بسم الله الرحمن الرحيم

Amal lahiriyah adalah seperti kerangka, sedangkan ruuhnya adalah adanya ikhlas di dalamnya.

Amal lahiriah diumpamakan seperti kerangka yang tidak memiliki ruh, maka tidaklah ada manfaatnya. Adapun ruh dari amal sehingga amal tersebut menjadi hidup adalah adanya sirri /tersembunyinya ikhlas di dalam amal.

Maka ikhlas itu berbeda-beda menurut berbeda-bedanya maqam dan tingkatan yang dimiliki seseorang. Apabila termasuk golongan abrar, maka keikhlasannya adalah selamatnya amal mereka dari riya’ yang tersembunyi maupun yang terang-terangan………..READ MORE

Iklan

11 Mei 2008 Posted by | Al-HIkam | Tinggalkan komentar

Makalah 37-38

Makalah ke 37. dari Nabi Dawud AS, Diwahyukan di dalam kitab Zabur, – Wajib bagi orang yang berakal untuk tidak menyibukkan diri kecuali dalam tiga hal : 1. Mempersiapkan bekal untuk perjalanan ke akhirat. 2. Bergaul dengan pergaulan yang baik. 3. Bekerja dengan baik mencari rizki yang halal untuk bekal ibadah kepada Allah karena mencari rizki yang halal adalah wajib hukumnya.

Makalah ke 38. dari Abu Hurairah RA. Nama beliau adalah AbduRrahman bin Shakhr. Beliau berkata, telah bersabda Naby SAW Ada tiga perkara yang menyelamatkan (dari adzab), tiga perkara yang merusakkan (membawa orang kepada kerusakannya), tiga perkara meningkatkan derajat (beberapa tingkatan di akhirat), tiga perkara menghapuskan dosa. Adapun tiga yang menyelamatkan adalah 1. Takut kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. 2. Sedang dalam faqir dan kekayaan.3. Seimbang dalam ridha dan marah (yaitu Ridha karena Allah dan marah karena Allah). Adapun (tiga) yang merusakkan adalah 1. bakhil yang bersangatan (dengan tidak mau memberikan apa yang menjadi hak Allah dan haq makhluk). Dalam riwayat lain bakhil yang diperturutkan. (Adapun apabila sifat bakhil itu ada dalam diri seseorang akan tetapi tidak diperturutkan, maka tidaklah yang demikian ini merusakkan karena sifat bakhil adalah sifat yang lazim ada pada manusia). 2. Hawa nafsu yang selalu diikuti. 3. Dan herannya (‘ujub) manusia terhadap diri sendiri. (Artinya seseorang memandang dirinya dengan pandangan kesempurnaan dirinya disertai lalai terhadap ni’mat Allah Ta’ala dan merasa aman dari hilangnya ni’mat itu). Adapun yang meninggikan derajat adalah 1. Menebarkan salam (artinya menebarkan salam kepada orang lain yang dikenal maupun yang tidak dikenal). 2. Memberikan hidangan makanan (kepada tamu atau orang yang menderita kelaparan). 3. Dan shalat pada waktu malam sedang manusia sedang tertidur lelap (yaitu mengerjakan shalat tahajud pada tengah malam ketika orang-orang sedang lalai dalam ni’matnya tidur). Adapun yang dapat menghapus dosa adalah 1. Menyempurnakan wudhu pada saat yang sulit (artinya menyempurnakan wudhu pada saat udara sangat dingin dengan menjalankan sunah-sunahnya). 2. Malangkahkan kaki untuk mengerjakan shalat berjama’ah. 3. Menunggu shalat sesudah shalat (Untuk mengerjakan shalat berikutnya di masjid yang sama).

11 Mei 2008 Posted by | Nasihat | Tinggalkan komentar

Mata para wali memandangimu dari tempat mereka masing-masing

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilli berkata, “Ibadah haji pertamaku aku lakukan pada saat aku masih muda dan sedang melaksanakan tajrid (Pelepasan). Saat aku tiba di daerah Umm A-Qurn aku bertemu Syaikh Uday bin Musafir yang juga masih muda. ‘Mau kemada engkau ?’ Tanya syaikh Uday kepadaku.
‘Makkah Al-Musyarafah’. Jawabku.
‘Apa engkau bersama seseorang ?’
‘Aku sedang melaksanakan tajrid jawabku.’
‘begitu juga diriku’. Ujarnya. Kemudian kami berdua melanjutkan perjalanan.
Ditengah perjalanan kami berjumpa seorang wanita kurus dari habsyi. Dia berhenti di depanku dan memandangi wajahku lalu kemudian berkata, ‘Anak muda, dari manakah engkau ?’
‘Orang ‘ajam yang tinggal di Baghdad’. Jawabkku.
‘Engkau telah membuatku lelah hari ini’.
‘Kenapa?’.
‘Satu jam yang lalu aku berada di Habsyi (Ethiopia) kemudian Allah Ta’ala menunjukkan hatimu kepadaku sekaligus anugerah-Nya kepadamu yang belum pernah aku saksikan diberikan-Nya kepada selain dirimu……….READ MORE

11 Mei 2008 Posted by | Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani | Tinggalkan komentar