بسم الله الرحمن الرحيم

Ujian Hasrat Menuju Allah

 214536.jpg

Ujian Hasrat Menuju Allah

Mengikuti Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany
Hari Ahad Pagi di Pesantrennya, tanggal 2 Dzul Qa’dah tahun 545 H.

Anak-anak sekalian, hasratmu kepada Allah Azza wa-Jalla tidak dibenarkan, begitu juga kamu menghendakiNya – karena – setiap orang yang mengaku menghendaki Allah Jalla wa-‘Ala, sementara masih mencari yang lainNya, telah batal klaimnya. Kebanyakan kalian masih mengharapkan dunia, dan sedikit sekali yang mengharapkan akhirat. Orang-orang ang berhasrat pada Allah Azza wa-Jalla sangat sedikit jumlahnya.

Mereka sangat sedikit, bahkan hampir tiada, bagaikan Kibrit Merah. Mereka adalah individu-individu sangat langka, sangat sulit dicari. Mereka adalah tambang-tambang ruhani di muka bumi sekaligus raja-raja. Merekalah garuda Negara dan bangsa yang sesungguhnya. Bersama mereka, bencana makhluk tertepiskan, karena mereka pula hujan turun, bumi subur makmur.
Di awal penempuhannya mereka seperti berteriak dari satu suara, ke suara lainnya, dari satu negeri ke negeri lain, dari lorong ke lorong. Ketika mereka mulai dikenal, mereka segera berpindah. Punggungnya dibebani keletihan, dan mereka serahkan kunci-kunci dunia pada yang empunya, hingga ada lobang besar di sekitarnya. Sedangkan sungai-sungai mengalir dihatinya. Mereka dikawal pasukan-pasukan Ilahi. Masing-masing diantara mereka, menyebar dan kemurahan dan penjagaannya pada makhluk, dan membimbing spiritual mereka. Mereka dibalik akal pikiran makhluk, sehingga ketika mereka ada di tengah publik, muncul sebagai keharusan, dengan kesabaran luar biasa, ibarat dokter di tengah-tengah massa yang sakit.

Kalian mengaku-ngaku seperti kelompok mereka ini? Tahukah kalian, apa kalian-kalian mereka itu? Apa pula kalian-kalian kedekatan Allah dan kemahalembutanNya pada mereka? Dimana posisi kalian ini di hadapan Allah Azza wa-Jalla, dimana pula maqom kalian ini? Siapakah nama kalian dan panggilan kalian, di alam Malakut yang luhur? Sedangkan kalian-kalian itu menutup pintu kalian setiap malam?
Setiap yang kalian makan dan minum, yang kalian anggap boleh, kalian raih sedemikian rakus. Apakah kalian memeluk dan meniduri dunia, ataukah memeluk akhirat, ataukah kalian ini begitu dekat dengan Allah Azza wa-Jalla? Siapa yang begitu mesra dalam kesendirian kalian? Siapa yang menemani dalam khalwat kalian? Wahai pembohong…! Ternyata yang bermesraan dalam kesendirian kalian adalah hawa nafsu kalian dan, syetan kalian, serta pikiran kalian yang terus menrus pada dunia. Sedangkan dalam perjalanan kalian ditemani oleh syetan yang menjadi sahabat buruk, sahabat kalian yang hanya gemar berwacana. Sungguh ucapan kalian tak lebih dari ocehan yang sangat tidak berguna.

Seharusnya kalian tentram dan sunyi di hadapan Allah SWT. Dengan meninggalkan perilaku adab yang buruk. Sekali kalian harus bicara, maka bicaralah sekadar meraih berkah dengan menyebutkan ahlinya, bukan kalian mengklaim melalui lahiriyah kalian, sementara batin kalian kosong. Setiap ekspressi lahir yang bukan muncul dari nuansa batin, hanyalah sia-sia. Dengarkan sabda Nabi saw,
“Tak ada artinya orang yang puasanya dibalik memakan daging sesamanya.”

Nabi saw, telah menjelaskan, agar puasa bukan sekadar meninggalkan makan, minum dan berbuka saja. Bahkan seharusnya meninggalkan dosa-dosa. Karena itu tinggalkanlah menggunjing, karena tindakan itu akan memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu kering.

Apa yang kalian kembalikan pada orang yang paling bahagia dan siapakah mengenal itu, lalu kalian mengatakan, bahwa kebanyakan orang terhalang untuk meraihnya? Ingatlah, jangan sampai kalian memandangnya dengan mata syahwat, karena pandangan itu seperti menanamkan benih kemaksiatan di hatimu. Dampaknya sangat negatif bagi dunia dan akhirat. Hati-hatilah dengan sumpah dusta, karena kedustaan sumpah itu akan membuatmu hancur, dan tidak membawa barokah harta benda serta agama.
Celaka! Kalian menafkahkan harta dengan sumpah dusta, dan merugikan agama. Kalau kalian tahu, semua itu merugikan, kalian pasti berkata, “Demi Allah tak ada di negeri ini harta seperti itu, dan bahkan tak ada satu pun orang yang memiliki sepertinya. Demi Allah, harta itu menyamai ini dan itu, dan bagiku mendapatkan sekian dan sekian.” Padahal kalian dusta, lalu kalian menjadi saksi dusta pula, bahkan kalian bersumpah atas Nama Allah dengan tidak jujur. Sungguh dalam waktu dekat kalian akan tertimpa kebutaan matahati dan zaman yang gelap.

Beradablah di hadapan Allah Azza wa-Jalla, — semoga Allah merahmatimu – Siapa yang tidak memiliki adab di depan Allah Azza wa-Jalla, kelak akan dididik di neraka pada hari Qiyamat nanti. Ada seorang bertanya, “Siapa yang melakukan pelanggaran lima perilaku itu, kami hukumi batal puasa dan wudlu’nya.” Lalu dijawab, “Puasa dan wudlunya tidak batal, tetapi semua ini demi peringatan, nasehat dan rambu-rambu…”
Anak-anak sekalian, siapa tahu esok hari tiba, dan kalian tidak lagi ada di muka bumi, atau di saat yang lain. Camkanlah peringatan ini, agar kalian lepas dari kealpaan. Jangan sampai hatimu mengeras, kalian jadi seperti batu? Kukatakan ini padamu, dan kamu sekalian berada dalam satu situasi. Padahal Al-Qur’an telah dibacakan padamu, hadits Nabi SAW dan kisah para pendahulu telah anda dengarkan. Kalian tidak mau mengambil pelajaran, kalian tidak menjauhinya juga tidak merubah amaliyah kalian. Setiap orang yang hadir ini, tapi tidak menghayati nasehat ini, ia tergolong sangat buruk.

Anak-anak sekalian, kalian meremehkan para Wali-wali Allah, semata karena dangkalnya pengetahuan kalian tentang Allah Azza-Wajalla. Kalian mengatakan, bahwa para Wali itu hanya imajiner, tidak hidup bersama kita? Tidak duduk bersama kita? Sungguh kata-kata ini karena kebodohan kalian atas diri kalian. Kalau anda bodoh pada diri sendiri, akan bodoh pengetahuan kalian pada kemampuan sesama. Atas dasar minimnya pengetahuan apa sesungguhnya dunia itu, maka minim pula pengetahuan anda apa sesungguhnya akhirat itu. Kalau pengetahuan akhirat minim, berarti kalian bodoh terhadap Allah Azza wa-Jalla.

Wahai orang-orang yang sibuk dengan dunia, padahal dalam sekejap dunia itu runtuh penuh dengan penyesalan ketika anda di akhirat, begitu jelas penyesalan itu di hari qiyamat, di hari penuh dengan penghinaan, penyesalan dan kerugian. Evaluasi dirimu sebelum akhirat tiba. Janganlah anda memperdayai sendiri sehingga anda mendustakan aturan Allah, kemuliaan Allah padamu, karena dirimu berada pada perilaku paling buruk, kemaksiatan dan kedzaliman terhadap sesama. Kemaksiatan itu, sesungguhnya mempercepat kekufuran. Dan kalian segera bertobat sebelum maut tiba, sebelum malaikat pencabut nyawa menjemput anda.
Wahai anak muda…. Bertaubatlah kalian. Bukankah Allah telah membuat cobaan dan ujian bagimu agar kalian bertobat? Kalian tidak tahu, dan kalian terus menerus bermaksiat? Sungguh tidak selamat dalam cobaan ini, di zaman ini, melainkan sedikit sekali jumlahnya. Dusta itu penderitaan, bukan kenikmatan, menimbulkan siksaan dosa, bukan menambah derajat dan kemuliaan. Sebuah bangsa diuji, demi naiknya derajat mereka di hadapan Tuhannya, agar mereka bersabar bersamaNya, karena mereka nantinya hanya ingin menghadapNya. Jika bisa sepenuhnya mereka lakukan, kalian sempurna, jika tidak, yakinlah mereka bakal hancur. Ya Allah, mohon dijauhkan dari kehancuran, kami mohon kedekatan dariMu, memandangMu di dunia dan di akhirat, di dunia dengan hati kami, di akhirat dengan mata kami…

Wahai kaum sufi. Jangan sampai kalian berputus asa pada rahmat Allah Azza wa-Jalla, jangan patah arang pada solusiNya, karena Dia Maha Dekat. Jangan putus harapan, karena Dialah yang Membuat semua ini. “Anda tidak tahu, siapa tahu Allah bakal merubah setelah itu dengan segera…” (Ath-Thallaq 1)

Janganlah kalian lari dari ujian. Sebab ujian bencana disertai kesabaran itu merupakan dasar setiap kebajikan. Asas setiap kenabian, kerasulan, kewalian, ma’rifat dan cinta, adalah ujian. Kalau kalian tidak sabar pada ujian, berarti tidak ada fondasi bagimu. Bangunan mana pun tidak akan pernah tegak tanpa fondasi. Bahwa kalian lari dari cobaan dan bencana, semata karena kalian tidak membutuhkan kewalian, ma’rifat dan cinta serta kedekatan pada Allah Azza wa-Jalla.

Bersabarlah, beramallah, sampai kalian berjalan dengan hatimu, rahasia batinmu, ruhmu menuju pintu kedekatan Tuhanmu Azza wa-Jalla.
Para Ulama, Auliya’, Abdaal adalah para pewaris Nabi. Orang beriman itu tidak akan takut kecuali pada Allah Azza wa-Jalla, tidak sama sekali berharap kecuali padaNya. Karena mereka diberi kekuatan di hati dan rahasia batinnya (sirr). Bagaimana orang beriman tidak punya kekuatan bersama Allah Ta’ala, padahal dengan kekuatan itu mereka menuju padaNya?
Hati senantiasa bersamanya. Di luar hati bersama bumi di dunia. Allah swt, berfirman,
“Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami, tergolong orang-orang terpilih” (Shoot, 7)

Allah memilih orang-orang di zamannya, dimana makna-makna ruhaninya bercahaya, penjelasannya mencerahkan jiwa. Karena itu mereka memisahkan hatinya dengan makhluk, dan zuhud dalam kasih sayang pada mereka. Mereka berjalan dengan pijakan, dimana pijakannya menumbuhkan pohon keagungan. Mereka berjalan dan tak pernah kembali, karena mereka menuju kemesraan manunggal denganNya.

Mereka memilih di kegersangan dan pantai-pantai, ngarai daratan bahkan dengan serba kekurangan. Mereka menempuh jalan tirakat dalam hal makan dan minum. Bahkan mereka tampak seperti binatang buas di tengah rimba. Tetapi hati mereka begitu lembut dan mesra bersamaNya. Mereka berpijak pada bangunan para Rasul, Shiddiqin dan Syuhada’, dan berteguh pada hakikat bersamaNya. Mereka mengabdi siang dan malam dalam khalwat penuh kerinduan dan kesenangan bersama Allah Azza wa-Jalla. (Proses sedemikian rupa ini merupakan bagian dari suluk, yang harus dibimbing Mursyid, pent).

Anak-anak sekalian, rasa manis, getir, kebaikan, kerusakan, kekeruhan dan kejernihan senantiasa ada: Jika kalian mau memilih kejernihan sepenuhnya, pisahkan hatimu dengan makhluk, dan sambunglah dengan Allah azza -wa-Jalla. Pisahkan dirimu dengan dunia dan serahkan keluargamu pada Allah, lepaskan hatimu hingga telanjang dari semuanya. Dekatlah pada pintu akhirat dan masuklah. Kalau kalian tidak menemukan Tuhanmu Azza wa-Jalla di dalamnya, maka keluarlah dan lari menuju kedekatan padaNya. Kalau kalian menemukanNya, kalian menemukan pula kejernihan semuanya.

Lalu apa yang dilakukan pecinta dengan Allah, sementara masih bersama lainNya? Syurga itu bagi pencari derajat, negeri pra pedagang yang menjual dunianya dengan akhirat. Allah swt berfirman:
“Di dalamnya, apa yang disenangi jiwa, dan membuat mata indah memandang.” (Az-Zukhruf: 71)
Apa yang diingat hati? Ruh, Sirr? Syurga itu bagi mereka yang puasa dari syahwat dan kenikmatan lahiriyah. Mereka menjual puasanya dengan “puasa” yang hakiki, taman dengan taman hakiki, rumah dunia dengan rumah hakiki. Aku hanya ingin kalian melaksanakan, bukan mengatakan.

Orang ‘arif mengamalkan demi Wajah Allah. Sedangkan bumi dimana mereka berpijak sesungguhnya berubah, berganti, dan tiba-tiba ia mengalami jalan buntu. Orang sufi tidak memandang kecuali Allah Azza wa-Jalla, tidak mendengarkan selainNya. Mereka meraih syurga tidak melalui wacana. Mereka adalah aturan undang-undang bagi dirinya dan yang lain dan demikian seterusnya. Allah meraih mereka dengan Tangan Kinasih dan KinayangNya, lalu mereka yang menyimak dan mendengarkanNya, mereka hanya untuk dan bagiNya, sebagaimana pada Musa As: “Dan Aku menjadikan dirimu untuk DiriKu” (Thoha, 41), “Tiada sesuatu pun yang menyamaiNya, dan Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat”, (Asy-Syuura: 11). Allah menjadikan keringanan tanpa kepayahan, kemesraan tanpa kekerasan, nimmat tanpa derita, kegembiraan tanpa amarah, manis tanpa kegetiran, kerajaan tanpa kehancuran.
“Disanalah kewalian hanya bagi Allah Al-Haqq” (Al-Kahfi 44)

Siapa pun yang sampai pada tahap ini, kalian meraih keriangan, tetapi kalau kalian bersama dengan apa yang anda miliki sekarang, anda tidak akan meraih kemudahan di dunia. Karena dunia adalah negeri kotoran, negeri bencana. Seharusnya dunia seisinya segera dikeluarkan dari hati anda, keluarkan harta kalian dari hatimu dan berikan pada fakir miskin. Orang-orang miskin itu adalah keluarga Allah Azza wa-Jalla.
Cara sepetri itu tidakj membuatmu kehilangan, dan seharusnya kalian mendatangiNya, apakah kalian kaya atau miskin, zuhud atau sedang gembira.

Semua tergantung pada sehat dan benarnya hatimu, ruhmu dan sirrmu, masing-masing akan bening memalui belajar dan mengamalkannya, ikhlas dalam beramal, benar dalam mencari Allah Azza wa-Jall.
Anak-anak… Belajarlah fiqih, lalu ‘uzlahlah. Belajarlah fiqih dzohir (syariat) lalu fiqih batin (hakikat). Ilmu Dzohir untuk kecemerlangan dzohir. Ilmu batin untuk kecemerlangan batin. Kecemrlangan antara dirimu dengan Allah Azza wa-Jalla, sebagaimana kalian mengamalkan menuju kepada Allah Azza wa-Jalla. Luaskanlah pintu antara dirimu dan DiriNya.
Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan lindungi kami dari azab neraka.

 

6 September 2007 - Posted by | Artikel sufi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: