بسم الله الرحمن الرحيم

Fathur Robbany (11)

 250086.jpg

“Dari setiap penjuru ada salam…dan salam itu sampai fajar terbit.” (Al-Qadr;5)

Gelombang salam, salam, salam bergemuruh kepada hamba-hamba beriman, disampaikan oleh para malaikat.

Lailatul Qadar biasanya pada malam sepuluh hari terakhir dari bulan ramadlan. Utamanya di malam ke 27. Menurut imam Malik, seluruh malam sepuluh terakhir itu, tak ada yang lebih baik dari yang lain, karena saking agungnya sepuluh malam terakhir itu. Sedangkan menurut Imam Syafi’i, yang utama adalah malam ke 21. Ada yang menyebutkan malam ke 29, dan ini mazhab Aisyah ra.

Abu Bardah al-Aslamy, “Lailatul Qadar adalah malam ke 23.” Sedangkan menurut abu Dzar dan al-Hasan ra, adalah malam ke 25. Menurut riwayat Bilal ra, dari nabi saw, “Sesungguhnya Lailatul Qadar itu malam ke 24.” Versi Ibnu Abbas dan Ubay bin ka’b ra, adalah malam ke 27.

Imam ahmad, melalui isnad dari Ibnu Umar ra, berkata, “Para sahabat itu senantiasa mengisahkan pada Nabi adanya penglihatan Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir. Lalu nabi saw, berkata, “Aku melihat mimpi kalian benar-benar mutawatir, bahwa lailatul qadar itu malam ke 27 dari sepuluh malam terakhir, karena itu siapa hendak menekuni, maka pada malam itulah.”

Ibnu Abbas ra berkata kepada Umar bin Khaththob ra, “Aku melihat adanya hitungan-hitungan, dan tak ada yang lebih hati-hati ketimbang tujuh. Lalu disebutkan sebagian dari sesuatu di balik angka tujuh tadi.”

Langit ada tujuh, bumi tujuh, malam tujuh, cakrawala tujuh, bintang tujuh, berjalan antara shofa dan marwa tujuh kali, thowaf tujuh kali, melempar jumrah tujuh kali, manusia diciptakan dari tujuh, rizkinya dari tujuh, dan wajahnya dibelah jadi tujuh, khawatim ada tujuh, Al-Hamd tujuh ayat, qiratul Qur’an tujuh huruf, tujuh kali berulang-ulang, sujud juga dengan tujuh anggota badan, pintu-pintu neraka jahanam ada tujuh, nama-namanya tujuh, dasar- dasar bawahnya tujuh, ashhabul kahfi jumlahnya tujuh, dan Allah menghancurkan kaum ‘Ad dengan badai dalam tujuh malam, nabi Yusuf tujuh tahun di penjara, sapi-sapi betina tujuh, tahun-tahun paceklik tujuh tahun, dan tujuh tahun kesuburan. Sholat lima waktu ada tujuh belas rekaat, dan Allah berfirman, “dan tujuh, ketika kamu pulang”, ada tujuh yang menjadi muhrim bagi wanita dari segi nasab, dari sisi hubungan mertua ada tujuh, Rasul mewajibkan mencuci tempat yang dijilati anjing, agar dicuci tujuh kali, salah satunya pakai debu.

Jumlah huruf surat al-Qadr sampai Salaamun Hiya ada 27 huruf, Nabi Ayub menjalani tahun-tahun ujiannya tujuh tahun, Aisyah ra, berkata, “Rasulullah saw, menikahi aku ketika usiaku tujuh tahun, hari-hari ‘ajuz tujuh.
Allah bersumpah dengan tujuh kali, dalam satu surat, mulai dari Wasy-Syamsi wa-dluhaha, sampai Wamaa Sawwaha…. Tingginya Nabi Musa as, adalah tujuh siku menurut umumnya siku orang di zaman itu. Dan panjangnya tongkat Musa as juga tujuh siku. Jika mayoritas segala sesuatu terdiri dari tujuh, maka Allah telah juga mengingatkan pada kita bahwa Lailatul Qadar itu adalah malam ke 27.

Firman Allah SWT: “Para malaikat pada turun dan (begitu juga) ar Ruh (Jibril) di dalam malam itu.” Jibril turun disertai dengan 70 ribu malaikat, dan ia bertindak sebagai pemimpinnya. Jibril terus menerus memberi salam kepada mereka yang sedang duduk (beribadah), sementara seluruh malaikat yang lain memberi salah kepada mereka yang sedang tidur. Allah sendiri yang terus memberi salam kepada mereka yang bangkit berdiri menuju kepadaNya.

Sebagaimana Salam Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman yang menjadi ahli surga di surga, dengan firman Nya: Salaamun Qaulam min Rabbir Rahiim (Salam yang terucap dari Tuhan Yang Maha Pengasih). Maka, berkenan pula Allah memberikan salam kepada para hamba Nya yang senantiasa berbuat kebajikan di dunia, mendapatkan anugerah kebaikan luhur dan kebahagiaan di zaman ‘azali. Yaitu para hambaNya yang senantiasa fana’ atau sirna dari segala makhluk, dan abadi bersama Tuhannya, senantiasa tenteram menuju kepada Allah Ta’ala Yang Maha Benar.

Pada malam Lailatul Qadar itu, tak ada yang tersisa dari suatu tempat melainkan ada malaikat yang sedang sujud di sana, atau berdiri mendoakan hambaNya yang mukmin dan mukminat. Kecuali tempat-tempat seperti gereja, biara, tempat ibadah majusi dan tempat-tempat berhala, atau sebagian tempat yang menjadi pembuangan kotoran maksiat. Di tempat-tempat itu malaikat tidak mau bersujud dan berdoa.

Malaikat-malaikat itu senantiasa mendoakan kaum mukminin dan mukminat. Sedangkan Jibril as, sama sekali tidak mendoakan kaum mukminin dan mukminat, melainkan hanya menyalami dan bersalaman kepada mereka. Jika Anda sekalian sedang dalam keadaan beribadah, maka Jibril menyalami, “Salam kepadamu, semoga diterima dan mendapatkan kebajikan.” Jika anda ditemui sedang dalam keadaan bermaksiat, Jibril menyalami, “Salam bagimu, semoga engkau mendapatkan ampunan,” Jika anda ditemui dalam keadaan tidur, Jibril menyalami “Salam bagimu, semoga engkau mendapatkan ridla Nya.” Jika Anda sudah dalam kuburan (mati) Jibril menyalami, “Salam bagimu dengan ruh dan aroma keharuman.” Itulah yang difirmankanAllah, “min Kulli Amrin Salaam” (dalam segala hal, ada Salam.)

Ada yang menyebutkan, bahwa para malaikat itu hanya menyalami mereka yang taat, sementara tidak pada mereka yang sedang bermaksiat. Di antara ahli maksiat itu adalah mereka yang berbuat kedhaliman, mereka yang memakan-makanan haram, mereka yang memutus tali sillaturrahim, mereka yang mengadu domba, mereka yang memakan harta anak yatim, mereka itu tidak mendapatkan salam dari para malaikat. Lalu manakah bencana yang lebih besar dibanding bencana seperti itu?

Padahal bulan Ramadlan diawali oleh rahmat, ditengahi oleh ampunan dan diakhiri dengan kebebasan dari neraka. Sementara Anda tidak memiliki bagian dari salam para malaikat itu?

Bukankah itu semua gara-gara Anda jauh dari Yang Maha Pengasih? dan Anda juga tergolong para penentang Allah dan mensakralisasi tindakan syetan?

Anda berhias dengan riasan penempuh jalan neraka? Begitu pula karena Anda jauh dan mengabaikan dari para penempuh jalan surga?
Anda juga hijab dari Tuhan yang memiliki kekuasaan atas bahaya dan kebajikan? Padahal bulan Ramadlan adalah bulan kejernihan, bulan keselarasan bersama Allah, bulan para pendzikirNya, orang-orang sabar dan bulan para shadiqin.

Lantas apabila tidak ada bekas dalam hati Anda, dan Anda tidak mencabut akar kemaksiatan dalam hati Anda, menjauhi para pelaku kejahatan dan kemungkaran, lalu pengaruh apa yang bisa membekas dalam hati Anda itu? Apa yang Anda harapkan dari selain kebajikan? Apa yang masih anda sisakan dalam jiwa Anda? Kebahagiaan manakah yang bisa Anda raih di sana?

Ingatlah wahai orang yang sangat kasihan, terhadap apa yang menempel pada diri Anda. Bangkitlah dari kelelapan yang meninabobokan Anda, membuat Anda alpa. Lihatlah pada yang memberi petunjuk pada Anda, sisa-sisa bulan Anda, dengan tindakan taubat dan kembali.

Nikmatilah bulan ini dengan istighfar dan kepatuhan, agar Anda meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Anda harus membatu dengan segala hal yang mengarah pada sikap negatif. Menangislah pada diri sendiri atas dorongan yang menyeret anda pada cacat-cacat jiwa, kebinasaan dan tragedi. Betapa banyak orang berpuasa, namun hakikatnya tidak pernah berpuasa selamanya. Banyak orang yang berdiri tegak untuk ibadah, hakikatnya tak pernah ibadah selamanya. Betapa banyak orang beramal, namun tanpa pahala ketika amal itu usai dilakukan.

Amboi, apakah puasa kita diterima, ibadah kita diterima, atau sebaliknya semua itu ditolak dan dilemparkan ke wajah kita sendiri?
Amboi, betapa kita telah menolak ibadah yang seharusnya diterima, dan menghormati ibadah yang seharusnya ditolak? Sebagaimana sabda Rasuluilah SAW, “Betapa banyak orang berpuasa, namun tak lebih dari lapar dan dahaga. Betapa banyak orang yang tegak beribadah, melainkan hanya kelelahan belaka.”

Salam kepadamu wahai bulanpuasa.
Salam kepadamu wahai bulan kebangkitan.
Salam kepadamu wahai bulan iman.
Salam kepadamu wahai bulan al Quran.
Salam kepadamu wahai bulan cahaya-cahaya
Salam kepadamu wahai bulan maghfirah dan ampunan
Salam kepadamu wahai bulan derajat dan keselamatan dari keburukan
Salam kepadamu wahai bulan orang-orang yang bertobat dan beribadat
Salam kepadamu wahai orang-orang marifat
Salam kepadamu wahai bulan orang yang tekun beribadat
Salam kepadamu wahai bulan yang aman
Engkau telah menahan orang-orang maksiat
Engkau telah bermesraan dengan ahli taqwa
Salam kepada bilik dan cahaya-cahaya yang cemerlang
dan mata yang terjaga
airmata yang melimpah
mihrab yang terang benderang
ungkapan yang suci
nafas-nafas yang membubung
dari kalbu-kalbu yang bergelora.

Tuhan, jadikanlah kami tergolong mereka yang Engkau terima puasanya, shalatnya, dan Engkau ganti keburukan dengan kebajikannya, dan Engkau masukkan dengan rahmat-Mu dalam surga Mu, dan Engkau tinggikan derajat mereka, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

(Dikutip dari karya Syekit Abdul Qadir al Jaelani, dalam Kitab Al Ghunyah Lithalib Thariqil Haqq fil AkhIaq wat-Tashawwufi wal Adab al Islamiyah)

14 November 2007 - Posted by | Artikel sufi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: