بسم الله الرحمن الرحيم

Akhirat Pun Jadi Hijab

 659839.jpg

Mengikuti Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany
Hari Selasa Sore Tanggal 15 Dzul Qa’dah, 545 H. di Madrasahnya

Dunia itu hijab bagi akhirat. Dan Akhirat itu hijab bagi Allah SWT, Tuhannya dunia dan akhirat. Semua makhluk adalah hijab dari Sang Khaliq, sepanjang hati anda berdiri menyertai makhluk dan bersamanya,berarti makhluk telah menjadi hijab antara dirimu dengan Allah SWT.

Karena itu jangan berpaling pada makhluk, kepada dunia, dan kepada segala hal selain Allah Azza wa-Jalla dalam langkah rahasia hatimu dan kebenaran zuhudmu pada selain DiriNya. Anda harus telanjang dari semuanya, lebur padaNya, mohon pertolongan padaNya, dengan senantiasa memandang aturan yang berlaku dariNya padamu, pengetahuanNya untukMu.

Bila telah nyata wushul hatimu dan sirrMu, anda masuk di hadiratNya, dengan kedekatanmu, rasa rendahmu, rasa malumu, kemudian Allah melimpahkan perkara di hatimu dan memerintahkan perkara itu sekaligus menjadikan dirimu sebagai dokter, pada saat itulah anda bisa berpaling pada makhluk dan dunia. Maka keberpalinganmu pada mereka merupakan nikmat yang dilimpahkan untuk mereka. Anda bisa berinteraksi dengan dunia, bekerjasama dengan mereka, untuk kepentingan fakir miskin, sedangkan bagianmu hanyalah dari sesuatu yang cukup untuk bekal ibadah dan keselamatanmu.
Siapa pun yang bersama dunia seperti itu, dunia tidak akan membahayakannya, tetapi justru ia selamat dan bersih dari kotoran dunia.
Kewalian itu memiliki tanda pada wajah-wajah para wali, yang hanya diketahui oleh ahli firasat ruhani. Isyarat yang berbicara dengan kewalian, bukan dengan lisan.

Siapa yang menghendaki kemenangan, hendaknya mencurahkan jiwa dan hartanya bagi Allah Azza wa-Jalla, kemudian mengeluarkan makhluk dan dunia dari hatinya, seperti keluarnya rambut dari susu, begitu juga akhirat serta segala hal selain Allah.

Disinilah disebut sebagai upaya memberikan hak sesuai dengan haknya di hadapanNya. Anda makan dari bagian dunia dan akhiratmu sedangkan anda ada di depan pintuNya, dunia dan akhirat menjadi pembantumu.
Jangan sampai anda memakan bagian dunia sementara dunia duduk dan anda berdiri, namun semuanya ada di pintu Sang Raja, anda duduk bersimpuh dan dunia tegak berdiri. Semuanya berbakti kepada yang bersimpuh di pintu Allah swt, merendahkan diri pada orang yang teguh di pintuNya. Semuanya, berada dalam pijakan kecukupan dan kemudiaan Al-Haq Azza wa-Jalla.
Kaum Sufi senantiasa rela pada Allah Azza wa-Jalla dengan habisnya dunia di tangannya, rela pula dengan akhirat, agar akhirat mendekatkan dirinya kepadaNya. Tidak ada yang dicari dari Allah swt, kecuali hanya Allah Azza wa-Jalla semata. Karena mereka tahu bahwa dunia itu sudah dibagi, lalu mereka meninggalkan ambisi duniawi, mereka tidak menghendaki selain Wajah Allah Azza wa-Jalla.

Mereka juga tahu bahwa derajat akhirat dan kenikmatan syurga itu sudah dibagi pasti, mereka pun meninggalkan ambisi dan beramal demi akhirat dan syurga, sama sekali tidak berharap kecuali hanya Wajah Ilahi Azza wa-Jalla.
Ketika mereka masuk syurga, mereka tidak mau membuka matanya sampai mereka melihat Cahaya Wajah Allah swt. Ia disenangkan pada nuansa Tajrid dan Tafrid (nuansa yang berada dalam kesendirian bersama Allah Ta’ala). Siapa yang hatinya tidak sunyi dari makhluk dan sebab akibat dunia, ia tidak akan mampu menempuh perjalanan agung para Nabi, Shiddiqun dan Sholihun, sampai dirinya menerima sedikit dari dunia dan menerima banyak dari tangan takdirNya. Jangan berambisi mencari yang banyak dari dunia, anda malah akan hancur karenanya, tetapi jika Allah mendatangkan yang banyak dari dunia kepadamu tanpa ambisimu, berarti anda telah terjaga dalam dunia.
Dari Hasan al-Bashry ra, beliau mengatakan: “Nasehati manusia dengan pengetahuan dan ucapanmu, wahai para penasehat, nasehati manusia dengan kejernihan rahasia hatimu dan ketaqwaan hatimu. Jangan engkau nasehati mereka dengan kebaikan lahiriyah tampilanmu sementara rahasia hatimu buruk.”

Allah Azza wa-Jalla telah memastikan iman dalam hati orang-orang beriman sebelum mereka diciptakan. Itu di zaman Azali, dan tidak boleh berpegang pada hal-hal yang dulu, tetapi harus berjuang dan mencurahkan jiwa untuk meraih iman dan keyakinan serta meraih nafas-nafas Ilahi Azza -Wajalla, tetap teguh di pintuNya. Hati kita tetap berjuang agar iman kita teguh tetap. Jangan beranggapan, “Siapa tahu Allah swt memberikan limpahan iman tanpa kita bersusah payah.” Apakah anda tidak malu memberikan sifat pada Allah dengan sifat yang anda rekayasa sendiri untuk diriNya? Apa yang kalian upayakan dibanding jerih payah para Sahabat dan Tabi’in? Tuhan Azza wa-Jalla di atas Arasy sebagaimana dikatakan, bahwa Dia tanpa ada serupa, tanpa ada rekayasa, tanpa ada nuansa fisik.

Ya Allah berilah kami rizki dan berilah kami pertolongan, dan jauhkan kami dari rekayasa bid’ah, dan berilah kami di dunia kebajikan, dan di akhirat kebajikan (pula), dan lindungi kami dari azab neraka.

6 September 2007 - Posted by | Artikel sufi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: