بسم الله الرحمن الرحيم

Perjalanan Menimba Ilmu

madinah91.jpg

Saat beliau mengetahui bahwa menuntut ilmu adalah wajib hukumnya, dan merupakan obat bagi jiwa yang sakit, beliau bertekad untuk menguasainya. Maka beliau pergi kepada para imam-imam danpara Syaikh sufi untuk mempelajari ushul dan furu’ sampai beliau menguasai semua itu. Diantara guru-gurunya dalam bidang ushul dan furu’ fiqhiah adalah Abu Wafa’ Ali bin ‘Aqiil Al Hambali, Abu Khitab Makfudz Al-Kalwadzaani Al-Hambali, Abu Hasan Muhammad binQadhi Abu Ya’la Muhammad bin Al-Husain bin Muhamad ibnu Fara’ Al-Hambali, Al-Qadhi Abi Sa’id- Al Mubaarok Al-Machzuumi Al Hambali. Kemudian beliau belajar adab (sastra) dari Zakariya Yahya bin Ali At-Tabrizi.

 

Beliau mendengar periwayatan Hadist dari Abu Ghalib Muhammad bin Hasan Al-Baqilani, Abu Sa’id Muhammad bin Abdul Karim bin Khasyisyan, Abu Al-Ghona’im Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Maimun Al-Farsi, Abu Bakr Muhammad bin Mudzdzaffar, Abu Ja’far bin Ahmaad bin Husain Al-Qaari Assiraaji, Abu Qosim Ali bin Ahmad bin Banan Al-Karkhi, Abu Thalib bin Muhammad bin Yusuf, -sepupunya- Abdurrahman bin Ahmad, Abu Barakat Hibbatulloh bin Mubarak, Abu ‘Izz Muhammad bin Al-Mukhtar , Abu Nashr Muhammad, Abu Ghalib Ahmad, Abu Abdullah Yahya (anak dari Ali Al-Banan), Abu Al-Hasan bin Mubarak bin At-Thuyur, Abu Al-Manshur Abdurrahman aAl-Fazzaz, Abu Barakat Thalhah Al-Aquuli dan yang lainnya. Beliau mengikuti dan mempelajari Thariqah dari Abu Khair Muhammad bin Muslim bin Daruh Ad-Dabbas.

Sedangkan jubah kesufian beliau dapatkan dari Al-Qadhi Abi Sa’id Al-Mubarak Al-Makhzuumi yang mendapatkannya dari syaikh Abi Al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Quraisyiyang mendapatkannya dari Abi Al-Faraj At-Tartuusi yang mendapatkannya dari Abi Fadl Abdul Wahid At-tamimi yang mendapatkannya dari syaikh Abi Bakar Asy-Syibli yanaga mendapatkannya dari Syaikh Abu Qasim Junaidi Al-Baghdadi yang mendapatkannya dari –pamannya- Syaikh Sirri As-Saqothy yang mendapatkannya dari Syaikh Ma’ruf Al-Karkhi yang mendapatkannya dari Daud At-Thaa’i yang mendapatkannya dari Sayyidi Habib Al-‘Ajami yang mendapatkannya dari Syaikh Hasan Al-Bashri yang mendapatkannya dari Maulana Amirul Mukminiin Ali bin Abi Thali Karromallohu Wajhah yang mendapatkannya dari Habib Robbil ‘Alamiin (kekasih Tuhan sekalian alam) Rosululloh SAW. Yang mendapatkannya dari Jibril as, yang mendapatkannya dari Allah SWT. Ada yang mengtakan jalur lain dari ‘Ali bin Musa Ar-Ridho. Al Makhzumi (ujung nama Abu Sa’id) dinisbatkana kepada kota Al-Makhzuum yang berada di Baghdad tempat kediaman sebagian keturunan Yazid bin Al-Makhzuum. Al-Qadhi Abu Sa’id Al-makhzuumi berkata,”Abdul Qadir Al-jilli mengambil jubah kesufian dariku dan aku mengambil jubah kesufian darinya dengan maksud salilng memberkahi.

.*….

Diriwayatkan oleh Al-‘alamah Ibrahim Ad-Dirri Asy-Syafi’I pengarang kitab Mukhtashor Rhaud Az-Zahir bahwa beliau ketika tiba di Baghdad, beliau belajar tasawuf dari Syaikh Abu Ya’qub Yusuf bin Ayub bin Yusuf bin Husain Al-Warah Al-Hamdani. Beliau juga belajar dari banyak penghulu ahl zuhud pada masanya.

Abu Sa’id Al-Makhzuumi memiliki sebuah madrasah kecil di Al-Azji yang kemudian diserahkannya kepada Syaikh Abdul Qodir. Saat Syaikh Abdul Qadir memulai ceramahnya dan menampakkan beberpa karamah, madrasah tersebut menjadi sempit oleh banyaknya orang yang ingin belajar. Saking banyaknya orang-orang yang menghadiri majlisnya harus rela duduk di dinding-dinding rumah di samping madrasah tersebut. Kemudian tempat tersebut makin melebar seiring dengan orang-orang kaya yang berlomba-lomba membangun tempat tersebut dan banyaknya orang –orang yang mengabdikan diri kepada beliau.

Dikidahkan suatu hari seorang wanita dari golongan awam dating bersama suaminya menghadap Syaikh Abdul Qadir. Perempuan tersebut berkata kepada beliau,”Aku membebani suamiku ini dengan mahar sebanya 20 dinar. Aku mau menerima setengahnya asal yang setengah lagi ditebus dengan bekerja di madrasahmu.” Sang suami menrima syarat tersebut dan setelah ditulis, sang isteri menyerahkannya kepada sang Syaikh. Sang suamipun bekerja kepada sang Syaikh dengan upah yang dibayar sehari dan sehari tidak, karena miskinnya sang Syaikh. Akhirnya sang Syaikh mengambil surat perjanjian dan berkata kepadanya,”sekarang kamu sudah bebas.”

Madrasah tersebut selesai dibangun pada tahun 528 H. dan secara otomatis dinisbatkan kepada beliau. Di sanalah beliau berkarya, mengeluarkan fatwa, dan memberikan pelajaran. Madrasah tersebut menjadi tujuan ziarah dan tempat berkumpul para ulama dan orang-orang saleh segala penjuru.

Tentang keindahan karakternya, tak terhitung yang meriwayatkannya. Ad yang menjulukinya dengan dzil Bayanain (pemilik penjelasan), kariim Jadiin (keturunan mulia), Shahibul burhan wa sulthoonin. Ada pula yang menjulukinya dengan gelar Imam Al-Fariqaini wa Thoriqin. Kemudian yang lain memanggilnya dengan Dzi As-Sarajin wa Al-Mutahajiin.

Oleh karena itu tidak heran apabila para ulama maupun orang awam belajar darinya. Diantara para ulama yang belajar kepada beliau adalah :

  • Imam Al-Qudwah Asy-Syaikh Abu Amru Utsman bin Marzuq bin Hamid bin Salmah Al-Quraisyi, bertempat tinggal di Mesir. Syaiakh Abu Dazzaq bercerita, “saat ayahku menunaikan ibadah haji beliau bertemu dengan dua orang syaikh yaitu Abu Madyan dan Ibnu Marzuq yang kemudian mengambil bai’at darinya. Kemudian mereka berdua mendengarkan beberapa riwayat tentang Syaikh Abdul Qadir Jailani. Ayahku berkata, “guru kita Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata….’,’ Aku melihat tuan kita Syaikh Abdul Qadir Al Jailani melakukan ini ‘, Dan Qudwatina (pemimpin kita) Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani melakukan ini dan ini’.

  • Syaikh Al-Imam Al-Alim Al-Qadhi Abu Ya’la Muhammad bin khamdi Al-Faraa’. Abdul Aziz bin ahdhar berkata,’Aku mendengar syaikh Abu Ya’la berkata,’ Aku sering menghadiri majlis Syaikh Abdul Qadir.’

  • Al-Faqih Syaikh Abu Fath Nasr Al-Muna

  • Syaikh Abu Muhammad Mahmud bin Utsman Al-Baqqal

  • Imam Abu Hafash Umar bin Abi Nasr bin Ali Al-Ghazal

  • Syaikh Abi Muhammad Al-Farisi

  • Syaikh Abdulah bin Ahmad Al-Kassab

  • Imam Abu Amru Utsman yang dijuluki dengan Asy-Syafi’I zamannya.

  • Syaikh Muhammad bin Al-Kiizan

  • Syaikh Al-Faqih Ruslan bin Abdullah bin Syu’ban

  • Syaikh Muhammad bin Qa’id Al-Awani

  • Ab dullah bin Sinan Ar-Raddini

  • Al-Hasan bin Abdullah bin Ar-Rifa’I Al-Anshori

  • Syaikh Thalhah Mudzafar bin Al-Ghanaim Al-‘altsami

  • Ahmad bin Sa’ad bin Wahab bin Ali Al-Harrawi

  • Muhammad bin Al-Azhar Ash-Shairafini

  • Yahya bin Barkah

  • Ali bin Ahmad bin Wahab Al=Azji

  • Qadi Qudhah (kepala qadhi) Abdul Muluk bin Isa bin Harbaas Al-Mara’i

  • Utsman, saudara Qadhi Abdul Muluk beserta anaknya Abdurrahman

  • Abdullah bin Nashr bin Hamzah Al Bakri

  • Abdul Jabbar bin Abi Fadl Al-Qaffashi

  • Ali bin Abi Zahir Al_Anshari

  • Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Muqaddasi Al-Hafidz

  • Imam Muwaffaquddin Abdullah Ahmad bin Muhammad Al-Qadamah Al-Muqaddisi Al-Hambali

  • Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Muqaddisi Al-Hambali

Syaikh Syamsuuddin Abdurrahman bin Abi Umar Al muqaddisi berkata,”aku pernah mendengar pamanku , syaikh Muwaffaquddin berkata,’ Aku dan Al=Hafidz Abdul Ghani mendapatkan ijaZah dari Syaikh Islam Abdul Qadir dalam waktu yang bersamaan. Kami mempelajari fiqih, belajar dan banyak mendapatkan amanfaat dari beliau. Pertemuah kami dengan beliau semasa hidup hanya berlangsung selama 50 hari.

  • Muhammad bin Ahmad bin Bakhtiar

  • Abu Muhammad Abdullah bin Abi Hasan Al-Jaba’i

  • Khalaf bin Abbas Al-Masri

  • Abdul mun’im bin Ali Al-Harani

  • Ibrahim Al-Haddad Al-Yamani Al-Hijri

  • Mudafi’bin Ahmad

  • Ibreahim bin Basyarah Al-Adli

  • Umar bin Mas’ud Al-Bazaar

  • Guru Umar, mir bin Muhammad Al-Jilani

  • Abdullah Al-Bathaaiahi yang tinggal di Ilbik

  • Makki bin Abi Utsman As-Sa’di

  • Anaknya (Makki) Abdurrahman dan Saleh

  • Abdullah bin Hasan Al-Akbari

  • Abu Qasim bin Abu Bakar Ahmad dan saudaranya Ahmad serta Atiiq

  • Abdul Aziz bin Abu NasrAl-Janayidi

  • Muhammad bin Abi Makarim Al-Hujjah Al-Ya’qubi

  • Abdul Muluk bin Dayal dan anaknya Abu Faraj

  • Abu Ahmaf Al-Fudhailah

  • Abdurrahman bin Najm Al-Khazraji

  • Yahya At-Tikriti

  • Hilal bin Umayyah Al-Adani

  • Yusuf Mudzaffar Al-‘Aquuli

  • Ahmd bin Ismail bin Hamzah

  • Abdullah bin Ahmad bin Manshur

  • Utsman Al-Basari

  • Muhammad Al-Wa’odz Al-Khayyath

  • Tajuddin bin Baththah

  • Umar bin Al-Madiyani

  • Abdurrahman bin Baqa’

  • Nyhammad An-Nakhkhal

  • Abdul ‘Aziz bin Kalaf

  • Abdul karim bin Muhammad Al-Mashri

  • Abdullah bin Muhammad bin Walid

  • Abdul Muhsin bin Duwairah

  • Muhammad bun Abi Husain

  • Dalfi Al-Harimi

  • Ahmad bin Ad-Dabbiqi

  • Muhammad bin Ahmad Al-Mu’adzdzin

  • Yusuf bin Habbatillah Ad-Dimasyqi

  • Ahmad bin Muthi’

  • Ali bin Abi Bakar bin Idris

  • Muhammad bin Nashrah

  • Abdul Lathif bin Muhammad Al-Harani

  • Dan yang lain yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu.

Syaikh Muwafaquddin berkata, “syaikh kita Muhiyuddin Abdul Qadir adalah seorang yang berpostur langsing. Memiliki bahu yang lebar dan dada yang bidang dengan jenggot sepanjang dadanya. Kedua alis beliau seakan-akan menyatu dan memiliki suara yang lantang”.pernyataan tersebut sesuai dengan apa yang aku ketahui tentang beliau.

Syaaikh Al-Imam Al-Alamah Abu Hasan Ali Al-muqri asy-Syathnufi Al-Mashri pengarang kitab Al-Bahjat yang memuat serba serbi Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, perjalanan hidup dan karamahnya yang bersumber dari Abu Abdullah Muhammad bin Syaikh Al-Imad Ibrahim Abdul Wahid Al-Muqaddisi. Beliau berkata,”aku tiba di Baghdad tahun 561 H. dan ketika itu penghulu para ulama adalah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani baik dalam keilmuan maupun amal serta fatwa. Begitu banyaknya ilmu yang beliau kuasai ditaambah dengan kesabaran dan kelapangan dada membuat seorang penuntut ilmu cukup berguru kepada beliau saja. Allah telah berkenan mengumpulkan pada diri beliau sifat-sifat yang indah dan kondisi spiritual yang agung. Dan setelah beliau wafat belum pernah aku melihat seseorang yang menyamainya.”

Diriwayatkan bahwa Syaikh Avdul Qadir sedikit berbicara dn selalu menjaga apa yang diiucapkannya. Beliau selalu menerima tamu dan tidak pernah keluar dari Madrasahnya kecuali pada hari Jum’at. Pada hari itu beliau pergi ke masjid atau ke Ribath-nya (kamar kecil di masjid).

Di tangannya sebagian besar penduduk Baghdad bertobat dan banyak kaum Yahudi dn Nashrani yang memeluk Islam. Di atas mimbar, beliau selalu mengatakan yang haq dan menentang para penguasa yang dzalim. Diriwayatkan pada saat itu yang memerintah adalah khalifah Muqtafi bi Amrillah. Ketika khalifah mengangkat Abi Wafa’ Yahya bin Sa’id bin Mudzdzafar yang dijuluki Ibnu Muzhim Adz-Dzalim sebagai Qadhi , beliau berkata kepada Khalifah,”engkau telah mengangkat orang yang paling zalim untuk mengurusi urusan kaum Muslimin . bagaimana pertanggungan jawabmu besok di hadapan Tuhan sekalian alam Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang.” Mendengar perkataan tersebut sang khalifah gemetar dan menangis. Kemudiansaat itu juga beliau menurunkan qadhi tersebut.

Al-Hafidz Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad binUtsman Adz-Dzahabi menyatakan dalam kitab tarikh karyanya bahwa Abu Bakar bin Tharkhan menceritakan kepadanya bahwa Syaikh Al-Muwafaquddin berkata kepadanya saat beliau ditanya tentang Syaikh Abdul Qadir,”kami mengenal beliau pada fase terakhir hidupnya. Kami tinggal di Madrasah dan beliau sangat memperhatikan hidup kami. Terkadang beliau mengirimkan makanan kepada kami. Di lain kesempatan beliau mengutus puteranya Yahya untuk menghidupkan lampu kami.beliau yang menjadi Imam kami pada saat melaksanakan Shalat fardhu. Aku membacakan kitab Al-Khirq yang kuhafal pada pagi hari dan Al-Hafidz Abdul Ghani membacakan kitab Al-Hidayah saat petang. Dn saat itu hanya kami yang membacakan kitab kepada beliau. Kami tingggal bersama veliau selama 1 bulan 9 hari. Kemudian sang Syaikh wafat dan akmi menshalatkannya malam tersebutdi madrasah beliau. Aku belium pernah mendengar orang yang karamahnya lebih banyak diceritakan daripada beliau. Aku juga tidak pernah menemukan manusia yang begitu diagungkan manusia karena agamanya…..”

Dalam kitab Tarikh Islam dikatakan,” Beliau adalah Syaikh Syaikh Abu Muhammad Muhiyuddin wa sunah (pembaharu agama dan sunah) Abdul Qadir bin Abu Shaleh Abdullah bin Jinka Dusat Al-Jilli Al-Hambali. Beliau adalah seorang Zuhad (asketik) dan memiliki berbagai karamah.serta menduduki berbagai maqam. Beliau adalah penghulu para ahli fiqih dan sufi, imam pada masanya dan qutb zamannya. Syaikh para Masayikh pada waktu itu dan tak ada yang dapat menandinginya”. Di akhir data pribadi beliau dalam kitab tersebut dinyatakan,”Syaikh Abdul Qasir Al-Jailani adalah penghulu dalam amal maupun ilmu. Validitas karamah yang dimilikinya tidak diragukan lagi dan tidak tertandingi oleh generasi setelahnya”.

Masih berkenaan dengan diri beliau disebutkan dalam kitab Sirrah An-Nubala ,”Beliau adalah imam yang alim dan Zuhud, dalam pengatahuannya dan pantas diteladani, syaikh Islam, mahkota para sufi, yang membangkitkan sunnah dan menghancurkan bid’ah, penghapal hadist Kakeknya ; Rasululloh SAW., penghulu para wali, Syaikh Muhiyuddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Shaleh Al-Jilli Al-Hambali. Beliau adalah Syaikh Baghdad sekaligus juru selamat mereka”.

Dalam kitab Al-‘Ibr dinyatakan ,”Syaikh Abdul Qadir bin Shaleh bin Jinka Dusat Al-Jilli adalah syaikh Baghdad, zahid, syaikh zamannya dan teladan golongan ‘arif (wali), pemilik berbegai karamah dan maqam, guru mazdhab Hambali dan pembaharu agama…….”.

Al-Hafidz Abu Sa’id Abdul Karim bin Muhammad bin manshur As-Sam’ani dalam kitab tarikhnya,”Abu Muhammad Abdul Qadir bberasal dari Jilaan. Beliau termasuk salah seorang imam madzhab Hambali pad masanya dan pembaharu agama. Beliau adalah seorang pemikir, selalu berdzikir dan lembut hatinya. Aku belajar kepada beliau”.

Nuhibuddin Muhammad bin Najjar berkata,”beliau adalah Syiakh Abdul Qadir bin Abi Shaleh bin Jinka Dusat Az-Zahid adalah seorang penduduk Jilan, salah seorang imam kaum Muslilmin, pemilik berbagai karamah. Disebutkan bahwa beliau memasuki Baghdad tahun 488 H pada usia 18 tahun. Kemudian beliau menyibukkan dirinnya dengan mempelajari hokum ushul dan furu’nya, perbandingan madzhab, mendengarkan hadits dan benyak memberikan ceramah. Kemudian beliau menyendiri, berkhalwat , berkelana dan menjalani mujahadah berat, berjuang melawan hawa nafsu, membiasakan diri untuk terjaga malam dan lapar, berdiam di belantara dan padang-padang pasir. Beliau belajar Thariqah kepada Syaikh Hammad Ad-Dabbas Az-Zahid lalu Allah menampakkan beliau kepada seluruh makhluk yang kemudian diterima oleh kalangan awam maupun khas.

Al-Hafidz Zainuddin bin Rajab berkata dalam kitab Thabaqat karangannya ,”beliau adalah Abdul Qadir bin Abi Shaleh bin Jinka Dusat bin Abi Abdullah AL-Jilli Al-Baghdadi, Syaikh zamannya, Al-‘Alamah waktunya, teladan para aarif,sultan para syaikh, penghulu ahli thariqah , pembaharu islam….. ketika muncul,beliau langsung diterima semua orang tanpa kecuali. Berbagai karamah dan kondisi spiritual langsung menjadi tenar. Banyak orang yang dating menziarahinya dan belaiu disegani oleh para khalifah,menteri dan para bangsawan”.

Al-Qadhi Qudhah (kepala Qadhi Muhibuddin) AL-Alimi dalam kitab Tarikhnya mengungkapkan ,”Sayyidina Syaikkh Abdul Qadir Al-Jilli adalah seorang imam madzhab Hambali pada masanya. Beliau mengarang kitab Al-Ghunyah li tholab Al-Haq dan kitab Futuh Al-Ghaib.

Imam Al-Hafidz Abu Abdullah Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Bazar Al-Asybali dalam kitab Masayikh baghdadiyah karangan Rasyid bin Muslamah menyatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah seorang Imam Madzhab Hambali sekaligus Syafi’I di Baghdad. Beliau diterima di semua tingkatan, awam, par fuqaha maupun para sufi. Beliau adalah salah satu pilar Islam dan bail orang awam maupun khas mendapatkan banyak manfaat darinya. Beliau adalah orang yang makbul do’anya, mudah menguucur air matanya,lembut hatinya sserta cerdas. Beliau juga memiliki karakter yang baik dan juga akhlak mulia , sering tenggelam dalam ibadah dan ijtihad melawan hawa nafsunya.

Ibrahim bin Sa’ad Ad-Daari berkata,” beliau Syaikh Abdul Qadir, memakai pakaian Ulama , menaiki untanya dan naik ke atas mimbar. Ucapannya mengalir jelas dan jernih. Apabila beliau memerintahkan sesuatu perintah tersebut akan segera terlaksana dan jika hati yang keras melihat beliau niscaya hati tersebut akan menjadi lembut.”

Al-Hafidz Imamuddin bin Katsir berkata dala kitab Tarikhnya ,”Syaikh pembaharu sunah dan agama ; Abdul Qadir bin Shaleh Abu Muhammad Al-Jilli bergelut dengan sunah segera setelah beliau tiba di Baghdad. Beliau memiliki perhatian terhadap Hadits, fiqih, nasehat dan ilmu hakikat. Beliau sangat menghormati kebaikan, selalu menyerukan amar ma’ruf nahi munkar dan melakukannya kepada para sultan,mnteri,khalifah,qadhi,golongan awam maupun khas. Beliau sangat menentang orang-orang zalim ketika berkuasa, yang tidak perduli dengan aturan Allah. Beliau sangat zuhud dan dianugerahi hal-hal supranatural dan kasyaf, (penyingkapan tabir kegaiban). Kesimpulannya abeliau mendo’akan salah satu penghulu para syaikh (wali) qaddasallohu sirruhu wanawwara dhariihatahu (semoga Allah mensucikan rahasianya dan menyinari dadanya).

Setiap malam sang Syaikh selalu menjamu para tamunya. Beliau juga sering bergaul dengan orang-orang faqir dan sangat sabar kepada para penuntut ilmu. Tak pernah beliau menganggap orang yang menghadapnya lebih rendah daripadanya.

Belliau sangat memperhatikan para sahabatnya, menanyai keadaaan mereka dan menjaga kemesraan hubungan dengan mereka, memaafkan kesalahan-kesalahan mereka, dan mempercayai sumpah mereka.

Beliau memiliki gandum hasil mudzarabahnya dengan para sahabatnya di Rustaq yang dipanaen setiap tahun. Dari situlah beberapa orang para sahabatnya menggiling dan membuatkan beliau 4 sampai 5 potong roti yang kemudian diantar kepada beliau ketika hari sudah siang. Roti-roti tersebut kemudian dipotong-potong dan kemudian beliau bagikan kepada yang hadir pada saat itu, sisanya baru beliau makan.

Budaknya,Mudzafar selalu berdiri di pintu rumahnya dengan nampan berisi roti di tangan sambil berteriak, “siapa yang ingin roti, siapa yang ingin makan malam ! siapa yang membutuhkan tempat menginap!”

Jika ada yang memberikan hadiah kepadanya, beliau selalu membagi-bagikan sebagian hadiah tersebut kepada siapa saja yang hadir saat itu. Beliau juga menerima dan menyantap pemberian nadzar seseorang kepadanya.

Al-Alamah Ibnu Najjar dalam tarikhnya meriwayatkan dari Al-Jabi yang menyatakan pernah mendengar Syaikh Abdul Qadir Al Jailani berkata,”telah kuteliti semua amal, tidak ada yang lebih baik dari pada memberi makan dan tidak ada yang lebih mulia daripada akhlak karimah karena sesunggunya gayung (untuk meraih) dunia ada di tangan orang-orang kelaparan tersebut”.

……………..

 

29 September 2006 - Posted by | Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: