بسم الله الرحمن الرحيم

Buah apel dari alam Ghaib

   

husayn1.gif

  Syaikh Abu Abbas Al-khidir Al-Huasini Al-Moushuli bercerita, “pada suatu hari aku menyaksikan khalifah Al-Mustanjid BilLah Abu Mudzafar Yusuf bin Abu AbduLlah Muhammad Al-Abbasi mendatangi Syaikh Abdul Qadir”.

      “ku ingin sesuatu dari karamah”. Pintanya kepada sang Syaikh

      “Apa yang engkau inginkan”. Tanya beliau.

      “Aku menginginkansebuah apel yang datang dari alam ghaib.” Sedangkan pada saat itu bukanlah musim apel. Syaikh Abdul Qadir mengulurkan tangannya ke udara dan tiba-tiba di dalam tangannya terdapat dua buah apel. Salah satu dari kedua buah apel tersebut diberikan kepada khalifah. Kemudian beliau membelah apel yang ada di tangnnya maka tampaklah daging buah yang putih segar dan berbau harum. Sang khalifah juga melakukan hal yang sama terhadap apel yang diberikan kepadanya, ternyata yang keluar dari daging buah tersebut adalah cacing dan berbau busuk.

      “Apa maksudnya ini” Tanya khalifah.

      “Apel yang ada di tanganmu itu dipegang oleh tangan orang yang zalim oleh karena itu sebagaimana yang engkau saksikan, yang keluar adalah cacing. Sedangkan yang ini dipegang oleh tangan kewalian sehingga yang keluar adalah yang baik”.

      Syaikh Abu Su’ud Al-Harimi meriwayatkan pada suatu hari di tahun 521 H Abu Mudzafar Al-Hasan bin Na’im seorang pedagang datang menghadap Syaikh Hammad Ad-Dabbas dan berkata, “Aku telah menyiapkan sebuah kafilah yang membawa barang dagangan senilai 700 dinar untuk berangkat ke Syam.”

      “Jika engkau berangkat pada tahun ini maka engkau akan terbunah dan semua hartamu akan dirampas”. Kata sang Syaikh.

      Si pedagang itupun pulang dengan perasaan sedih. di tengah perjalanan ia bertemu Syaikh Abdul Qadir –yang ketika itu umurnya masih muda- dan menceritakan apa yang dikatakan Syaikh Hammad kepadanya. Syaikh Abdul Qadir berkata kepadanya, “Berangkatlah pada tahun ini engkau akan pergi dan pulang dengan selamat dan mendapatkan keuntungan yang besar. Akulah yang menjadi jaminannya”.

      Pedagang tersebut pun pergi ke syam. Di sana barangnya laku seharga 1000 dinar. Ketika hendak pulang, ia pergi ke kamar kecil (hendak membuang hajat) di tempat pemandian umum. Ia meletakkan uangnya di atas kamar kecil dan lupa untuk membawanya kembali. Tak lama kemudian, ia diserang rasa kantuk dan tertidur. Di dalam tidurnya ia menlihat seolah-olah ia sedang berada di dalam rombongan kafilah. Tiba-tiba datanglah perampok menyerang kafilah tersebut dan membunuh semua orang yang ada di dalam kafilah itu. Dia melihat dirinya ditebas pedang di padang pasir. Saat itulah ia terbangun dengan nafas terengah-engah dan mendapatkan bekas darah dan rasa sakit akibat tebasan pedang di lehernya. Dia kemudian ingat uangnya yang tertinggal di kamar kecil. Maka kembalilah ia kesana dan mendapati uangnya masih utuh tetap berada di tempat.

      Setelah mengambil uang tersebut ia kembali ke Baghdad. Di dalam hati ia berkata, “Jika aku menghadap Syaikh Hammad terlebih dahulu, maka beliau yang lebih tua. Jika aku mengahdap Syaikh Abdul Qadir sesungguhnya perkataan beliaulah yang benar.” Dia memutuskan untuk menemui Syaikh Hammad terlebih dahulu. Sesampai di pasar Sulthan, ia bertemu dengan Syaikh Hammad Ad-Dabbas dan Syaikh Hammad langsung berkata kepadanya, “Temuilah Syaikh Abdul Qadir terlebih dahulu. Dia adalah orang dicintai Allah.  17 kali dia mendoakan  dirimu memohon kepada Allah sehingga Allah menjadikan terbunuhnya engkau hanya diganti dalam keadaan mimpi, dan hilangnya hartamu yang disebabkan oleh kesilapanmu juga hanya terjadi di dalam mimpi”.

            Kemudian ia mendatangi Syaikh Abdul Qadir. Sebelum ia mengucapkan sesuatu, Syaikh Abdul Qadir berkata kepadanya terlebih dahulu, “Syaikh Hammad telah berkata kepadamu bahwa aku memohonkan engkau kepada Allah sebanyak tujuh belas kali. Demi keagungan Allah, sesungguhnya aku memohonkan engku kepada Allah tujuh belas kali, kemudian tujuh belas kali, kemudian tujuh belas kali, sampai semuanya berjumlah tujuh puluhkali sehingga Allah menjadikan semua yang ditakdirkan-Nya terjadi atas dirimu di alam nyata, (terbunuh dan kehilangan harta) –hanya terjadi didalam mimpi.

 

 

 

17 Februari 2008 - Posted by | Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: