بسم الله الرحمن الرحيم

Risalah Al Muawwanah 27

Dan wajib bagi kamu memberi nasihat kepada setiap orang islam, dan klimaknya adalah engkau tidak menyembunyikan sesuatu yang engkau lihat, dan mengutarakannya tentang apa yang menjadikan mereka menjadi baik dan menjadi keselamatan bagi mereka sehingga mereka terhindar dari keburukan.

Telah bersabda RasuluLloh SAWW  :

الدين نصيحة

Agama adalah nasihat”.

Dan termasuk sebagian dari nasihat adalah kesamaan sikapmu terhadap mereka ketika mereka ada maupun ketika mereka tidak ada, dan engkau tidak memperlihatkan kepadanya kasih sayang dengan lisanmu lebih dari apa yang tersembunyi di dalam hatimu. Dan diantara nasihat kepada muslim adalah jika engkau diajak bermusyawarah tentang sesuatu hal dan engkau melihat bahwa yang baik itu ada pada sesuatu yang bertentangan dengan kecondongan hati mereka, maka engkau memilih apa yang baik dan tidak memilih apa yang menjadi kecondongan hati mereka.

Dan termasuk hal yang bertentangan dengan penasihatan kepada orang islam adalah adanya rasa dengki terhadap orang islam atas apa yang Alloh berikan kepada mereka dari beberapa keni’matan dan kelebihan. Dan asal dari sifat dengki adalah keberatan hatimu atas ni’mat Alloh yang diberikan kepada hamba-Nya baik itu dalam hal urusan dunia maupun urusan agama. Dan klimak dari dengki adalah engkau berangan-angan hilangnya ni’mat darinya. Telah datang penjelasan di dalam hadits bahwa dengki itu dapat membakar kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu. Dan dengki itu berseberangan dengan kehendak Alloh SWT di dalam kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya, dan seakan-akan orang yang dengki itu berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah meletakkan ni’mat bukan pada tempatnya”.

Dan tidak menjadi bahaya dengan memendam keinginan atas ni’mat yang Alloh berikan kepada hamba-Nya kemudian ia bersungguh-sungguh meminta kemurahan-Nya.

Dan wajib bagi kamu apabila engkau dipuji oleh seseorang dan engkau dapati hatimu tidak menginginkan pujian itu, kemudian orang tersebut tetap memujimu atas kebaikan yang ada di dalam dirimu, maka ucapkanlah :

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى أظْهَرَ الْجَمِيْل وَسَتَرَ الْقَبِيْح

Segala puji bagi Alloh yang telah menampakkan kebaikan dan menutup keburukan.

Dan apabila terlontar pujian kepadamu sementara engkau tahu bahwa engkau tidaklah demikian seperti apa yang mereka pujikan, maka ucapkanlah sebagaimana sebagian ulama salaf berdoa :

اللهمَّ لأ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ وَاغْفِرْ لِى ماَ يَعْلَمُوْنَ وَاجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْن

Yaa Alloh, jangan engkau hukum aku atas apa yang mereka ucapkan, dan ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah kebaikan bagiku atas apa yang mereka sangkakan.

Adapun dirimu, maka janganlah mengeluarkan pujian kepada seseorang kecuali engkau mengetahui bahwa dengan pujian itu akan menjadikan kebaikannya bertambah. atau karena pujian yang engkau ucapkan itu sebagai penghormatan kepada mereka karena kelebihan mereka, yang mungkin tidak engkau ketahui. Maka pujianmu atas mereka adalah untuk mengetahui kelebihan dan keutamaan mereka dengan syarat hatimu bersih dari dusta dan menjaga dari tergelincirnya orang yang dipuji.

Dan wajib bagi kamu apabila ingin memberikan nasihat kepada seseorang, maka jika memungkinkan sampaikanlah dengan cara yang halus dan perkataan yang lembut dan menghindari dengan mempergunakan perkataan yang jelas dan kasar selama masih memungkinkan ucapan yang lembut tadi dapat difahami. Kemudian apabila orang yang dinasihati tersebut mencari informasi tentang siapa yang memberitahu kepada kita perihal dirinya, maka simpanlah dan jangan diberitahukan agar tidak terjadi permusuhan antara dia dengan orang lain. Dan apabila dia mahu menerima nasihat itu, maka memujilah Alloh dan bersyukur kepada-Nya. Dan apabila nasihat kita tidak diterima, maka kembalilah kepada meneliti diri dan hawa nafsumu, dengan mencaci maki diri sendiri.

Dan apabila kamu diberi amanat oleh seseorang maka jagalah amanat itu dengan lebih bersungguh-sungguh dibanding jika engkau menjaga harta yang menjadi  milikmu sendiri

Dan wajib bagi kamu menyampaikan amanah dan takutlah kamu daripada berbuat khianat.

Sungguh telah bersabda RasuluLloh SAWW :

لا ايمان لمن لا أمانة له

Tiada iman seseorang yang tidak memiliki sifat amanah.

Dan wajib bagi kamu untuk berkata jujur / benar dalam ucapan dan menepati janjimu karena mengingkari janji adalah termasuk tanda-tanda sifatnifaq.

Diterangkan di dalam hadits :

Tanda-tanda nifaq itu ada tiga, apabila berbicara berdusta, apabila berjanji dia ingkar, apabila diberi amanat dia berkhianat.

Dan wajib bagi kamu waspada dari sifat riya’ dan suka berdebat karena dua hal tersebut dapat mengeraskan hati dan dapat melahirkan permusuhan. Dan apabila engkau di debat seseorang dan apa yang ia sampaikan itu benar, maka wajib bagi kamu menerima kebenaran itu darinya karena kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti. Atau jika yang disampaikan itu hal yang bathil maka wajib bagimu untuk berpaling darinya, karena yang demikian itu adalah kebodohan. Alloh SWT telah berfirman

واعرض عن الجاهلين

Dan berpalinglah kamu dari orang-orang yang bodoh

27 Oktober 2010 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Risalah Al-Muawwanah 26

Dan takutlah kamu daripada menyakiti hati orang mukmin dengan menolak uluran tangan/kebaikannya, dan hendaklah engkau tahu bahwa apa yang kamu dapatkan melalui perantaraan orang lain tersebut sesungguhnya semua itu hakikatnya dari Alloh  SWT, dan sesungguhnya orang lain tersebut hanya sebagai perantara yang tunduk dan patuh kepada takdir Alloh SWT sehingga dapat menyampaikan kebaikan dari Alloh melalui mereka kepada dirimu.

Dan di dalam penolakan atas pemberian orang lain tersebut terdapat beberapa bahaya besar yaitu bahwasanya kebanyakan orang terbawa perasaan rendah diri kepada orang yang telah menolak pemberian atau kebaikannya. Dan terkadang pula terjadi pada sebagian wanita yang sedang hamil, mereka menolak pemberian, yang demikian ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kezuhudan mereka sementara niat hatinya hanyalah untuk mendapatkan posisi atau kedudukan lebih dari orang lain.

Karena alasan inilah sebagian orang ahli hakikat mau mengambil/menerima pemberian orang secara lahiriah kemudian menyedekahkannya secara diam-diam.

Dan diharuskan menolak pemberian dalam beberapa kondisi, bahkan sangat dianjurkan jika engkau mengetahui atau menyangka bahwa apa yang diberikan kepadamu itu adalah sesuatu yang haram, atau engkau menyangka pemberian itu sebagai sedekah untuk kamu sementara kamu berpendapat bahwa engkau bukanlah orang yang pantas dan berhak menerima sedekah itu.

Dan diantara keharusan menolak pemberian adalah jika orang yang memberi tersebut adalah orang zalim yang berlarut-larut dalam kezalimannya, sehingga engkau khawatir apabila engkau menerima pemberian itu maka hatimu akan condong kepadanya. Atau bersangatan persangkaanmu apabila engkau menerima pemberian mereka maka engkau tidak akan dapat menyampaikan kebenaran kepada mereka. Dan termasuk kewajiban untuk menolak adalah apabila enkau mengetahui bahwa maksud pemberiannya itu adalah untuk menyesatkanmu dari jalan Alloh SWT dengan memasukkan rasa senang ke dalam hatimu pada kebatilan atau meninggalkan kebenaran (perkara yang haqq).

Dan termasuk yang dilarang menerimanya adalah dari apa yang diambil oleh hakim dan Amil dan lain sebagainya termasuk juga harta dari pemberian dua orang yang bersengketa atau salah satu dari mereka. Maka semua itu adalah kotor dan haram, maka wajib bagi kamu mengembalikan semua pemberian itu.

Dan takutlah kamu daripada menyakiti orang islam atau menyumpahi mereka tanpa alasan yang benar. RasuluLloh SAWW telah bersabda,

من أذا مسلما فقد أذاني ومن أذاني فقد أذى الله

“Barang siapa yang menyakiti orang islam sesungguhnya ia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang menyakitiku sesungguhnya ia menyakiti Alloh.”

Telah bersabda RasuluLloh SAWW, “Menghardik orang islam adalah perbuatan fasik, dan membunuh orang islam adalah kufur”.

Dan takutlah kamu daripada mela’nati orang islam, atau hewan, atau pembantu atau seseorang karena kondisi yang ada pada mereka meskipun  mereka itu orang kafir kecuali kepada mereka yang sudah jelas kematian mereka dalam kekafiran seperti firaun dan abu jahal, atau kepada mereka yang jelas bahwa rahmat Alloh tidak akan sampai kepada mereka seperti iblis. Dan ketahuilah sesungguhnya la’nat yang dikeluarkan seseorang, maka la’nat itu akan naik ke langit dan pintu langit akan tertutup. Kemudian la’nat itu turun ke bumi dan bumi telah menutup dirinya. Kemudian la’nat tersebut mendatangi apa yang dila’nati, sehingga apabila ia dapati maka ia akan sampai kepadanya, namun jika tidak didapati maka la’nat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkan la’nat tersebut.

Dan wajib bagi kamu berdamai dengan orang mukmin berkasih sayang dengan mereka dengan memperlihatkan kebaikan mereka dan menutupi aib mereka.

Dan wajib bagi kamu untuk menyambung tali persaudaraan dengan mereka karena menyambung tali persaudaraan memiliki keutamaan lebih daripada salat sunah dan puasa sunah terlebih lagi antara orang tua dan anak, kerabat. Alloh SWT telah berfirman, “Sesungguhnya orang mukmin adalah saudara maka perbaikilah tali persaudaraan diantara kamu sekalian”.

Dan takutlah kamu merusak persahabatan diantara orang mukmin dengan mengadu domba dan menggunjing keburukan mereka dan lain sebagainya dimana hal itu harus dijauhi karena yang demikian itu besar dosanya bagi Alloh Ta’ala.

Adapun yang dimaksud mengadu domba adalah bahwasanya seseorang menukil perkataan dan disampaikannya kepada orang lain dengan maksud menimbulkan pertengkaran diantara kedua orang tersebut.

Telah bersabda RasuluLlah SAWW : la yadkhullul jannah namaam (Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba). Dan telah bersabda pula RasuluLlah SAWW, “Orang yang paling dimurka Alloh diantara kamu sekalian adalah orang yang merusak tali kasih sayang dengan mengadu domba, yang memisahkan tali persaudaraan, dan menggunjing orang (ghaibah) yaitu menceritakan keadaan seseorang tentang sesuatu yang tidak disenangi oleh orang yang dipergunjingkan baik orang itu hadir ataupun tidak, baik orang yang digunjing tadi mengetahui atau tidak, baik dengan bahasa yang jelas atau isyarat.

Telah bersabda RasuluLloh SAWW :

كل المسلم عل المسلم حرام دمه وماله وعرضه

“Bagi setiap orang muslim haram darahnya dan hartanya dan kehirmatannya”

Telah bersabda pula RasuluLloh SAWW

الزنا من اشد الغيبت

“Ghaibah itu lebih berat dosanya daripada zina”

Allah SWT telah member wahyu kepada Nabi Musa AS, “Barang siapa mati dalam keadaan taubat dari ghaibah maka ia adalah orang terakhir yang masuk surge. Dan barang siapa yang mati sebagai tukang ghaibah maka ia adalah orang yang paling awal masuk neraka”

Dan takutlah kamu daripada berbuat aniaya karena sesungguhnya perbuatan aniaya dapat menjadi kegelapan di hari kiyamat, terutama berbuat aniaya kepada hamba Alloh karena yang demikian itu tiada akan dibiarkan oleh Alloh.

Telah bersabda RasuluLloh SAWW, “Sesungguhnya yang menderita kerugian dari umatku adalah mereka yang datang pada hari kiyamat dengan kebajikan yang banyak, dan pula diapun telah melakukan pemukulan demikian….dan menghardik, dan mengambil harta orang lain. Maka diambilkan dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya telah habis, maka diambilkan dari keburukan (orang yang telah dianiaya) dan ditambahkan kepada timbangan kejahatannya kemudian dihalaulah dia  ke dalam neraka”.

Apabila kamu jatuh dalam perbuatan aniaya kepada seseorang, maka segeralah  keluar daripadanya dengan meminta qishas dan meminta halalnya, dan mengembalikan barang yang diambil jika perbuatan aniaya itu berkaitan dengan harta benda.

Telah datang keterangan di dalam hadits, “Barang siapa terdapat perbuatan aniaya atas saudaranya, maka memintalah halal kepadanya sebelum datang suatu hari dimana tidak ada dinar maupun dirham.”

Dan wajib bagi kamu untuk memelihara darah kaum muslimin dan kehormatan mereka dan harta benda mereka baik kerika mereka ada maupun ketika mereka pergi sebagai mana kamu memelihara milikmu, karena barang siapa yang menolong seorang muslim maka Alloh akan menolongnya, dan barang siapa merendahkan orang islam maka Alloh akan merendahkannya.

20 Oktober 2010 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Adil terhadap diri dan keluarga

images

Dan wajib bagi kamu untuk berlaku adil kepada orang-orang yang berada di bawah asuhanmu, baik berkenaan dengan makna adil secara umum ataupun khusus, dan menjaga mereka dengan penjagaan yang sebenar-benarnya dan membimbing mereka, karena الله Ta’ala akan bertanya kepadamu perihal mereka. Bukankah setiap penggembala akan dipertanyakan tentang gembalaannya, terutama gembalaanmu yang khusus yaitu anggota badanmu yang tujuh macam seperti lisan, pendengaran, pemglihatan, perut, alat kelamin, tangan dan kaki.

Selengkapnya baca di sini

20 April 2009 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | 1 Komentar

الحب في الله والبغض فى الله

الحب في الله والبغض فى الله

بسم الله الرحمن الرحيم

Dan wajib bagi kamu untuk mencintai atau membenci seseorang karena الله, karena yang demikian itu termasuk tali pengikat iman.

Telah bersabda رسول الله SAW :

افضل الاعمال الحب في الله والبغص فى الله تعالى

Amal yang paling utama adalah cinta karena الله dan marah karena الله

Apabila engkau mencintai seseorang yang ta’at kepada الله dan melihat semata-mata karena ketaatannya kepada الله bukan karena motivasi yang lain, demikian pula apabila engkau membenci seseorang yang bermaksiyat, dan kebencian itu timbul semarta-mata karena keadaan orang itu yang bermaksiyat kepada الله bukan karena alasan lain, maka anda termasuk orang yang الحب فى الله والبغض فى الله (orang yang mencintai atau membenci karena الله)..

.

.

Baca Entry Selengkapnya di sini

.

.

23 Oktober 2008 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Berbakti kepada kedua orang tua (برالوالدين)

Berbakti kepada kedua orang tua (برالوالدين)

بسم الله الرحمن الرحيم

Dan wajib bagi kamu berbakti kepada kedua orang tuamu karena berbakti kepada orang tua itu termasuk perkara yang paling wajib diantara beberapa perkara yang wajib. Dan takutlah engkau mendurhakai keduanya karena itu termasuk dosa besar diantara dosa-dosa besar lainnya. الله SWT telah berfirman :

وقض ربك ان لاتعبدوا الا اياه وبا الوالدين احسان

Dan الله telah memerintahkanmu agar tidak menyembah selain Dia, dan (memerintahkanmu untuk) berbuat baik kepada kedua orang tuamu.

.

.

Baca Selengkapnya di sini.

.

4 Oktober 2008 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

jangan engkau paksa aku melakukan apa yang diharammkan الله untukku

بسم الله الرحمن الرحيم

Dan wajib bagi kamu untuk bersikap adil terhadap apa / siapa saja yang berada di bawah kekuasaan dan tanggung jawabmu (الرعية ) baik secara umum maupun khusus, dan memperhatikan mereka karena الله Ta’ala akan bertanya kepadamu tentang mereka. Dan setiap penggembala akan ditanyai tentang gembalaannya terutama yang khusus yaitu 7 anggota badanmu seperti lisan, pendengaran, penglihatan, perut, kemaluan, tangan dan kaki. Karena semua anggota badan ini adalah gembalaanmu yang dipercayakan الله kepadamu dan diamanahkan kepadamu. Maka wajib bagi kamu mencegahnya dari berbuat maksiyat dan menggunakannya untuk perbuatan ta’at karena الله Ta’ala menjadikan mereka untukmu supaya dengannya engkau ta’at kepada-Nya. Dan itu semua adalah nikmat الله yang sangat dekat denganmu, maka bersyukurlah dengan menggunakannya untuk ta’at kepada الله SWT. Dan jangan sekali-kali engkau gunakan untuk mekasiyat kepada-Nya. Jika engkau tidak melaksanakan yang demikian maka sesungguhnya engkau telah mengganti ni’mat الله dengan kekufuran.

………………….Baca Selengkapnyaklik di sini

2 September 2008 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

بسم الله الرحمن الرحيم

Dan wajib bagi kamu untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi Munkar karena hal itu merupakan poros dari agama dan tempat berlakunya urusan agama. Dan karena tujuan ini pula Allah SWT menurunkan kitab dan mengutus para Rasul. Dan telah sependapat semua kaum muslimin akan wajibnya amar ma’ruf nahi munkar dan jelas pula keterangan yang terdapat di dalam kitab Al-Qur’an maupun Sunah mengenai perintah amar ma’ruf nahi munkar dan ancaman bagi orang yang meninggalkannya

ولتكن منكم أمة يدعون الى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون

3/104. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.

Baca Selengkapnya ……….Di sini

4 Agustus 2008 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Kami meninggalkan 70 bab dari yang halal karena takut terjatuh ke dalam haram

بسم الله الرحمن الرحيم


Dan wajib bagimu memelihara diri (wara’) dari segala sesuatu yang haram dan syubhat karena sesungguhnya wara’ adalah inti dari agama. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW, “setiap daging yang tumbuh dari makanan haram maka nerakalah bagiannya”. Dan juga bersabda RasuluLlah SAW “barang siapa yang takut terhadap sesuatu yang syubhat, maka sesungguhnya ia telah terpelihara agamanya. Barang siapa yang terjatuh ke dalam syubhat maka ia akan jatuh ke hal yang haram”…………Read More

19 Juli 2008 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Risalah Al-Muawwanah Fasal 20


Dan wajib bagi untuk segera melaksanakan apa yang difardukan Allah Ta’ala kepadamu pada ibadah haji dan umrah apabila kamu mampu untuk melaksanakannya, dan jangan sampai kamu mengakhirkannya hingga kamu lemah/tidak mampu atau meninggal dunia sedangkan kamu belum melaksanakannya setelah kamu sebenarnya mampu untuk melakukannya. Maka kamu masih memiliki tanggungan karena kamu tidak melaksanakannya. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW, “Barang siapa yang tidak terhalang oleh hajat yang jelas, atau terhalang karena sakit yang menahannya, atau karena disebabkan Sulthan yang jahat, kemudian ia mati dan belum melaksanakan ibadah haji, maka matilah ia dalam keadaan yahudi atau nasrani”. Dan harus juga kamu melaksanakan sunah-sunah dalam ibadah haji dan umrah sebagaimana ibadah yang lain untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala…

Risalah selengkapnya klik di sini……..

30 Maret 2008 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | 1 Komentar

Risalah Al Muawwanah Fashl 19

 kabador2.gif

Dan wajib bagi kamu memperbanyak amal kebajikan terutama pada bulan ramadhan karena pahala ibadah sunah pada bulan ini sebanding dengan pahala ibadah fardhu pada bulan lain. Dan sesunggunya pada bulan ramadhan sangat banyak dan mudah untuk dihasilkan amal kebajikan yang tidak dapat dicapai pada bulan-bulan lain. Dan tidak ada yang dapat menyamai keutamaan bulan ramadhan. Yang demikian ini karena nafsu yang malas melakukan kebajikan akan terpenjara disebabkan karena lapar dan haus, dan syaitan yang menghalangi amal baik telah terbelenggu. Dan pintu neraka tertutup, serta pintu surga terbuka. Dan Penyeru selalu memanggil pada setiap malam atas perintah Allah, “Wahai orang yang senang kebajikan kemarilah, dan wahai orang yang gemar akan kejahatan tinggalkanlah.” Dan selayaknya di bulan ramadhan ktidak memanfaatkan aktifitas melainkan untuk amal akhirat , dan tidak melakukan kegiatan duniawi kecuali karena keadaan dharurah. Dan jadikanlah kesibukanmu mencari kehidupan dunia di luar bulan ramadhan sebagai perantara untuk mendapatkan kelapangan beribadah di bulan ramadhan terutama pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan dengan memperbanyak iqbal (menghadap) kepada Allah dan menetapi ibadah kepada-Nya. Dan apabila memungkinkan bagimu untuk tidak keluar dari masjid pada sepuluh hari terakhir kecuali untuk keperluan yang tidak dapat ditinggalkan, maka lakukanlah.           Dan wajib bagi kamu untuk melaksanakan shalat tarawih pada setiap malam di bulan ramadhan. Dan telah menjadi kebiasaan pada sebagian negeri dengan meringkasnya bahkan sampai terjadi karena sebab yang demikian (meringkas dan mempercepat shalat) sehingga meninggalkan sebagian rukun shalat apalagi pada amalan sunahnya.           Dan telah diketahui bersama amaliyah para ulama salaf bahwa mereka membaca al-Qur’an mulai dari awal bulan ramadhan sampai akhir ketika shalat. Setiap malam mereka membacanya sehingga khatam pada beberapa hari pada akhir bulan. Jika memungkinkan bagimu untuk mengikuti jalan mereka (ulama salaf) maka lakukanlah. Dan apabila kamu tidak mampu, maka cukupkan dengan menyempurnakan rukun shalat dan menjaga diri untuk melaksanakannya, dan terlebih lagi pada malam lailatul qadar yang lebih utama dan lebih baik daripada 1000 bulan. Malam itu adalah malam barakah dimana pada saat itu diputusakkn segala urusan. Barang siapa yang dibukakan hatinya sehingga dapat mengalami, merasakan dan melihatnyanya, maka akan tampaklah baginya bahwa cahayanya sangatlah terang benderang dan pintu langit terbuka, dan para malaikat terbang naik dan turun dan terkadang dapat melihat bahwa yang wujud semuanya bersujud kepada Allah yang menciptakannya. Dan pendapat jumhur ulama mengatakan bahwa yang demikian ini terjadi pada 10 hari terakhir bulan ramadhan dan terutama pada malam ganjil.          Dan telah disingkapkan pada sebagian ‘aarifiin bahwa malam tersebut jatuh pada malam 17, demikian pendapat Imam Hasan Al Bashri RA. Dan berkata pula sebagian ulama, bahwa malam itu terjadi pada malam pertama bulan ramadhan. Dan menurut pendapat sebagian besar ulama bahwa malam tersebut tidaklah malam tertentu akan tetapi berganti-ganti pada malam bulan ramadhan. Mereka berpendapat dengan dirahasiakannya malam lailatul qadar dengan maksud agar orang mukmin akan bersungguh-sungguh menghadap kepada Allah Ta’ala dan ta’at kepada-Nya pada setiap malam dengan harapan akan berjumpa dengan malam yang penuh barakah ini.          Dan wajib bagi kamu segera berbuka apabila telah diyakini tenggelamnya matahari, dan mengakhirkan sahur selama tidak ragu – ragu. Dan hendaklah memberi makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa meskipun hanya dengan sebiji kurma atau seteguk air karena orang yang memberi makanan kepada orang untuk berbuka puasa pahalanya sama dengan orang yang berpuasa dan tidak dikurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa. Dan berusahalah agar berbuka atau memberi orang untuk berbuka melainkan dengan makanan yang halal.          Dan wajib bagi kamu menyedikitkan makan dan menikmati yang ada secara halal tanpa memilih-milih makanan yang lezat karena maksud puasa adalah melemahkan nafsu. Sedangkan makanan ayng enak dan lezat tidak dapat menghancurkan hawa nafsu akan tetapi malah membuatnya kuat.          Dan wajib bagi kamu  melakukan puasa pada hari-hari yang diterangkan dalam syari’at islam dengan merasa senang untuk melakukannya seperti hari ‘arafah bagi orang yang tidak pergi haji, dan hari ‘asyura dan tasu’a dan 7 hari pada bulan syawal dan dimulai setelah hari kedua dari hari ‘id karena sesungguhnya yang demikian ini sangat besar faedahnya untuk memerangi hawa nafsu.          Dan suatu kebaikan bagimu untuk berpuasa selama tiga hari pada setiap bulan, karena puasa seperti ini sama dengan puasa satu tahun. Dan dapat dipilih pula pada ayyamul baidh maka hal ini lebih utama dan lebih baik karena sesungguhnya RasuluLlah SAW tidak meninggalkannya baik ketika beliau bepergian maupun di rumah.          Dan bagimu melakukan puasa mutlak tidak terkecuali pada waktu yang utama seperti pada bulan haram dan hari-hari yang mulia yaitu hari senin dan kamis. Dan ketahuilah bahwa puasa adalah Quthbu Riyadhah dan asaasul mujaahadah (Dasar/pondasi) mujahadah. Dan sungguh telah datang penjelasan bahwa puasa adalah ½ dari sabar. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW, “Setiap amal anak Adam akan dilipat gandakan kebaikannya sepuluh kali sampai 700 kali lipat . berfirman Allah Ta’ala,”Kecuali puasa, sesungguhnya ia/puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberinya pahala. Mereka meninggalkan syahwatnya dan makanannya dan minumannya karena Aku”.  Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, pertama ketika berbuka dan kedua ketiak bertemu Tuhannya. Dan bau mulut orang yang berpuasa adalah lebih harum nilainya di hadapan Allah SWT daripada minyak misk.Dialah Allah yang berfirman dengan kebenaran dan Dia pulalah yang menunjukkan jalan yang lurus. 

9 Februari 2008 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Risalah Al-Muawwanah (Fasal 18)


Dan wajib bagi kamu jika kamu memiliki harta yang harus dibeikan zakat maka keluarkanlah zakat itu. Karena yang demikian ini akan memperbaiki hatimu, dengan maksud dalam mengeluarkan zakat teresebut adalah karena Allah,dan menyegerakan pengeluaran itu tanpa menunda pelaksanaannya. Jika kamu dapat melaksanakan hal ini maka akan tampak barakah dari hartamu dan akan berlipat ganda bagimu kebaikan dan jadilah hartamu terpelihara dari segala mara bahaya. Dan wajib bagi kamu mengumpulkan harta hingga sampai nisab kemudian mengeluarkan zakatnya dan jauhilah perilaku kebanyakan anak dunia karena diantara mereka ada yang tidak menyempurnakan hartanya (hingga nisab) sehingga mereka tidak mengeluarkan zakat. Dan janganlah kamu memakan hasil buah-buahan dan tanaman kamu yang telah mencapai nishab hingga engkau mengetahui dengan pasti jumlahnya (yang wajib engkau zakati). Dan ketahuilah sesungguhnya orang yang berkewajiban mengeluarkan zakat kemudian ia tidak memberikan kepada yang berhak padahal ia mengetahui, atau ia menggunakan harta itu untuk kesenangan hawa nafsu, seperti orang yang memberikannya kepada orang lain untuk mendapatkan keuntungan yang segera, maka tiada sekali-kali ia keluar dari dunia (meninggal) melainkan ia akan disiksa dengan hartanya itu. Dan sesungguhnya adzab akhirat itu lebih besar seandainya mereka mengetahui. Jika yang demikian ini keadaan orang yang mengeluarkan zakat tidak pada tempatnya, maka bagaimana pula keadaan orang yang yang tidak mau mengeluarkan zakat, mereka itulah orang-orang yang telah membeli kesesatan dengan petunjuk , maka tiadalah keuntungan bagi perniagaan mereka dan tiadalah mereka mendaparkan petunjuk. Dan telah berulang kali datang penjelasan bahwa orang yang tidak mengeluarkan zakat, keadaannya sama seperti orang yang meninggalkan shalat dalam hal keburukannya. Dan telah berkata Abu Bakar, mengenai orang yang meninggalkan zakat, beliau menamainya dengan ahlul riddah (orang yang murtad) na’udzubiLlah min dzalik.

Dan wjib bagi kamu mengeluarkan zakat fitri untuk dirimu dan untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu dalam hal nafakah, dan yang demikian ini jika kamu mampu.

Dan wajib bagi kamu memperbanyak sedekah, dan bersedekahlah pula kepada saudara / kerabat yang membutuhkan, dan kepada ahlul khair yang kekurangan harta karena sedekah yang demikian ini dapat membersihkan dirimu dan banyak pahalanya jika diserahkan kepada mereka.

Dan wajib bagi kamu bersedekah dengan sesuatu yang engkau cintai dan yang engkau rasa berat mengeluarkannya agar kamu mendapat kebaikan dari Allah Ta’ala. Telah berkata Allah Ta’ala, “Tidak akan mendapat kebaikan sehingga engkau mau menginfakkan harta yang kamu cintai “. Dan terlebih lagi (bersedekah dengan sesuatu yang) engkau sendiri membutuhkannya. Jika kamu dapat melaksanakan hal ini maka kamu akan termasuk orang-orang yang beruntung. Dan terlebih lagi bersedekah secara tersembunyi (tidak diketahui orang lain) karena sadaqatul asrar dapat meredam amarah Tuhan dan berlipat ganda 70 kali lipat daripada sadaqah secara terang-terangan, dan selamat dari godaan riya’ yang merusakkan amal .

Dan jangan lewatkan untuk bersedekah setiap hari dengan sesuatu meskipun sedikit. Dan jangan engkau sia-sia para peminta-minta yang berdiri di depan pintu rumahmu meskipun engkau hanya mampu memberikan sebiji kurma apa lagi yang lebih besar dari itu (kurma). Karena sesungguhnya ia (peminta-minta) adalah hadiyah/pemberian Allah Ta’ala untukmu. Jika engkau tidak memiliki sesuatu yang engkau berikan maka tolaklah ia denga cara yang baik dengan tutur kata yang halus dan janji yang bagus.

Dan jika engkau memberi sesuatu kepada orang miskin maka perlihatkanlah perasaan senang kepadanya dan tumbuhkan kesadaran pada dirimu bahwa itu semua itu adalah suatu keselamatan bagimu dengan diterimanya pemberianmu. Dengan demikian kamu akan berhasil mendapatkan pahala. Bahkan jika engkau memiliki dunia dan seisinya niscaya lebih besar dan lebih utama pahala ini. Dan telah datang penjelasan bahwa terkadang satu suap pahalanya dihadapan Allah Ta’ala lebih besar daripada gunung uhud.

Dan janganlah engkau enggan (tidak mau) berzakat karena takut jatuh miskin karena sesungguhnya zakat itulah yang akan menarik berkah kepada kekayaan . dan sesungguhnya orang yang meninggalkan zakat itulah sesungguhnya mereka menarik dirinya kepada kefakiran.

Dan ketahuilah sesungguhnya pada sedekah terdapat beberapa manfaat baik yang segera maupun untuk kemudian. Adapun manfaat yang dekat adalah dapat menambah rizki dan umur dan mencegah mati dalam keadaan buruk dan menyehatkan badan dan harta menjadi barakah. Dan manfaat jangka panjang adalah dapat melebur dosa/kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api, dan kelak dapat menjadi payung di atas kepalanya (tempat berteduh) di hari kiyamat dan menjadi tirai penghalang dari siksa neraka dan lain-lain manfaat. Dan tidak dapat mengambil pelajaran akan hal ini kecuali orang-orang yang cerdas dan beruntung.

27 Januari 2008 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Risalah Al-Muawwanah (Fasal 17)

sayyiduna-abu-darda-sahabi.jpg

Makam Sayyidy Abu Darda RA

Dan wajib bagimu apabila engkau melakukan shalat di belakang imam, untuk memperbaiki dan memperbagus mutaba’ah (mengikuti) imam. Karena sesungguhnya dijadikan imam adalah untuk dita’ati dan diikuti. Dan takutlah engkau dengan mengiringinya dalam segala sesuatu perbuatan imam apalagi mendahuluinya. Dan seharusnya engkau menjadikan semua perbuatan di dalam shalat selalu mengikuti imam. Sesungguhnya telah bersabda RasuluLlah SAW bahwa orang yang menunduk maupun mengangkat dirinya sebelum imam sesungguhnya ubun-ubun / kepala orang tersebut berada di tangan setan. Dan wajib bagi kamu untuk bersegera menempati shaf awal dan takutlah engkau mengakhirkannya sedangkan engkau mampu melakukannya. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW, “Tiada henti-henti suatu kaum mengakhirkan (dari shaf awwal) hingga Allah mengakhirkannya” (dari keutamaan dan rahmat) nya.

Telah bersabda RasuluLlah SAW “Sesungguhnya Allah Ta’ala bershalawat / memberikan rahmatnya kepada shaf y yang paling depan”. Dan sesungguhnya RasuluLlah SAW memintakan ampun bagi shaw awwal sebanyak tiga kali dan shaf ke dua satu kali. Dan bagimu memperhatikan shaf dan meluruskannya . dan apabila engkau menjadi imam maka memerintahkan meluruskan shaf adalah sesuatu yang diharuskan dan ini adalah perkara yang penting di dalam syari’at islam akan tetapi kebanyakan menusia lalai darinya. Dan sungguh RasuluLlah SAW bersungguh-sungguh dalam hal ini mengaplikasikannya seraya bersabda, “Hendaklah engkau sekalian meluruskan shafmu, atau semoga Allah mempersatukan di antara hatimu” dan beliau memerintahkan untuk menutup shaf yang berlubang dan beliau berkata, “Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya sesungguhnya aku melihat setan masuk di sela-sela shaf seakan-akan ia seperti Al-Khadzf (seekor kambing kecil.”

Dan wajib bagimu untuk menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah dan terus menerus demikian karena sesungguhnya shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajad sebagaimana diterangkan dalam hadist shahih. Dan takutlah engkau meninggalkan shalat berjama’ah tanpa udzur  atau dengan alasan yang tidak baik / merusak. Dan ketika engkau mendatangi tempat jama’ah  sedangkan engkau telah mendapati dirimu dalam keadaan telah melakukan shalat di dalam rumahmu atau engkau duduk di dalam rumahmu untuk berdzikir demi keselamatan agamamu maka sebaiknya engkaupun mengikuti orang yang melakukan shalat jama’ah agar engkau mendapatkan pahala berjama’ah dan engkau selamat dari ancaman bagi orang yang meninggalkannya. Seperti sabda RasuluLlah SAW bolehlah memilih suatu kaum antara mencegah kaum dari shalat jama’ah atau dibakar rumah mereka. Dan sebagaimana pula sabda RasuluLlah SAW, “Barang siapa yang mendengar seruan adzan dan tidak menjawab (dengan shalat berjama’ah) maka tiadalah shalat baginya”. Dan perkataan sahabat Ibnu Abbas RA, “Sungguh engkau telah melihat kami dan apa yang tertinggal dibelakang (yakni tertinggal dalam shalat berjama’ah) melainkan mereka itu munafik .

Dan telah berlaku pada zaman RasuluLlah SAW tentang perbedaan antara dua orang yang mendapatkan hidayah yaitu dengan bagaimana sikapnya dalam berdiri di shaf ketika berjama’ah. Dan manakala hal ini sangat penting dalam masalah meninggalkan shalat berjama’ah, maka bagaimana pula keadaan orang yang meninggalkan shalat Jum’ah di mana shalat ini merupakan shalat fardhu. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW , “Barang siapa yang meninggalkan 3 kali shalat jum’ah karena meremehkannya, maka Allah akan menutup hatinya .

Apabila engkau memiliki udzur  sehingga meninggalkan jum’ah atau jama’ah maka bandingkanlah seandainya di tempat engkau tinggal terdapat orang yang membagi-bagikan uang kepada orang yang hadir kemudian engkau memutuskan untuk mendatangi dan berkeinginan mendapatkan bagian sehingga meninggalkan jama’ah atau jum’ah , maka udzur mu yang demikian ini adalah udzur yang tidak benar. Dan merasa malulah kepada Allah SWT apabila hasratmu kepada dunia lebih besar dari pada apa yang ada di sisi Allah. dan ketahuilah bahwa sesungguhnya udzur yang benar adalah apabila kesempatan untuk berjama’ah memang benar-benar  telah hilang setelah diusahakan dengan sungguh-sungguh. Adapun pahala, maka tidak akan dihasilkan kecuali dengan melaksanakannya. Benar, bahwa pahala dapat dihasilkan bagi orang yang udzur dilihat dari beberapa segi, seperti orang yang udzur shalat berjama’ah karena menghalau musuh dll.  Atau ia tidak memiliki udzur untuk hadlir dalam shalat jama’ah akan tetapi ia berkepentingan untuk orang islam lain yang mengalami penderitaan yang berat seperti orang yang menolong kaum muslimin yang kelaparan atau menderita sakit keras dll, maka orang yang demikian akan mendapatkan pahala berjama’ah.

Kemudian, sesungguhnya orang mukmin yang sempurna tidak menghendaki akan meninggalkan sesuatu yang dapat mendekatkan dirinya kepada allah SWT. Meskipun dalam meninggalkannya ia memiliki 1000 udzur bahkan seandainya ia mengetahui bahwa meninggalkannya lebih di sukai Allah dari pada mengerjakannya . dari itulah orang yang AhliLlah menyandang gelar kesempurnaan atas kesanggupannya dalam mengerjakan segala sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Allah dimana gunung-gunung tidak mampu memikulnya.

Adapun orang yang lemah imannya dan sesikit keyakinannya dan berkurang ma’rifatnya kepada Allah, maka tiadalah sebab yang membuat mereka meninggalkan fardhu dari Allah. akan tetapi bagi orang yang mengerjakannya pastilah baginya beberapa derajat dan mereka tidak akan dianiaya.

Dan wajib bagi kamu membebani orang-orang yang berada di bawah kekuasaanmu seperti anak-anak, dan isteri, dan hamba sahaya untuk melakukan shalat. Apabila ada penolakan dari salah satu diantara mereka , maka wajib bagimu memberi nasihat kepada  mereka dan menakuti mereka. Apabila mereka bertambah penolakannya dalam meninggalkan shalat maka wajib bagimu untuk memukulnya. Apabila mereka masih tidak mahu menolak, maka wajib bagi kamu memutuskan hubungan dengannya karena sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat adalah setan yang jauh dari rahmat Allah dan menghadapkan pada murkaNya dan laknatnya yang dilarang berhubungan dengannya dan diwajibkan memeranginya bagi setiap orang islam. Bagaimana tidak, sungguh telah bersabda RasuluLlah SAW, “Perjanjian antara kami dengan mereaka adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya sungguh telah menyekutukan Allah. dan telah bersabda RasuluLlah SAW, “Tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan shalat. Dan perumpamaan shalat di dalam agama seperti perumaan kepala pada badan”.

Dan wajib bagi kamu meluangkan waktu dari segala kesibukan duniawi pada hari jum’ah dan jadikanlah hari yang mulia ini murni untuk kegiatan akhiratmu. Maka janganlah engkau memiliki kesibukan pada hari ini melainkan hanya sesuatu amal kebaikan dan hanya menghadap kehadirat Ilahi dan memperbagus muraqabah (mengintip) akan sa’at Ijabah yaitu satu saat pada hari jum’ah dimana tiada berjumpa dengannya seorang muslim dan ia meminta kebaikan kepada Allah atau memohon perlindungan kepadaNya melainkan di ijabah /dikabulkan baginya.

Dan wajib bagimu sibuk dengan bukuur (amal kabaikan/dzikir/shalawat dll) hingga waktu shalat jum’ah dan mendekati mimbar dan diam ketika khutbah dibacakan dan jangan sibukkan diri (ketika khutbah) dengan berdzikir atau tafakur terlebih bertafakur tentang sesuatu gurauan, demikian pula takutlah pada saat demikian terhadap hadiitsunnafsi dan sadarilah bahwa engkaulah yang dimaksud pada setiap apa yang engkau dengarkan dari beberapa nasihat dan wasiyat. Dan bacalah ketika selesai mengucapkan salam sedangkan engkau belum mengucapkan sepatah katapun bacaan fatihah, Al-Ikhlash, Mu’awwidzatain masing-masing 7 kali dan bacalah juga setelah selesai shalat (SubhanaLlahil ‘Adziim wabihamdih 100 X) maka di dalam hadits telah diterangkan akan fadhilah semua ini ..wabiLlahi Taufik..

14 Januari 2008 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Risalah Al Muawwanah 16

wybe4ubn5n.jpg

Dan suatu keharusan bagimu untuk bersegera mempersiapkan diri untuk mengerjakan shalat pada awal waktu sekiranya muadzin belum mengumandangkan adzan pada tiap-tiap shalat fardhu melainkan engkau sudah dalam keadaan berwudhu dan engkau telah hadir di masjid. Jika engkau tidak dapat mengerjakan yang demikian, maka janganlah kurang dari pada mempersiapkan diri ketika mendengar suara adzan. Dan sungguh telah bersabda Nabi SAW, “Keutamaan awwal waktu dibanding dengan akhir waktu seperti keutamaan akhirat atas dunia”. Dan bersabda Nabi SAW, “Awwal waktu adalah keridhaan Allah, dan akhir waktu adalah ampunan-Allah” .

Dan wajib bagimu untuk selalu menjaga sunnah ratibiyah dimana syar’i telah mengajarimu (untuk melakukannya) sebelum maktubah dan sesudahnya dan takutlah engkau bermalas-malasan dengan meninggalkannya. Dan manakala engkau tertinggal (sehingga tidak sempat melaksanakan), maka hendaklah engkau bersegera mengqadha. Dan wajib bagimu untuk bersikap khusyu’ di dalam shalatmu dan dengan hati yang hadir kepada Tuhan dan bagusnya sikap ketika berdiri dan tartil dalam bacaan dan menyempurnakan ruku’ dan sujud dan rukun yang lain-lain dan menjaga sunah-sunahnya dan beretika / tata krama sebagaimana diterangkan dalam syari’at dan menjaga diri dari sesuatu yang mengurangi kesempurnaan shalat. Maka sesungguhnya engkau apabila dapat melakukan hal yang demikian maka hakikat shalat akan keluar dari tubuhmu dalam keadaan putih bersinar dan ia berkata, “Semoga Allah menjagamu sebagaimana engkau menjagaku”. Akan tetapi apabila tidak, maka ahkikat shalat akan keluar dari tubuhmu dalam keadaan hitam legam seraya berkata, “semoga Allah menyia-nyiakan kamu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku”.

Talah bersabda SAW, “tiadalah bagi seseorang dalam shalatnya melainkan sebatas apa yang ia pikirkan di dalam shalat”. Dan telah berkata Hasan Al-Bashri rahimahuLlah, “Setiap shalat yang tidak disertai hadirnya hati, maka uqubah (siksanya) lebih cepat, dan syaitan sangat menginginkan jika seseorang sibuk memikirkan dunia ketika di dalam shalat, hingga terbuka dalam pikirannya ketika berdiri mengerjakan shalat tentang beberapa kebutuhan hidupnya dan teringat beberapa perkara yang menyusahkan hatinya tentang urusan dunia, padahal yang demikian ini tidak pernah terpikirkan ketika sebelum berdiri mengerjakan shalat. Hal yang demikian inilah yang menyibukkan hati dari mengingat /berdzikir kepada Allah dan hadir di hadapannya oleh karena itu para ulama mensyari’atkan untuk membaca Qul a’udzu biRabbinnas dengan niat untuk menjaga diri dari kejahatan syaitan yang di rajam”.

Dan sebaiknya tidak terus-menerus hanya membaca satu surah tertentu setelah membaca Al-Fatihah kecuali surah-surah yang telah dijelaskan keistimewaannya oleh syara’  seperti Alif laam miim sajdah, dan ayat hal ataa ilal insaan (dalam shalat subuh hari jum’at) dan jagalah engkau untuk membaca surah yang ringkas seperti al-kaafiruun, al-ikhlas, dan mu’awwidzatain ketika engkau menjadi imam. Sebagaimana riwayat bahwasanya sahabat Mu’adz bin Jabal mengimami suatu kaum dengan bacaan surah yang sangat panjang. Akhirnya salah seorang dari mereka mengadu kepada Nabi SAW sehingga Nabi SAW menegur sahabat Muadz RadhiyaLlahu ‘anh.

14 Desember 2007 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Risalah Al-Muawwanah (Fasal 15)

aarif-junaid-baghdaadi.jpg

Makam Syaikh Abi’l Qasim Junaidy Al-Bagdady RA

Dan penting bagimu untuk berlama-lama dan memperbanyak duduk di dalam masjid dengan niat i’tikaf. Karena sesungguhnya masjid adalah rumah Allah dan sebaik-baik tempat yang dicintai Allah. Telah bersabda RasuluLlah SAW, “Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertaqwa”. Dan telah bersabda RasuluLlah SAW, “Jika engkau melihat seseorang memakmurkan masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah orang beriman”. Dan telah berfirman Allah SAW, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid adalah orang – orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir”. RasuluLlah SAW telah menjanjikan tujuh golongan yang Allah akan memberikan naungan dari ‘ary-Nya kelak di hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah  maka salah satu diantara mereka adalah seseorang yang hatinya bergantung kepada masjid. Akan tetapi wajib bagimu ketika engkau duduk-duduk di dalam masjid maka jagalah etika dan tatakrama dan cegahlah diri dari memperbanyak pembicaraan (fudhuulil kalaam), terlebih lagi pembicaraan hal haram.

Dan apabila engkau jumpai di dalam masjid suatu pembicaraan tentang urusan dunia, maka suruhlah keluar dari masjid. Dan janganlah engkau sibukkan dirimu di dalam masjid kecuali dalam urusan ibadah semata. Karena sesungguhnya masjid tidak didirikan kecuali hanya untuk ibadah kepada Allah di dalamnya. Dan apabila engkau memasuki masjid maka dahulukanlah kakimu yang sebelah kanan dan ucapkanlah BismiLlah washalaatu ‘ala RasuliLlah. Allahummagh firly dzunuuby waftahly abwaaba rahmatiKa. Dan janganlah sekali-kali engkau duduk sehingga engkau telah melakukan shalat dua reka’at. Jika tidak memungkinkan melaksanakan shalat, maka ucapkanlah do’a SubhanaLlahi wal hamdu liLlah wa laa ilaaha illaLlah waLlahu Akbar 4 (empat) kali. Dan apabila engkau keluar dari masjid, maka dahulukanlah kakimu yang kiri dan ucapkanlah do’a seperti ketika memasuki masjid akan tetapi pada kalimat abwaaba rahmatiKa diganti dengan abwaaba fadhliKa. Dan tambahlah kalimat A’udzu bilLahi minasyaithanirrajiim wa junuudihi.

Dan apabila engkau mendengar suara mu’adzin maka tirukanlah seperti apa yang di ucapkan mu’adzin kecuali pada dua buah kalimat hayya maka jawablah dengan kalimat la haula walaa quwwata illa bilLah. Dan jawablah pada kalimat ashalaatu khairun minannaum pada adzan subuh dengan jawaban shadaqta wa bararta. Dan apabila engkau selesai menjawab panggilan adzan, maka lanjutkanlah dengan membaca shalawat  kepada Nabi SAW kemudian ucapkanlah kalimat Allahumma Rabby hadzihidda’watittaammah washalaatil qaaimah aati Muhammadal washiilah wal fadhiilah wab’atshu maqaamam mahmuuda’lladzii wa’adTaH. Dan perbanyaklah berdo’a antara adzan dan iqamah sebagaimana sabda Nabi SAW ”Do’a diantara dua adzanadalah tidak ditolak . dan termasuk do’a yang dibaca pada saat yang demikian adalah Allahumma inny as alukal ‘afiyah fiddunya wal aakhirah. Dan sungguhntelah datang penjelasan di dalam sunnah tentang do’a tersebut pada waktu-yang lain. Maka penting bagimu dengan do’a ini karena sesungguhnya do’a tersebut termasuk kumpulan / intisari do’a dan lebih utama.

8 Desember 2007 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

(Fasal 14)

131.jpg

(Fasal 14)

Dan telah datang penjelasan bahwasanya Malaikat tidak akan pernah memasuki suatu rumah yang di dalamnya terdapat orang yang berjunub. Apabila malaikat telah pergi, maka akan datanglah syaithan dari segala penjuru. Oleh karena itu takutlah kamu jika engkau makan atau tidur dalam keadaan junub sehingga engkau akan mengalami bahaya disebabkan hal yang demikian itu. Apabila engkau tidak mampu untuk melakukan mandi jinabat seketika, maka berusahalah agar engkau dapat mencuci farji dan berwudhu’. Dan wajib bagi kamu untuk selalu memperbaharui wudhu’ pada setiap mengerjakan shalat fardhu, dan berusahalah agar engkau selalu dalam kondisi bersuci (menanggung wudhu) dan bersegeralah perbaharui wudhu apabila engkau berhadats karena sesungguhnya wudhu’ adalah senjata orang Mukmin. Dan manakalah senjata selalu berada di tangan, maka musuh pastilah akan selalu menjauh darimu. Dan sungguh telah datang seseorang menghadap kepada Syaikh Abi Al-Hasan Asy-Syadzily RA untuk mengajarinya ilmu kimia, maka Syaikh memerintahnya untuk mendampingi beliau selama satu tahun dengan syarat selalu memperbaharui wudhu apabila berhadats, kemudian mengerjakan shalat dua reka’at. Maka Syaikh akan mengajarinya ilmu kimia setelah itu. Maka setelah sempurna satu tahun, pergilah lelaki tersebut ke sebuah sumur dengan maksud hendak mengambil air minum dari sumur itu, dan secara tiba-tiba dipenuhilah timba itu dengan emas dan perak. Maka dibuanglah kembali emas dan perak itu ke dalam sumur karena zuhudnya daripada emas dan perak tadi. Maka kembalilah lelaki tersebut menghadap Syaikh Abi Al-Hasan Asy-Syadzily RA dan menceritakan apa yang telah terjadi. Maka berkatalah Syaikh kepada orang itu, “Sekarang engkau telah menjadi seorang ahli kimia. Dan Syaikh memerintahkannya ntuk menyeru manusia ke jalan Allah. Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | 1 Komentar