjumpai Syaikh AbduRrahman dan buku-bukunya sebagaimana yang disebut ustadz. Ketika saya duduk, Syaikh mengucapkan sesuatu,’Sebagian orang mengingkari salah seorang ulama yang gerakannya ada dalam diamnya.’ Orang itu saya lihat sendirian di dalam rumah sambil berjalan berpuar-putar seperti orang yang dimabuk asmara, seperti inilah keadaan mereka.” Katanya kemudian.
    Ketika saya merenungkan apa ang diperintahkan Ustadz Abu Ali kepada saya dan beberapa gambarannya, kemudian membandingkannya dengan penjelasan-penjelasan syaikh AbduRrahman, saya menjadi bingung.’Bagaimana saya harus menyikapi dua hal ini ?” keluh saya. Sayapun berusaha berfikir dan memecahkannya tentang diri saya tersebut. Saya akhirnya berkata pada diri saya sendiri, “Tidak ada arah kecuali kebenaran. Ustadz memberi gambaran kepada saya tentang beberapa jilid buku dan perintahnya kepada saya untuk membawa buku-buku tersebut kepadanya tanpa harus meminta izin kepada pemiliknya. Saya sangat segan kepadanya dan tidak mungkin menentang perintahnya. Lantas untuk apa dia memerintahkan saya demikian ?
    Akhirnya saya mengeluarkan seperenam dari karangan Husin bin Manshur. Belum sempat berfikir macam-macam, syaikh AbduRrahman berkata kepada saya, “Bawalah lembaran itu kepadanya dan katakan kepadanya, sesungguhnya saya telah mempelajari jilid itu dan saya telah menukil beberapa syairnya ke dalam karangan saya.” Kemudian saya berangkat pulang.
    Diriwayatkan dari Hasan Al-Hadad yang mengatakan, “Saya bersama Aul Qasim Al-Munadi ketika ia bercengkerama bersama orang-orang fakir. Saya duduk bersama mereka, sampai Abul Qasim meminta saya mencari sesuatu. “Keluar dan bawalah sesuatu untuk mereka!’ Saya sangat senang mendapat tugas ini karena bisa melayani orang-orang fakir. Saya mendatangi mereka dengan sesuatu setelah memenuhi kebutuhan saya. Saya masuk kedalam rumah untuk mengambil keranjang, lantas keluar. Ketika melewati lorong jalan besar yang penuh dengan deretan para saudagar, saya dikejutkan oleh syaikh yang tiba-tiba berada di situ. Wajahnya tampak berseri-seri. Saya sampaikan salam kepadanya kemudian bertanya, “Orang-orang miskin saya pikir masih di majlis tuan, apakah tuan sudah punya sesuatu untuk menjamu mereka ?”
    Dia diam sebentar kemudian menunjukkan kepada saya roti, daging dan anggur. Ketika saya sampai di pintu, dia mendekati saya, dari arah belakang pintu dan mendorongnya pada tempat dimana saya memasukinya. Sayapun kembali dan meminta maaf kepada syaikh. Saya tidak menemukan mereka. Saya pikir mereka berpencar. Saya menyampaikan alasan kepadanya, kemudian keluar mendatangi pasar dan kembali membawa sesuatu. ‘masuk’. Katanya.
    Saya duduk dan menceritakan kepadanya pengalaman saya.
    “Benar, para saudagar yang kamu temui di jalan itu adalah para penguasa. Jika engkau mendatangkan sesuatu pada kaum fakir, maka berilah seperti ini.., tidak seperti itu (maksudnya yang diperoleh dari para saudagar / kaum bangsawan).
    Abul Hasan AL-Kurafi berkata, “Saya mengunjungi Abul Khair, kemudain berpamitan pulang dan dia keluar mengantarkan saya sampai di depan pintu masjid. ‘Hai Abul Hasan’ panggilnya. ‘Saya tahu kamu tidak membawa apa-apa. Karena itu bawalah dua apel ini’. Sayapun mengambilnya dan memasukkan nya ke dalam kantong baju lalu pergi melanjutkan perjalanan, dan tidak membukanya sampai tiga hari. Saya kemudian mengambil satu buah dan memakannya, dan ketika hendak mengambil yang sebuah lagi, tiba-tiba kedua buah itu kembali di dalam kantong baju saya. Saya memakan sebuah dan keduanya kembali lagi seperti semula sampai saya tiba di sebuah pintu. Saya berbisik, ‘Kedua apel ini merusak kondisi tawakal saya’. Ketika saya mengeluarkan kedua apel itu dari kantong, tiba-tiba saya melihat seorang miskin yang berselimut kain mantel. ‘Saya ingin apel’. Pintanya. Sayapun memberikan keduanya kepadanya. Ketika saya melanjutkan perjalanan, saya faham bahwa sebenarnya syaikh mengirimkan kedau apel tersebut kepada orang miskin tadi. Ketika itu saya berada di kerumunan orang yang berada di jalanan. Sayapun berbalik menemui orang miskin tadi akan tetapi tidak menemukannya.’
    Seorang pemuda menemui Al-Junaid. Dai sedang membicarakan suara bathin manusia, kemudian menyamapikannya kepada Al-Junaid.
    “Apa yang disebutkan orang ini tentang kamu ?” Tanya Al-Junaid.
    “Percayalah pada sesuatu”.
    “Engkau percaya ?”
    “Saya percaya demikian…demikian..”. tegasnya kemudian.
“tidak, tapi percayalah yang ke dua”. kata al-Junaid.
Dia melakukannya kemudian mengatakan,”Saya mempercayai demikian..demikian..”.
“Bukan demikian, percayalah yang ke tiga”.
Imam AL-Junaid kembali mengatakan seperti semula.
    “ini sangat mengherankan, engkau benar dan saya tahu hati saya.” Jawab pemuda itu akhirnya.
“Engkau memang sudah benar. Dalam perkara yang pertama dan kedua dan ketiga engkau benar. Saya melakukan yang demikian hanya untuk mengujimu, apakah hatimu berubah”. Jelas Al-Junaid.
Ibrahim, seorang sufi terkenal jatuh sakit. Lalu dibawakan kepadanya segelas obat. Dia mengambil gelas itu dan hanya memandangnya.
“Hari ini sedang terjadi peristiwa penting di kerajaan. Saya tidak akan makan dan minum sampai saya mengetahuinya.” Dai mengungkapkan firasatnya.
Beberapa hari keudian datang kabar kepadanya bahwa imam AL-Qurtubi pada hari itu (saat ia membuka firasatnya) masuk kota mekah dan terbunuh dalam peperangan tersebut.
Anas bin Malik mengatakan, “saya mampir ke rumah Utsma bin Affan. Dari rumahnya saya melihat seorang wanita yang tengah berjalan. Saya berfikir tentang kecantikan tubuhnya. Utsman tersenyum lantas menyindir saya, “Sedang bertamu kepada saya seseorang dari kamu sekalian, sementara pengaruh zina nampak di kedua matanya.’ Saya penasaran, lalu saya bertanya, ‘Apakah itu wahyu setelah RasuluLloh SAWW ?’
Dia menjawab, “Tidak, akan tetapi penglihatan, bukti dan firasat adalah kebenaran.'”
Ahmad Al-Kharaz berkata, “saya masuk Masjidil Haram dan saya melihat seorang fakir yang pakaiannya ada dua sobekan sedang meminta sesuatu. Saya berkata dalam hati, ‘Seperti inikah kemiskinan yang menimpa manusia ?’. tiba tiba mata orang fakir itu memandng saya. Pandangannya menembus sampai ke ulu hati saya. Dia menyindir saya dengan menyitir sebuah ayat :
واعلمواأنّ الله يعلم مافي انفسكم فاحذروْه
“”Dan ketahuilah bahwasanya Alloh mengetahui apa yang ada di dalam hatimu maka takutlah kepada-Nya’. (QS Al-Baqarah 235)
Kemudian saya mengatakan, ‘saya memohonkan ampun rahasia saya.’ Dia diam lalu memanggil saya seraya mengutip sebuah ayat lain :
وهوالذي يقبل التوبة عن عباده ويعفو عن السيّئات
‘Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.(QS Asy-Syura :25)
Ibrahim Al-Khawash menceritakan, “Saya di Baghdad di temapt kumpulan orang-orang kota. Dalam kumpulan itu terdapat juga kumpulan orang-orang fakir. Kemudian datang seorang pemuda yang sangat elok, baunya harum, dan wajahnya sangat menawan. Saya menoleh kepada kawan-kawan dan membisikkan sesuatu kepada mereka.’ Dia adalah yahudi’. Semua orang menjadi membencinya. Saya keluar dan saya juga keluar, kemudian dia kembali dan menanyakan sesuatu kepada jama’ah,’apa yang dikatakan syaikh teersebut tentang saya.’ Mereka marah dan tidak mempedulikan pertanyaannya. Akan tetapi dia terus mendesak sampai orang-orang menjawabnya,’Engkau adalah yahudi’. Pemuda itu terkejut. Dia heran dengan apa yang dikatakan orang-orang. Diapun beranjak pergi dan menemuhi saya. Dia duduk bersimpuh di hadapan saya lalu menyatakan keislamannya.
‘apa yang menyebabkan anda masuk islam ?’ seseorang bertanya
Dia menjawab, “Di dalam kitab-kitab kami disebutkn bahwa orang yang benar firasatnya tidak pernah salah. Saya hanya menguji orang-orang islam. Saya memikirkan mereka. Jika memang ada orang yang benar diantara mereka, maka di dalam kelompok islam inilah adanya karena mereka mengucapkan firman Alloh. Dan ketika hal itu diperlihatkan kepada saya dan saya berfirasat, maka tahulah saya bahwa dia benar.’ Pemuda itu akhirnya menjadi ulama sufi yang besar.’
Ahmad Al-Jariri mengatakan, “Diantara kalian ada orang-orang yang jika Al-Haqq menghendakinya bisa berbicara tentang kerajaan langit, apakah dia megetahuinya sebelum ditampakkan kepadanya ?’
“Tidak” jawab mereka.
“Saya menangisi hati manusia yang di dalamnya tidak dijumpai sesuatu yang berasal dari Alloh,” jelas saya.
Abu Musa Ad-Dailami mengatakan pengalamannya, Saya pernah bertamu ke rumah AbduRrahman bin Yahya untuk menanyakan makna tawakal, lalu dijawab, ‘Kalau engkau memasukkan tanganmu ke mulut seekor naga sampai ke pergelangan tangan, bersama Alloh engkau tidak takut apapun selain-Nya.’
Saya keluar dan pergi ke rumah Abu Yazid Al Bustomi juga untuk menanyakan makna tawakal. Saya ketuk pintu rumahnya dan dia menyahut dari dalam,’ Bukankah jawaban yang kamu peroleh dari AbduRrahman sudah cukup ?’ saya penasaran dan mengatakan kepadanya, ‘Bukalah pintunya.’ Dia menyahut dari dalam, engkau tidak mengunjungiku sebagai pengunjung, tetapi hanya untuk bertanya, dan saya cukup menjawabnya dari balik pintu.’
Saya diam sejenak di depan pintu lalu pulang. Setahun kemudian saya mendatangi lagi. “Selamat datang engkau sekarang adalah pengunjungku.’ Saya kemudian tinggal bersamanya selama sebulan. Selama itu tidak ada bisikan di dalam hati saya selain membisikkan tentangnya. Ketika hendak berpamitan saya sempat menanyakan sesuatu kepadanya, ‘apakah ada faedah untuk saya ?’ Dia menjawab, ‘Ibu saya ketika mengandung saya pernah membisikkan sesuatu kepada saya. Jika disodorkan kepadanya makanan yang halal maka beliau mengambilnya. Jika makanannya syubhat, beliau mencegah tangannya untuk mengambilnya.”‘
Ibrahim AL-Khawash berkata, “Saya masuk desa, namun di tengah perjalanan saya tertimpa musibah yang cukup berat. Ketika sampai di Makkah, sesuatu yang mengherankan menarik perhatian saya. Tiba-tiba seorang lelaki tua yang sangat lemah muncul di hadapan saya dan memanggil saya,’ Hai Ibrahim, saya memperhatikanmu sejak memasuki desa. Saya sengaja tidak menyapamu karena tidak ingin mengganggu kesibukan hatimu. Sekarang saya mengeluarkan rasa was-was dari dalam hatimu.'”
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abu Bakar AL-Furqani setiap tahun pergi ke Makkah untuk haji dan umrah. Ketika melakukan perjalanan haji, dia lewat Naisabur tetapi tidak mampir ke rumah Ali Abu Utsman Al-hirri. Pada haji berikutnya dia sempat mampir.
Dai mengatakan, “Sayapun masuk ke rumahnya dan mengucapkan salam kepadanya akan tetapi dia tidak menjawab. Saya membathin,’ Seorang muslim masuk rumahnya lalu mengucapkan salam kepadanya dan dia tidak menjawabnya.’ Barusaja hatiku berhenti berbisik, Abu Utsman menyahut,’ Apakah seperti ini seseorang melakukan ibadah haji, sementara ibunya dibiarkan di rumah sendirian. Dia tidak berbakti kepada seorang ibu.’
Saya takut. Pasti kata-kata itu ditujukan kepada saya. Saat itu juga saya pulang dan menemani ibu sampai beliau wafat. Kemudian saya berkunjung lagi ke rumah Abu Utsman, beliau menyambut saya dan menemani saya duduk. Saya tinggal bersamanya sampai beberapa waktu hingga beliau wafat.’
Khair An-Najas berkata, “Saya sedang di rumah. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh bayangan kehadiran al-Junaid yang muncul di samping pintu. Dia seperti berdiri mematung. Saya segera mematikan bisikan itu dari hati saya. Kejadian itu terulang sampai yang ketiga kalinya. Sayapun akhirnya kepuar dan ternyata Al-Juanid benar-benar berdiri di samping pintu. Dia menegur saya,’Mengapa tidak kamu keluarkan bisikan hati pada saat bisikan yang pertama ?’
Muhammad bin Husain Al-Busthami berkata, “Saya masuk rumah Abu Utsman AL-Maghribi, spontan hati saya berbisik,’semoga dia menawarkan sesuatu kepada saya.’ Abu Utsman menyahut, ‘Tidak akan mencukupi manusia yang saya mengambil sesuatu dari mereka sampai mereka menambah masalahku untuk mereka.'”
Seorang fakir menuturkan pengalamannya, dia mengatakan, “Ketika saya di Baghdad, saya membayangkan AbduLlah Al-Murta’isi memberi saya uang lima belas dirham untuk membeli sebuah bejana dan sepasang sandal. Sayapun masuk perkampungan dan menginap di sebuah penginapan. Tiba-tiba pintu rumah saya diketuk seseorang. Saya segera membukanya. AbduLlah berdiri di depan pintu dan saya terkejut memandangnya. Angin berhembus halus menyertai kedatangannya, masuk ke dalam dan menerpa badan saya. Dai mengatakan,”Ambil kantong ini”.
“Wahai tuan, saya tidak menginginkannya”.
“Mengapa engkau menyiksa (maksudnya AbduLlah tersiksa oleh suara firasatnya yang melihat seorang fakir yang menginginkan uang) kami ?” dan berapa yang engkau inginkan ?’
‘limabelas dirham’.
‘ini limabelas dirham’ Jelas AbduLah.
Alloh SWT berfirman :
أومن كان ميّتا فأحييناه

Dan apakah orang yang suadah mati kemudian dia Kami hidupkan (QS Al-Abn’am 122)
Ayat ini menurut segolongan kaum sufi adalah pikiran mati, lalu Alloh menghidupkannya dengan cahaya firasat, lalu dijadikan untuknya cahaya tajalidan musyahadah. Dai tidak menjadi seperti orang yang berjalan diantara orang-orang yang lupa dalam keadaan lupa. Dikatakan pula jika firasat benar, pemiliknya naik sampai ke tingkat musyahadah.
Ahmad bin Masruq berkata, “seorang tua datang kepada saya, dia berbicara kepadaku tentang firasat dengan kata-kata yang bagus. Lidahnya lezat dan suara bathhinya baik. Sebagian ungkapan yang disampaikan mengatakan, “Setiap apa yang jatuh menjadi milikmu di dalam suara bisikan hatimu, katakanlah kepadaku.’ Lalu terlintas di hatiku bahwa dia seorang yahudi. Suara bathin ini sangat kuat dan tidak mungkin tergeser. Sayapun kahirnya menyampaikannya kepada Ahmad Al-Jariri. Dia kagum seraya mengucapkan takbir. Saya bergumam,’ saya harus mengabarkan hal itu kepada pak tua tadi.’ Maka saya mendatanginya dan mengatakan,’ engkau pernah berpesan kepadaku bahwa jika ada firasat yang jatuh ke dalam hatiku, saya harus megabarkanmu. Firasat yang timbul dalam hatiku mengatakan bahwa engkau adalah yahudi.’
Pak tua itu menundukkan kepalanya dan merenung beberapa saat kemudian dan lantas mengatakan, ‘Engkau benar’. Katanya. ‘Dan sekarang saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan-Nya.’ Saya telah menekuni semua mahzab agama.’ Saya menimpalinya.,’ jika memang bersama mereka ada sesuatu, maka apakah sesuatu itu ? Saya telah memasukimu dan telah mengabarkan kepadamu bahwa kamu berada dalam kebenaran.’ Lelaki tua itu dikemudian hari menjadi seorang muslim yang baik.”
Dikisahkan dari Al-Junaid bahwa Sarry As-Saqathy pernah berkata kepadanya, “Tinggalkanlah pesan untuk manusia !”. beliau menjawab, ‘di dalam hati saya ada rasa malu tentang ucapan yang ditujukan kepada manusia. Saya mendatangi dan mengabarkan kepada mereka bahwa diriku berhak mendapatkan hal itu. Pada suatu malam dalam mimpiku aku melihat RasuluLloh SAWW. Pada waktu itu malam Jum’at. Beliau mengatakan kepadaku, Sampaikan pesan kepada manusia.’ Saya lalu terjaga dari tidur dan kemudian mendatangi pintu rumah Sarry As-Saqathy sebelum subuh. Saya ketuk pintunya. Beliau menyahut, ‘mengapa engkau baru mempercayai kami sampai dikatakan kepadamu.'”Al-Junaid akan duduk di hadapan manusia besok di masjid”. Sementara di tengah-tengah manusia beredar kabar bahwa Al-Junaid akan duduk di hadapan manusia untuk memberi fatwa. Kemudian datang seorang anak nasrani menghadang Al-Junaid dan bertanya, ‘Wahai Syaikh, apa makna sabda RasuluLloh SAWW yang menyatakan : Takutlah kamu firasat orang mukmin karena orang mukmin melihat dengan cahaya Alloh ?” Al-Junaid menundukkan kepalanya, kemudian mengangkat lalu menjawab, “Masuklah Islam. Sungguh telah dekat waktu Islammu !” anak itupun segera masuk Islam.

6 September 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

KEMERDEKAAN

KEMERDEKAAN

اللّه SWT berfirman,

“وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةْ

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam keadaan kesusahan'” (Al-Hasyr 9)

Artinya, orang-orang Anshar mengutamakan orang-orang Muhajirin atas mereka sendiri untuk memurnikan dari apa yang mereka keluarkan.

Ibnu Abas RA. Menuturkan sabda َسُوْلُ اللّه SAWW yang mengatakan :

اِنَّمَا يَكْفِى أَحَدُكُمْ مَاقَنَعَتْ بِهِ نَفْسُهُ وَإِنَّمَا يَصِيْرُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَذْرَعٍ وَشِبْرٍ وَإِنَّمَايَرْجِعُ إِلَى آخِرِهِ

“Sesungguhnya seseorang dari kalian mencukupkan dengan apa yang menjadi kepuasan nafsunya, sampai menjadi empat hasta dan satu jengkal serta segala perkara kembali pada kesudahannya (akhirnya).”

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan,”Sesungguhnya makna kemerdekaan/kebebasan dibatasi dalam ketiadaan seorang hamba dibawah pengaruh perbudakan makhluk, tidak dikendalikan penguasa yang mengatur alam (para raja atau presiden) dan tanda sahnya kemerdekaan dibuktikan dengan kegugurnya sifat yang membedakan dari hatinya diantara hal-hal (yang menjadi pilihannya). Bagaimana semua posisi yang menghadangnya adalah sama”.

Haritsah RA pernah mengatakan pada َسُوْلُ اللّه SAWW, “Jiwaku zuhud dari dunia. Bagiku tidak ada bedanya antara batu dan emas”. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Barang siapa menghinakan dunia, maka dia bebas darinya, dan jika berpindah menuju kampung akhirat maka dia juga bebas darinya”. Beliau juga mengatakan bahwa orang yang bebas dari dunia maka akhirat kelak juga bebas darinya”.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan, “Ketahuilah bahwa hakikat kemerdekaan terletak dalam kesempurnaan penghambaan. Jika penghambaannya benar untuk اللّه, maka kemerdekaannya bersih dari perbudakan sesuatu yang berubah. Adapun orang yang berangan-angan bahwa dirinya dipasrahkan hanya kepada-Nya dengan melepaskan semua waktu untuk ibadah dan menyatukannya dengan lrikan-Nyadari batasan amar makruf nahi munkar maka dia termasuk orang yang mengerti dalam membedakan beban-beban hukum. Demikian itu menjadikannya terlepas dari dua dunia”.

اللّه SWT berfirman,

“وَاعْبُدْ رََّكَ حَتَّى يَأتِيَكَ الْيَقِيْنُ

“Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang keyakinan padamu” (Al-Hijr 99)

Yakni kematian. Penafsiran ini lebih disepakati para ahli tafsir.

Tanda kemerdekaan bagi seorang hamba diantaranya adalah ketiadaan hatinya di bawah penghambaan makhluk, kepentingan-kepentingan dunia dan tujuan-tujuan akhirat. Dirinya adalah dirinya. Tidak satupun keduniaan yang bersifat sementara mampu memperbudaknya, tidak juga keinginan, angan-angan, permintaan, tujuan, harapan, dan keuntungan. Dirinya bebas dari semua itu. Dalf As-Syibli pernah ditanya, “Tidakkah engkau tahu bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih ?” lalu dijawab,”Benar semenjak saya mengetahui sifat kasih sayang-Nya, saya tidak lagi meminta dia untuk mengasihi saya. Maqam kemerdekaan amatlah mulia”.

Abul Abbas As-Sayyari berkata, “Seandainya shalat tanpa bacaan Al-Qur’an sah, maka sah pula gubahan syair ini :

Saya berangankan suatu kondisi

    Berada dalam suatu zaman

    Yang engkau akan melihat dua biji mata saya

    Sebagai kemerdekaan yang terbit

Banyak pendapat para guru sufi tentang makna kemerdekaan diantaranya adalah pendapat Husain bin Manshur yang mengatakan, “Barang siapa menghendaki kemerdekaan, maka teruslah dalam penghambaan (kepadaاللّه)”.

Imam Al-Junaid ditanya tentang orang yang tidak terpengaruh oleh dunia melainkan seukuran isapan satu biji-bijian terkecil, lalu dijawab, “Seorang budak juga tidak terpengaruh oleh keberadaan dirham. Sesungguhnya kau tidak akan sampai pada makna kemerdekaan sementara hakikat penghambaan yang menjadi tanggunganmu masih tersisa (terpengaruh kepentingan).

Bisyir Al-Hafi berkata, “Barang siapa menginginkan kelezatan makanan kebebasan dan terbebas dari perbudakan, maka sucikanlah rahasia yang berada diantaradirinya denganاللّه”.

Husain Al-Manshur juga pernah mengatakan, “Jika seorang hamba mengambil hak beberapa maqam penghambaan secara keseluruhan yang menjadikannya bebas dari kepayahan penghambaan, maka kerjakan fungsi penghambaan dengan tanpa tekanan dan beban. Itu adalah maqam para Nabi SAWW dan orang-orang yang ahli kebenaran. Artinya, menjadi orang yang terbebani namun merasa tidak terbebani dan hatinya tidak diliputi rasa berat (karena penghambaannya kepada اللّه), meski hukum syariat pada kenyataannya membemani yang demikian”.

Manshur Al-Faqih membacakan syair :

Tidakkah tersisa pada diri manusia

Kebebasan, dan tidak juga pada jin

Telah berlalu kebebasan dua golongan

Maka mereka menghiasi hidup dengan kepahitan

Ketahuilah bahwa sesungguhnya sebagian besar kebebasan terdapat dalam pemberian pelayanan pada orang-orang faqir. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Alloh memberikan wahyu kepada Nabi Dawud AS, ‘Jika kamu melihat-Ku dengan pencarian, maka jadikanlah dirimu sebagai pelayan-Ku'”.

RasluLlah SAWW bersabda :

سيّدُالْقوْمِ خادمهم

    “Tuan bagi suatu kaum adalah yang menjadi pelayan bagi mereka”.

Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Anak-anak dunia adalah orang yang dilayani para budak dan pelayan, sedang anak-anak akhirat adalah orang-orang yang dilayani kelompok orang merdeka lagi orang baik”.

Ibrahim bin Adham mengatakan, “Sesungguhnya kebebasan yang mulia adalah keluar (terbebasnya diri) dari penghambaan dunia sebelum dunia meninggalkannya”. Dia juga mengatakan, “Jangan berkawan kecuali kepada orang yang bebas (merdeka) lagi mulia. Mendengarlah dan jangan berbicara”.

6 September 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 1 Komentar

PRAWIRA

PRAWIRA

Alloh SWT berfirman :

انّهم فتية آمنوا برّبهم وزدناهم هوداً

Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk “. (QS : Al-Kahfi 13)

RasuluLloh SAWW bersabda :

لا يزالُ الله تعالى في حاجة العبد مادام العبد في حاجة أخيه المسلم

Alloh Ta’ala senantiasa memenuhi kebutuhan hamba selama hamba tersebut memenuhi kebutuhan saudara muslimnya.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Asal sifat prawira atau pemuda yang satria adalah keberadaannya yang senantiasa dalam urusan saudaranya. Beliau berkata, “Kesempurnaan akhlak semacam ini tidak ada yang memiliknya selain RasuluLlah SAWW. Setiap orang pada hari kiyamat akan  mengatakan “diriku….diriku…” sementara Nabi kita mengucapkan “Umatku…umatku..”

Imam Al-Junaid mengatakan, “Sifat perwira atau satria adalah memaafkan kesalahan kawan-kawannya.” Dikatakan juga bahwa sifat al-futwah atau perwira adalah ketiadaan diri memandang lebih atas yang lainnya. Abu Bakar Al-Waraq mengatakan “Seorang pemuda satria adalah yang tidak memiliki musuh”. Muhammad bin Ali At-Turmudzi mengatakan,”Sifat perwira adalah menjadikan nafsu sebagai musuh Tuhanmu.” Dikatakan, seorang pemuda satria adalah yang tidak memiliki musuh dengan sapapun.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, saya pernah mendengar Nashr Abadzi mengatakan bahwa para pemuda Ashabul Kahfi dinamakan pemuda satria adalah karena keimanannya pada Alloh dengan tanpa perantara”.

Dikatakan juga bahwa pemuda satria adalah mereka yang berani menghancurkan berhala, sebagaimana yang digambarkan Alloh SWT dalam  firman-Nya :

سمعنا فتى يذكر هم يقال له ابراهيم

Kami dengar seorang pemuda yang dipanggil –dengan nama- Ibrahim (yang mencela berhala-berhala ini) QS Al-Anbiya 60)

Pemuda ini menghancurkan berhala-berhala kaum kafir.

فجعلهم جذذا

Maka Ibrahim menjadikan berhala-berhala itu terpotong-potong (QS Al-Anbiya 58)

Berhala pada diri manusia adalah hawa nafsunya, maka seseoarang yang mampu menentang hawa nafsunya pada hakikatnya adalah satria.

Harits Al-Muhasibi mengatakan, “Sifat perwira adalah kemampuan mengambil sifat tengah-tengah dan adil”. Amru bin Utsman Al-Maky mengatakan, “Perwira adalah budi pekerti yang luhur”. Al-Junaid pernah ditanya tentang ini lalu dijawab, “mereka adalah orang yang tidak menjauhi orang miskin dan tidak menentang orang kaya”.

Abul Qasim Nashr Abadzi mengatakan, “Sifat prawira adalah cabang dari sifat Al-Futuwah (satria) yang keberadaannya menentang rasa eksis dan harga diri”.

Ahmad bin Hambal ditanya tentang ini lalu   dijawab, “Meninggalkan apa yang kamu inginkan dan kami takutkan”. Sebagian kaum sufi ditanya, “Apakah yang dimaksud al-futuwah ?’  lalu dijawab, “tidak membeda-bedakan antara orang yang makan bersamanya adalah seorang wali atau orang kafir”. Sebagian orang sufi menceritakan kisah seorang majusi yang bertamu ke rumah Nabi Ibrahim AS. Majusi itu meminta jamuan makan kepadanya.

“Ya dengan syarat kamu harus masuk Islam”. Tawar Nabi Ibrahim AS.

Orang majusi tersebut tidak mau dan meninggalkan Nabi Ibrahim AS, lalu Alloh menegur Nabi Ibrahim AS, “Hai Ibrahim, semenjak 50 tahun Saya memberinya makan meski dia kafir. Seandainya engkau mampu memberinya sesuap saja dengan tanpa syarat untuk merubah agamanya…?”

Nabi Ibrahim AS merasa bahwa wahyu tersebut adalah teguran halus dari Alloh SWT. Beliau merasa bersalah atas sikapnya terhadap orang majusi tadi. Maka Nabi Ibrahim AS keluar mencari orang majusi tadi hingga menemukannya. Beliau meminta maaf atas sikapnya yang kurang meyenangkan. Orang majusi heran dan menanyakan sebab-musabanya. Maka Nabi Ibrahim pun menjelaskan sehingga orang majusi tersebut memeluk Islam dengan sendirinya.

Al-Junaid mengatakan, “sikap perwira adalah kemampuan menahan penderitaan dan mencurahkan kemurahan.” Sedangkan menurut Sahal bin AbduLlah adalah mengikuti sunah. Ada beberapa pendapat yang memberikan definisi al-futuwah. Sebagian mengartikan pemenuhan janji dan pemeliharaan baik. Sebagian lagi mengartikan sebagai perolehan nikmat dan anda tidak memandangnya sebagai kelebihan anda. Ada juga yang mengartikan tidak lari ketika seseorang peminta menghadapnya atau tidak menutup jalan orang yang hendak mendatangi tujuannya atau juga tidak merasa rendah , direndahkan atau mencari-cari alasan.

Terkadang juga diartikan perwira penampakan nikmat  dan merahasiakan penderitaan, atau digambarkan seperti orang yang mengundang sepuluh orang dan tidak merasa keberatan jika yang hadir sebelas orang. Pada prinsipnya, sikap perwira adalah kemampuan untuk meninggalkan sikap membeda-bedakan.

Ahmad bin Hadrawaih mengusulkan kepada isterinya untuk mengundang seseorang. “Saya ingin mengadakan jamuan yang mengundang seorang penyair pengembara yang cerdas. Dia di negerinya dikenal sebagaai seorang tokoh muda yang berjiwa satria,” katanya.

“Engkau tidak akan mendapatkan petunjuk dengan mengundang dia’” timpal isterinya.

“Saya harus mendapatkan”.

“Jika memaksakan, maka engkau harus menyembelih beberapa ekor kambing, sapi dan himar. Kemudian lemparkan binatang sembelihan itu dari pintu seseorang ke pintu rumahmu.”

Mengenai kambing dan sapi maka saya memahminya, tetapi mengenai himar apa fungsinya ?”

“Engkau hendak mengundang seorang pemuda satria untuk datang ke rumahmu, maka jangan menjadikannya lebih sedikit dari kebaikan yang dimiliki seekor anjing.”

Dikisahkan sekelompok ulama mengadakan jamuan makan yang diantaranya terdapat syaikh Syairazi. Ditengah-tengah mereka makan, tiba-tiba rasa kantuk menyerang meraka .

“Apa penyebab kami tertidur ?”

“Tidak tahu. Namun barang kali ada yang bisa mencari alasan dari cerita saya ini. Sebelum mengadakan jamuan ini saya telah berusaha keras untuk bisa mengumpulkan hidangan dengan bahan-bahan yang jelas kecuali seekor anak kambing. Saya belum sempat menanyakan status hukum anak kambing itu”.

Pagi berikutnya dia dan para undangan ini mendatangi penjual anak kambing. Mereka menanyakan asal mula anak kambing yang dibeli tuan pengundang.

“Saya sebelumnya tidak memiliki apa-apa,” jelas penjual kambing.” Kemudian saya mencucri seekor anak kambing dari seorang petani dan menjualnya.”

Merekapun ahirnya mendatangi petni dan meminta keridhaannya. Petaniitu bersedia dengan ganti rugi  seribu ekor anak kambing, dan kami memberinya dengan tambahan sebidang tanah, dua anak sapi, seekor himar, dan beberapa alat pertanian.

Dikisahkan pula tentang seorang pria yang menikahi seorang gadis. Sebelum menikmati malam pertamanya, laki-laki itu melihat penyakit cacar di sebagian tubuh isterinya. Dia terkejut dan spontan mengatakan “subhanaLloh, mataku sakit, saya menjadi buta”.  Isterinya terkejut tetapi tidak berapa lama ia kembali tenang karena suaminya masih bersikap baik dan setia. Dan waktupun berjalan. Sepasang suami isteri itupun hidup bahagia. Mereka menjalani hidup selama 20 tahun, selama itu pula ia tidak pernah mengalami perlakuan buruk dari suaminya sampai ia meninggal. Semenjak ditinggal mati isterinya, lelaki itu kembali membuka matanya.

“Bagaimana mungkin anda bisa menjadi demikian ?”tanya tetangga yang heran melihat dirinya tidak buta lagi.

“Saya sebenarnya tidak buta, hanya saja berpura-pura buta supaya isteriku tidak sedih karena  beban mental yang  disebabkan penyakit cacarnya”.

“Engkau adalah satria sejati”. Timpal seseorang.

Dzunun al-Mishri mengatakan,”Barang siapa yang menghendaki kepandaian (sikap satria) maka wajib atasnya meghidangkan air di Baghda”.

“Bagaimana keadaannya ?”

“Ketika saya dibawa menghadap khalifah karena tuduhan kafir, saya melihat seorang pelayan penghidang minuman yang memakai surban dan sarung tangan model mesir. Pelayan itu membawa beberapa guci keramik lengkap dengan gelasnya. Saya menunjuk ke arahnya seraya mengatakan, “Itu adalah seorang penghidang minuman khusus untuk raja.”

Orang-orang menyangkalnya. “Bukan, dia adalah penghidang minuman untuk umum’. Melihat pengakuan itu, sayapun langsung mengambil guci dan meminumnya. Saya mengatakan kepada orang-orang di sekitarku, ‘Barang siapa mengikutiku, maka saya memberinya dinar.’ Namun tidak seorangpun yang berani megambilnya.’

“Engkau hanyalah seorang tawanan. Bukanlah termasuk golongan satria jika kami mengambil sesuatu darimu.” Kata salah seorang pengunjung yang tidak setuju dengan tawaran Dzunun.

Dikatakan juga bahwa sikap mengambil untung dari seorang kawan termasuk bukan jiwa satria.

Diceritakan seorang pemuda Naisabur yang dikenal memiliki jiwa satria mengadakan perjalanan menuju kota Nasa. Ditengah istirahatnya disebuah penginapan, seorang pria bersama kawan-kawanya bertamu kepadanya untuk meminta jamuan. Para undangan itupun datang dan mereka makan bersama-sama. Selesai makan, seorang pelayan wanita keluar ke ruangan jamuan sambil membawa minuman. Dia menuangkan minuman ke masing-masing gelas di tangan para undangan. Namun begitu sampai kepada tuan rumah, dia menarik tangnnya dan mengambil wudhu. Para undangan keheranan dan bertanya-tanya. Pemuda itu mendekat seraya berkata, “Bukan termasuk orang yang satria jika membiarkan pelayan wanita menuangkan air ke dalam gelas di genggaman kaum pria”.

“Saya semenjak beberapa tahun memasuki rumah ini,” Kata seorang pengunjung,’ belum pernah melihat seorang wanitapun yang menuangkan air minuman ke dalam gelas di tangan kaum pria”.

Manshur Al-Maghribi berkata, “Seseorang bermaksud menguji Nuh Al-Ayyari An-Naisaburi, seorang ulama sufi naisabur. Orang itu kemudian membeli seorang budak wanita yang diberi pakaian laki-laki, dan memang budak itu dirias sehingga tampak seperti seorang pria tampan. Wajahnya sangat elok dan sikapnya menggemaskan. Budak itu dibawa ke rumah Nuh selama beberapa bulan. Selang beberapa waktu, bekas tuannya datang dan bertanya, “Apakah tuanmu (Nuh) telah mengetahui bahwa engkau adalah seorang budak wanita ?”

“Tidak, dida tidak pernah menyentuhku sama sekali. Dia hanya membayangkan bahwa aku adalah seorang budak laki-laki”.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki keji dan licik diminta istana untuk menyerahkan seorang budak guna melayani raja. Laki-laki itu menolak, maka raja memaksanya dengan memberi hukuman seribu cambuk, dan laki-laki itu tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau menyerahkan budaknya meski dihukum berat. Bersamaan dengan itu, dimalam harinya dia bermimpi sampai mengeluarkan air mani. Dia tidak segera mandi jinabat hingga pagi hari karena udaranya sangat dingin. Seseorang yang meilhatnya bertanya, “engkau telah mempertaruhkan jiwamu.” Lalu dijawab, “saya sebenarnya malu kepada Alloh yang hanya mampu bersabar menerima pukulan seribu cambukan hanya karena makhluk, sementara untuk mandi jinabat dengan air yang dingin saja saya tidak mampu, padahal itu untuk memenuhi syariatnya.”

Sekelompok pemuda berkunjung ke rumah seorang pemuda yang dikenal memiliki jiwa satria. Pemuda itu menerima mereka dan mengajaknya bepergian. Di tengah perjalanan mereka menghentikan langkah. Masing-masing mempersilahkan berangkat duluan,”Silahkan anda berangkat duluan’. Mereka diam tidak melangkah. Disusul orang kedua dan ketiga yang juga mengatakan hal yang sama, dan mereka tetap juga tidak bergeming dari posisinya. Hal itu berjalan cukup lama sampai tiap-tiap pengunjung saling berpandang-pandangan.

“Tidaklah satria seseorang yang mempekerjakan orang yang melanggarnya dalam mendahului perjalanan,” kata sebagian mereka.

“Lantas mengapa anda sendiri memperlambat langah ?” tanya seeorang kepada pemuda yang memiliki jiwa satria tadi.

“Dia menjawab, “Di tengah jalan saya dihadang seekor semut. Tidaklah termasuk orang yang sopan jika ia saling mendaului, sementara seekor semut dibiarkan tertinggal  di belakang ; juga bukan seorang satria / perwira seseorang yang menyingkirkan semut dari jalan yang sedang dilaluinya. Karena itu saya diam menanti sampai semut itu merayap menghilang”.

“alangkah baiknya engkau wahai pemuda !” para tamu itu kagum melihat kemuliaan akhlak pemuda itu. “Seperti engkaulah orang yang patut disebut satria”.

Dikisahkan juga tentang seorang jama’ah haji yang ketiduran di kota Madinah. Dalam setengah sadarnya, ia dikejutkan oleh bayangan yang seakan-akan berhasil mencuri kantong uang dinarnya. Laki-laki tersebut lagsung terjaga dari tidurnya, lalu keluar dan diluar tenda dia melihat Ja’far Ash-Shadiq. Dia mencurigai Ja’far karena dialah orang yang pertama kali dilihatnya.

“Engkau mencuri kantongku ?” Tuduhnya.

“Apa isi kantongmu ?”

Seirbu uang dinar.”

Ja’far tidak menyangkal. Beliau langsung pulang mengambil sejumlah uang yang dinyatakan hilang dan memberikannya kepada laki-laki tadi. Lelaki itu kemudian membawanya pulang dan di dalam rumahnya ia melihat kantong uang dinarnya yang disangkanya hilang. Dia menyesal karena telah gegabah menuduh seseorang mencurinya, padahal ia tidak mengenal siapa lelaki itu. Dai kemudian mendatangi lelaki itu dan meminta maaf kepadanya, lalu mengembalikan uang dinar yang diterima darinya. Ja’far menolak seraya mengatakan,”Sesuatu yang telah saya keluarkan dari tangan saya tidak mungkin saya minta kembali”.

Musafir ini merasa tidak enak, dia tidak tahu siapakah lelaki aneh  yang telah dituduhnya mencuri, “Siapakah beliau ?” tanyanya kepada seseorang.

“Ja’far  Ash-Shadiq” jawabnya.

Syaqiq Al-Balkhi pernah bertanya kepada Ja’far bin Muhmmad tentang alfutuwah ((jiwa satria)

“Menurutmu sendiri apa “

“Jika kami diberi, kami berterimakasih, jika tidak diberi kami bersabar”.

“Anjing-anjing di kota kami juga berbuat seperti itu,”Timpal Ja’far.

Wahai cucu RasuluLloh, kalau begitu menurut tuan apa makna alfutuwah ?”

“Jika diberi kami memuliakannya, jika tidak diberi kami berterimakasih”.

AbduLlah AL-Murta’isyi bercerita : Bersama Abu Hafsh kami serombongan menjenguk seorang ulama yang sedang menderita sakit keras.

“Apakah tuan ingin sembuh ?”

“ya”

“Pukulah dia”. Perintah Abu Hafsh

Si orang yang sakit tersebut kemudian berdiri lalu keluar bersama kami. Akhirnya, kami semua menjadi penghuni tempat tidur orang yang sakit dan kami menjadi orang yang dikunjungi.

22 Agustus 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 1 Komentar

MENJAGA HATI PARA GURU

Alloh berfirman menerangkan kisah Nabi Musa AS bersama Nabi Khidir AS :
قال له موسى هل أتبعك علَى ان تعلمني مما علمْت رشدا
Musa berkata kepada Khidir ,, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?” (QS Al-Kahfi 66)
Berkata Imam al Junaid, Ketika Nabi Musa AS ingin bersama Nabi Khidir AS, maka Nabi Musa AS disyaratkan untuk menjaga kesopanan yang telah disepakati dengannya. Syarat ini berkaitan dengan permintaan izin Nabi Musa AS untuk diperbolehkan bersahabat dengan Nabi Khidir AS, kemudian Nabi khidir AS memberikan syarat kepada Nabu Musa AS utuk tidak menentang atau memprotes keputusannya. Kemudian ketika Nabi Musa AS tidak menepati peraturan yang pertama dan kedua, maka kekeliruan Nabi Musa AS ini dimaafkan. Akan tetapi ketika pelanggaran itu sampai ketiga kalinya, tiga merupakan batas terakhir, maka Nabi Khidir AS memutuskan untuk berpisah dengannya seraya mengatakan,
هذا فراق بيني وبينك
“Inilah perjalanan antara aku dan kamu”. (QS Al-Kahfi 78).
RasuluLlah SAWW bersabda, “Tidaklah anak muda memuliakan seorang guru karena umurnya, melainkan Alloh akan mentakdirkannya di masa tuanya dengan dijadikan orang lain yang akan berganti menghormati (memuliakannya).”
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq RahimahuLlah berkata, “awal setiap perpisahan adalah karena adanya pelanggaran, yakni orang yang melanggar gurunya sehingga ia tidak lagi tetap pada thariqah (jalan) gurunya dan hubungan antara keduanya menjadi terputus, walaupun keduanya berada dalam satu tanah. Barang siapa yang bersahabat dengan seorang syaikh atau guru kemudian menentangnya dengan hatinya, maka ia telah merusak perjanjian hubungan murid dengannya, dan ia wajib bertobat”.
Berkata seorang Syaikh, “Menentang guru tidak ada taubatnya (secara sempurna)”.
Syaikh Abu AbdruRrahman As-Sulami berkata, “Saya pernah keluar menuju Marwa di saat guru saya Al-Ustadz Abu Sahal Ash-Sha’luki masih hidup. Sebelum saya keluar beberapa hari yang lalu, dia mengadakan majlis pembacaan Al-Qur’an dan khataman. Ketika pulang, saya melihat dia sedang menggantikan majlis ini dan mengadakan pembicaraan dengan Abul Ghaffani pada saat itu. Saat itu hati saya merasa tidak setuju dan bergumam dalam diri saya sendiri, “Dia telah menggantikan majlis khataman dengan majlis pembicaraan”. Di hari yang lain, guru saya berkata kepada saya, “Wahai Abu AbduRrahman, apa yang dikatakan orang-orang tentang saya ?” Jawabku, “Mereka mengatakan bahwa tuan guru telah menggantikan majlis khataman Al-Qur’an dengan majlis pembicaraan”. Lalu Ustadz Abu Sahal Ash-Sha’luki menjawab dengan menjelaskan, “Barang siapa yang berkata kepada gurunya dengan mengatkan mengapa atau untuk apa, maka ia tidak akan beruntung selamanya”.
Telah diketahui bersama bahwa Al-Junaid berkata, “Saya pernah datang kepada Sarry As-Saqthi di suatu hari. Dia menyuruh saya untuk mengerjakan sesuatu, dan saya melaksanakannya dengan cepat. Ketika saya kembali kepadanya, ia memberi saya selembar kertas dengan berkata,” Inilah tempat pelaksananamu tentang keperluan saya yang kamu laksanakan dengan cepat”. Kemudian saya membaca tulisan kertas tersebut yang ternyata tertulis : “Saya mendengar seorang penggiring onta mendendangkan lagu di lembah :
Saya menangis
Tahukah kamu apa yang menyebabkan aku mnangis ?
Saya menangis karena takut kamu akan meninggalkanku
Dan takut kamu akan memutuskan tali hubunganku
Serta kamu biarkan aku hidup sendiri.
Diriwayatkan dari Abul Hasan Al-Hamdani Al-Alawi yang berkata, “Di suatu malam saya berada di tempat Abu Ja’far Al-Khuldi, saya diperintahkan untuk menggantungkan burung di sangkar di rumah saya, maka saya mengikuti petunjuknya. Kemudian Ja’far berkata kepadaku,, ‘Bangunkanlah di waktu malam’. Maka sayapun mengajukan suatu alasan (pertanyaan kepadanya) kemudian pulang ke rumah dan mengeluarkan burung dari sangkarnya. Burung itu berhenti di hadapan saya. Tiba-tiba muncul seekor anjing yang masuk lewat pintu , membawa burung tersebut ketika orang-orang yang hadir lengah. Ketika pagi hari tiba, saya datang kepada Ja’far. ketika dia melihatku, dia berkata, “Barang siapa tidak menjaga perasaan para guru maka Alloh akan menyuruh anjing untuk menyakiti (mengganggunya).”
AbduLlah ar-Razy telah mendengar Abu Utsman Said Al-Hirri menerangkan sifat Muhammad bin Al-Fadhal Al-Balkhi dan memujinya. AbduLlah ingin sekali mengunjunginya. Ketika mengunjunginya, hati AbduLlah tidak terkesan dengan Muhammad bin Al-Fadhal sebagimana yang diduga sebelumnya karena itu, AbduLlah kembali kepada Abu Utsman.
“Bagaimana kamu dapati dia ?”Tanya Abu Utsman.
“Saya menemuinya tidak seperti yang saya kira”. Jawab AbduLlah
“Karena kamu menganggap kecil (meremehkannya) . ketahuilah tidak seorangpun yang meremehkan orang lain melainkan ia akan dihalangi faedah darinya, karena itu kembalilah kepadanya dengan penuh penghormatan”.
AbduLlah akhirny kembali kepada Muhammad bin Al-Fadhal Al-Balkhi, dan dalam kunjungnnya itu dia membawa banyak manfaat.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Ketika penduduk Balkh mengusir Muhammad bin Al-Fadhal dari daerahnya, dia mendoakan mereka, “Ya Alloh hilangkanlah kejujuran dari mereka.” Maka di daerah Balkh sesudah itu tiada seorangpun yang bisa dipercaya’”.
Ahmad bin Yahya Al-Abiwardi rahimahuLlah berkata.”Barangsiapa yang diridhai gurunya maka sepanjang hidupnya tidak dibalas (kejelekan) oleh Alloh agar rasa ta’zimnya kepada gurunya tidak hilnag. Ketika guru itu telah meninggal, maka Alloh menampakkan balasan keridhaan gurunya. Barang siapa yang gurunya tidak meridhainya maka maka selama hidup guru itu tidak diberi balasan oleh Alloh agar guru tersebut tidak menaruh belas kasihan kepdanya. Sesungguhnya para guru diciptakan sebagai orang-orang yang mulia. Ketika guru itu telah meninggal, maka murid tersebut akan memperoleh balasannya.

18 Agustus 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 3 Komentar

CEMBURU

Alloh berfirman :

قل انّماحرّم ربّي الفواحش ما ظهر وما بطن

“Katakanlah , Tuhanku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi”.(QS Al-A’raf 33)

RasuluLlah SAWW bersabda :

ما احد اغير من الله تعالى ومن غيرته حرّم الفواحش ما ظهر منها وما بطن

“Tiadalah seseorang yang lebih cemburu dari Alloh. Termasuk kecemburuannya adalah mengharamkan perbuatan yang keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi”.

Sabda Beliau yang lain :

انّ الله يُغار وإنّ المؤمنين يغار وغيرة الله تعالى أن يأتي العبد المؤمن ما حرّمالله تعالى عليه

“sesungguhnya Alloh cemburu dan orang mukmin cemburu. Kecemburuan Alloh adalah jika seorang hamba yang beriman melakukan perbuatan yang diharamkan Alloh Ta’ala”.

Ustadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Cemburu adalah kebencian terhadap keikut sertaan orang lain”. Jika Alloh telah cemburu artinya Alloh tidak rela keikut sertaan selain-Nya yang berhak ditaati hamba-Nya. Diceritakan dari Sariy As-Saqthi bahwa pernah dibacakan sebuah ayat di hadapannya :

وإذا قرأت القرآن جعلنا بينك وبين الذين لا يؤمنون بألاخرت حجابا مستوراً

“Dan paabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup”. (QS Al-Isra 45)

Kata sarry kepada sahabat-sahabatnya, “Tahukah kamu apa yang  dimaksud dengan dinding itu ?” Dinding penutup adalah cemburu. Tiada seorangpun yang lebih cemburu daripada Alloh”. Adapun yang dimaksud Sariy dalam ucapannya, “dinding penutup ini adalah cemburu”, adalah Alloh tidak menjadikan orang-orang kafir mengetahui kebenaran agama”.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “sesungguhnya orang-orang yang malas beribadah adalah mereka yang mengikat kebenaran di bawah kaki mereka seperrti orang yang hina, sehingga mereka lebih suka menjauh dari Alloh dan Alloh menjadikan mereka menunda-nunda ibadahnya. Mereka menjadi terlambat dalam hal ini mereka seolah-olah mengatakan :

Aku adalah orang yang jatuh cinta

Pada orang yang aku cintai

Akan tetapi keburukan menghalangiku

Dari memandang orang yang saya cintai

Dalam hal ini mereka juga mengatakan,”Bagi orang sakit yang tidak dikunjungi bagaikan orang yang mengininkan akan tetapi tidak terbalaskan keinginannya”.

Al-Abbas Al-Zauzani berkata,”Saya memiliki suatu awal kebaikan. Saya tahu berapa jarak yang akan saya tempuh untuk mencapai tujuan keselamatan yang saya inginkan. Disuatu malam saya melihat dalam mimpi melihat saya tergelincir dari lereng yang tinggi, lalu saya ingin sekali sampai ke puncak. Saya sangat sedih sekali, kemudian saya terbangun. Saya mendengar seseorang berkata, “Wahai Abbas, Alloh belum menghendakimu sampai kepada sesuatu yang kamu ingini, namun Alloh membuka Al-Hikmah dari lisanmu”. Kata Al-Abbas “Lalu di pagi harinya saya diilhami beberapa kalimat Al-Hikmah”.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Seorang Syaikh memiliki kondisi dan waktu tesendiri bersama Alloh sehingga ia tidak tampak seaat di tengah-tengah orang fakir, kemudian setelah itu ia tampak tidak seperti pada waktu itu”. Hal itu ditanyakan kemudian dijawab, “Ah, sesungguhnya tabir telah menutupinya”.

Ustadz Abu Ali jika di tengah-tengah majlisnya terjadi sesuatu yang mengganggu hati para jama’ah, ia mengatakan, “Ini adalah termasuk kecemburuan Alloh, Dia menginginkkan cerahnya waktu ini tidak dilalui bersama mereka”.

Dia ingin mendatangi kita

Sehingga ketika melihat suatu cermin kecantikan wajahnya

Meka dia menghalanginya untuk mendatanginya

Sebagian ulama shufi ditanya, “Apakah kamu ingin melihatnya ?”

“Tidak”.

Kenapa?”

Saya mensucikan kecantikan itu dari pandangan orang sepertiku”

Sesungguhnya saya hasud

Terhadap kedua pandangan mataku terhadapmu

Sehingga kupejamkan mataku

Jika aku melihatmu

Saya melihatmu berlenggang penuh keindahan

Yang membuatku tertarik

Sehingga saya cemburu kepdamu

Karena keindahanmu

Dalf Asy-Syibli pernah ditanya.”Kapan kamu beristirahat ?”

“Jika saya tidak melihat orang yang mengingatnya” jawabnya.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq pernah menyampaikan sabda Nabi SAWW tentang tabiat beliau kepada seorang pasukan berkuda dari suku badui yang mengundurkan diri, lalu beliau mengijinkannya.

“Semoga Alloh memanjangkan usiamu,” kata Baduwi, “dari suku manakah kamu?”

Seseorang dari Quraisy” jawab Nabi SAWW.

Para sahabat yang mendengar menjadi marah dan langsung menghardiknya, “Celakalah kamu sampai kamu tidak tahu Nabimu”

Menurut Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq jawaban Rasul yang berbunyi “Seseorang dari Quraisy” adalah suatu gambaran tentang kecemburuan. Jika tidak, maka bagi setiap muslim wajib mengetahui RasuluLloh SAWW. Alloh kemudian menjadikan lisan para sahabat untuk memperkenalkan Beliau kepada orang baduwi. Sementara menurut sebagian ulama, cemburu adalah termasuk sifat sufi pemula. Sesunguhnya orang yang mengesakan tidak dapat menyaksikan kecemburuan dan tidak punya pilihan lain dan juga tidak bertindak sesuka hatinya dalam kekuasaan. Akan tetapi, urusan-urusan Alloh lah yang paling utama dalam memutuskan semua yang diputuskan.

Sa’id bin Salam Al-Maghribi berkata, “Cemburu itu perbuatan orang-orang yang belum mantap tauhidnya, adapun orang-orang yang ahli hakikat, tidak “

Dalf Asy-Syibli berkata, “Cemburu ada dua, kecemburuan manusia kepada yang lain dan kecemburuan Tuhan kepada hati memberi tenaga pada manusia untuk tidak peduli pada selain Alloh”. Lebih jelasnya dapat difahami pada keterangan berikut ini : Cemburu itu ada dua, kecemburuan Alloh pada haba yang mengandung makna mengajak manusia untuk tidak menjadikan makhluk sebagai sekutu-Nya sehingga ia menninggalkan-Nya. Kecemburuan hamba karena Alloh mengandung pengertian tentang seorang hamba yang tidak melakukan apa saja selain karena Alloh. Dengan demikian cemburu pada Alloh adalah suatu kebodohan, atau bisa saja menjadikannya meninggalkan agama. Sedangkan cemburu karena Alloh bisa menjadikannya megagungkan hak-hak Alloh dan membersihkan perbuatan untuk ditujukan semata-mata karena Alloh. Dan ketahuilah bahwa termasuk sunatuLloh kepada para Wali-Nya adalah bahwa jika mereka berada pada selain Alloh, cenderung pada selain-Nya, maka Alloh akan mengacaukan hati-Nya, sehingga mereka kembali membersihkan hatinya semata-mata karena Alloh tanpa tergiur kepada selain Alloh. Sebagaimana Nabi Adam AS ketika merasa senang diabadikan di surga, maka Alloh mengeluarkannya. Sebagaimana Nabi Ibrahim AS ketika Beliau heran diperintah untuk menyembelih Nabi Ismail AS, maka Alloh mengeluarkan sifat heran tersebut dari hati Nabi Ibrahim AS :

“Ketika keduanya berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya) (QS Ash-Shafat 103)

‘Dan Alloh pun membersihkan hatinya dengan tebusan yang lain’

Muhammad bin Hasan bercerita :Ketika saya mengelilingi gunung libanon, tiba-tiba muncul seorang pemuda di hadapan kami yang badannya terbakar oleh panasnya udara. Ketika melihat saya dia langsung berpaling dan berlari, lalu saya mengejar dan mengikutinya.

“Nasihatilah saya !” teriak saya dari jarak yang agak dekat.

Tanpa berpaling, pemuda itu meninggalkan pesan, Hati-hatilah sesungguhnya Dia sangat pencemburu. Dia tidak ingin di hati hamba-Nya ada ketertarikan kepada selain-Nya”. Pemuda itu segera menghilang dan saya merenungkan kata-katanya”.

An-Nashr Abadzi berkata, “Alloh itu sangat pencemburu. Diantara kecemburuann-Nya adalah Dia tidak memberikan jalan untuk menuju kepada-Nya di jalan selain jalan-Nya.” Dikatakan bahwa Alloh telah mewahyukan kepada sebagian Nabi-Nya bahwa si Fulan membutuhkan-Ku dan Aku juga membutuhkannya. Jika ia telah memenuhi kebutuhan-Ku maka Aku akan memenuhi kebutuhannya”.

Setelah memperoleh wahyu, maka Nabi tersebut bertanya dalam munajatnya, “Tuhan, bagaimana Engkau mempunyai kebutuhan ?”

“Dia mempunyai kecenderungan kepada selain-Ku, kemudian membersikan hatinya, sehingga Aku memenuhi kebutuhan-Nya, “ Jelas Alloh

Al-Kisah, Abu Yazid Al-Bustami pernah melihat dalam mimpi ada sekelompok bidadari. Dai memandang mereka sampai menghabiskan waktunya dalam berapa hari. Ketika mimpinya terulang lagi, ia tidak menoleh dan mengatakan kepada mereka, “Kamu sekalian hanya akan menyibukkan saya”.

Suatu hari Rabiah Al-Adawiyah mengalami sakit. Salah seorang pengunjung menanyakan keadaannya.

“Apa penyebab penyakitmu ?”

“Saya telah melihat surga di hatiku, lalu Tuhan mendidikku. Dia menegurku,dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Dia berkata sambil memandang Tuhan di dalam hatinya.

Diriwayatkan dari Sariy As-Shaqthi yang menceritaakan, :Saya pernah mencari seorang teman. Daerah-daerah yang saya duga menjadi tempat tinggalnya saya datangi, sampai akhirnya saya tiba dan melewati daerah berbukitan. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh sekelompok orang yang terkena penyakit parah. Diantara mereka ada yang buta, ada pula yang menderita penyakit yang menyengsarakan. Saya Tanya kepada seseorang tentang keadan mereka.

“Di tempat ini setahun sekali dilewati oleh seorang laki-laki aneh yang mendoakan orang-orang sakit yang meminta doanya, dan ternyata mereka sembuh”. Jawab mereka.

Kemudian dengan sabar saya ikut menananti kedatangannya bersama mereka. Waktupun berjalan dan waktu yang saya tunggu pun tiba, ia mendekati orang-orang yang memohon berkah doanya, lalu mendoakan dan mereka sembuh. Tanpa berkata berkata apa-apa lelaki aneh itu melanjutkan perjalanannya. Saya memandangnya sejenak lalu mengikuti jejaknya. Setelah agak jauh, saya menyapanya, “Tuan saya mempunyai penyakit bathin, apa obatnya ?”.

“Wahai Sariy, tinggalkanlah saya. Sesunguhnya Dia sangat pencemburu. Dia tidak mau melihatmu cenderung kepada selain-Nya sehingga Dia berpaling darimu.” Laki-laki aneh itu meninggalkan pesan kemudian pergi.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Diantara kecemburuan-Nya terlihat ketka orang-orang berzikir kepada-Nya dengan hati yang lengah, maka Dia tidak mempedulian mereka”.

Ustaz Abu Ali Ad-Daqaq  RahimahuLloh berkata, “ketika seorang Baduwi masuk masjid RasuluLloh SAWW dan kencing di dalamnya, para sahabat marah dan mengusirnya. Mereka merasa malu dan tidak bisa menerima perbuatannya. Demikian juga seorang hamba yang tahu keagungan Tuhannya. Dia merasa sulit mendengarkan zikir orang yang lengah dan beribadah dengan tidak menjaga kesopanan”.

Al-Kisah ketika Dalf Asy-Syibli ditinggal mati puteranya yang bernama Abul Hasan, isterinya gelisah dan memotong-motong rambutnya. Sementara Asy-Syibli masuk kamar mandi dan melumuri jenggotnya dengan sabun yang hendak dicukurnya. Setiap orang yang datang hendak berta’ziyah menanyakanya, “Apa yang kamu lakukan, wahai Abu Bakar ?”

“Ikut berduka cita bersama isteriku”. Jawabnya.

“Jelaskan kepada kami wahai Abu Bakar, mengapa seperti itu yang kamu lakukan ?”

“Saya tahu mereka mengucapkan bela sungkawa kepadaku dengan hati yang lengah. Mereka mengatakan, ‘semoga Alloh memberimu pahala’ maka saya menebus kelengahan zikir mereka dengan jenggotku.” Jawab Asy-Syibli.

Ahmad An-Nuri seoarng shufi pengembara ketika sedang dalam perjalanannya dia mendengar suara azan, lalu menjawabnya dengan jawaban lain, “Tusukan dan racun kematian.” Selang beberapa detik dia mendengar lolongan suara anjing, lalu menjawab, “Baik, semoga engkau berbahagia”. Orang yang mendengarnya memprotes,” Sesungguhnya hal ini sama dengan meninggalkan agama karena mengatakan tusukan dan racun kematian untuk jawaban suara azan dan menyambut lolongan anjing dengan jawaban yang baik.” Dia menjawab, “Karena suaranya bagaikan kepala orang yang berzikir kepada Alloh dengan hati yang lengah. Sedangkan tentang anjing itu Alloh berfirman :

وإنّ من شئء إلا يسبح بحمده

Dan tidak satupun makhluk melainkan bertasbih dengan memuji-Nya (QS Al-Isra 44)

Dalf Asy Syibli pernah berazan. Ketika sampai pada kalimat syahadatain ia berkata, “Kalau bukan karena Engkau memerintahkan saya, pasti saya tidak ingat selain-Mu”.

Al-Kisah seseorang mengucapkan “Maha besar Alloh” lalu ditmpali seorang ulama sufi, “Saya suka jika kamu membersihkan zikirmu ini”.

Abul Hasan Al-Khazfani mengatakan, Tiada Tuhan selain Alloh dari dalam hati : Muhammad utusan Alloh,dari telinga. Barang siapa melihat dari lahir kata ini, pasti dia akan mengira bahwa ucapan ini meremehkan syariat dan tidak mengingat bahaya kecemburuan Alloh. Karena kekuasaan Alloh mengecilkan yang lain-Nya”

18 Agustus 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

Malu

Galaxi

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللّهَ يَرََى

Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya اللهmelihat segala perbuatannya (Al-‘Alaq 14)

رَسُْولُ اللّه SAWW bersabda :

اَلْحَيَاءُ مِنَ الاِيْمَان

“Malu itu sebagian dari iman”.

Suatu hari رَسُْولُ اللّه SAWW memberi pelajaran kepada para sahabat :

اِسْتَحْيُوْامِنَ اللّهِ تَعَالََى  قَالُوْا اِنَّا نَسْتَحْيِيْ يَا نَبِيَّ اللّهِ وَالْحَمْدُ لِلّهِ  قَالَ  لَيْسَ ذلِكَ  وَلَكِنْ مَنِ اسْتتَحْيَا مِنَ اللّهِ حقَّ الْحَيَّا ءِ فَالْيَحْفَطْ الّرأسَ وَمَا وَعَى وَلِيَحْفَظْ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى  وَلِيَذْكُرَ الْمَوْتَ وَالْبَلَى  وَمَنْ اَرادَ الآخِرَةَ تَرَكََ زِيْنَةَ الدُّنْيَا  فَمَنْ فَعَلَ ذلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللّهِ حَقَّ الْحَيَاء

Malulah kalian pada الله dengan sebenar-benar malu”.

Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya kami telah merasa malu wahai Nabi Alloh. Kami bersyukur dapat berbuat demikian”.

Beliau bersabda, “Bukan demikian ! akan tetapi orang yang malu pada الله yang sebenarnya adalah orang yang menjaga kepalanya dan apa yang terekam di dalamnya, menjaga perut dan apa yang dihimpunnya, dan ingatlah kalian pada kematian dan bahayanya. Barang siapa menghendaki kampung akhirat maka tinggalkanlah perhiasan dunia. Barang siapa mampu mengerjakan demikian, maka sungguh dia telah malu kepada الله dengan sebenar-benar malu”.

Sebagian orang bijak mengatakan, “Malulah kalian dengan rasa malu yang sesungguhnya di majlis orang-orang yang memiliki rasa malu”.

Ibnu Atha’ mengatakan, “Ilmu terbesar adalah rasa segan dan malu. Jika segan dan malu telah hilang, maka tida ada kebaikan yang tersisa di dalamnya”.

Dzun Nun Al-Mishri mengatakan, “Rasa malu adalah adanya rasa segan di dalam hati bersamaan dengan keterlepasan segala sesuatu yang telah lewat dari dirimu menuju ke hadirat Tuhanmu”.

Dikatakan, “Cinta adalah berbicara, rasa malu adalah diam membisu, dan rasa takut adalah kegelisahan”.

Abu Utsman mengatakan, “Orang yang berbicara dengan suasana hati yang diliputi rasa malu, tetapi apa yang dibicarakannya tidak di dalam suasana rasa malu karena الله maka dia adalah orang yang menipu”.

Hasan Al-Hadad bertamu ke rumah AbduLlah bin Manazil.

“Dari mana kamu, “ Tanya tuan rumah.

“Dari majlis Abul Qasim Al-Mudzakir”.

“Tentang apa dia berbicara ?”.

“Tentang malu”.

“Sungguh mengherankan orang yang tidak punya rasa malu kepada الله bagaimana dia bisa berbicara masalah malu ?”

As-Sirri As-Saqathi bekata, “Sesunggunya rasa malu dan jinak  memasuki hati. Jika di dalamnya keduanya menemukan zuhud dan wara’ maka keduanya akan turun. Jika tidak, maka keduanya akan pergi”.

Ahmad Al-Jariri mengatakan, “Sebagian manusia pada kurun pertama bekerja sama dengan agama dalam hal-hal di antara mereka hingga agama menjadi tipis. Kemudian pada kurun kedua bekerja sama dengan pemenuhan janji hingga pemenuhan itu sendiri itu hilang. Kemudian pada kurun ketiga bekerjasama dengan keperwiraan hingga keperwiraan itu sendiri hilang. Kemudian pada kurun keempat bekerja sama dengan rasa malu hingga rasa malu itu hilang. Dan akhirnya jadilah api yang bekerja sama dengan kesenangan dan ketakutan. Dikatakan dalam firman-Nya :

وَلَقَدْْ أَهَمَّ بِهِ وَهَمَّ بِِهَا  لَوْلآ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِِّهِ

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya” (Yusuf 20)

Sesungguhnya burhan atau tanda kebesaran Tuhan (bukti) melemparkan pakaian pada wajah berhala di sisi rumah. Yusuf AS berkata, “Apa yang sedang kamu kerjakan ?”

Burhan tadi menjawab, “Saya malu pada الله”.

Yusuf AS pun menimpalinya, “Saya lebih utama daripada kamu untuk malu kepada الله”.

Di dalam firman-Nya disebutkan, “

فَجَاءتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِى عَلَى اسْتِحْيَاءِ

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan kemalu-maluan (Al-Qashas 25)

Ayat ini ditafsiri dengan mengartikan sesungguhnya wanita itu malu kepada Musa AS karena berani memintanya untuk datang bertamu ke rumahnya. Dia malu pada kemungkinan tidak bersedianya Musa AS atas undanganya. Sifat pengundang yang malu ini merupakan cermin dari sifat malu yang mulia.

Abu Sulaiman Ad-Darani menuturkan bahwa اللهberfirman, “Hai Hamba-Ku sesungguhnya engkau tidak malu kepada-Ku padahal Aku telah menjadikan manusia lupa pada aib-aibmu, menjadikan bumi lupa pada dosa-dosamu, menghapus keteledoranmu dari kitab catatan induk dan tidak akan mendebat hasil hitungan (catatan amalmu) pada hari kiyamat”.

Diceritakan ada seorang lelaki mengerjakan shalat di luar masjid, lalu ditanyakan kepadanya, “Mengapa kamu tidak masuk saja dan mengerjakan shalat di dalamnya ?” Dia menjawab, “Saya malu kepada الله untuk masuk ke dalam rumah-Nya sementara saya sering bermaksiyat kepada-Nya”.

Dikatakan diantara tanda-tanda orang yang punya rasa malu adalah tidak melihat “tempat” yang dipandang memalukan.

Sekelompok ulama sufi bercerita,  Kami di waktu malam pernah melakukan perjalanan jauh dan melewati berbagai tempat yang menjadi sarang harimau. Tiba-tiba di tempat itu kami menemukan seorang laki-laki yang sedang tidur sementara kudanya dibiarkan merumput di samping kepalanya. Kami mencoba menggerakkan tubuhnya dan iapun terbangun.

“Tidakkah kamu takut tidur di tempat yang menakutkan. Ini adalah tempat sarang harimau”. Kata kami mencoba mengingatkannya.

Namun lelaki itu tidak menampakkan ketakutan sama sekali di raut wajahnya. Dia mengangkat kepalanya lalu mengatakan, “Saya malu kepada اللهuntuk takut pada selain-Nya”. Dia kembali meletakkan kepalanya dan tertidur.

الله memberi wahyu kepada Nabi Isa AS,“Nasihatilah dirimu, jika telah menasehati dirimu maka nasihatilah manusia. Jika tidak malulah kamu kepada-Ku untuk memberi nasihat kepada manusia”.

Dikatakan, malu memiliki beberapa bentuk. Malu karena satu pelanggaran sebagaimana Adam AS ketika ditanyakan kepadanya “Apakah kamu akan lari dari Kami ?” lalu dijawab, “Tidak bahkan malu kepada-Mu”.

Malu karena kekurangan sebagaimana yang dikatakan para malaikat, “Maha Suci Engkau tidaklah kami dapat menyembah-Mu sebenar-benar penyembahan”.

Malu karena pengagungan sebagaimana malaikat Israfil AS ketika mengenakan sayapnyan karena malu kapada الله.

Malu karena kemuliaan sebagaimana رَسُْولُ اللّه SAWW yang malu pada umatnya yang hendak meminta mereka keluar (dari acara undangan perjamuan akan tetapi beliau malu mengatakan, maka اللهberfirman :

ولآ مُسْتَأ نِسِيْنَ لِحَدِيْثً

Dan janganlah kalian terlalu asyik memperpanjang percakapan (Al-Ahzab 53).

Malu karena hubungan kerabat sebagaimana Imam Ali RA ketika ditanya Miqdad bin Aswad tentang masalah madzi sampai dia menanyakannya kepada رَسُْولُ اللّه SAWW, dia malu karena mengingat kedudukan Fatimah RA sebagai puteri رَسُْولُ اللّه SAWW yang menjadi isterinya.

Malu karena perendahan sebagaimana Nabi Musa AS yang mengatakan, “Sesungguhnya saya butuh sedikit dunia yang membuat saya malu untuk meminta kepada-Mu wahai Tuhan”. الله pun menimpalinya, “Mintalah kepada-Ku hingga adonanmu tergarami dan kambingmu diberi makan”.

Malu karena penganugerahan. Malu semacam ini merupakan sifat malu milik Tuhan yang terjadi ketika Dia menyodorkan buku catatan kepada hamba setelah dia selesai melewati shiratal mustaqim menuju surga. Tuhan memberikan buku catatan itu dalam keadaan tertutup rapat seraya mengatakan, “Enkau telah melakukan ….engkau telah melakukan…. Saya sungguh malu untuk menampakkan catatan itu kepadamu. Pergi, dan saya benar-benar telah mengampunimu”.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan bahwa Yahya bin Muadz mengatakan, “Maha Suci Dzat yang hamba-Nya berbuat dosa namun Dia malu kepadanya”.

Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Ada lima tanda kesengsaraan yaitu hati yang keras, mata yang beku, sedikit malu, cinta dunia, dan panjang angan-angan”. Dalam sebagian kitab disebutkan, “tidak ada seorang hambapun yang mencapai separuh hak-Ku. Dia berdoa kepada-Ku dan Saya malu menolaknya. Di bermaksiyat kepada-Ku tetapi tidak malu kepada-Ku”.

Yahya bin Muadz mengatakan, “Barang siapa malu kepada الله dalam keadaan ta’at, maka الله akan malu kepadanya ketika dia melakukan dosa”. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Ketahuilah sesungguhnya malu mengharuskan pencarian”.. dikatakan pula, malu adalah pengerutan hati untuk pengagungan Tuhan. Dikatakan, jika seseorang duduk untuk memberikan peringatan kepada manusia, maka dua malaikat memangggilnya seraya berkata, “Nasihatilah dirimu dengan apa-apa yang kamu nasihatkan kepada kawanmu. Jiak tidak, maka malulah kepada Tuhanmu Yang selalu melihatmu.

Al-Junaid ditanya tentang malu, lalu dijawab,” Memandang buruk dan kurang  terhadap perbuatan baikmu. Diantara dua perbuatan itu akan lahir suatu kondisi yang dinamakan malu”

Muhammad Al Washiti berkata, “Tidak akan merasakan kelezatan malu seseorang yang merobek ketentuan hukum atau melanggar janji”.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Malu adalah meninggalkan pengakuan di hadapan الله”. Abu Bakar Al-Warraq berkata, “Terkadang saya shalat dua reka’at karena الله lalu berpaling dari keduanya. Kondisi saya dalam posisi sebagai orang yang berpaling dari pencurian semacam ini merupakan bentuk rasa malu”.

13 November 2009 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 5 Komentar

Ikhlas

images


الله SWT berfirman :

ألالله الدين الخالص

Iungatlah bagi Allah agama yang murni (Az-Zumar 3)

Dari sahabat Anas bin Malik bahwa RasuluLlah bersabda :

ثلاث لا يغل عليهم قلب مسلم : اخلاص العمل لله تعالى, ومناصحة ولاة الامور, ولزوم جماعة المسلمين

Tiga perkara yang tidak bisa dikhianati hati seorang muslim, yaitu keikhlasan amal karena Allah SWT, saling menasihati dalam penguasaan masalah, dan tetapnya jama’ah umat Islam.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Ikhlash adalah penunggalan Al-Haqq dalam mengarahkan semua orientasi ketaatan. Dia dengan ketaatannya dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata, tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditujukan untuk makhluk, tidak untuk mencari pujian manusia atau makna-makna lain selain pendekatan diri kepada Allah SWT”. Bisa juga dikatakan bahwa ikhlas merupakan penjernihan perbuatan dari campuran semua makhluk atau pemeliharaan sikap dari pengaruh-pengaruh pribadi.

RasuluLlah SAW pernah ditanya tentang makna ikhlas lalu dijawab :

سألت جبريل عليه السلام عن الاخلاص ماهو ؟ قال : سألت رب العزة عن الاخلاص ماهو ؟ قال سر من سرى استودعته قلب من احببته من عبادى

Saya bertanya kepada Jibril AS tentang ihklas, apakah itu ? kemudian dia berkata, ‘Saya bertanya Tuhan tentang ikhlas apakkah itu ?, dan Tuhanpun menjawab, ‘Ikhlas adalah Rahsia dari beberapa rahasia-Ku yang Aku titipkan pada hati orang yang Aku cintai diantara hamba-hamba-Ku.”

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “ikhlas adalah keterpeliharaan diri dari keikut campuran semua makhluk. Shidiq (kebenaran) adalah kebersihan diri dari penampakan-penampakan diri. Orang yang ikhlas tidak memiliki riya dan orang yang sidiq tidak akan kagum pada dirinya sendiri”.

Dzunun Al-Mishri berkata, “Ikhlas tidak akan sempurna kecuali dengan sabar dan kebenaran di dalam ikhlas. Shidiq tidak akan sempurna kecuali dengan ikhlas dan terus menerus di dalam ikhlas”. Abu Ya’qub As-Susi berkata, “Kapan saja seseorang masih memandang ikhlas dalam keikhlasannya, maka keikhlasannya membutuhkan keikhlasan”.

Dzunun Al-Mishri berkata, “Ada tiga alamat yang menunjukkan keikhlasan seseorang, yaitu keitadaan perbedaan antara pujian dan celaan, lupa memandang perbuatannya di dalam amal perbuatannya sendiri, dan lupa menuntut pahala atas amal perbuatannya di kampung akhirat”.

Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, “ikhlas adalah ketiadaan bagian atas suatu hal bagi dirinya. Ini adalah ikhlas orang kebanyakan. Adapun ikhlas orang khusus adalah apa yang terjatuh atau terlimpah pada mereka, bukan bersama mereka. Karena itu dari mereka muncul ketaatan dan diri mereka terpisah dari ketaatan itu sendiri. Mererka tidak memandang dan menghitung ketaatan yang terlimpahkan keada diri mereka. Demikian ini merupakan kelompok orang khusus”.

Abu Bakar Ad Daqaq berkata, “Kekurangan setiap orang yang ikhlas dalam keikhlasannya adalah kebiasaan melihat keikhlasannya. Jika Allah menghendaki memurnikan keikhlasan seseorang, maka Dia menggugurkan penglihatan keikhlasannya pada keikhlasannya, sehingga dia menjaid orang yang diikhlaskan atau dimurnikan, bukan orang yang ikhlas atau berusaha mensucikan diri.

Sahal bin AbduLlah mengatakan, “Tidak ada yang mengetahui orang yang riya’ selain orang yang ikhlas”. Abu Said mengatakan, “Riya’ orang-orang yang ahli ma’rifat lebih utama daripada ikhlas para murid”. Dzunun Al Mishri mengatakah, “Ikhlas adalah apa yang terpelihara daripada permusuhan yang merusak”. Abu Utsman Al-Hirri mengatakan, “Ikhlas adalah pelupaan penglihatan makhluk dengan keabadian memandang Sang Maha Pencipta”. Khudzaifah Al-Mar’isi berkata, “Ikhlas adalah penyamaan perbuatan-perbuatan hamba pada segi lahir maupun bathin”. Dikatakan juga bahwasanya ikhlas adalah apa yang dikehendaki Al-Haqq dan yang dimaksudkan tujuan shiddiq(kebenaran).

Terkadang juga ikhlas diartikan sebagai kepura-puraan tidak tahu daripada melihat berbagai amal perbuatan.

As-Sirry As-Saqaty mengatakan,”Barang siapa menghiasi dirinya untuk manusia dengan sesuatu yang tidak ada pada manusia, maka dia gugur dari pandangan Allah”. Al-Fudhail bin Iyadh mengatakan,”Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan berbuat amal kenbajikan karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah pembebasan Allah pada anda dan keduanya”. Al-Junaid mengatakan, “Ikhas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya. Tidak ada malaikat yang mengetahui dan mencatatnya. Tidak ada syetan yang mengetahui dan merusaknya, dan tidak ada hawanafsu yang mengetahui lalu mencondongkannya”.

Ruwaim mengatakan, “Keikhlasan suatu perbuatan adalah ketiadaan kehendak bagi pemiliknya untuk mendapatkan ganti / pahala dari dua alam (dunia dan akhirat) dan ketiadaaan permintaan bagian dari dua malaikat (penjaga neraka dan surga).”

Ditanyakan kepada Sahal bin AbduLlah, “Hal apa yang paling berat bagi manusia ?”

“Ikhlas. Karena di dalamnya tidak ada tuntutan bagian bagi pelakunya”. Jawabnya. Sebagian ahli sufi juga ditanya tentang hal yang sama lalu dijawab, “”Hendaknya engkau tidak mempersaksikan amalmu selain kepada selain Allah SWT.”

Seorang sufi bercerita : Saya pernah masuk ke urmah Sahal bin AbduLlah pada hari jum’at sebelum salat dilaksanakan. Saya lihat di rumahnya ada seekor ular yang menmbuat saya mengedepankan seseorang dan mengakhirkan yang lain. Tiba-tiba Sahal berkata,”Masuklah, seseorang tidak takan mencapai hakikat iman sementara di permukaan bumi masih ada yang ditakutkan”.

“Apakah kamu hendak salat Jumn’at ?” Tanya dia kemudian.

Saya lantas berkata bahwa diantara kami dan masjid terdapat jarak sejauh perjalanan kaki sehari semalam. Saya menempuh jarak perjalanan itu dan tidak ada jarak lagi selain tinggal sedikit sehingga saya melihat masjid lalu saya masuk dan salat jum’at di dalamnya. Kemudian saya keluar dari masjid tiba-tiba Sahal berkata, “Orang-orang yang mengucapkan Laa Ilaaha IllaLlah sangat banyak, akan tetapi yang ikhlas sangat sedikit”.

Makhul berkata, “Tidaklah seorang hamba selama 40 hari mampu berbuat ikhlas melainkan sumber-sumber hikmah akan keluar dari hatinya melalui lidahnya”. Yusuf bin Husain berkata, “Paling mulia sesuatu di dunia adalah ikhlas. Betapa berat asaya berjuang menggugurkan riya dari hati saya tetapi seakan-akan riya masih tumbuh dengan warna yang lain”. Abu Sulaiman Ad-daraani berkata, “Jika seorang hamba ikhlas, maka rasa waswas dan riya akan terputus darnya”.

 

25 Juni 2009 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 1 Komentar

Istiqamah

images

بسم الله الرحمن الرحيم

الله SWT berfirman: الله SWT berfirman :

ان الدين قالواربنا الله ثم استقامو تتنزل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا ان الدين قالواربنا الله ثم استقامو تتنزل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا

وأبشروابالجنة التي كنتم توعدون (فصلت 30) وأبشروابالجنة التي كنتم توعدون (فصلت 30)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah الله Kemudian mereka meneguhkan (pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata),” Janganlah kamu Merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan (mendapatkan) surga yang الله telah dijanjikan kepada kamu. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah الله kemudian mereka meneguhkan (pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan (mendapatkan) surga yang telah dijanjikan الله kepada kamu. (QS: Fushilat 30). (QS : Fushilat 30).

Dari Tsauban dari Nabi SAW diceritakan Bahwa beliau bersabda: Dari Tsauban dari Nabi SAW diceritakan bahwa beliau bersabda :

استقيمواولن تحصوا, واعلموا ان خير دينكم الصلاة, ولن يحافظ على الوضوء الا المؤمن استقيمواولن تحصوا, واعلموا ان خير دينكم الصلاة , ولن يحافظ على الوضوء الا المؤمن

“Istiqamahlah kamu dan janganlah sekali-kali menghitung-hitung (amal) mu. “ Istiqamahlah kamu dan janganlah sekali-kali menghitung-hitung (amal)mu. Ketahuilah Bahwa Amalan Sebaik-baik agamamu adalah shalat. Ketahuilah bahwa sebaik-baik amalan agamamu adalah shalat. Dan tidak ada yang mampu menjaga wudhu selain orang mukmin “ Dan tidak ada yang mampu menjaga wudhu selain orang mukmin”

Suatu Istiqamah adalah derajat yang dengannya akan terwujud kesempurnaan dan kelengkapan perkara Kebajikan. Istiqamah adalah suatu derajat yang dengannya akan terwujud kesempurnaan dan kelengkapan perkara kebajikan. Istiqamah dengan berbagai kebaikan dan koordinasi Sistematika kebaikan menjadi ada. Dengan istiqamah berbagai kebaikan dan koordinasi sistematika kebaikan menjadi ada. Orang yang tidak bisa Menjalankan Istiqamah di dalam ibadahnya, maka usahanya menjadi sirna dan perjuangannya dihitung gagal. اللهberfirman: Orang yang tidak bisa menjalankan istiqamah di dalam ibadahnya, maka usahanya menjadi sirna dan perjuangannya dihitung gagal. اللهberfirman :

ولا تكونوا كا التي نقضت غزلهامن بعض قوة أنكاثا ولا تكونوا كا التي نقضت غزلهامن بعض قوة أنكاثا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang-benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi tercerai berai”.Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang-benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi tercerai berai”.

Barang siapa tidak Istiqamah dalam menetapi sifat baiknya, maka ia tidak bisa memperbaiki dan meningkat dari satu Maqam ke Maqam berikutnya serta tidak bisa mempertegas kepastian perilakunya mengarah kepada kebaikan. Barang siapa tidak istiqamah dalam menetapi sifat baiknya, maka ia tidak bisa memperbaiki dan meningkat dari satu maqam ke maqam berikutnya serta tidak bisa mempertegas perilakunya mengarah kepada kepastian kebaikan. Istiqamah Merupakan syarat utama bagi pemula dalam menjalani perjalanan sufi. Istiqamah merupakan syarat utama bagi pemula dalam menjalani perjalanan sufi. Sebagaimana keharusan orang yang makrifatuLlah untuk tetap beristiqamah dalam etika pengetrapan berbagai tahapan tahapan akhir pengarungan sufi. Sebagaimana keharusan orang yang makrifatuLlah untuk tetap beristiqamah dalam pengetrapan berbagai etika pengarungan tahapan tahapan akhir sufi. Maka diantara tanda-tanda bagi sufi pemula Istiqamah adalah ketiadaan perubahan pelaksanaan ibadahnya, meski hanya sekejap. Maka diantara tanda-tanda istiqamah bagi sufi pemula adalah ketiadaan perubahan pelaksanaan ibadahnya, meski hanya sekejap.Sedangkan tanda-tanda dari Istiqamah sufi yang berada di tengah-tengah perjalanan sufinya adalah keharusan dia untuk tidak menyelai tahapan-tahapan dari satu perjalanan sufinya Maqam ke Maqam berikutnya atau pemberhentian dengan istirahat. Sedangkan tanda-tanda istiqamah dari sufi yang berada di tengah-tengah perjalanan sufinya adalah keharusan dia untuk tidak menyelai tahapan-tahapan perjalanan sufinya dari satu maqam ke maqam berikutnya dengan pemberhentian atau istirahat. Adapun bagi sufi pamungkas, diantara tanda-tandanya adalah ketiadaan intervensi ketertutupan (hijab atau tabir yang menghalangi pemunculan kepada kemakrifatannya الله) dalam keberlangsungan ma’rifatuLlah. Adapun bagi sufi pamungkas, diantara tanda-tandanya adalah ketiadaan intervensi ketertutupan (hijab atau pemunculan tabir yang menghalangi kemakrifatannya kepada الله) dalam keberlangsungan ma’rifatuLlah.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Istiqamah Putaran memiliki tiga Tingkatan. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Istiqamah memiliki tiga putaran tingkatan. Pertama adalah Penegakan, kemudian berdiri, dan akhirnya Istiqamah (kontinyu). Taqwim / Penegakan Merupakan proses latihan nafsu. Iqamah / berdiri Merupakan pendidikan hati. Pertama adalah penegakan, kemudian berdiri, dan akhirnya istiqamah (kontinyu). Taqwim / penegakan merupakan proses latihan nafsu. Iqamah / berdiri merupakan pendidikan hati. Dan Pendekatan Istiqamah adalah rahasia-rahasia. Dan istiqamah adalah pendekatan rahasia-rahasia.

Dalam hal ini kaitannya dengan ayat, “Kemudian mereka ber Istiqamah” Abu Bakar As-shidiq mengartikan, “mereka tidak syirik”. Dalam hal ini kaitannya dengan ayat, “ kemudian mereka ber istiqamah” Abu Bakar As-Shidiq mengartikan, “mereka tidak syirik”. Sementara Umar RA menafsiri Sebagai orang yang pergi ke sana ke mari seperti serigala yang Berjalan berputar-putar dalam keadaan miring. Pernyataan Abu Bakar RA mengandung makna Memperhatikan kejelian dalam dasar-dasar tauhid, Sedangkan Umar RA Pernyataan menyiratkan makna pelepasan tuntutan Penafsiran dan konsistensi dalam menetapi syarat perjanjian. Sementara Umar RA menafsiri sebagai orang yang pergi ke sana ke mari seperti serigala yang berjalan berputar-putar dalam keadaan miring. Pernyataan Abu Bakar RA mengandung makna kejelian dalam memperhatikan dasar-dasar tauhid, sedangkan pernyataan Umar RA menyiratkan makna pelepasan tuntutan penafsiran dan konsistensi dalam menetapi syarat perjanjian.

Ibnu Atha ‘mengatakan, “Istiqamahlah kalian penyatuan dalam kesendirian hati dengan الله.” Ibnu Atha’ mengatakan, “ Istiqamahlah kalian dalam penyatuan kesendirian hati dengan الله .”

Abu Ali Al-Jauzajani RA berkata, “jadilah Pelaku Istiqamah dan jangan Menuntut Karamah. Abu Ali Al-Jauzajani RA berkata, “jadilah pelaku istiqamah dan jangan menuntut karamah. Dirimu selalu bergerak dalam pencarian Karamah, Sedangkan Tuhanmu menuntutmu untuk tetap dalam Istiqamah “. Dirimu selalu bergerak dalam pencarian karamah, sedangkan Tuhanmu menuntutmu untuk tetap dalam istiqamah”.

“Suatu hara Saya Lihat Nabi SAW dalam mimpi”, cerita Ali As-Syabawi, “lalu saya bertanya kepada beliau,” Bahwa Tuan Diceritakan dari Tuan pernah berkata, ” ‘Surah Hud menjadikan rambutku beruban. “Suatu hara saya melihat Nabi SAW dalam mimpi”, cerita Ali As-Syabawi, “lalu saya bertanya kepada beliau, “Diceritakan dari Tuan bahwa Tuan pernah berkata, “’Surah Hud menjadikan rambutku beruban. Apa yang membuat Tuan rambut beruban? Apa yang membuat rambut Tuan beruban ? apakah kisah-kisah para Nabi atau kerusakan umat? “. apakah kisah-kisah para Nabi atau kerusakan umat ?”. Kemudian Beliau menjawab, “Bukan itu akan tetapi firman-Nya yang berbunyi:kemudian Beliau menjawab, “Bukan itu akan tetapi firman-Nya yang berbunyi :

فا ستقم كما أمرت فا ستقم كما أمرت

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar Sebagaimana diperintahkan kepadamu. Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu . (QS Hud 112) (QS Hud 112)

Bahwa dikatakan tidak ada yang kuat menjalani Istiqamah kecuali orang-orang yang Berjiwa Besar Menuntut Istiqamah karena pengeluaran diri dari apa-apa yang dijanjikan dan pemisahan dari legitimasi (Pengakuan atau stempel) dan adat.Dikatakan bahwa tidak ada yang kuat menjalani istiqamah kecuali orang-orang yang berjiwa besar karena istiqamah menuntut pengeluaran diri dari apa-apa yang dijanjikan dan pemisahan dari legitimasi (pengakuan atau stempel) dan adat.Berdiri tegak di hadapan الله memang harus didasarkan pada hakikat kebenaran. Berdiri tegak di hadapan الله memang harus didasarkan pada hakikat kebenaran . karena itu Nabi SAWW bersabda: karena itu Nabi SAWW bersabda :

استقيموا ولن تحصوا استقيموا ولن تحصوا

“Istiqamahlah kalian dan jangan sekali-kali menghitung-hitung (amal bagusmu)Istiqamahlah kalian dan jangan sekali-kali menghitung-hitung (amal bagusmu)

Istiqamah adalah sifat akhlak sempurna, tanpa Istiqamah akhlak akan menjadi buruk “. Istiqamah adalah sifat akhlak sempurna, tanpa istiqamah akhlak akan menjadi buruk”. Kata Muhammad Al Wasithi. Kata Muhammad Al Wasithi.

“Istiqamah adalah pada waktu anda penyaksian Bersamaan dengan pelaksanaannya”. “Istiqamah adalah penyaksian anda pada waktu bersamaan dengan pelaksanaannya”. Nasihat Dalf As-Syibli.Nasihat Dalf As-Syibli.

Bahwa dikatakan Istiqamah dalam kata-kata adalah dengan Meninggalkan ghaibah (Berbisik membicarakan kejelekan orang lain). Dikatakan bahwa istiqamah dalam kata-kata adalah dengan meninggalkan ghaibah (berbisik membicarakan kejelekan orang lain). Meninggalkan dengan perbuatan dalam bid’ah, intensivikasi dalam perilaku peniadaan dengan penangguhan, dan dalam peniadaan Ahwal dengan jilbab. Dalam perbuatan dengan meninggalkan bid’ah, dalam intensivikasi perilaku dengan peniadaan penangguhan, dan dalam ahwal dengan peniadaan hijab.

Imam Abu Bakar Muhammad bin Husain bin Furak mengatakan, “Istiqamah adalah dosa dosa dalam penuntutan. Imam Abu Bakar Muhammad bin Husain bin Furak mengatakan, “ sin dalamistiqamah adalah sin penuntutan. Artinya para sufi Pelaku pelurusan Meminta sikap pada Al-Haqdengan didasarkan pada nilai-nilai tauhid, kemudian mereka mempunyai kekuasaan atau kekuatan menjaga janjinya dan Batasan-Batasan hukumnya “. Artinya para pelaku sufi meminta pelurusan sikap pada Al-Haq dengan didasarkan pada nilai-nilai tauhid, kemudian mereka menepati janjinya dan menjaga batasan-batasan hukumnya”.

Ketahuilah Bahwa keabadian Istiqamah mengharuskan Karamah. الله SWT berfirman:Ketahuilah bahwa istiqamah mengharuskan keabadian karamah. الله SWT berfirman :

وأن لواستقامواعلى الطريقة لآسقيناهم مأء غدقا وأن لواستقامواعلى الطريقة لآسقيناهم مأء غدقا

“Dan Jika mereka tetap Berjalan mulus (Istiqamah) di atas jalan itu (agama Islam), tentu Kami akan benar-benar memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak). (Al Jin 16) “Dan jika mereka tetap berjalan mulus (istiqamah) di atas jalan itu (agama Islam), tentu Kami akan benar-benar memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak). ( Al Jin 16)

الله tidak mengatakan “saqaiNaahum” yangbermakna Kami memberi minum kepada mereka, akan tetapi mengatakan, “Asqainaahum” yangbermakna Kami benar-benar memberi minum kepada mereka. الله tidak mengatakan “saqaiNaahum” yang bermakna Kami memberi minum kepada mereka, akan tetapi mengatakan ,”Asqainaahum” yang bermakna Kami benar-benar memberi minum kepada mereka. Arti ini mengandung makna keabadian. Arti ini mengandung makna keabadian.

Al-Junaid bercerita: Saya pernah Bertemu seorang pemuda di bawah pohon besar di daerah pedalaman. Al-Junaid bercerita : Saya pernah bertemu seorang pemuda di bawah pohon besar di daerah pedalaman. Pemuda Ini merupakan salah seorang sufi murid yang sedang menjalani laku bathin. Pemuda ini merupakan salah seorang murid sufi yang sedang menjalani laku bathin. Dia sedang duduk di bawah pohon Suatu besar. Dia sedang duduk di bawah suatu pohon besar.

“Apa yang membuatmu duduk di sini?” Tanya saya.“Apa yang membuatmu duduk di sini ?” tanya saya.

“Mencari hal yang hilang”. “Mencari hal yang hilang”. jawabnya jawabnya

Sayapun berlalu meninggalkannya. Sayapun berlalu meninggalkannya. Ketika pulang dari haji, saya mendapatkan pemuda tadi berpindah tempat duduk di dekat pohon besar. Ketika pulang dari haji, saya mendapatkan pemuda tadi berpindah tempat duduk di dekat pohon besar.

“Apa yang membuatmu pindah dan duduk di sini?”“Apa yang membuatmu pindah dan duduk di sini ?”

“Saya Menemukan apa yang saya cari ternyata ada di tempat ini. “Saya menemukan apa yang saya cari ternyata ada di tempat ini. Karena itu saya pindah dan menetapinya “. Karena itu saya pindah dan menetapinya”.

Al-Junayd heran dan bergumam, “Saya tidak tahu, mana yang lebih mulia. Al-Junaid heran dan bergumam, “Saya tidak tahu, mana yang lebih mulia. Apakah tetapnya (Istiqamah) karena pencarian sesuatu hal yang hilang atau tetapnya pada Suatu tempat yang di dalamnya diperoleh apa yang dikehendakinya “. Apakah tetapnya (istiqamah) karena pencarian sesuatu hal yang hilang atau tetapnya pada suatu tempat yang di dalamnya diperoleh apa yang dikehendakinya”.

15 Mei 2009 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 1 Komentar

Sesungguhnya iradah adalah kepedihan hati karena jeratan cinta kepada الله

Iradah

الله SWT berfirman :

ولا تطرد الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan petang hari, sedangkan mereka menghendaki keridaan-Nya (Al-An’am 52).

Dari Anas bin Malik diceritakan bahwa Nabi SAW bersabda, :

اذا اراد الله بعبد خيرا استعمله, قيل له كيف يستعمله يا رسول الله ؟ قال : يوفقه لعمل صالح قبل الموت

Jika الله menghendaki kebaikan seorang hamba maka dia dipekerjakan (dengan kebaikan itu). Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana ia dipekerjakan-Nya Ya رسول الله ?” Nabi menajwab, ‘Diberi pemahaman untuk beramal kebajikan sebelum mati.”

Iradah (kehendak) adalah awal perjalanan para salik yang sebenarnya merupakan nama bagi tahapan / maqam pertama pendakian para salik untuk menuju ke hadirat الله. Sifat ini dinamakan iradah karena iradah merupakan awal segala urusan. Barang siapa tidak memiliki kehendak terhadap sesuatu maka tidaklah mungkin ia melakukannya..

.

.

Baca Selengkapnya di sini

.

.

.

12 Oktober 2008 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

Ubudiyah

بسم الله الرحمن الحيم

الله SWT berfirman :

واعبد ربك حتى يأتيك اليقين

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang  padamu yakin. (mati)-Al-Hijr 99

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Abu Hurairah RA bahwa رسول الله SAW bersabda :

سبعة يظلهم الله فى ظله يوم لا ظل الا ظله امام عادل وشاب نسأ بعبدة الله تعالى

ورجل قلبه معلق بالمسجد ادْا خرج منه حتى يعود اليه ورجلان تحاب فى الله اجتمع على دْالك

وتفرقا عليه ورجل دْكر الله تعالى خاليا ففاضة عيناه ورجل دعته امرأة دْات حسن و جمل فقال انى اخاف الله

رب العالمين ورجل تصدق بصدقة فاخفاهاحتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

Yang artinya : Tujuh orang yang akan diberi naungan oleh الله SWT pada hari tiada naungan melainkan naungan-Nya.

1. Imam yang adil.

2. Pemuda yang gemar melakukan ibadah kepada الله SWT.

3. Seorang yang hatinya selalu bergantung (berhubungan) dengan masjid apabila keluar sampai dia kembali.

4. dua orang yang saling mencintai karena الله SWT, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya.

5. Seorang yang berzikir kepada الله sendirian maka kedua matanya berlinang air mata.

6. Seorang lelaki yang diajak seorang wanita yang cantik jelita dan ia menjawab, “Sesungguhnya aku takut kepada الله Tuhan semesta alam”.

7. Seseorang yang bersedekah dengan suatu pemberian secara tersembunyi, hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya.

.

…..Baca Selengkapnya.

1 September 2008 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

Ridha ( الرض )

بسم الله الرحمن الرحيم

Takutlah pada manisnya ta’at karena ia akan dapat menjadi racun yang membunuh

.

Rabi’ah Al-Adawiyah pernah ditanya, “Kapan seseorang disebut sebagai orang yang ridha ?”. Dia menjawab, ‘Apabila dia senang ketika mendapatkan musibah sebagaimana dia senang ketika mendapatkan kenikmatan’……….

رضي الله ورضوا عنه دٍْْلك الفوز الظيم

Read more click …..here

20 Juli 2008 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

Al-Muraqabah

Allah SWT berfirman, “Wa kaanaLlaahu ‘alaa kulli syai’in raqiibaa”. Dan sesungguhnya Allah SWT Maha mengawasi atas segala sesuatu’.  ………………Baca Selengkapnya klik di sini

13 Juni 2008 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

Sabar

Allah SWT berfirman, “Washbir, mawaa shabruka illa biLlaah” yang artinya, “Sabarlah engkau yaa Muhammad, dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah”. (An-Nahl 27).

Dari ‘Aisyah RA, diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Inna shabra ‘inda shadmatil uula”. ‘Sesungguhnya sabar yang sempurna itu pada pukulan yang pertama’.

Dari sahabat Anas bin Malik diriwayatkan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Sabar yang paling sempurna adalah pada pukulan (ketika menghadapi cobaan) yang pertama”. Sabar itu terbagi menjadi dua, yaitu sabar yang berkaitan dengan usaha hamba dan sabar yang tidak berkaitan dengan usaha hamba. Sabar yang berkaitan dengan usaha hamba terbagi menjadi dua, yaitu sabar terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan sabar terhadap apa yang dilarang-Nya. Sedang sabar yang tidak berkaitaan dengan usaha adalah sabar terhadap penderitaan yang terkait dengan hukum karena mendapatkan kesulitan.

Al- Junaid mengatakan, “Perjalanan dari duniia menuju akhirat adalah mudah dan menyenangkan bagi orang yang beriman. Putusnya hubungan makhluk di sisi Allah SWT adalah berat. Perjalanan dari diri sendiri menuju kepada Allah SWT adalah berat. Dan sabar kepada Allah SWT tentunya akan lebih berat”. Beliau ditanya tentang sabar lalu menjawab, “Menelan kepahitan tanpa bermasam muka”…………………………….Selengkapnya klik di sini

31 Mei 2008 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar