بسم الله الرحمن الرحيم

Makanan para wali adalah yang tidak dihasrati

bayt1.jpg


Bayt Rasul SAW     Wara’ adalah indikasi penolakannya terhadap segala sesuatu dan berhenti mengejarnya kecuali dengan izin syar’i. Maksudnya jika di dalam sesuatu itu ada keterkaitan dengan syar’i, maka ia akan mengambilnya. Jika tidak maka ia akan meninggalkannya.     Wara’ terdiri dari tiga derajat, Pertama Wara’ awam yaitu Wara’ / menjauhkan diri dari yang haram dan syubhat. Kedua Wara’ golongan khawash yaitu meninggalkan segala sesuatu yang dihasrati oleh hawa dan nafsu. Dan ke tiga Wara’ golongan khawashul khawash yaitu meninggalkan segala sesuatu yang dihasratinya.      Wara’ juga terdiri dari dua jenis, yaitu Wara’ zahir yaitu tidak bergerak kecuali dengan Allah, dan kedua Wara’ bathin yaitu tidak ada yang masuk ke dalam kalbumu kecuali Allah.     Barang siapa yang memperhatikan kewara’annya sejati maka ia tidak akan mendapatkan kemuliaan dari anugerah. Wara’ dalam pikiran lebih sulit untuk dilakukan seperti sulitnya zuhud dalam kekuasaan. Zuhud adalah permulaan Wara’  sebagai mana qana’ah merupakan jalur menuju ridha.     Diantara kaidah wara’ dalam hal makanan dan pakaian adalah, makanan al-muttaqi (orang-orang yang bertaqwa). Adalah yang tidak memiliki hak syar’i serta tidak dibutuhkan oleh orang. Sedangkan makanan para wali adalah yang tidak dihasrati, yang ada hanyalah kemurahan dari Allah. Siapapun yang tidak mencapai karakter pertama, tidak akan dapat mencapai karakter ke dua. Dan yang dinamakan kehalalan yang mutlak adalah yang tidak menghasilkan kemaksiyatan kepada Allah dan yang tidak mengandung kealpaan kepada Allah.     Berkenaan dengan pakaian, manusia dibagi menjadi tiga kelompok. Pakaian para Nabi AS, adalah kehalalan yang disebutkan di atas terlepas dar apapun bahannya. Sedangkakn pakaian para wali adalah sesuai dengan apa yang diperintah Allah. Batas minimalnya adalah menutup aurat dan layak. Dengan pakaian tersebut mereka dapat merealisasikan penyampinyan hawa nafsunya. Adapun pakaian para abdal adalah apa yang ditakdirkan kepada mereka dengan tetap berpegang pada batasan-batasan syar’i, tidak perduli apakah per karat atau per helainya 100 dinar. Tidak ada hasrat yang membumbung tinggi atau hawa nafsu yang menghancurkan dirinya, (baginya) semua itu merupakan kemurahan Allah kepadanya.     Wara’ tidak akan mencapai kesempurnaan kecuali dia melihat 9 poin berikut ini yang merupakan kewajiban atas dirinya. Kesembilan poin tersebut adalah :1.     Menjaga lidah dari ghibah berdasarkan firman Allah “…dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain …(al-Hujarat :12)2.     tidak mengejek berdasarkan firman Allah “… janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang di olok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok…”(Al-Hujarat 11).3.     menjaga pandangan dari yang haram, berdasarkan firman Allah “…hendaklah mereka menahan pandangannya…”(An-Nur :30)4.     jujur, berdasarkan firman Allah, “…apabila kamu berkata hendaklah kamu berlaku adil.”(al-An’am ;152). Adil dalam hal ini berarti jujur.5.     hendaknya ia mengetahui anugerah Allah atas dirinya agar dia berbangga diri. Firman Allah, “…sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan…”(Al-Hujarat ;17).6.     Hendaknya dia mengeluarkan hartanya untuk yang haq bukan untuk yang bathil. Firman Allah “dan orang-orang apabila membelanjakan hartanya, mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir”(Al-Furqan 67) Maksud ayat tersebut tidak membelanjakan / mengeluarkan hartanya untuk kemaksiyatan dan tidak menahannya untuk kebaikan.7.     tidak sombong dan tinggi hati. Firman Allah “Negeri akhirat itu kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan dimuka bumi…”(Al-Qashah ;83).8.     Selalu menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya. Firman Allah, “Peliharalah semua shalatmu dan peliharalah shalat wustha. Berdirlah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’..”( al-Baqarah 238)9.     Konsisten melaksanakan sunah dan shalat jama’ah . firman Allah “dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalan yang lurus, maka ikutilah dia.”(Al-Anam ;153).

         

9 Februari 2008 - Posted by | Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: