بسم الله الرحمن الرحيم

Hari Tasyuâ

Detik-detik masa di padang Karbala terus bergulir. Kamis 9 Muharram Umar bin Sa’ad mendatangi pasukannya dan berseru: “Wahai lasykar Allah, tunggangilah kuda-kuda kalian! Semoga surga membahagiakan kalian.â€‌ [Nasikh Attawarikh juz 44 hal. 291]

Pasukan Umar segera mengendarai kuda dan bergerak ke arah daerah perkemahan Imam Husain as. Saat itu, Imam Husain as sedang dudur tertidur dalam posisi merebahkan kepala di atas lututnya. Beliau terjaga saat didatangi adindanya, Zainab Al-Kubra as yang panik mendengar suara ribut ringkik dan derap kaki kuda.

“Kakanda, adakah engkau tidak mendengar suara bising pasukan musuh yang sedang bergerak menuju kita?!â€‌ Seru Zainab as.

Imam Husain as menjawab: “Adikku, aku baru saja bermimpi melihat kakekku Rasalullah, ayahku Ali, ibundaku Fatimah, dan kakakku Hasan. Mereka berkata kepadaku: â€کHai Husain, sesungguhnya kamu akan menyusul kami.’[Nasikh Attawarikh juz 44 hal. 291] Rasulullah juga berkata kepadaku: â€کHai puteraku, kamu adalah syahid keluarga Mustafa, dan semua penghuni langit bergembira menyambut kedatanganmu. Cepatlah datang kemari karena besok malam kamu harus berbuka puasa bersamaku, dan sekarang para malaikat turun dari langit untuk menyimpan darahmu dalam botol hijau ini.’â€‌

Mendengar kata-kata Imam Husain ini, Zainab hanyut dalam suasana haru yang amat dalam. Suara rintih dan tangis keluar dari tenggorokannya yang kering. Keuda telapak tangannya menampar-nampar wajahnya. Imam Husain as mencoba menghibur adiknya.

“Tenanglah adikku, kamu tidak celaka. Rahmat Allah pasti bersamamu.â€‌ Ujar Imam Husain as.

Beliau kemudian berkata kepada adik lelakinya, Abbas: “Datangilah kaum itu, dan tanyakan kepada mereka untuk apa mereka kemari?â€‌

Abbaspun pergi ke arah musuh dan menyampaikan pertanyaan tersebut kepada mereka. Pihak musuh menjawab: “Sang Amir telah memerintahkan agar kalian patuh kepada perintahnya. Jika tidak maka kami akan berperang dengan kalian.â€‌

Abbas kemudian bergegas lagi menghadap Imam Husain as dan menceritakan apa jawaban musuh. Imam berkata lagi kepada Abbas: “Adikku, demi engkau aku rela berkorban, datangilah lagi pasukan musuh itu dan mintalah mereka supaya memberi kami waktu satu malam untuk kami penuhi dengan munajat, doa, dan istighfar. Dan Allah Maha Mengetahui bahwa aku sangat menyukai solat, membaca ALQuran, berdoa, dan beristighfar.â€‌

Abbas kembali mendatangi pasukan musuh untuk menyampaikan pesan tersebut. Setelah mendengar permintaan itu, Umar bin Saad berunding dengan orang-orang dekatnya. Sebagian orang ada yang menolak permintaan Imam Husain tersebut. Namun, Amr bin Hajjaj yang termasuk salah satu pemuka kaum berkata kepada Umar:

“Subhanallah, seandainya mereka adalah orang-orang kafir Dailam dan mengajukan permintaan seperti ini, kamu pasti akan memenuhinya!â€‌ Umar bin Sa’ad berpikir sejenak kemudian memenuhi permintaan tersebut. Dia mengirim utusan kepada Imam Husain as. Sesampainya di perkemahan Imam Husain as, utusan Umar itu berteriak lantang: “Kami beri waktu kalian hingga besok. Jika kalian menyerah, kami akan memboyong kalian ke hadapan Sang Amir. Jika tidak maka kami tidak akan melepaskan kalian.â€‌[Tarikh Atthabari juz 6 hal.337]

http://www.abatasya.com

4 Oktober 2007 - Posted by | Tragedi Karbala

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: