بسم الله الرحمن الرحيم

Bahkan perbuatan Allah mengalir dalam dirimu

 foto149.jpg

Luruhlah dari makhluk dengan hukum Allah, dari hawa nafsumu dengan perintah Allah dan dari keinginanmu dengan perbuatan Allah. Saat itu engkau telah menjadi wadah bagi ‘ilm Allah.

Kemudian indikasi keluruhanmu dari makhluk adalah putusnya engkau dari mereka dan berhenti berharap dengan apa yang ada di tangan mereka. Sedangkan indikasi keluruhanmu dari dirimu dan hawa nafusmu adalah ketidak tergantunganmu kepada sebab dalam mendapatkan manfaat dan menolak bahaya. Semua yang ada pada dirimu tidak bergerak olehmu , tidak bersandar kepada apa yang engkau miliki dan menyerah kepada nafsumu tetapi menyerahkan semua itu kepada Allah yang lebih baik untuk mengaturnya.

Tanda keluruhanmu dari hasrat adalah hanya Allah yang engkau inginkan. Bahkan perbuatan Allah mengalir dalam dirimu saat anggota tubuhmu diam tak bergerak, rohmu tenang, dadamu lapang, dan ketidak butuhanmu kepada segala sesuatu. Engkau dibolak-balik oleh tangan takdir, dipanggil oleh lisan Al-Azal..(keabadian), diajari oleh Tuhan sekalian alam. Dia dipakaikan kepada dirimu dari cahayaNya, dianugerahinya engkau kedudukan para ahli ilmu terdahulu. Maka engkau akan selalu lebur, tidak ada hasrat dalam dirimu kecuali kehendak (iradah) Allah. Saat itulah engkau dilekatkan kepadamu penciptaan dan kesupranaturalan, sehingga di level lahiriah semua itu terlihat berasal dari dirimu, padahal hakikatnya –dalam pengetahuanmu- hal tersebut berasal dari perbuatan Allah. Ini adalah permulaan yang lain. Dan saat engkau menemukan iradah dalam dirimu semakin membesar, maka engkau telah mencapai kebersamaan (wushul) bersama Ilahi.
Jadi, fana memiliki batas sekaligus tujuan, yaitu apabila yang tersisa hanya Allah seperti sebelum Ia menciptakan makhluk. Inilah kondisi keluruhan (fana’). Apabila engkau mati dari makhluk, akan dikatakan kepadamu “rahimakumuLlah”, apabila engkau mati dari keinginan diri, maka akan dikatakan kepadamu “rahimakumuLlah wa ahyaa” (Semoga Allah merahmatimu dan menghidupkanmu. Ketika itulah engkau akan hidup dalam kehidupan tanpa kematian sesudahnya., kekayaan tanpa pernah miskin, pemberian tanpa pernah putus, pintar tanpa kebodohan, keamanan tanpa disusuli rasa takut, kebahagiaan tanpa kesedihan, kemuliaan tanpa kehinaan, kedekatan tanpa merasa jauh, keagungan tanpa kehinaan, kemurnian tanpa kekotoran.

22 Desember 2007 - Posted by | Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: