بسم الله الرحمن الرحيم

Firasat

FIRASAT
Alloh SWT berfirman :
إنّ في ذلك لآيةٍ للمتوسمين
    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda,(QS Al-Hijr 75)
    RasuluLloh SAWW bersabda, :
اتّقوافراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله
    “Takutlah kalian dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Alloh“.
    Ustadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Firasat adalah suara bathin yang masuk ke dalam hati dan meniadakan kontradiksi. Setiap suara hati memiliki nilai hukum yang menguasai hati. Kata firasat merupakan pecahan dari kata farasa yang mengandung makna menerkam atau memburu.Farisah as-sabu’u memiliki makna terkaman binatang buas. Akan tetapi makna pembandingnya tidak bisa diartikan dalam konteks hati secara apa adanya. Keberadaannya mengukuti kualitas iman. Setiap orang yang imannya lebih kuat, pasti firasatnya lebih tajam.”
    Abu Said Al-Kharaz mengatakan “Barang siapa melihat dengan cahaya firasat berarti dia melihat dengan cahaya Al-Haq. Sumber ilmu yang dipakai memandang berasal dari Al-Haq. Dia dapat melihat dengan tanpa lupa dan lalai. Hukum kebenaran Tuhan mengiringi gerakan lidah. Manusia semacam ini berbicara dengan menggunakan pancaran sinar kebenaran Tuhan. Ucapanya yang menyatakan dia memandang dengan cahaya Al-Haq artinya melihat dengan cahaya yang dikhususkan Alloh kepadanya.”
    Muhammad Al-Washiti mengatakan, “firasat adalah pancaran cahaya yang memancar ke dalam hati, dominasi ma’rifat yang membawa rahasia-rahasia ke dalam hati, dari sesuatu yang gaib menuju yang gaib sehingga dia mampu melihat sesuatumenurut sisi mana Tuhan memandang. Dia bisa berbicara dengan hati makhluk.”
    Abul Hasan Ad Dailami mengatakan, : Saya pernah memasuki kota Antakiya wilayah Turki, karena sebab seorang pria yang berkulit sangat hitam. Menurut kabar yang saya terima, dia bisa berbicara yang sifatnya sangat rahasia. Sayapun tinggal bersamanya sampai dia keluar dari daerah pegunungan Lukam. Sewaktu keluar, dia membawa sesuatu yang mubah yang hendak dijualnya. Sementara keadaan saya sudah dua hari tidak makan apa-apa. Saya lihat apa yang dibawanya bisa dimakan.
    “Berapa hargnya ?” tanya saya.
    Saya membayangkan bisa membeli sesuatu yang berada di tangannya.
    “Duduklah sampai saya selesai berjualan dan memberikan kamu apa yang hendak kamu beli.” Dia memberi saran kepada saya.
    Saya tidak mempedulikan omongannya. Saya biarkan dia menyelesaikan urusannya, sementara saya berjalan ke penjual lain yang saya kira akan menawarkan dagangannya. Akan tetapi penjual itu tidak membutuhkan penawaran saya, sehinga membuat saya harus kembali kepada lelaki hitam tersebut. Saya mengulangi tawaran saya dengan suara yang agak keras,”Jika engkau menjual barang ini, maka katakan pada saya berapa harganya “.
    “Engkau telah kelaparan selama dua hari. Duduklah hingga saya menjual dan memberikan kepadamu apa yang hendak engkau beli.” Dia kembali memberi saran kepada saya. Sayapun akhirnya duduk. Ketika dia menjual dan memberikan sesuatu kepada saya, kemudian dia pergi. Saya penasaran lalu mengikutinya. Dia menoleh kepada saya dan mengatakan,” Jika kamu ditimpa keperluan, maka Alloh pasti menurunkannya kecuali jika nafsumu meminta bagian yang dapat menutupi keterkabulan dari Alloh.”
    Muhammad Al-Kattani mengatakan, “Firasat adalah ketersingkapan keyakinan, kemampuan melihat ghaib, dan dia merupakan bagian dari derajat iman.” Dikatakan, Imam Syafi’i dan Muhammad bin Hasan berada di Masjidil Haram. Kemudian seorang pria measuki masjid. Muhammad bin Hasan mengatakan, “Menurut firasatku dia adalah tukang kayu.’ Namun Imam Syafi’i megatakan, “Menurutku dia adalah seorang tukang besi.” Keduanya lantas mendatangi orang tesebut dan menanyakan statusnya. Lelaki itu menjawab, “Saya sebelum tahun ini memang tukang besi, tetapi sekarang saya bekerja dalam perkayuan”.
    Abu Sa’id Al-Kharraz mengatakan, “Orang yang memiliki sumber adalah orang yang meneliti hal-hal ghaib selamanya dan hal-hal ghaib tidak tertutup dari pandngannya. Tidak ada yang tersembunyi darinya. Dialah gambaran orang yang ditunjukkan Alloh dengan firman-Nya :
لعلمه الدين يستنبطونه منهم
    …tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) (QS An-Nisa 83).
    Orang yang mencari tanda atau firasat adalah orang yang mengetahui tanda. Dai mengetahui sesuatu yang tersimpan dalam kemurungan hati. Kemampuannya didukung dengan petunjuk-petunjuk dan alamat-alamat. Alloh SWT berfirman :
إنّ في ذلك لآيةٍ للمتوسمين
    Sesungguhnya yang demikian ini benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda). (QS Al-Hijr 75).
    Artinya orang-orang yang mengerti apa yang ditampakkan oleh Tuhan dengan berbagai alamat / tanda-tanda. Mereka terbagi menjadi dua golongan : para wali Alloh dan para musuh-Nya. Orang yang mempunyai firasat melihat dengan cahaya Alloh. Demikian itu merupakan pancaran cahaya yang memancar ke dalam hati, sehingga ia dapat melihat berbagai makna atau niali-nilai yang termanifestasikan dalam alam semesta. Hal itu merupakan keistimewaan iman. Kebanyakan mereka adalah Rabbany. Alloh SWT berfirman :
كونوا ربّانيين

    Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbany(QS Ali Imran 79).
    Rabbany artinya para ulama ahli hikmah yang berakhlak dengan akhlak Tuhan dan berpikiran dengan pandangan Tuhan.
Mereka kosong dari pengaruh makhluk, Kecenderungan dari melihat mereka dan kosong dari kesibukan dengan mereka.
    Abul Qasim Al-Munadi, seorang ulama sufi dari Naisabur terbesar di zamannya menderita sakit. Banyak ulama yang menjenguknya, diantaranya Abul Hasan Al-Busanji dan Hasan Al-Hadad. Sebelum tiba ditempat tujuan, keduanya sempat membeli beberapa buah apel di tengah jalan secara kredit. Keduanya kemudian membawanya kepada Abul Qasim. Ketika kedua tamu ini masuk dan duduk di sisi pembaringan. Abul Qasim berkata, ” Kenapa suasana menjadi gelap ?”
    Kedua tamu itu terkejut. Seolah-olah ucapan itu ditujukan kepada mereka berdua. Keduanya gelisah dan kemudian mereka keluar dan bergumam, “Apa yang telah kita perbuat ?” Keduanya mencoba berfirir.
    “Barangkali kita belum membayar penuh harga apel,” Kata mereka. Keduanya lantas pergi ke tempat penjual apel dan melunasi pembayarannya, kemudian kembali ke rumah Abul Qasim. Ketika pandangan beliau jatuh kepada mereka berdua, maka beliau bergumam, “Mungkinkah secepat ini kegelapan yang menyelimuti seseorang keluar darinya. Kabarkan pada saya ada apa yang terjadi pada kalian .”
    Keduanyapun menuturkan kisah tentang apel, tentang harga dan tentang pemenuhan janjinya. Ulama itu diam mendengarkan. Beliau menemukan penyebab kegelapan ruang tidurnya.
    “Memang benar seseorang dari kalian terlalu percaya pada temannya untuk tidak membayar penuh harga apel. Dia percaya dengan kebaikan penjual apel, sementara penjual apel itu malu untuk tidak memenuhi tawarannya. Dia sungkan dan takut berperkara karena sadar bahwa yang dihadapinya adalah ulama. Dia takut menagih. Sedangkan saya adalah penyebab utama. Engkau datang dengan membawa apel karna saya. Itulah yang saya lihat pada diri kalian.”
    Semenjak saat itu, Abul Qasim AL-Munadi masuk pasar setiap ada pelelangan. Dan ketika tangannya menjamah sesuatu yang sekiranya mencukupi harga senilai seperenam hingga setengah dirham, maka dia keluar dan kembali pada pangkal waktunya dan meniti-niti hatinya.
    Husain bin Manshur berkata, “Al-Haqq” Telah menguasai rahasia (hati), maka rahasia-rahasia itu akan menguasainya, mengurusi dan memberitahukan kepadanya rahasia-rahasia itu”.
    Seorang sufi ditanya tentang makna firasat, lalu dijawab, “Beningnya nurani yang berputar-putar di dalam kerajaaan (alam jasad, alam ruhani, dan alam ghaib) sehingga dia dimuliakan dengan kemampuan melihat makna-makna ghaib, berbicara trentang rahasia-rahasia penciptaan dengan pembicaraan yang nyata, dan dia tidak berbicara dengan dugaan atau persangkaan.”
    Dikatakan bahwa antara Zakariya Asy-Syahtani sebelum dia tobat, dan seorang wanita terjalin hubungan asmara. Suatu hari dia menghadap gurunya, Abu Utsman, setelah menjadi salah seeorang murid seniornya. Abu Utsman duduk sambil menekurkan kepalanya, sementara Zakariya duduk bersila di depan gurunya dengan pikiran melayang mengkhayalkan keasihnya. Abu Utsma mengangkat kepalanya dan menatap muridnya. “Mengapa engkau tidak merasa malu ?” tanya gurunya.
    Syaikh Abul Qasim menceritakan kisah awal perjalanan sufinya, dia mengatakan, “Ketika di awal perjumpaan saya dengan ustadz Abu Ali, beliau mengikat saya dalam suatu acara di majlis ta’lim di masjid Al-Mathuraz. Saya meminta izin beliau untuk keluar sebentar ke kota Nasa dan beliau mengizinkannya. Kemudian saya berjalan bersamanya. Di tengah jalan menuju majlis ta’lim, hati saya berbisik,”Sekiranya beliau mau menggantikan saya di majlis selama saya tidak ada…’ belum selesai hati saya berbicara, Ustadz Abu Ali menoleh dna mengatakan kepda saya, “Saya akan menggantikanmu selama kamu tidak ada.: Kemudian kami berjalan, “hati saya kembali berbisik, “seandainya beliau sakit dan mengalami kesulitan untuk menggantikan saya selama dua hari dalam seminggu atau paling tidak sekali seminggu.’ Tiba-tiba beliau menoleh kepada saya dan mengatakan, “Jika tidak mungkin menggantikan kamu dua hari seminggu, paling tidak saya akan menggantikanu seminggu sekali.” Kami kembali berjalan dan ketika hati saya berbisik lagi dengan hal yang lain, beliau juga menoleh dan memberitahukan kepada saya apa yang telintas di hati saya”.
    Syah AL-Kirmani seorang ulama yang terkenal memiliki ketajaman firasat mengatakan, “Barang siapa yang mengatupkan pandangannya dari sesuatu yang haram, mencegah dirinya dari syahwat, menetapi bathinnya dengan keabadian perasaan diawasi Alloh, meneguhkan zahirnya untuk tetap mengikuti sunah RasuluLloh SAWW, dan membiasakan makan halal, maka firasatnya tidak mungkin salah”.
    Abul Husin An-Nuri pernah ditanya, “dari mana firasat orang-orang yang ahli firasat itu lahir ?”
    :Dari firman Alloh yang berbunyi :

وَنَفَحْتُ فيْهِ روْحيْ

    Dan Kami tiupkan Ruh-Ku ke dalamnya (QS Al-Hijr 29)
    Barang siapa cahayanya lebih sempurna maka kesaksian hukumnya lebih tepat. Hukumnya dengan penglihatan firasatnya lebih benar. Mengapa kamu tidak melihat bagaimana peniupan ruh itu menjadikan keharusan sujud kepada-Nya ? Firman Alloh SWT :

فإذاسَوَيْتُهُ وَنَفَحْتُ فِيْهِ مِنْ رُوحِيْ فقعُوا لَهُ ساجدين

    Ketika Aku sempurnakan penciptaannya, dan aku tiupkan ruh Ku ke dalamnya, maka mereka bertiarap sujud kepadanya (QS Al-Hijr 29)
    Uatadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Tafsiran berikut ini dari Abul Hasan An-Nuri yang menerangkan bahwa ayat teersebut mengandung kesamaan pengertian dengan penyebutan peniupan roh, bukan pembenaran seseorang yang mengatakan dengan pijakan kaki ruh, dan tidak sebagaimana ruh yang menyinari hati orang-orang yang lemah.jika benar baginya peniupan, penyambungan dan pemisahan, maka dia adalah orang yang menerima pengaruh dan perubahan. Itulah diantara beberapa ketinggian sesuatu yang baru. Alloh SWT telah mengkhususkan orang-orang mukmin dengan penglihatan dan cahaya yang dengan cahaya itu mereka berfirasat. Pada hakikatnya hal ini merupakan pengetahuan yang didasarkan sabda RasuluLlah SAWW, ” Sesungguhnya Dia melihat dengan cahaya Alloh”. Artinya dengan ilmu dan penglihatan yang dikhususkan kepadanya. Dia diistemawakan Alloh dengan kedua anugerah tersebut dan dipisahkan dari yang bukan bentuk-bentuknya. Penamaan ilmu dan penglihatan dengan istilah cahaya adalah bukan sesuatu yang diada-adakan. Sifat demikian itu tidak dijauhkan dengan penipuan karena maksud dari ayat tersebut adalah penciptaan.”
    Husain bin Manshur mengatakan, orang yang punya firasat adalah orang yang menembakkan kebenaran dengan lemparan pertama menuju sasaran yang tepat. Dia tidak condong kepada penafsiran, persangkaan dan dugaan.” Dikatakan, firasat para murid masih pada taraf persangkaan, yang megharuskan peningkatan pada tataran pemastian. Sedangkan firasat para ahli ma’rifat adalah berada pada tataran pemastian yang mengharuskan pada tataran kepastian.
    Ahmad bin Ashim Al-Anthaki mengatakan, “Jika kalian duduk bersama-sama orang yang ahli kebenaran, maka duduklah dengan kebenaran karena mereka adalah para mata-mata (spionase) hati. Merekad dapat memasuki hati kalian dan keluar dari hati kalian tanpa kalian sadari.” Abu Ja’far Al-Hadad mengatakan,” Firasat adalah awal bisikan hati dengan tanpa penentangan. Jiak timbul penentangan dari jenisnya, maka dia hanyalah sekedar lintasan dan bisikan nafsu.”
    Abu AbdiLlah Ar-Razi ketika singgah di Naisabur mengalami pengalaman sufi yang menarik. Dia mengatakan, “Ibnul Ambari pernah mengenakan pada saya pakaian yang terbuat dari bulu domba. Ketika itu saya melihat di kepala Dalf Asy-Syibli terdapat topi manis yang diikat dengan kain wol. Saya berbisik dalam diri saya, ‘alangkah baiknya jika kedua hiasan tersebut berkumpul pada diri saya.’ Ketika Asy-Syibli berdiri dari duduknya, dia menoleh kepadaku dan saya mengikutinya. Biasanya jika saya ingin mengikutinya, dia pasti menoleh kepadaku terlebih dahulu, namun kali ini tidak. Dai langsung berjalan dan masuk ke rumah tanpa memperhatikan saya.
    “Lepaskan kain bulu itu.” Perintahnya.
    Sayapun melepaskannya. Dia kemudian dia melipat kain itu, lalu menggabungkannya dengan topi dan memerintahkan seseorang untuk membakarnya.”
    Abu Hafs An-Naisaburi megatakan, “Tidak patut bagi seseorang mengaku memiliki firasat yang tajam sementara dia takut pada firasat orang lain karena Nabi SAWW pernah bersabda,”Takutlah kalian pada firasat orang mukmin”. Beliau tidak mengatakan “Berfirasatlah”. Maka bagaimana mungkin sah firasat seseorang sementara dia masih takut di maqam firasat.”
    Ahmad nin Masruq mengatakan, “Saya memasuki rumah seorang laki-laki yang sudah lanjut usia. Dia adalah satu diantara kawan-kawan kami. Saya memangilnya tetapi tidak mendapat sahutan. Sayapun masuk ke dalam dan mendapatinya dalam keadaan setengah lemah. Saya bergumam dalam hati,”Dari mana dia mendapat pertolongan, sementara dia adalah orang yang sudah sangat tua ?” Tiba-tiba dia menyahut, “Hai Abul Abas, tinggalkan bisikan hatimu yang busuk itu. Sesungguhnya bagi Alloh ada kelembutan yang sangat samar.”
    Az-Zubaidi mengatakan, “Saya bersama sekumpulan orang fakir tinggal beberapa lama di masjid Baghdad. Dalam beberapa hari kami tidak mengkonsumsi apa-apa. Sayapun mendatangi Ibrahim AL-Khawash untuk meminta sesuatu. Ketika pandangannya mengarah kepada saya, dia menyindir,’ Kebutuhan yang menyebabkan engkau datang kepada saya karenanya, apakah Alloh mengetahuinya atau tidak ?’
    “Ya.”
    ‘Kalau begitu diamlah dan jangan menampakkannya pada makhluk.’
    Saya akhirnya kembali ke Masjid dan berkumpul dengan orang-orang fakir. Kami diam, pasrah di hadapan Alloh dan tidak berapa lama, kami dibukakan rizki yang melebihi dari cukup.”
    Diceritakan,Sahal bin AbduLlah suatu hari tertimpa kelaparan. Dia mencoba berjalan tetapi jatuh. Rasa lapar dan penderitaan yang membuatnya tidak mampu bertahan hingga ia tergeletak di serambi masjid. Akan tetapi ia masih sempat berpesan, “Jika Syah AL-Kirmani mati pada hari ini atas kehendak Alloh, maka tulislah hal ini dan kirimkan kepadanya.” Waktupun berjalan dan apa yang difirasatkan itu benar terjadi.
    Ketika Abu AbdiLlah At-Turghandi seorang ulama besar di zamannya pergi ke kota Thus dan ketika sampai di daerah Kharwa, dia berkata kepada muridnya, “Belilah roti”.
    Daipun berangkat dan tidak lama kemudian kembali dengan membawa roti yang cukup dimakan untuk dua orang.
    “Belilah yang lebih banyak” pintanya lagi.
    Murid itupun berangkat dan membeli roti yang sekiranya cukup dimakan oleh sepuluh orang. Dai memang sengaja membeli lebih, tetapi tidak tahu apa maksudnya. Dia hanya berfikir bahwa perintah ini adalah perintah yang terakhir. Ketika keduanya melanjutkan perjalanan dan naik ke atas gunung, mereka dikejutkan oleh sekumpulan orng-orang yang ditawan para penyamun. Kaki dan tangan para tawanan itu dalam keadaan terikat. Kondisi mereka sangat tragis dan sudah beberapa hari tidak makan. Mereka meminta makanan kepada kedua orang tersebut.
    “Berikan makanan itu kepada saya,” pinta Abu AbdiLlah kepada muridnya.
    Ustadz imam Al-Qusyairi menuturkan kisah sufinya. “Ketika saya bersama Uastadz Abu Ali Ad-Daqaq” kisahnya..maka pengajian Syaikh Abu AbduRrahman As-Sulami sedang berlangsung. Dia sebenarnya lebih senang mendengar sambil memenuhi keluhan orang-orang fakir dari pada berbuat yang tidak jelas arahnya. Dalam keadaan yang sama, Ustadz Abu Ali juga mengatakan seperti apa yang dikatakan Syaikh Abu AbduRrahman . barang kali diam lebih utama baginya. Kemudian dalam majlis tersebut Ustadz berkata, “Pergilah kesana, engkau akan mendapati dia sedang duduk di ruangan perpustakaan pribadinya. Di dalam perpustakaan itu terdapat beberapa jilid buku sampul merah yang salah satunya berbentuk segi empat ukuran kecil yang di dalamnya terdapat tulisan beberapa syair Husin bin Manshur. Ambilah dan bawa kemari jilid yang ada syairnya dan jangan berkata apa-apa kepadanya.’
    Ketika itu matahari berada di pertengahan langit . saya berangkat di tengah terik matahari, kemudian masuk dan di dalam perpustakaan saya menjumpai Syaikh AbduRrahman dan buku-bukunya sebagaimana yang disebut ustadz. Ketika saya duduk, Syaikh mengucapkan sesuatu,’Sebagian orang mengingkari salah seorang ulama yang gerakannya ada dalam diamnya.’ Orang itu saya lihat sendirian di dalam rumah sambil berjalan berpuar-putar seperti orang yang dimabuk asmara, seperti inilah keadaan mereka.” Katanya kemudian.
    Ketika saya merenungkan apa ang diperintahkan Ustadz Abu Ali kepada saya dan beberapa gambarannya, kemudian membandingkannya dengan penjelasan-penjelasan syaikh AbduRrahman, saya menjadi bingung.’Bagaimana saya harus menyikapi dua hal ini ?” keluh saya. Sayapun berusaha berfikir dan memecahkannya tentang diri saya tersebut. Saya akhirnya berkata pada diri saya sendiri, “Tidak ada arah kecuali kebenaran. Ustadz memberi gambaran kepada saya tentang beberapa jilid buku dan perintahnya kepada saya untuk membawa buku-buku tersebut kepadanya tanpa harus meminta izin kepada pemiliknya. Saya sangat segan kepadanya dan tidak mungkin menentang perintahnya. Lantas untuk apa dia memerintahkan saya demikian ?
    Akhirnya saya mengeluarkan seperenam dari karangan Husin bin Manshur. Belum sempat berfikir macam-macam, syaikh AbduRrahman berkata kepada saya, “Bawalah lembaran itu kepadanya dan katakan kepadanya, sesungguhnya saya telah mempelajari jilid itu dan saya telah menukil beberapa syairnya ke dalam karangan saya.” Kemudian saya berangkat pulang.
    Diriwayatkan dari Hasan Al-Hadad yang mengatakan, “Saya bersama Aul Qasim Al-Munadi ketika ia bercengkerama bersama orang-orang fakir. Saya duduk bersama mereka, sampai Abul Qasim meminta saya mencari sesuatu. “Keluar dan bawalah sesuatu untuk mereka!’ Saya sangat senang mendapat tugas ini karena bisa melayani orang-orang fakir. Saya mendatangi mereka dengan sesuatu setelah memenuhi kebutuhan saya. Saya masuk kedalam rumah untuk mengambil keranjang, lantas keluar. Ketika melewati lorong jalan besar yang penuh dengan deretan para saudagar, saya dikejutkan oleh syaikh yang tiba-tiba berada di situ. Wajahnya tampak berseri-seri. Saya sampaikan salam kepadanya kemudian bertanya, “Orang-orang miskin saya pikir masih di majlis tuan, apakah tuan sudah punya sesuatu untuk menjamu mereka ?”
    Dia diam sebentar kemudian menunjukkan kepada saya roti, daging dan anggur. Ketika saya sampai di pintu, dia mendekati saya, dari arah belakang pintu dan mendorongnya pada tempat dimana saya memasukinya. Sayapun kembali dan meminta maaf kepada syaikh. Saya tidak menemukan mereka. Saya pikir mereka berpencar. Saya menyampaikan alasan kepadanya, kemudian keluar mendatangi pasar dan kembali membawa sesuatu. ‘masuk’. Katanya.
    Saya duduk dan menceritakan kepadanya pengalaman saya.
    “Benar, para saudagar yang kamu temui di jalan itu adalah para penguasa. Jika engkau mendatangkan sesuatu pada kaum fakir, maka berilah seperti ini.., tidak seperti itu (maksudnya yang diperoleh dari para saudagar / kaum bangsawan).
    Abul Hasan AL-Kurafi berkata, “Saya mengunjungi Abul Khair, kemudain berpamitan pulang dan dia keluar mengantarkan saya sampai di depan pintu masjid. ‘Hai Abul Hasan’ panggilnya. ‘Saya tahu kamu tidak membawa apa-apa. Karena itu bawalah dua apel ini’. Sayapun mengambilnya dan memasukkan nya ke dalam kantong baju lalu pergi melanjutkan perjalanan, dan tidak membukanya sampai tiga hari. Saya kemudian mengambil satu buah dan memakannya, dan ketika hendak mengambil yang sebuah lagi, tiba-tiba kedua buah itu kembali di dalam kantong baju saya. Saya memakan sebuah dan keduanya kembali lagi seperti semula sampai saya tiba di sebuah pintu. Saya berbisik, ‘Kedua apel ini merusak kondisi tawakal saya’. Ketika saya mengeluarkan kedua apel itu dari kantong, tiba-tiba saya melihat seorang miskin yang berselimut kain mantel. ‘Saya ingin apel’. Pintanya. Sayapun memberikan keduanya kepadanya. Ketika saya melanjutkan perjalanan, saya faham bahwa sebenarnya syaikh mengirimkan kedau apel tersebut kepada orang miskin tadi. Ketika itu saya berada di kerumunan orang yang berada di jalanan. Sayapun berbalik menemui orang miskin tadi akan tetapi tidak menemukannya.’
    Seorang pemuda menemui Al-Junaid. Dai sedang membicarakan suara bathin manusia, kemudian menyamapikannya kepada Al-Junaid.
    “Apa yang disebutkan orang ini tentang kamu ?” Tanya Al-Junaid.
    “Percayalah pada sesuatu”.
    “Engkau percaya ?”
    “Saya percaya demikian…demikian..”. tegasnya kemudian.
“tidak, tapi percayalah yang ke dua”. kata al-Junaid.
Dia melakukannya kemudian mengatakan,”Saya mempercayai demikian..demikian..”.
“Bukan demikian, percayalah yang ke tiga”.
Imam AL-Junaid kembali mengatakan seperti semula.
    “ini sangat mengherankan, engkau benar dan saya tahu hati saya.” Jawab pemuda itu akhirnya.
“Engkau memang sudah benar. Dalam perkara yang pertama dan kedua dan ketiga engkau benar. Saya melakukan yang demikian hanya untuk mengujimu, apakah hatimu berubah”. Jelas Al-Junaid.
Ibrahim, seorang sufi terkenal jatuh sakit. Lalu dibawakan kepadanya segelas obat. Dia mengambil gelas itu dan hanya memandangnya.
“Hari ini sedang terjadi peristiwa penting di kerajaan. Saya tidak akan makan dan minum sampai saya mengetahuinya.” Dai mengungkapkan firasatnya.
Beberapa hari keudian datang kabar kepadanya bahwa imam AL-Qurtubi pada hari itu (saat ia membuka firasatnya) masuk kota mekah dan terbunuh dalam peperangan tersebut.
Anas bin Malik mengatakan, “saya mampir ke rumah Utsma bin Affan. Dari rumahnya saya melihat seorang wanita yang tengah berjalan. Saya berfikir tentang kecantikan tubuhnya. Utsman tersenyum lantas menyindir saya, “Sedang bertamu kepada saya seseorang dari kamu sekalian, sementara pengaruh zina nampak di kedua matanya.’ Saya penasaran, lalu saya bertanya, ‘Apakah itu wahyu setelah RasuluLloh SAWW ?’
Dia menjawab, “Tidak, akan tetapi penglihatan, bukti dan firasat adalah kebenaran.'”
Ahmad Al-Kharaz berkata, “saya masuk Masjidil Haram dan saya melihat seorang fakir yang pakaiannya ada dua sobekan sedang meminta sesuatu. Saya berkata dalam hati, ‘Seperti inikah kemiskinan yang menimpa manusia ?’. tiba tiba mata orang fakir itu memandng saya. Pandangannya menembus sampai ke ulu hati saya. Dia menyindir saya dengan menyitir sebuah ayat :
واعلمواأنّ الله يعلم مافي انفسكم فاحذروْه
“”Dan ketahuilah bahwasanya Alloh mengetahui apa yang ada di dalam hatimu maka takutlah kepada-Nya’. (QS Al-Baqarah 235)
Kemudian saya mengatakan, ‘saya memohonkan ampun rahasia saya.’ Dia diam lalu memanggil saya seraya mengutip sebuah ayat lain :
وهوالذي يقبل التوبة عن عباده ويعفو عن السيّئات
‘Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.(QS Asy-Syura :25)
Ibrahim Al-Khawash menceritakan, “Saya di Baghdad di temapt kumpulan orang-orang kota. Dalam kumpulan itu terdapat juga kumpulan orang-orang fakir. Kemudian datang seorang pemuda yang sangat elok, baunya harum, dan wajahnya sangat menawan. Saya menoleh kepada kawan-kawan dan membisikkan sesuatu kepada mereka.’ Dia adalah yahudi’. Semua orang menjadi membencinya. Saya keluar dan saya juga keluar, kemudian dia kembali dan menanyakan sesuatu kepada jama’ah,’apa yang dikatakan syaikh teersebut tentang saya.’ Mereka marah dan tidak mempedulikan pertanyaannya. Akan tetapi dia terus mendesak sampai orang-orang menjawabnya,’Engkau adalah yahudi’. Pemuda itu terkejut. Dia heran dengan apa yang dikatakan orang-orang. Diapun beranjak pergi dan menemuhi saya. Dia duduk bersimpuh di hadapan saya lalu menyatakan keislamannya.
‘apa yang menyebabkan anda masuk islam ?’ seseorang bertanya
Dia menjawab, “Di dalam kitab-kitab kami disebutkn bahwa orang yang benar firasatnya tidak pernah salah. Saya hanya menguji orang-orang islam. Saya memikirkan mereka. Jika memang ada orang yang benar diantara mereka, maka di dalam kelompok islam inilah adanya karena mereka mengucapkan firman Alloh. Dan ketika hal itu diperlihatkan kepada saya dan saya berfirasat, maka tahulah saya bahwa dia benar.’ Pemuda itu akhirnya menjadi ulama sufi yang besar.’
Ahmad Al-Jariri mengatakan, “Diantara kalian ada orang-orang yang jika Al-Haqq menghendakinya bisa berbicara tentang kerajaan langit, apakah dia megetahuinya sebelum ditampakkan kepadanya ?’
“Tidak” jawab mereka.
“Saya menangisi hati manusia yang di dalamnya tidak dijumpai sesuatu yang berasal dari Alloh,” jelas saya.
Abu Musa Ad-Dailami mengatakan pengalamannya, Saya pernah bertamu ke rumah AbduRrahman bin Yahya untuk menanyakan makna tawakal, lalu dijawab, ‘Kalau engkau memasukkan tanganmu ke mulut seekor naga sampai ke pergelangan tangan, bersama Alloh engkau tidak takut apapun selain-Nya.’
Saya keluar dan pergi ke rumah Abu Yazid Al Bustomi juga untuk menanyakan makna tawakal. Saya ketuk pintu rumahnya dan dia menyahut dari dalam,’ Bukankah jawaban yang kamu peroleh dari AbduRrahman sudah cukup ?’ saya penasaran dan mengatakan kepadanya, ‘Bukalah pintunya.’ Dia menyahut dari dalam, engkau tidak mengunjungiku sebagai pengunjung, tetapi hanya untuk bertanya, dan saya cukup menjawabnya dari balik pintu.’
Saya diam sejenak di depan pintu lalu pulang. Setahun kemudian saya mendatangi lagi. “Selamat datang engkau sekarang adalah pengunjungku.’ Saya kemudian tinggal bersamanya selama sebulan. Selama itu tidak ada bisikan di dalam hati saya selain membisikkan tentangnya. Ketika hendak berpamitan saya sempat menanyakan sesuatu kepadanya, ‘apakah ada faedah untuk saya ?’ Dia menjawab, ‘Ibu saya ketika mengandung saya pernah membisikkan sesuatu kepada saya. Jika disodorkan kepadanya makanan yang halal maka beliau mengambilnya. Jika makanannya syubhat, beliau mencegah tangannya untuk mengambilnya.”‘
Ibrahim AL-Khawash berkata, “Saya masuk desa, namun di tengah perjalanan saya tertimpa musibah yang cukup berat. Ketika sampai di Makkah, sesuatu yang mengherankan menarik perhatian saya. Tiba-tiba seorang lelaki tua yang sangat lemah muncul di hadapan saya dan memanggil saya,’ Hai Ibrahim, saya memperhatikanmu sejak memasuki desa. Saya sengaja tidak menyapamu karena tidak ingin mengganggu kesibukan hatimu. Sekarang saya mengeluarkan rasa was-was dari dalam hatimu.'”
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abu Bakar AL-Furqani setiap tahun pergi ke Makkah untuk haji dan umrah. Ketika melakukan perjalanan haji, dia lewat Naisabur tetapi tidak mampir ke rumah Ali Abu Utsman Al-hirri. Pada haji berikutnya dia sempat mampir.
Dai mengatakan, “Sayapun masuk ke rumahnya dan mengucapkan salam kepadanya akan tetapi dia tidak menjawab. Saya membathin,’ Seorang muslim masuk rumahnya lalu mengucapkan salam kepadanya dan dia tidak menjawabnya.’ Barusaja hatiku berhenti berbisik, Abu Utsman menyahut,’ Apakah seperti ini seseorang melakukan ibadah haji, sementara ibunya dibiarkan di rumah sendirian. Dia tidak berbakti kepada seorang ibu.’
Saya takut. Pasti kata-kata itu ditujukan kepada saya. Saat itu juga saya pulang dan menemani ibu sampai beliau wafat. Kemudian saya berkunjung lagi ke rumah Abu Utsman, beliau menyambut saya dan menemani saya duduk. Saya tinggal bersamanya sampai beberapa waktu hingga beliau wafat.’
Khair An-Najas berkata, “Saya sedang di rumah. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh bayangan kehadiran al-Junaid yang muncul di samping pintu. Dia seperti berdiri mematung. Saya segera mematikan bisikan itu dari hati saya. Kejadian itu terulang sampai yang ketiga kalinya. Sayapun akhirnya kepuar dan ternyata Al-Juanid benar-benar berdiri di samping pintu. Dia menegur saya,’Mengapa tidak kamu keluarkan bisikan hati pada saat bisikan yang pertama ?’
Muhammad bin Husain Al-Busthami berkata, “Saya masuk rumah Abu Utsman AL-Maghribi, spontan hati saya berbisik,’semoga dia menawarkan sesuatu kepada saya.’ Abu Utsman menyahut, ‘Tidak akan mencukupi manusia yang saya mengambil sesuatu dari mereka sampai mereka menambah masalahku untuk mereka.'”
Seorang fakir menuturkan pengalamannya, dia mengatakan, “Ketika saya di Baghdad, saya membayangkan AbduLlah Al-Murta’isi memberi saya uang lima belas dirham untuk membeli sebuah bejana dan sepasang sandal. Sayapun masuk perkampungan dan menginap di sebuah penginapan. Tiba-tiba pintu rumah saya diketuk seseorang. Saya segera membukanya. AbduLlah berdiri di depan pintu dan saya terkejut memandangnya. Angin berhembus halus menyertai kedatangannya, masuk ke dalam dan menerpa badan saya. Dai mengatakan,”Ambil kantong ini”.
“Wahai tuan, saya tidak menginginkannya”.
“Mengapa engkau menyiksa (maksudnya AbduLlah tersiksa oleh suara firasatnya yang melihat seorang fakir yang menginginkan uang) kami ?” dan berapa yang engkau inginkan ?’
‘limabelas dirham’.
‘ini limabelas dirham’ Jelas AbduLah.
Alloh SWT berfirman :
أومن كان ميّتا فأحييناه

Dan apakah orang yang suadah mati kemudian dia Kami hidupkan (QS Al-Abn’am 122)
Ayat ini menurut segolongan kaum sufi adalah pikiran mati, lalu Alloh menghidupkannya dengan cahaya firasat, lalu dijadikan untuknya cahaya tajalidan musyahadah. Dai tidak menjadi seperti orang yang berjalan diantara orang-orang yang lupa dalam keadaan lupa. Dikatakan pula jika firasat benar, pemiliknya naik sampai ke tingkat musyahadah.
Ahmad bin Masruq berkata, “seorang tua datang kepada saya, dia berbicara kepadaku tentang firasat dengan kata-kata yang bagus. Lidahnya lezat dan suara bathhinya baik. Sebagian ungkapan yang disampaikan mengatakan, “Setiap apa yang jatuh menjadi milikmu di dalam suara bisikan hatimu, katakanlah kepadaku.’ Lalu terlintas di hatiku bahwa dia seorang yahudi. Suara bathin ini sangat kuat dan tidak mungkin tergeser. Sayapun kahirnya menyampaikannya kepada Ahmad Al-Jariri. Dia kagum seraya mengucapkan takbir. Saya bergumam,’ saya harus mengabarkan hal itu kepada pak tua tadi.’ Maka saya mendatanginya dan mengatakan,’ engkau pernah berpesan kepadaku bahwa jika ada firasat yang jatuh ke dalam hatiku, saya harus megabarkanmu. Firasat yang timbul dalam hatiku mengatakan bahwa engkau adalah yahudi.’
Pak tua itu menundukkan kepalanya dan merenung beberapa saat kemudian dan lantas mengatakan, ‘Engkau benar’. Katanya. ‘Dan sekarang saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan-Nya.’ Saya telah menekuni semua mahzab agama.’ Saya menimpalinya.,’ jika memang bersama mereka ada sesuatu, maka apakah sesuatu itu ? Saya telah memasukimu dan telah mengabarkan kepadamu bahwa kamu berada dalam kebenaran.’ Lelaki tua itu dikemudian hari menjadi seorang muslim yang baik.”
Dikisahkan dari Al-Junaid bahwa Sarry As-Saqathy pernah berkata kepadanya, “Tinggalkanlah pesan untuk manusia !”. beliau menjawab, ‘di dalam hati saya ada rasa malu tentang ucapan yang ditujukan kepada manusia. Saya mendatangi dan mengabarkan kepada mereka bahwa diriku berhak mendapatkan hal itu. Pada suatu malam dalam mimpiku aku melihat RasuluLloh SAWW. Pada waktu itu malam Jum’at. Beliau mengatakan kepadaku, Sampaikan pesan kepada manusia.’ Saya lalu terjaga dari tidur dan kemudian mendatangi pintu rumah Sarry As-Saqathy sebelum subuh. Saya ketuk pintunya. Beliau menyahut, ‘mengapa engkau baru mempercayai kami sampai dikatakan kepadamu.'”Al-Junaid akan duduk di hadapan manusia besok di masjid”. Sementara di tengah-tengah manusia beredar kabar bahwa Al-Junaid akan duduk di hadapan manusia untuk memberi fatwa. Kemudian datang seorang anak nasrani menghadang Al-Junaid dan bertanya, ‘Wahai Syaikh, apa makna sabda RasuluLloh SAWW yang menyatakan : Takutlah kamu firasat orang mukmin karena orang mukmin melihat dengan cahaya Alloh ?” Al-Junaid menundukkan kepalanya, kemudian mengangkat lalu menjawab, “Masuklah Islam. Sungguh telah dekat waktu Islammu !” anak itupun segera masuk Islam.

6 September 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

KEMERDEKAAN

KEMERDEKAAN

اللّه SWT berfirman,

“وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةْ

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam keadaan kesusahan'” (Al-Hasyr 9)

Artinya, orang-orang Anshar mengutamakan orang-orang Muhajirin atas mereka sendiri untuk memurnikan dari apa yang mereka keluarkan.

Ibnu Abas RA. Menuturkan sabda َسُوْلُ اللّه SAWW yang mengatakan :

اِنَّمَا يَكْفِى أَحَدُكُمْ مَاقَنَعَتْ بِهِ نَفْسُهُ وَإِنَّمَا يَصِيْرُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَذْرَعٍ وَشِبْرٍ وَإِنَّمَايَرْجِعُ إِلَى آخِرِهِ

“Sesungguhnya seseorang dari kalian mencukupkan dengan apa yang menjadi kepuasan nafsunya, sampai menjadi empat hasta dan satu jengkal serta segala perkara kembali pada kesudahannya (akhirnya).”

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan,”Sesungguhnya makna kemerdekaan/kebebasan dibatasi dalam ketiadaan seorang hamba dibawah pengaruh perbudakan makhluk, tidak dikendalikan penguasa yang mengatur alam (para raja atau presiden) dan tanda sahnya kemerdekaan dibuktikan dengan kegugurnya sifat yang membedakan dari hatinya diantara hal-hal (yang menjadi pilihannya). Bagaimana semua posisi yang menghadangnya adalah sama”.

Haritsah RA pernah mengatakan pada َسُوْلُ اللّه SAWW, “Jiwaku zuhud dari dunia. Bagiku tidak ada bedanya antara batu dan emas”. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Barang siapa menghinakan dunia, maka dia bebas darinya, dan jika berpindah menuju kampung akhirat maka dia juga bebas darinya”. Beliau juga mengatakan bahwa orang yang bebas dari dunia maka akhirat kelak juga bebas darinya”.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan, “Ketahuilah bahwa hakikat kemerdekaan terletak dalam kesempurnaan penghambaan. Jika penghambaannya benar untuk اللّه, maka kemerdekaannya bersih dari perbudakan sesuatu yang berubah. Adapun orang yang berangan-angan bahwa dirinya dipasrahkan hanya kepada-Nya dengan melepaskan semua waktu untuk ibadah dan menyatukannya dengan lrikan-Nyadari batasan amar makruf nahi munkar maka dia termasuk orang yang mengerti dalam membedakan beban-beban hukum. Demikian itu menjadikannya terlepas dari dua dunia”.

اللّه SWT berfirman,

“وَاعْبُدْ رََّكَ حَتَّى يَأتِيَكَ الْيَقِيْنُ

“Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang keyakinan padamu” (Al-Hijr 99)

Yakni kematian. Penafsiran ini lebih disepakati para ahli tafsir.

Tanda kemerdekaan bagi seorang hamba diantaranya adalah ketiadaan hatinya di bawah penghambaan makhluk, kepentingan-kepentingan dunia dan tujuan-tujuan akhirat. Dirinya adalah dirinya. Tidak satupun keduniaan yang bersifat sementara mampu memperbudaknya, tidak juga keinginan, angan-angan, permintaan, tujuan, harapan, dan keuntungan. Dirinya bebas dari semua itu. Dalf As-Syibli pernah ditanya, “Tidakkah engkau tahu bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih ?” lalu dijawab,”Benar semenjak saya mengetahui sifat kasih sayang-Nya, saya tidak lagi meminta dia untuk mengasihi saya. Maqam kemerdekaan amatlah mulia”.

Abul Abbas As-Sayyari berkata, “Seandainya shalat tanpa bacaan Al-Qur’an sah, maka sah pula gubahan syair ini :

Saya berangankan suatu kondisi

    Berada dalam suatu zaman

    Yang engkau akan melihat dua biji mata saya

    Sebagai kemerdekaan yang terbit

Banyak pendapat para guru sufi tentang makna kemerdekaan diantaranya adalah pendapat Husain bin Manshur yang mengatakan, “Barang siapa menghendaki kemerdekaan, maka teruslah dalam penghambaan (kepadaاللّه)”.

Imam Al-Junaid ditanya tentang orang yang tidak terpengaruh oleh dunia melainkan seukuran isapan satu biji-bijian terkecil, lalu dijawab, “Seorang budak juga tidak terpengaruh oleh keberadaan dirham. Sesungguhnya kau tidak akan sampai pada makna kemerdekaan sementara hakikat penghambaan yang menjadi tanggunganmu masih tersisa (terpengaruh kepentingan).

Bisyir Al-Hafi berkata, “Barang siapa menginginkan kelezatan makanan kebebasan dan terbebas dari perbudakan, maka sucikanlah rahasia yang berada diantaradirinya denganاللّه”.

Husain Al-Manshur juga pernah mengatakan, “Jika seorang hamba mengambil hak beberapa maqam penghambaan secara keseluruhan yang menjadikannya bebas dari kepayahan penghambaan, maka kerjakan fungsi penghambaan dengan tanpa tekanan dan beban. Itu adalah maqam para Nabi SAWW dan orang-orang yang ahli kebenaran. Artinya, menjadi orang yang terbebani namun merasa tidak terbebani dan hatinya tidak diliputi rasa berat (karena penghambaannya kepada اللّه), meski hukum syariat pada kenyataannya membemani yang demikian”.

Manshur Al-Faqih membacakan syair :

Tidakkah tersisa pada diri manusia

Kebebasan, dan tidak juga pada jin

Telah berlalu kebebasan dua golongan

Maka mereka menghiasi hidup dengan kepahitan

Ketahuilah bahwa sesungguhnya sebagian besar kebebasan terdapat dalam pemberian pelayanan pada orang-orang faqir. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Alloh memberikan wahyu kepada Nabi Dawud AS, ‘Jika kamu melihat-Ku dengan pencarian, maka jadikanlah dirimu sebagai pelayan-Ku'”.

RasluLlah SAWW bersabda :

سيّدُالْقوْمِ خادمهم

    “Tuan bagi suatu kaum adalah yang menjadi pelayan bagi mereka”.

Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Anak-anak dunia adalah orang yang dilayani para budak dan pelayan, sedang anak-anak akhirat adalah orang-orang yang dilayani kelompok orang merdeka lagi orang baik”.

Ibrahim bin Adham mengatakan, “Sesungguhnya kebebasan yang mulia adalah keluar (terbebasnya diri) dari penghambaan dunia sebelum dunia meninggalkannya”. Dia juga mengatakan, “Jangan berkawan kecuali kepada orang yang bebas (merdeka) lagi mulia. Mendengarlah dan jangan berbicara”.

6 September 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 1 Komentar

Jalan menuju Alloh sebanyak hitungan nafas makhluk

06/09/2010 4:35:57

ما من نفس تبديه الاّ وله قدر فيك يمضيه

Tiada satu nafaspun yang keluar dari diri manusia melainkan berasal dari pemberian Alloh SWT bukan dari manusia itu sendiri. Dan dari tiap-tiap nafas yang mengalir tersebut terdapat takdir / kepastian Alloh terhadap diri kita, adakalanya berupa keta’atan, atau maksiyat, atau ni’mat atau ujian.

Maka setiap nafas yang terjadi pada diri manusia itu merupakan tempat/cawan bagi takdir Alloh Yang Maha Haqq. Dan sepatutnya kita senantiasa menjaga adab/tatakrama kepada-Nya.

Dan kiranya inilah makna ucapan para ulama :

الطرق الى الله بعدد أنفاس الخلق

Jalan kepada Alloh sebanyak hitungan nafas para makhluk.

Dan bukankah tiada sesuatupun yang terjadi di dunia ini melainkan ada peran serta Alloh di dalamnya, tidak terkecuali nafas kita. Dan manakala nafas itu berlalu, maka saat itu juga waktu juga berlalu, dan umur kita juga berlalu tanpa bisa kembali lagi ke zaman dahulu. Oleh karena itu sayang sekali jika perbendaharaan yang tiada ternilaih ini dilewatkan begitu saja tanpa membawa makna penghambaan diri kehadirat Alloh SWT.

Dari itulah beberapa thariqah mengajarkan kepada kita zikir hifzul anfas, yaitu zikir menjaga nafas kita agar tidak berlalu dengan sia-sia, antara lain dengan melafalkan kalimat هو (Hu/Dia) ketika menarik nafas dan melafalkan lafaz لله ketika melepaskan nafas (dan itu dilakukan dengan zikir sirr/tersembunyi tidak terucap di lidah tetapi mengalir di dalam hati). Dan tentu saja lebih sempurna jika dilakukan dibawah bimbingan seorang syaikh thariqah.

6 September 2010 Posted by | Al-HIkam | 7 Komentar

Do’a hanya untuk melahirkan rasa butuh kepada-Nya

Senin, 06 September 2010
طلبك منه اتّهام له وطلبك له غيبت منك له وطلبك لغيره لقلت حيائك منه
Permintaanmu kepada-Nya (untuk memperoleh apa engkau inginkan) adalah kekhawatiran dan keraguanmu terhadap-Nya, dan pencarianmu kepada-Nya menunjukkan kehilanganmu terhadap-Dia, dan permintaanmu untuk sesuatu selain-Nya berarti sedikitnya rasa malu dirimu kepada-Nya
Yakni sesungguhnya seorang murid (yang sedang berproses mendekatkan diri kepada Alloh melalui bimbingan seorang guru), hendaklah menyibukkan diri di tengah perjalanannya dengan sesuatu yang dapat mendekatkan dirinya kepada Alloh SWT, dengan melaksanakan berbagai amal shaleh, dan tidak menyibukkan hatinya untuk mencari sesuatu yang lain karena sesungguhnya yang demikian ini tercela dan dapat menjadi sebab terputusnya perjalanan menuju Alloh. Karena sesungguhnya permintaanmu kepada-Nya agar Dia memberimu makanan atau rizki yang kamu harapkan dapat menguatkan dirimu dalam perjalanan menuju kepada-Nya apalagi keinginanmu mendapatkan lebih dalam hal rizki, sebenarnya yang demikian itu adalah kekuatiran (keraguan) dirimu kepada-Nya bahwa Dia tidak akan memberimu rizki. Karena sesunguhnya apabila kamu yakin kepada-Nya didalam menyampaikan kemanfaatan dan kebaikan kepada dirimu meski tanpa engkau minta, dan engkau yakin bahwa Dia lebih mengetahui akan kebutuhanmu, niscaya Dia mampu menyampaikan semua itu kepada dirimu tanpa engkau minta sekalipun.
Dan pencarianmu kepada-Nya dengan mencari kedekatan terhadap-Nya, dan keinginan hilangnya hijab / tirai yang menghalangi antara dirimu dengan-Nya sehingga engkau bisa menyaksikan-Nya dengan mata hatimu, itu menunjukkan kehilangan pandanganmu atas-Nya. Karena sesungguhnya apabila sesuatu itu hadir tidaklah ia memerlukan pencarian.
Dan permintaanmu kepada-Nya untuk (nendapatkan) sesuatu selain-Dia berupa beberapa macam harta benda dunia dan kemewahannya, dan beberapa keistimewaan semacam karomah, mukasyafah (terbukanya tirai), ahwal (beberapa kondisi spiritual) dan maqamat (beberapa kedudukan), semua itu menunjukkan sedikitnya rasa malu dirimu kepada-Nya. Karena jika engkau memiliki rasa malu kepada-Nya, niscaya engkau tidak akan menoleh kepada yang lain ataupun mencari sesuatu selain-Dia.
Dan permintaanmu kepada selain-Dia dengan menyandarkan diri kepada manusia didalam mendapatkan sesuatu harta benda dunia yang disertai rasa lalai terhadap Tuhannya, yang demikian itu menunjukkan jauhnya dirimu dari-Dia. Karena jika engkau dekat dengan-Nya, niscaya yang lain pasti jauh darimu. Demikian pula jika engkau menyaksikan dekat-Nya Dia denganmu, niscaya sudah mencukupimu dari kebutuhanmu kepada sekalian makhluk-Nya.
Oleh karena itu semua jenis meminta-minta bagi seorang murid pada hakekatnya kurang dibenarkan baik itu ditujukan kepada Al-Haq apalagi kepada makhluk kecuali permintaan itu dilakukan untuk sarana media beribadah kepada-Nya dan untuk memelihara etika dan tatakrama kepada-Nya dan untuk melahirkan rasa butuh kepada-Nya.

Adapun orang ‘Ariif, maka mereka tiada melihat selain hanya Alloh Ta’ala semata, yang mereka cari secara hakikat bukan dari makhluk meskipun secara lahiriah yang mereka dapatkan adalah melalui perantaraan makhluk.

6 September 2010 Posted by | Al-HIkam | 2 Komentar