بسم الله الرحمن الرحيم

Wara’

 4.jpg

Taqwa

  Allah Ta’ala berfirman , “sesungguhnya yang paling mulia dari kamu sekalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa”. QS. Al-Hujarat 13

 

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Seorang laki-laki datang kepada RasuluLlah SAW seraya meminta nasihat, ‘Wahai Nabi Allah, wasuyatilah diriku ‘. Beliau menjawab, “Wajib atasmu bertaqwa kepada Allah karena sesungguhnya taqwa merupakan kumpulan semua kebaikan. Wajib atasmu untuk berjuang karena berjuang adalah ibadah/rahbaniyah orang islam. Dan wajib atasmu untuk selalu ingt kepada Allah karena mengingat Dia adalah cahaya bagimu”.

 

Seseorang telah bertanya kepada RasuluLlah SAW, “Wahai Nabi Allah, siapa keluarga Muhammad ?”. Beliau menjawab, “Orang yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, takwa merupakan kumpulan perbuatan baik, sedangkan esensinya selalu ta’at kepada Allah agar terhindar dari siksaanNya”. Ada suatu ungkapan, ‘Si fulan bertaqwa dengan perisainya. Oleh karena itu pondasi taqwa haris menghindari perbuatan syirik, maksiyat, dan perbuatan tercela. Selain itu juga menghindarkan diri dari perbuatan syubhat, perbuatan yang tidak berfaidah”.

 

Al Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “setiap klasifikasi pembagian terdapat satu bab dalam pembahasan. Untuk menafsirkan firman Allah Ta’ala, “bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa”.(QS. Ali Imran. 102)  hal itu untuk dita’ati bukan untuk di ingkari, supaya untuk di ingat bukan untuk dilupakan, dan supayandisyukuri bukan untuk dikufuri”.

 

Sahal bin Abdullah berpendapat, tak ada seseorangpun yang dapat menolong kecuali Alla, tak ada argumrntasi yang benar kecuali RasuluLlah, tak satupun dari modal persiapan kecuali taqwa dan tak satupun amal kebaikan kecuali sabar”.

 

Menurut Al-Kattani, dunia diciptakan agar manusia menerima cobaan dan akhirat diciptakan agar manusia bertaqwa. Al Jariri berkata, “Barang siapa yang membrikan keputusan antara manusia dan Allah Ta’ala  tanpa dasar taqwa dan pendekatan diri kepada Allah, maka dia tidak akan sampai kepadaNya.”

 

Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud dengan taqwa adalah seoang hamba yang tidak takut kepada apapun kecuali hanya kepada Allah . sahal berkata, “Barang siapa yang menginginkan agar taqwanya benar, maka ia harus meninggalkan semua perbuatan dosa. Nashr Abadzi berkata, “Barang siapa yang selalu bertaqwa, maka dia tidak merasa keberatan meninggalkan dunia sebagaimana firman Allah Ta’ala, ‘dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik agi orang yang bertaqwa apakah mereka tidak memikirkannya”’.QS. Al-An’am 32

 

Sebagian ulama berkata, “Barang siapa yang mampu mewujudkan taqwa, maka hatinya akan dikmudahkan oleh Allah untuk berpaling dari kemewahan dunia”. Menurut Abu Bakar Muhammad Ar-Rudzabari yang dimaksud taqwa adalah meninggalkan sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah Ta’ala. Menurut Dzunun Al-Mishri yang dimaksud orang yang taqwa adalah orang ang tidak mengotori jiwa bathin dengan interaksi sosial.  Dalam kondisi yang demikian maka orang tersebut akan mengadakan kontak dengan Allah dan dapat berkomunikasi denagnNya. Ibnu ‘Atha’ berkata, “taqwa terbagi menjadi dua yaitu taqwa lahir dan taqwa bathin. Taqwa lahir adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang, sedangkan taqwa bathin adalah niat dan ikhlash”. Sya’ir dari Dzunun Al-Mishri:

 

Tak ada kehidupan yang sejati

Kecuali dengan kekuatan hati mereka

Yang selalu merindukan taqwa dan menyukai dzikir

Ketenangan telah merasuk ke dalam bathin yang yakin

Dan yang baik

Sebagaimana bayi yang masih menetek

Telah masuk ke dalam pangkuan

 

 

Seorang laki-laki yang bertaqwa dapat dijadikan standar apabila memenuhi tiga hal. Pertama tawakal yang baik dalam hal yang tidak mungkin diperoleh. Kedua, ridha yang baik dalam hal yang telah diperoleh. Ketiga, sabar yang baik dalam hal yang telah lewat. Sedang menurut Thalq bin Habib, yang dimaksud taqwa adalah perilaku ta;at kepada Allah di atas cahayanya.

                                   

Diriwayatkan dari Hafs, ia berkata,”Taqwa harus ditanamkan dalam perbuatan yang halal lagi murni, bukan pada yang lain. “ Abul Husain Al-Zunjani berkata, barang siapa yang memiliki modal taqwa, maka berbagai ungkapan sifat jelek akan tertolak”.

 

Al Washiti mengatakan, “Yang diamksud taqwa adalah orang yang selalu memelihara ketaqwaannya. Orang yang taqwa dapat diperumpamakan seperti Ibnu Sirin. Ketika ia membeli 40 takar minyak samin, seseorang mengeluarkan tikus dari timbangan tersebut. Inbu Sirin bertanya, ‘dari timbangan mana engkau keluarkan tikus tersebut ? pemuda itu menjawab ‘akutidak tahu’. Setelah itu Ibnu Sirin menuangkan semua minyak ke tanah”. Dalam cerita lain Abu Yazid pernah membeli minyak parfum di kota Hamdzan dan mendapatkan kelabihan. Ketika ia pulang ke kota Bustam, dia melihat dua semut di dalam parfum tersebut. Setelah itu ia kembali ke kota Hamdzan dan meletakkan dua semut itu ke tempat penjual.

 

Diceritakan bahwa Abu Hanifah tidak pernah duduk di bawah bayangan pohon orang yang mempunyai hutang kepadanya, berdasarkan hadits RasuluLlah SAW, “Kullu Qardhin jirra naf’an fahuwa riba” yang artinya tiap-tiap hutang yang mendapatkan keuntungan adalah riba.

 

Diceritakan Abu Yazid telah mencuci pakaiannya di tanah lapang. Dia bersama temannya seraya berkata kepada Abu Yazid, “Pakaian ini kita jemur di atas dinding pohon anggur “. Abu Yazid menjawab, “janganlah engkau meletakkan pasak di atas dinding orang lain”. Temannya bertanya, “apakah ahrus kita jemur di atas pohon rerumputan ?”. Dia menjawab, “Tidak karena rerumputan itu adalah makanan hewan, maka kita tidak boleh menutupinya”, Setelah itu Abu Yazid menghadapkan punggungnya ke arah matahari, sedangkan paakian yang sebelah kanan sudah kering, maka ia membalikkannya hingga pakaian sebelah kiri juga kering.

 

Menurut keterangan yang lain, pada suatu hari Abu Yazid RA memasuki suatu perkampungan. Tongkatnya ia tancapkan di atas tanah. Tongkat itu kemudian jatuh dan menimpa tongkat orang tua yang ditancapkan di sampingnya. Setelah itu tongkat tersebut dimiringkan oleh orang tua dan diambilnya. Dalam perjalanan Abu Yazid mampir di rumah orang tua tersebut dan meminta maaf. Orang tua tersebut menjawab, “Yang menyebabkan tongkatmu miring karena saya lengah dalam menancapkan tongkatku sehingga tongkatku menjadi terdorong”.

 

Suatu hari ‘Atabah melihat seorang pemuda di suatu tempat pada musim panas yang penuh peluh. Ketika ditanya oleh ‘Atabah dia menjawab, “ Di tempat itu saya pernah mengerjakan maksiyat “. Selanjutnya pemuda ditanya tentang keadaannya dan dia menjawab, “Dari dinding ini saya pernah mengambil sedikit tanah liat yang dipergunakan oleh temanku dan saya belum meminta maaf kepada pemiliknya”.

 

Ibrahim bin Adham meriwayatkan, “Suatu malam saya tidur di bawah batu besar di Baitul Maqdis. Di pertengahan malam malaikat turun. Yang satunya bertanya kepada yang lain, ‘ Siapa orang ini ?’. Malaikat yang lain menjawab, ‘Dia adalah Ibrahim bin Adham’. Malaikat yang satunya berkata, ‘Orang itu termasuk orang-orang yang direndahkan derajatnya oleh Allah SWT’. Malaikat yang lain bertanya, ‘Mengapa demikian ?’. Malaikat yang satunya menjawab, ‘Orang itu telah membeli kurma. Ketika kurma tukang sayur terjatuh masuk ke dalam kurma orang itu , dia masih belum mengembalikan kepad pemiliknya’. Suatu hari saya kemudian kembali ke Bashrah, Di sana kemudian saya membeli kurma pada laki-laki tersebut kemudian saya jatuhkan satu kurma yang saya beli ke dalam kurmanya. Setelah itu saya pulang ke Baitul Maqdis dan tinggal di bawah batu besar itu. Ketika tengah malam, tiba-tiba saya berdampingan dengan dua malaikat yang turun dari langit . Yang satunya bertanya kepada yang lain, ‘Siapan orang ini?’, Yang lain menjawab, ‘Orang itu adalah Ibrahim bin Adham ‘. Kemudian Malaikat yang satunya berkata, ‘ Kedudukan orang itu telah dikembalikan dan derajatnya ditinggikan”‘.

 

Menurut suatu pendapat, taqwa dapat dibagi ke dalam berbagai bentuk, Pertama taqwa orang awam karena menghindarkan diri dari syirik. Kedua, taqwa orang istimewa karena menghondarkan diri dari perilaku maksiyat. Ketiga, taqwa para wali karena menghindarkan diri dari perbuatan jelek. Ke empat, taqwa para Nabi karena menghubungkan diri dengan berbagai aktifitas yang  di dalamnya terkandung taqwa.

 

Dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib RA dituturkan bahwa beliau berkata, “Sebaik-baik orang di dunia ini adalah ornag yang dermawan. Dan sebaik-baik orang di akhirat nanti adalah orang yang bertaqwa”.

 

Diceritakan oleh Abu Umamah Al Bahili dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda, “Man nadhara ‘ala machasinimra’atin faghadha basharahu fii awwali marrotin, ahdatsaLlahu lahu ‘ibadatan yajidu halawataha fii qalbihi” yang artinya, “Barang siapa yang melihat orang perempuan cantik kemudian ia menutup mata pada awwal pandangan, maka Allah Ta’ala akan memberikan pahala ibadah kepadanya sehingga ia merasakan manisnya iman di dalam hatinya”.

 

Suatu hari Imam Al-Junaid duduk bersama Ruwaim, Hariri dan Ibnu Atha’ Beliau mengatakan, “Kebahagiaan / keselamatan tidak akan ditemukan kecuali hanya kembali berlindung kepada Allah SWT . Allah telah berfirman, “Wa ‘ala tsalatsatilladziina khulifuu hatta idzaa dhaaqat ‘alaihimul ardhu bimaa rachubat wa dhaaqat ‘alaihimul ardhu yang artinya, “(Begitu juga Allah menerima taubat ) tiga orang yang tinggal / tidak pergi berperang, sehingga ketka bumi yang luas telah terasa sempit dan diri mereka juga telah sempit”.

 

Menurut Riuwaim, “Tidak ada kebahagiaan / keselamatan kecuali hanya dengan taqwa yang benar. Allah Ta’ala berfirman, “WayunajyLlaahulladziittaqau bimafaazatihim laa yamassuhumussuu-u walaa hum yachzanuun yang artinya, ‘Allah akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dengen kebahagiaan mereka, mereka tidak tertimpan kuburukan dan tiadalah pula mereka bersedih hati”.

 

Menurut Jariri, “TIdak ada kebahagiaan / keselamatan kecuali dengan memelihara janji. Allah Ta’ala  berfirman, Alladziina yuufuuna bi’ahdiLlaahi walaa yangqudhuunal mitsaaq yang artinya, ‘Orang – orang yang memenuhi janji ALlah dan tidak merusaknya…

 

Sedangkan menurut Atha’, tidak ada kebahagiaan / keselamatan kecuali hanya dengan merealisasikan sifat malu. Allah Ta’ala berfirman, Alam ya’lam bi annaLlaaha yaraa  Apakah mereka tiada mengetahui sesungguhnya ALlah melihat.

Innalladziina sabaqat lahum minnaal chusnaa uulaa-ika ‘anhaa mub’aduun yang artinya Sesungguhnya orang-orang yang telah memperoleh kebaikan dari Kami, mereka akan terhindar dari api neraka.

 

Menurut satu pendapat tidak ada kebahagiaan / keselamatan kecuali hanya dengan sikap memilih yang baik. Allah Ta’ala berfirman Wajtabainaahum wahadainaa hum ilaa shiraatin mustaqiim yang artinya Kami telah memilih mereka dan menunjukkan mereka pada jalan yang lurus.

 

22 Mei 2007 - Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: