بسم الله الرحمن الرحيم

Kitab tentang Takut.

 fbg.jpg

Kitab tentang Takut

 

Dalam bab ini akan diterangkan hakikat takut dan menerangkan tingkatan-tingkatan takut dan menerangkan berbagai macam ketakutan dan menjelaskan keutamaan takut, juga penjelasan pengutamaan atas takut dan raja / harap dan menerangkan tentang obat takut dan penjelasan ma’na kkhusnul khatimah, dan penjelasan mengenai keadaan orang-orang yang takut dari para Nabi SAW dan orang-orang shaleh rahmatuLlaahi ‘alaihim. Maka kita minta kepada Allah sebaik-baik pertolongan

 

HAKIKAT TAKUT

 

Ketahuilah sesungguhnya takut adalah ibarat dari kepiluan hati dan kebakaran hatidisebabkan oleh akan terjadinya sesuatu yang tidak disenangi pada masa yang akan datang. Dan telah jelas yang demikian pada penjelasan hakikat raja’ .

Barang siapa yang hatinya jinak kepada Allah dan hatinya memiliki kebenaran maka jadila ia anak zamannya  yang menyaksikan ke elokan al-Haq  secara terus menerus, maka tiadalah ai akan menoleh kepada masa yang akan datang. Maka tidak terdapat dalam dirinya suatu perasaan takut maupun harap, akan tetapi jadilah keadaannya di atas khauf / takut dan raja’. Karena sesungguhnya keduanya (khuf ^ raja’) adalah kekakng yang mencegah diri dari keluar kepada ketetapan keadaannya.

 

 Karena itu al-Washithy telah memerikan isyarah dengan perkataan beliau, “Al-Khaufu (takut) adalah hijab antara Allah dan hambanya”.

Dan juga telah berkata, “Apabila hakikat telah nampak ke dalam rahasia / sirr , maka hilanglah di keutamaan khauf dan raja’ dalamnya.

Disimpulkan pula bahwa orang yang mencintai (Al-Muhib), ketika ia  melihat yang dicintai namun ia disibukkan dengan ketakutan akan perpisahan, maka yang demikian ini adalah mengurangi kadar penyaksian kepada Yang dicintai. Dan sesungguhnya selalu memandang Yang dicintai adalah puncak dari segala maqam.

 

 

Akan tetapi saat ini kita akan memperbincangkan tentang permulaan maqamat,  maka kami katakana :

Keadaan takut itu juga tersusun atas ilmu, hal, dan amal.

Adapun ilmu adalah pengetahuan tentang sebab-sebab yang membawa kepada sesuatu yang tidak disukai.

Dan yang demikian itu seperti orang yang berbuat aniaya terhadap raja kemudia  ia jatuh ke tangan raja, maka takutlah ia akan terbunuh oleh raja itu umpamanya. Dan memungkinkan pula pemaafan dan pelepasan dari raja. Akan tetapi kepedihan hatinya dikarenakan takut tergantung dari kekuatan pengetahuannya tentang sebab-sebab yang membawa kepada pembunuhannya, dan itu adalah kekejian penganiayaan terhadap dirinya. Dan keadaan raja itu dengki, marah  dan pembalas dendam. Dan keadaan dirinya dikelilingi oleh orang yang sedlalu membangkitkan kepada pembalasan dendam, ksong dari orang-orang yang memberi bantuan kepadanya. Dan orang yang sedemikian takut ini adalah kosong / jauh dari segaal sesuatu yang menghantarkannya kepada jalan kebaikan, yang menghapuskan bekas penganiayaan dari hadapan raja.

Oleh karena itu mengetahui dengan jelasnya sebab-sebab, akan mengakibatkan kuatnya ketakutan dan kesangatannya kepedihan hati. Demikian pula karena lemahnya sebab maka menjadi lepah pula rasa ketakutannya. Maka jadilah kertakutan itu tidak karena penganiayaan yang dilakukan oleh orang yang takut, akan tetapi ketakukan itu lebih disebabkan oleh sifat orang yang ditakutinya. Seperti orang yang jatuh pada cengkeraman binatang buas, sesungguhnya ia takut kepadanya karena sifat binatang buas tersebut yaitu loba dan ganasnya kepada mangsanya walaupun mangsanya itu dengan pilihannya.

 

Terkadang juga rasa takut itu dikarenakan sifat atau tabi’at dari yang ditakuti. Seperti orang yang jatuh ke dalam aliran banjir atau berdekatan dengan sesuatu yang membakar. Maka sesungguhnya air itu ditakuti karena dapat menyebabkan membawa kepada mengalir dan tenggelam. Demikian pula pada api yang dapat emnyebabkan terbakar.

 

Oleh karena itu pengetahuan tentang sebab-sebab yang tidak disukai itu menjadi sebab yang membangkitkan, menggerakkan kepada terbakarnya dan pedihnya hati. Dan kebakaran/ kepedihan inilah yang dinamakan Al-Khaufu (takut).

 

Maka demikianlah ketakutan kepada Allah Ta’ala sesekali disebabkan karena ma’rifat kepadaNya dan ma’rifat kepada sidat-sifatNya. Dan sesungguhnya jika Allah membinasakan seluruh alam niscaya Ia tiada peduli dan tiada pula pencegah yang menghalangiNya. Dan sesekali ketakutan hamba itu disebabkan oleh banyaknya pelanggaran yang dilakukan hamba itu dari beberapa perbuatan ma’siyat. Dan sesekali ketakutan hamba disebabkan oleh keduanya (ma’rifat dan adanya pelanggaran). Dan menurut pengetahuannya pula tentang kejelekan dirinya disamping ma’rifatnya kepada kebesaran Allah Ta’ala dan tidak memerlukannya Allah kepadanya, dan sesungguhnya Allah tidak akan di Tanya tentang apa yang Ia kerjakan sebaliknya merekalah yang ditanya, maka menjadi semakin kuatlah rasa takut itu.

 

Oleh karena itu manusia yang paling takut kepada Tuhannya,mereka itulah orang yang paling mengerti kepada dirinya sendiri dan kepada Tuhannya.

Dan karena itulah Nabi SAW bersabda, “Anaa akhwafukum liLlaah” yang artinya, “Sesungguhnya Aku adalah yang paling takut kepada Allah diantara kamu semua”.

 

Demikian pula Allah Ta’ala berfirman, “Innamaa yakhsyaLlaaha min ‘ibaadihil ‘ulamaa’” yang artinya, “sesungguhnya yang paling taku kepada Allah diantara hambaNya adalah ‘Ulama’”’.

 

Kemudian apabila ma’rifat telah semakin sempurna, niscaya menyebabkan besarnay rasa takut dan terbakarnya hati, kemudian melimpahlah bekas keterbakarannya hati kepada badan dan anggota badan dan kepada sifat-sifatnya

TO BE CONTINUED INSYA ALLAH 

22 Mei 2007 - Posted by | Ihya Al-Ghazali

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: