بسم الله الرحمن الرحيم

Syaikh Abu Abas Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Yahya bin Hazim Ar-Rifa’i

Syaikh Abu Abas Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Yahya bin Hazim Ar-Rifa’i

 

            Dijuluki dengan Muhiyyudin dan Sayyid al- ‘arifin (penghulu para ‘arif). Berasal dari Maghribi dan terlahir di Bathaih yang kemudian menjadi tempat tinggalnya.

            Kualitas, kemasyhuran dan tingkatan spiritualnya sulit untuk dilukiaskan dengan kata-kata. Beliau adalah salah seorang dari empat orang yang dianugerahi kemampuan menyembuhkan lepra, kebutaan, menghidupkan orang mati, dengan izin Allah.

            Beliau termasuk salah satu orang termasyhur di dunia. Muridnya berasal dari berbagai makhluk dan berbagai negara. Banyaknya tidak terhitung. Tidak ada satu negara muslimpun yang tidak memiliki zawiyahnya.

            Beliu adalah orang yang sering bermujahadah, beliau juga termasuk salah satu orang yang menguasai berbagai kondisi spiritual dan rahasia-rahasianya. Kepada beliaulah kepakaran ilmu ini dinisbathkan. Beliau terangkan berbagai kondisi spiritual dan memberikan solusi atas berbagai permasalahan dalam posisi mereka. Berbagai pernyataan berkualitas tinggi dalam tasawuf dinisbathkan kepada beliau.

            Beliau termasuk orang tawadhu’ dan melepaskan dirinya dari dunia, tidak pernah menyimpan apapun. Ketika ada yang bertanya kepadanya tentang pernyataannya, “Sendiri lebih baik dari pada teman jelek”. Beliau menjawab, “di Zaman sekarang ini orang saleh lebih baik dari pada teman duduk. Karena memandangnya adalah obat dan tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali tauhid”.

            Berkenaan dengan pemutusan hubungan kepada selain Allah lari dari segala sesuatu kepada Allah dan menninggalkan apapun selain Allah, beliau menyitir sebuah sya’ir:

            Bagaimana kalian bisa bergembira sedangkan hidup adalah kesedihan

Bagaimana kalian bisa ridha sedangkan Al-Anaam (sang pencipta murka).

Wahai yang menjadikan antara aku dan kehidupan

Dan menjadikan antara aku dan alam kehancuran

Jika Engkau meneriakkan cinta, maka semua menjadi hancur

Dan semua yang ada di atas tanah menjadi debu.

            Syaikh Syamsudin Abu Mudzafar Yusuf  Sabt ibn Jauzi dalam kitab tarikh karangannya menyatakan salah seorang syaikh kami berkisah, “Pada suatu malam di pertengahan bulan sya’ban, aku mendatangi Syaikh Ahmad Rifa’i dan mendapati sekitar 100 ribu orang sedang berkumpul. ‘Ini adalah kumpulan yang sangat besar kataku kepadanya. Beliau balik berkata, ‘Engkau akan mendapat kerugian sebaimana yang didapat  Hamman jika terbetik dalam hatimu bahwa akulah pemimpin kumpulan ini’”.

            Syaikh Abu Farj AbduRrahman bin Ali Ar-Rifa’i keponakan dari saudara perempuannya berkisah, “pada suatu hari aku duduk di tempat yang membuatku dapat mendengar perkataan dan melihat beliau dengan jelas. Saat itu beliau duduk seorang diri, tidak didampingi oleh siapapun. Tiba-tiba seseorang turun dari langit dan duduk di hadapannya. Beliau berkata, ‘ Selamat datang utusan dari timur.’

            ‘Dua puluh hari sudah aku tidak makan dan minum. Aku ingin engkau memberi makan keinginanku’, ujar orang tersebut.

            ‘Apa keinginanmu ?’ tanya beliau.

            Orang itu memandang ke lima ekor angsa yang sedang terbang dan berkata, ‘ Aku ingin salah satu dari angsa tesebut, panggang. Dua potong roti dan secangkir beasar air dingin’.

            ‘Akan aku berikan semua yang engkau minta’. Jawab sang Syaikh. Kemudian beliau memandang ke arah angsa-angsa tersebut sambil berkata, ‘penuhi permintaan orang ini’. Tak lama kemudain salah seekor dari mereka turun dalam keadaan terpanggang. Setelah itu Syaikh mengulurakn tangannya mengambil dua buah batu yang ada di sampingnya yang kemudian berubah menjadi dua potong roti hangat. Kemudian beliau mengulurkan tangannya ke udara dan saat turun tangan tersebut  telah menggenggam cawan besar merah berisi air. Orang tersebut makan dan minum lalu kembali terbang kearah datangnya tadi.

            Seiring dengan perginya orang tersebut, Syaikh bangkit dan memungut tulang-tulang angsa tadi, meletakkannya di tangan kiri dan mengusapnya dengan tangan kanannya seraya berkata, “hai tulang belulang yang berserakan, dengan perintah Allah terbanglah engkau. BismiallahiRrahmaanirrahiim. Seketika itu pula angsa tersebut terbang ke udara menghilang dari pandangan kami. “

            Syaikh Jalaludin Abdurrahman As-Suyuti berkata dalam kitabnya At-tanwir bab  imkan rukyatinNabiyyi SAW (Dimungkinkannya melihat RasuluLlah SAW), “Syaikh Ahmad Rifa’i berdiri di depan makam RasuluLlah SAW kemudian beliau bersya’ir

 

Ketika jauh, rohku yang kukirim sebagai wakilku untuk menciumi tanah kuburmu.

 

Sekarang yang diwakilkan telah hadir, sekarang ulurkanlah tangan kananmu agar beruntung kedua bibirku.

           

Seketika itu pula keluarlah tangan RasuluLlah SAW dari kuburnya.

 

Diriwayatkan salah seorang sahabatnya sering melihat beliau duduk di kursi As-Shidq dalam mimpimya, namun ia tidak pernah mengabarkan hal tersebut kepada beliau. Dan sang syaikh diriwayatkan memiliki seorang isteri yang berlidah tajam dan berperangai kasar.

Suatu hari orang tadi menghadap beliau dan mendapati isteri tersebut sedang memukulkan penyulut lampu ke punggungnya hingga hitam bajunya tanpa sedikitpun dilawan oleh sang syaikh. Sahabat tersebut keluar dan menemui para sahabat yang lain kemudian berkata, “Wahai saudara-saudara, sang syaikh mendapat perlakuan demikian dan demikian….. namun kalian dam saja.”. Salah seorang berkata, “Maharnya limaratus dinar dan beliau adalah orang yang miskin”. Sahabat tadi berlalu dan mengumpulkan 500 dinar kemudian pergi menghadap sang Syaikh dan meletakkan uang tersebut di hadapannya.

Apa ini  ?“ tanya sang syaikh kepada sahabatnya tersebut.

“Ini mahar perempuan yang telah berbuat ini dan itu kepada engkau” jawabnya.

“Tahukah engkau” ujar sang syaikh, “Jika bukan karena kesabaranku atas pukulan dan mulutnya, engkau tidak akan melihatku duduk di kursi Ash-Shidq.

Syaikh Syamsudin Sabth Ibn Jauzi dalam kitab tarikh berkata, “Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Abu Abas bin Rifa’i adalah syaikh orang-orang Bathaih, beliau tinggal di Umm Ubaidah dan dianugerahi berbagai karamah dan maqam. Diantara para sahabatnya ada yang menunggangi hewan buas dan bermain dengan ular. Ada pula yang memanjat dan melemparkan dirinyan dari pohon kurma tertinggi tanpa cedera sedikitpun. Mereka semua berkumpul satu kali dalam semusim.”

Ketua para Qadhi Mujiruddin AbruRrahman Al-Amiri Al-‘Alimi Al-Hanbali Al-Maqdisi dalam kitabnya Al-Mu’tabar fi abna min ‘abar meriwayatkan, “ Beliau adalah Abu Abbas Ahmad bin Abi Al-Hasan Ali bin Abi Abas Ahmad yang dikenal dengan sebutan bin Rifa’i beliau bermadzhab Syafi’i , berasal dari barat dan tinggal di Umm Ubaidah sebuah desa di Bathaih. Sebuah syair darinya :

Bila gelap tiba, bergolak kalbuku mengingat-Mu

Tangisku bak cicitan burung merpati.

 

Beliau wafat pada hari Kamis 12 Jumadil Ula 580 H, di Umm Ubaidah di usia 90 tahun. Kata Rifa’i dinisbathkan kepada orang yang mempunyai kedudukan tinggi di Maghrib.

AL-Alamah Syamsudin bin Nashirudin Ad-Dimasyqi berkata, “Kami belum pernah mendengar bahwa guru kami Syaikh Abu Abas Ahmad bin Rifa’i merupakan keturunan salah seorang dari para Imam sebagaimana yang dinyatakan oleh beberapa imam, atau nasab yang shalih dari Ali bin Abi Thalib atau kepada keturunan beiau yang mulia. Yang sampai kepada kami, yang dihafal oleh para Hufadz  dan yang kami anggap kuat, beliau adalah Abu Abas Ahmad bin Syaikh Abi Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Yahya bin Hazim bin Ali bin Rafa’af Al-Maghribi. Berasal dari Iraq dan kata Rifa’i dinisbathkan kepada kakek buyutnya.

Adalah ayahnya syaikh Abi Al-Hasan Ali yang datang dari Maghrib dan menetap di Bathaih. Beliau mengawini saudara perempuan Syaikh Manshur ahli zuhud ,dan dari perkawinan tersebut lahirlah Syaikh Ahmad Rifa’i. Ayahnya meninggal dunia ketika beliau masih dalam kandungan dan beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 500 H. Beliau diasuh oleh paman dari ibunya sejak saat itu.

Beliau belajar kepada pamannya, kepada Abi Al Hasan Ali Al-Qaari Az-Zahid dan lainnya. Kemudian beliau menjadi pemimpin kaum ‘aarif dan salah seorang wali terbesar dalam sejarah. Beliau wafat 17tahun setelah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilli, pada bulan Jumadil Ula 587 H”.

Sedangkan Ketua Qadhi Jamaluddin Abu Mahasin Yusuf At-Tadafi mengatakan, “Beliau adalah Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Yahya bin Hazim bin Ali bin Tsabit bin Ali bin Al-Husain Al-Asghar bin Al-Mahdi bin Muhammad bin Qasim bin Musa bin AbdurRahim bin Saleh bin Yahya bin Muhammad bin Ibrahim bin Musa bin Kadzim bin Ja’far As’Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.”

17 Februari 2008 - Posted by | Manakib Aulia yang lain

1 Komentar »

  1. petani jabon mampir nich…
    salam………..

    Komentar oleh Jabon | 24 Agustus 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: