بسم الله الرحمن الرحيم

Sekedar Tafakur

Suatu saat saya berfikir mengapa bola lampu di dalam ruang tamu saya dapat berpijar.
Terlintaslah di benak saya bahwa bola lampu itu dapat bersinar karena adanya arus listrik.
ternyata arus listrik saja belum cukup untuk membuat bola lampu itu bersinar.
Bagaimana mungkin arus listrik dapat sampai ke dalam rumah saya sementara sumbernya berada nun jauh sana di pembangkit tenaga listrik.

Singkat cerita maka ditariklah kabel listrik yang terbuat dari bahan konduktor yang dapat menghantarkan listrik, begitu terus memanjang hingga sampai ke rumah saya sehingga arus listrik dapat sampai.

Suatu saat kabel listrik di jalan putus, maka mati pula bola lampu yang ada di ruangan. Demikianlah kiranya dan sememangnya bola lampu senantiasa membutuhkan arus listrik dan kabel penghantar agar ia senantiasa dapat bersinar.

Allah sebagai sumber awal. Sebagaimana generator listrik sebagai sumber awal adanya arus listrik. RasuluLlah SAW sebagai terminal pertama penghantar aura Ilahiyah kepada umat manusia. Orang yang beriman kepada beliau perumpamaannya adalah seperti batang besi yang dapat menerima dan menghantarkan arus listrik, sedang orang yang ingkar kepada beliau SAW perumpamannya badalah laksana bahan isolator seperti plastik yang tidak dapat menerima ataupun menghantarkan listrik sama sekali.

Syaikh atau guru mursyid perumpamaannya adalah seperti bahan konduktor yang terbuat dari logam pilihan yang sangat responsif terhadap arus listrik sehingga listrik yang dihasilkan akan sama seperti dari sumber Pembangkit Awal (Al-Khaliq) . Kalau seorang syaikh mengucapkan kalimat Allah atau kalimat Laa Ilaaha IllaLlah maka hakikat yang dimaksud adalah sama dengan Allah ketika IA berfirman INNANY ANALLAH dan sama sebagaimana apa yang disabadkan oleh RasuluLlah SAW tentang Allah. Bukankah siapa saja bisa mengucapkan kalimat Allah Dari ulama sampai penjahat, pencuri, koruptor, semua bisa mengucapkan kalimat Allah bahkan orang kafir sekalipun dapat mengucapkan kalimat itu. akan tetapi jelaslah rasa dan hakikat maknanya pasti berbeda.

Seorang murid yang telah berbaiat kepada syaikh mursyid yang kamil patut bersyukur karena ia telah menerima seruan Ilahi dan mau menerima kalimat tauhid dari sumber yang original. Dan hakikat seorang murid pada dasarnya adalah ia memposisikan diri agar ia di setting oleh syaikhnya sehingga dirinya dapat menerima dan menghantarkan kalimat tauhid kepada dirinya sendiri dan orang lain………..selanjutnya sialkan dikembangkan sendiri tafakkur ini……..

14 November 2008 - Posted by | Blogroll

2 Komentar »

  1. asslmkmm..?:)
    matur nuwun sanget,nggeh sae niku,,,saestu..
    i agree with sampean…
    syukron,,,:)

    Komentar oleh ali ibnu roisy | 27 November 2008 | Balas

  2. assalamu’alaikum.
    terimakasih pak azhari, mudah2an Alloh masih bisa memberi kesempatan saya untuk tholabul ilmi dateng panjenengan.
    wassalam.

    Komentar oleh zuhdi | 30 Maret 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: