بسم الله الرحمن الرحيم

Dermawan dan Murah hati

Alloh SWT berfirman:
ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة
Dan mereka (kaum Anshar) mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu) (QS Al-Hasyr 9)
    A’isyah berkata, bahwa RasuluLloh SAWW bersabda :
السخي قريب من الله تعالى قريب من الناس قريب من الجنة. والبخيل بعيد من الله, بعيد من الناس, بعيد من الجة, قريب من النار. والجاهل السخي أحب الى الله تعالى من العابد البخيل
    Orang yang murah hati dekat dengan Alloh, dekat dengan manusia, dekat dengan surga dan jauh dari neraka. Orang yang bakhil jauh dari Alloh, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang murah hati lebih disukai Alloh daripada orang ahli ibadah yang bakhil.
    Syaikh Abu Ali Ad Daqaq berkata, “Tiada perbedaan bagi lidah ilmu antara kedermawanan dan murah hati. Al-Haqq tidak disifati dengan kedermawanan karena ketiadaan pemberhentian. Hakikat kedermawanan adalah ketiadaan pemberian yang memberatkan hati.
    Murah hati bagi suatu kaum menempati tingkatan yang pertama kemudian tingkatan dermawan dan akhirnya tingkatan pengutamaan.
    Orang yang memberikan sesuatu kepada sebagian manusia dan menyisakan sebagian, maka dia adalah orang yang murah hati. Orang yang memberikan sebagian besar miliknya dan menyisakan sedikit untuk dirinya maka dia adalah orang yang dermawan. Orang yang siap menahan panas penderitaan demi untuk mengutamakan orang lain dengan penganugerahan total, maka dia adalah orang yang memiliki keutamaan.
    Syaikh Abu Ali Ad Daqaq menyampaikan ucapan Asma’ bin Kharijah, seorang tabi’in dari Kuffah, “Saya tidak suka memenuhi kehendak seseorang dari tuntutan hajatnya, karena jika dia mulia maka saya akan menjaga kehormatannya, dan jika dia hina, maka saya menjaga kehormatan saya”.
    Dikatakan bahwa Mauriq Al-Ajali sangat halus dalam memasukkan kelembutan kasih sayangnya pada kawan-kawannya. Suatu hari dia meletakkan seribu dirham pada kantong mereka.”Peganglah uang ini sampai saya kembali”.Pesannya. Dia pergi dan tidak lama kemudian ia mengirim seorang untuk menyampaikan pesan, “Engkau halal memakai uang itu”.
Seorang pria dari Manbaj (suatu wilayah dibawah kekuasaan pemerintah Syiria) berjumpa dengan seorang pria dari penduduk Madinah.
“Dari penduduk mana lelaki itu ?” Tanya dia
“Dari Madinah”.
“Telah berkunjung kepada kami seorang pria dari kaummu yang dikenal dengan panggilan Hakim bin Muthalib. Dia memberi kekayaan kepada kami”.
“Bagaimana mungkin, saya tidak pernah datang kepadamu melainkan hanya dengan pakaian jubah sufi”.
“Dia tidak memberi kekayaan kepada kami dengan harta, tetapi mengajari kami kemuliaan, sehingga masyarakat kami kembali saling berbuat memberi kekayaan”.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq bercerita, “Ketika seorang pelayan Khalil menuduh kaum sufi menjalankan ajaran sesat, maka khalifah memerintahkan algojo untuk menangkap dan menghukum mereka dengan hukuman pancung. Sementara Imam Al-Junaid selamat dari tuduhan tersebut karena tertutupi dengan ajaran fikih. Beliau mengajarkan faham mazhab Abu Tsaur, sedangkan yang lainnya seperti Asy-Syahham, An-Nuuri dan beberapa sufi yang lain telah ditangkap dan dibawa ke hadapan algojo. Ketika eksekusi hendak dijalankan, An-Nuuri minta untuk didahulukan. Seorang pemimpin algojo menjadi heran.
“Sadarkah engkau, ketempat mana engkau minta disegerakan ?” tanyanya kemudian.
“Ya”
“Apa yang membuatmu ingin didahulukan ?”
“Saya ingin mengutamakan kehidupan sesaat kepada kawan-kawanku”.An-Nuuri berkata sambiil memasrahkan lehernya untuk segera dipancung.
Algojo itu bingung. Dia tidak bisa mengambil keputusan dan untuk melakukan eksekusi sebagimana yang diperintahkan. Akhlak lelaki yang hendak dipancungnya begitu menawan hatinya. Dia berusaha menyembunyikan berita ini jangan sampai terdengar oleh khalifah, karena itu untuk mengetahui keadan sebenarnya para tawanan itu, maka dia mengembalikan mereka kepada seorang hakim. Hakim yang ditunjuk untuk menangani kasus itupun datang, menemui mereka. Dia mendekati Ali Abu Hasan An-Nuuri lalau menanyakan beberapa masalah fikih dan dijawabnya dengan benar.
“Sesungguhnya Alloh Adalah Zat Yang Disembah. Jika mereka (kaum sufi) menegakkan, maka mereka menegakkan dengan Alloh, jika mereka berbicara, mereka berbicara dengan Alloh”. Jelas An-nuuri. Dia kemudian berdiri dan berjalan sambil bibirnya melantunkan syair-syair ketuhanan sehingga mengucurkan airmata sang hakim. Maka sang hakim itu segera mengirim surat kepada khalifah dan mengatakan, “Jika mereka orang-orang (orang sufi) itu kafir, maka apakah akan ada di permukaan bumi ini seorang yang muslim ?”
Dikatakan, bahwa Ali bin Fudhail jika jika membeli sesuatu, dia melakukannya dari serambi pasar. Seseorang menyarankannya, “Kalau tuan masuk pasar, tentu akan diberi harga murah.” Dia menjawab, “Mereka dekat dengan saya karena mengharapkan manfat dari saya”. Diceritakan, ada seseorang diutus untuk mendatangi sekumpulan pelayan. Lelaki yang mengutusnya itu sedang duduk bersama kawan-kawannya. Dia mengatakan, “Sangat buruk jika saya menjadikan pelayan itu hanya untuk saya, sementara kalian hadir. Saya tidak senang mengkhususkan pelayanan hanya pada seseorang. Kalian semua punya hak dan penghormatan.” Orang-orang yang hadir berjumlah delapan puluh orang, dan setiap seorang didampingi seorang pelayan.
Ubaidilah bin Abi Bakrah pernah kehausan di dalam suatu perjalanan. Dia meminta minum pada seorang wanita yang sedang tinggal di rumahnya. Wanita itupun megeluarkan minuman lalu berjalan kearah pintu dan berdiri di baliknya.
“Menyingkirlah dan biarkan pelayanmu yang mengambilnya,” pintanya dengan halus. “Saya adalah seorang wanita arab yang ditinggal mati pelayan saya dalam beberapa hari.”
Ubaidilah menuruti permintaan wanita itu. Dia pulang dan tidak lama kemudian pelayan UbaidiLlah datang sambil menyodorkan minuman yang diberikan wanita tadi.
“berikanlah 10.000 dirham ini kepadanya”. Pesan Ubaidilah kepada pelayannya setelah meminum air pemberiannya.
“SubhanaLloh, engkau menghina saya ?” Wanita itu marah yang ditujukan kepada Ubaidilah.
“Berikan kepadanya uang 20.000 dirham ini”. Pesannya lagi.
“Saya hanya mohon keselamatan pada Alloh.”
“Wahai pelayan, bawalah uang 30.000 dirham ini kepadanya.” Kata Ubaidilah.
Sebelum pelayan Ubaidilah tiba di pintu, wanita itu telah menutupnya. Dari dalam dia mengumpat, “Celakalah kamu !”
Akan tetapi pelayan itu tidak kehilangan akal. Dia meletakkan uang itu di depan pintu dan ditinggalnya pergi. Wanita itu mengambil dan menyimpannya. Dia tidak pernah menyentuhnya sampai banyak orang yang mengambilnya.
Diaktakan bahwa kedermawanan adalah pemenuhan bisikan hati yang pertama.
Dikatakan pada Qais bin Sa’ad bin Ubadah.” Apakah engkau pernah melihat seseorang yang lebih murah hati daripada anda ?”
“Ya, ketika saya turun ke desa,” Jawabnya. “Saya bertemu pada seorang wanita, lalu suaminya datang. Isteri itu berkata kepada suaminya, “Engkau kedatangan seorang tamu.”
Maka lelaki itu keluar mengambil seekor unta dan menyembelihnya. Esok hari, datang tamu yang lain, dan keduanya melayaninya sebagaimana hari kemarin. Saya heran melihat sikapnya yang aneh itu. ‘Tuan’, sapa saya kepadanya. ‘Saya belum makan apa yang tuan sembelih kemarin melainkan hanya sedikit. Saya pikir tuan tak perlu memotong unta lagi.’ Dia menjawab, ‘Saya tidak akan memberi makan tamu-tamu saya dengan makanan yang sudah menginap satu malam.’ Saya tinggal di rumahnya selama dua atau tiga hari, sementara langit masih mencurahkan hujan dan dia tetap memperlakukan tamu-tamnya seperti itu. Ketika saya hendak berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, saya meletakkan uang 100 dinar di rumahnya tanpa sepengetahuannya. ‘Terimakasih dan maafkan segala kesalahan saya. Saya hendak melanjutkan perjalanan,’ Kata saya kepada tuan rumah, kemudian sayapun berangkat. Ketika matahari telah naik setingi beberapa tombak, tiba-tiab saya dikejutkan oleh suara lelaki yang berteriak-teriak di belakang saya. ‘Berhentilah hai musafir hina ! Engkau telah memberiku harga pelayananku pada tamu-tamuku !’ Dia berkata dengan nada sengit. Dia tetap mengejarku sampai kudanya sejajar denganku dan kemudian menghadang di depanku. ‘Ambil uang itu’. Katanya memerintah. ‘Jika tidak, maka engkau akan saya tikam dengan pisau ini’.
Sayapun mengambil dan berpaling melanjutkan perjalanan sambil mendendangkan syair :
Jika saya mengambil pahala
Yang telah saya berikan padanya
Maka cukup dengan demikian
Bagi orang yang memperkeruh
Ahmad bin Atha Ar-Ruzabari masuk rumah salah seorang sahabatnya. Namun dia tidak menemukan tuan rumah. Penghuninya pergi sementara pintunya tertutup. Dai berfikir, tuan rumah ini mengaku orang sufi, tetapi mengapa pintu rumahnya tertutup.
“dobrak dan pecahkan pintunya.” Perintahnya.
Kemudian dia bersama muridnya mengumpulkan semua yang ada di dalam rumah , kemudian membawanya ke pasar dan menjualnya. Lalu dia dan muridnya kembali ke rumah itu dan tinggal di dalam rumah tersebut. Ketika pemilik rumah tiba, dia tidak berkata apa-apa selain diam, kemudian menyusul isterinya. Dai masuk rumah dengan mengenakan baju yang bagus. Baju itu kemudian dilepaskan sambil berkata, “wahai orang-orang yang tinggal di dalam rumah, baju ini juga termasuk harta benda yang harus disingkirkan, maka juallah”.
“Mengapa engkau memberatkan dirimu dengan pilihanmu ini, “tegur suaminya.
“Diamlah, seperti inilah, syaikh ini telah menyadarkan kita dan menghukum kita. Masih ada milik kita yang harus kita hinakan.”
Suami isteri itu diam menekuri hidupnya.
Bisyr bin Harits mengatakan, “Memandang pada orang yang bakhil dapat mengeraskan hati.” Dikatakan ketika Qais bin Sa’id bin Ubadah sakit, maka teman-temannya menangguhkan untuk hadir. Mereka sengaja memperlambat kunjungan. Qais menanyakan tentang mereka lalu dijelaskan, “Mereka merasa malu tentang hutang mereka yang belum dibayarkan kepadamu”.
“Semoga Alloh menghinakan harta yang mencegah kawanku mengunjungi saya”.
Kemudian Sa’id memanggil seseorang untuk mengumumkan pesannya yang berbunyi : Barang siapa mepunyai tanggungan utang kepada Qais, maka dia telah menghalalkannya. Semenjak pengumuman itu, banyak pengunjung yang datang.
Dikatakan pada AbduLlah bin Ja’far, “Engkau memberikan yang banyak jika diminta, dan bakhil dengan yang sedikit jika dicegah”.
AbduLlah kemudian meluruskannya, “Sesungghnya saya memberikan hartaku dan bakhil dengan akalku”.
Dikisahkan bahwa AbduLlah bin Ja’far keluar dan menuju ke pekarangan. Dia turun dari kudanya lalu memasuki kebun seorang tuan tanah. Di dalam kebun itu terdapat seorang budak hitam yang usianya masih remaja. Budak itu bekerja dengan giat seolah-olah tidak mengenal lelah. Ketika waktu makan tiba, seorang suruhan tuannya membawakan makanan kepadanya lalu pulang. Belum sampai ia menyentuh makanan, ada seekor anjing liar masuk kebun dan mendekati budak itu. Budak itu memandangnya sejenak lalu melemparkan makanan itu kepada anjing dan anjing pun segera melahapnya. Dai melempar lagi dan terus melempar hingga jatah makannya habis dimakan anjing. AbduLlah memperhatikan dengan seksama, kemudian dia mendekati budak itu.
“Wahai anak muda, berapa kali sehari engkau dikirimi makanan oleh tuanmu ?” tanya AbduLlah.
“Apa yang ingin engkau lihat ?”
“Mengapa engkau mengutamakan anjing ini ?”
“Ini memang bukan bumi anjing, akan tetapi dia datang dari tempat yang sangat jauh. Dai tentu sangat lapar,dan saya tidak suka menolaknya”.
“Apakah engkau melakukannya setiap hari ?”
“Saya kosongkan perutku dan melipatnya pada hari ini”. Budak itu bermaksud mengatakan bahwa ia sangat lapar.
“Betapa dermawannya budak ini, dia lebih dermawan dari pada saya”. Kata AbduLlah dalam hati. Dia kemudian pergi menuju majikan budak itu, membeli kebun beserta budaknya dan peralatan di dalamnya, lalu memerdekakan budak tersebut sekaligus memberikan kebun itu kepadanya.
Diceritakan ada seorang pria mendatangi kawannya lalu megetuk pintunya dan tuan rumah pun keluar seraya bertanya, “Untuk apa engkau mendatangiku ?”
“Untuk 400 dirham yang engkau hutangkan kepadaku”.
Tuan rumahpun kemudian masuk, mengambil uang sejumlah yang dibutuhkan tamunya, dan memberikan kepadanya. Setelah tamunya pulang, dai menangis. Isterinya heran melihat sikap suaminya.
“Apakah engkau merasa keberatan dengan memenuhi permintaan tamu itu ” tanya isterinya.
“Saya menangis sampai tidak mengetahui keadaannya sehingga dia datang untuk mengutarakan hajatnya kepada saya”.
Mutarrif bin Asy-Syakhir berkata, “Jika salah seorang dari kalian membutuhkan sesuatu kepada saya, maka sampaikanlah secara tertulis. Karena saya tidak suka melihat hinanya kebutuhan di wajahnya.”
AbduLlah bin Abbas adalah seorang ulama sufi terkenal dizamannya. Seseorang bermaksud menjebaknya dalam permainan kotornya, maka orang itu mendatangi tokoh-tokoh masyarakat sambil meninggalkan pesan, “AbduLlah bin Abbas mengundang kalian pada acara jamuan makan besok pagi.” Orang-orang pun akhirnya datang dan memenuhi ruangan AbduLlah.
“Ada apa ini.”? Tanya AbduLlah heran melihat para tamu yang tidak diundang ikut memenuhi rumahnya.
Kemudian seseorang dari mereka menceritakan, tentang undangan yang disebarkan kemarin. AbduLlah diam. Dia tidak berkata apa-apa selain segera memerintahkan para pelayannya untuk pergi membeli buah-buahan, roti, daging, dan meminta mereka untuk memasaknya dengan baik. Setelah acara selesai, dia bertanya kepada wakil para undangan,”Apakah acara ini harus kami adakan setiap hari ?”
“Ya” jawab mereka.
“Kalau begitu datanglah kalian tiap hari mulai besok.” Pesannya
Ustadz Sahal Ash-Sha’luki ketika datang berwudhu di halaman rumahnya, ada seorang pengemis datang meminta sesuatu dan dia tidak segera mengabulkan permintaannya.
“Sabarlah sebentar sampai saya menyelesaikan wudhu.” Katanya pelan.
Pengemis itupun sabar menunggu.
Ambil bejana dan keluarlah,” kata ustadz.
Dia mengambil dan membawanya pergi. Setelah tahu bahwa pengemis itu telah jauh, Abu Sahal berteriak, “Seseorang telah masuk halaman rumah dan mengambil bejana tempat wudhu.”Orang-orang yang mendengar segera mencari orang yang dituduh mencuri bejana dan mereka tidak menemukannya. Abu Sahal melakukan demikian karena tahu bahwa penghuni rumah seringkali memakinya akibat sikapnya yang berlebihan dalam memberi.
Ustadz Abu Sahal memberikan jubah musim dinginnya kepada seseorang. Kemudian dia pergi mengajar dengan memakai jubah wanita karena memang tidak ada jubah lain selain yang dipakainya. Tidak beberapa lama, datanglah beberapa utusan kenegaran dari persia yang diantara mereka terdapat beberapa tokoh ulama dari berbagai kalangan. Diantra mereka adalah ulama fikih, ulama ahli teologi, dan ulama ahli bahasa. Abul Hasan, si pemmpin rombongan menyodorkan surat yang isinya meminta ustadz untuk menghadap ulama pemerintah. Ustadz kemudian masuk ke dalam lalu kemudian keluar dengan memakai baju besi yang melapisi jubah wanitanya lalu berangkat. Begitu tiba di tempat tujuan, sang imam menyindir,”Dia sebenarnya sengaja menganggap enteng kami, seorang imam negara, dengan memakai baju besi yang dilapsisi jubah wanita.” Kemudian diskusi kenegaraan pun dimulai. Mereka membahas berbagai masalah hukum. Masing-masing ulama saling melemparkan pendapat dengan argumen yang berbeda. Tetapi, tidak satupun pendapat yang bisa menandingi pendapat sang ustadz. Pendapat ustaz mengungguli semua disiplin ilmu yang dikuasai para ulama yang hadir dalam diskusi tersebut.
Syaikh AbduRrahman As-Sulami berkata, “Ustaz Abu Sahal tidak pernah memberikan sesuatu kepada seseorang dengan tangannya selain melemparkannya terlebih dahulu ke tanah supaya seseorang yang membutuhkannya mengambilnya sendiri. Ketika ditanya dia menjawab,”Dunia lebih sedikit menkhawatirkan saya daripada yang saya lihat pada keagungan tangan di atas daripada tangan di bawah. RasuluLloh SAWW bersabda :
اليد العليا خير من اليد السفلى
Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Abu Murtsid adalah seorang dermawan yang mulia, pernah mendapat pujian dari seorang penyair. Ketika pujian itu diperdengarkan di hadapannya, dia berkata,” Saya tidak mempunyai sesuatu yang dapat saya berikan kepada tuan. Akan tetapi tuan bisa mengajukan saya di hadapan hakim dengan tuduhan mencuri uang tuan sebesar 100.000 dirham. Saya akan mengakui tuduhan itu. Dengan demikian hakim akan memenjarakan saya dan tentunya keluarga saya tidak membiarkan saya dipenjara. Mereka akan menebus saya dengan memberikan uang ganti rugi kepada tuan,”
Penyair itu benar-benar melakukan saran Abu Murtsid. Dia akhirnya dipenjara, kemudian dikeluarkan setelah keluarganya memberikan ganti rugi kepada penyair. Abu Murtsid selamat dair penjara dan si penyair mendapat uang 100.000 dirham.
Diceritakan bahwa seseorang meminta sesuatu kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA, lalu beliau memberinya 50.000 dirham dan 500 dinar sambil memberikan pesan,”Bawalah seorang pelayan yang akan meembawakan barang-barang ini untuk anda”. Kemudian dia datang dengan ditemani seorang pelayan dan Hasan memberikan jubbah hijaunya kepada pelayan sambil berkata, “Untuk ongkos pelayan biar saya yang menanggung”.
Dikisahkan tentang seorang wanita yang meminta semangkok madu kepada Al-Laits bin Sa’ad. Lalu dikirimkan kepadanya sekantong besar yang penuh dengan madu. Pelayannya mengingatkan, “Dia hanya meminta semangkok madu.”
“Benar, dia meminta sebatas kebutuhannya, dan saya memberi sebatas kepuasan saya.”
Ada seorang ulama melakukan shalat di masjid Asy’ats di Kufah. Dia memohon kepada Alloh supaya diberi kemampuan membayar hutang. Setelah salam, dia menemukan sepasang sandal dan sepotong baju baru di depannya.
“Apa ini ?” tanyanya kepada seseorang.
“Al-Asy’ats baru tiba dari Makkah dan beliau memerintahkan kepada beberapa muridnya untuk membagikan barang ini kepada semua jama’ah masjidnya.”
“Tetapi saya datang untuk memohon kepada Alloh supaya dibebaskan dari hutang, dan saya bukan termasuk jama’ahnya.”
“Sedekah ini untuk semua yang hadir.” Jelas mereka.
Diceritakan bahwa ketika kematian Imam Syafi’i hampir tiba, dia berpesan, “Datangkanlah seseorang yang akan memandikan jenasah saya.” Pria yang dimaksud adalah orang asing. Lalu disampaikan kepadanya pesan sang imam. Lelaki itu tidak mengerti maksudnya, dan diminta untuk mengingat sesuatu, dan akhirnya menemukan bahwa dia mempunyai hutang 70.000 dirham. Imam Syafi’i meminta pelayannya untuk memberikan uang sejumlah itu kepada pria tersebut. “Inilah mandi jenazah saya”. Kata sang imam.
Diceritakkan juga ketika Imam Syafi’i tiba di Makkah dari kota San’a, dia membawa uang 10.000 dinar.
“Apakah tuan hendak membeli budak ?” taya seseorang
Dia langsung merobohkan kemahnya dan keluar ke pinggiran kota Makkah. Uang yang dibawanya dituangkannya ke tanah dan kepada seriap orang yang datang dia memberinya segenggam uang. Ketika waktu zuhur tiba, dia berdiri lalu menepuk bajunya dan tidak satupun uang yang tersisa di dalamnya.
diceritakan, pada saat hari lebaran, Sary As-Saqthi keluar rumah. Kemudian seorang tokoh masyarakat menerima kunjungannya. Dia menyambutnya dengan hormat, tetapi As-Saqhty membalasnya dengan biasa. Bahkan dia membalas salamnya kurang lengkap.
“Dia seorang pembesar.”Seseorang mencoba mengingatkan.
“Saya tahu”.
“Tetapi mengapa ?”
Lalu dijawab, “Seorang perawi mengatakan,’ jika dua orang islam bertemu maka 100 rahmat dibagi diantara keduanya. Yang 90 bagian bagi untuk mereka yang lebih murah senyum, dan saya ingin dia memperoleh yang lebih banyak.'”
Dikisahkan bahwa khalifah Ali bin Abi Thalib pada suatu hari menangis, lalu ditanyakan kapadanya,”Apakah yang membuat tuan menangis ?”
“Semenjak seminggu saya tidak kedatangan tamu. Saya takut Aloh menghinakan saya”. Jawabnya
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia berkata, “Zakat rumah adalah penggunaannya untuk menerima tamu”.
Mengenai ayat yang berbunyi :
هَلْ أَتَاكْ حَدِيْثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيْمَ الْمُكْرَمِيْنَ
Sudahkah sampai kepadamu cerita tentang tamu Ibrahim (para malaikat) yang dimuliakan ? (QS Adz-Dzariyat 24)
Menurut seorang mufasir pengertiannya adalah pelayanannya kepada mereka dengan dirinya sendiri.
Ibrahim bin Al-Junaid berkata, “Empat hal yang tidak boleh dipandang rendah meski dia seorang amir atau penguasa : berdiri dari majlis untuk menyambut orang tua, melayani tamu, melayani guru yang telah mengajarinya, dan bertanya tentang sesuatu yang belum diketahui.”
Alloh SWT berfirman :
ليس عليكم جناح أنتأكلواجميْعاأوأشتاتاً
Tidak ada halangan bagimu untuk makan bersama mereka atau sendirian.
Menurut Ibnu abbas, RA ayat tersebut mengandung pengertian ketidak bolehan seseoarng makan dengan sendirian, lalu mereka diberi keringanan.
Diceritakan bahwa AbduLlah bin Amir bin Kariz menjamu seorang pria dengan jamuan terbaik. Ketika tamu itu hendak melanjutkan perjalanan, para pelayannya tidak membebaskannya. Lalu hal itu dilaporkan kepadanya, dan AbduLlah menjawab, “Sesungguhnya mereka bermaksud menahannya untuk tidak melanjutkan perjalanan dari kami”.
AbduLlah bin Bakuwaih mendengarkan syair Al-Muttanabi berkaitan dengan hal di atas :
Jika engkau pergi dari kami
Sungguh mereka kuasa
Untuk tidak berpisah dengan mereka
Maka pergi adalah lebih penting.
AbduLlah bin Mubarak berkata, “bermurah hati dari apa yang ada di tangan manusia (tidak tertarik atau iri) adalah lebih utama daripada bermurah hati dengan memberi.
Seorang sufi berkata, “saya masuk rumah Bisyr bin Harits pada hari yang sangat dingin. Dia melepaskan pakaiannya sehingga tubuhnya tampak menggigil kedinginan. “Hai Abu Nashr” sapa saya.” Orang-orang pada musim dingin memakai pakaian rangkap tetapi engkau malah menguranginya.”
Dia menjawab, “Saya mengingat orang-orang fakir yang tidak seperti mereka, sementara saya tidak memiliki sesuatu untuk diberikan kepada mereka selain dengan seperti ini. Karena itu saya berusaha memenuhi hak mereka dengan tebusan diri saya yang saya biarkan kedinginan”.

2 November 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 2 Komentar

Risalah Al Muawwanah 27

Dan wajib bagi kamu memberi nasihat kepada setiap orang islam, dan klimaknya adalah engkau tidak menyembunyikan sesuatu yang engkau lihat, dan mengutarakannya tentang apa yang menjadikan mereka menjadi baik dan menjadi keselamatan bagi mereka sehingga mereka terhindar dari keburukan.

Telah bersabda RasuluLloh SAWW  :

الدين نصيحة

Agama adalah nasihat”.

Dan termasuk sebagian dari nasihat adalah kesamaan sikapmu terhadap mereka ketika mereka ada maupun ketika mereka tidak ada, dan engkau tidak memperlihatkan kepadanya kasih sayang dengan lisanmu lebih dari apa yang tersembunyi di dalam hatimu. Dan diantara nasihat kepada muslim adalah jika engkau diajak bermusyawarah tentang sesuatu hal dan engkau melihat bahwa yang baik itu ada pada sesuatu yang bertentangan dengan kecondongan hati mereka, maka engkau memilih apa yang baik dan tidak memilih apa yang menjadi kecondongan hati mereka.

Dan termasuk hal yang bertentangan dengan penasihatan kepada orang islam adalah adanya rasa dengki terhadap orang islam atas apa yang Alloh berikan kepada mereka dari beberapa keni’matan dan kelebihan. Dan asal dari sifat dengki adalah keberatan hatimu atas ni’mat Alloh yang diberikan kepada hamba-Nya baik itu dalam hal urusan dunia maupun urusan agama. Dan klimak dari dengki adalah engkau berangan-angan hilangnya ni’mat darinya. Telah datang penjelasan di dalam hadits bahwa dengki itu dapat membakar kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu. Dan dengki itu berseberangan dengan kehendak Alloh SWT di dalam kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya, dan seakan-akan orang yang dengki itu berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah meletakkan ni’mat bukan pada tempatnya”.

Dan tidak menjadi bahaya dengan memendam keinginan atas ni’mat yang Alloh berikan kepada hamba-Nya kemudian ia bersungguh-sungguh meminta kemurahan-Nya.

Dan wajib bagi kamu apabila engkau dipuji oleh seseorang dan engkau dapati hatimu tidak menginginkan pujian itu, kemudian orang tersebut tetap memujimu atas kebaikan yang ada di dalam dirimu, maka ucapkanlah :

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى أظْهَرَ الْجَمِيْل وَسَتَرَ الْقَبِيْح

Segala puji bagi Alloh yang telah menampakkan kebaikan dan menutup keburukan.

Dan apabila terlontar pujian kepadamu sementara engkau tahu bahwa engkau tidaklah demikian seperti apa yang mereka pujikan, maka ucapkanlah sebagaimana sebagian ulama salaf berdoa :

اللهمَّ لأ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ وَاغْفِرْ لِى ماَ يَعْلَمُوْنَ وَاجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْن

Yaa Alloh, jangan engkau hukum aku atas apa yang mereka ucapkan, dan ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah kebaikan bagiku atas apa yang mereka sangkakan.

Adapun dirimu, maka janganlah mengeluarkan pujian kepada seseorang kecuali engkau mengetahui bahwa dengan pujian itu akan menjadikan kebaikannya bertambah. atau karena pujian yang engkau ucapkan itu sebagai penghormatan kepada mereka karena kelebihan mereka, yang mungkin tidak engkau ketahui. Maka pujianmu atas mereka adalah untuk mengetahui kelebihan dan keutamaan mereka dengan syarat hatimu bersih dari dusta dan menjaga dari tergelincirnya orang yang dipuji.

Dan wajib bagi kamu apabila ingin memberikan nasihat kepada seseorang, maka jika memungkinkan sampaikanlah dengan cara yang halus dan perkataan yang lembut dan menghindari dengan mempergunakan perkataan yang jelas dan kasar selama masih memungkinkan ucapan yang lembut tadi dapat difahami. Kemudian apabila orang yang dinasihati tersebut mencari informasi tentang siapa yang memberitahu kepada kita perihal dirinya, maka simpanlah dan jangan diberitahukan agar tidak terjadi permusuhan antara dia dengan orang lain. Dan apabila dia mahu menerima nasihat itu, maka memujilah Alloh dan bersyukur kepada-Nya. Dan apabila nasihat kita tidak diterima, maka kembalilah kepada meneliti diri dan hawa nafsumu, dengan mencaci maki diri sendiri.

Dan apabila kamu diberi amanat oleh seseorang maka jagalah amanat itu dengan lebih bersungguh-sungguh dibanding jika engkau menjaga harta yang menjadi  milikmu sendiri

Dan wajib bagi kamu menyampaikan amanah dan takutlah kamu daripada berbuat khianat.

Sungguh telah bersabda RasuluLloh SAWW :

لا ايمان لمن لا أمانة له

Tiada iman seseorang yang tidak memiliki sifat amanah.

Dan wajib bagi kamu untuk berkata jujur / benar dalam ucapan dan menepati janjimu karena mengingkari janji adalah termasuk tanda-tanda sifatnifaq.

Diterangkan di dalam hadits :

Tanda-tanda nifaq itu ada tiga, apabila berbicara berdusta, apabila berjanji dia ingkar, apabila diberi amanat dia berkhianat.

Dan wajib bagi kamu waspada dari sifat riya’ dan suka berdebat karena dua hal tersebut dapat mengeraskan hati dan dapat melahirkan permusuhan. Dan apabila engkau di debat seseorang dan apa yang ia sampaikan itu benar, maka wajib bagi kamu menerima kebenaran itu darinya karena kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti. Atau jika yang disampaikan itu hal yang bathil maka wajib bagimu untuk berpaling darinya, karena yang demikian itu adalah kebodohan. Alloh SWT telah berfirman

واعرض عن الجاهلين

Dan berpalinglah kamu dari orang-orang yang bodoh

27 Oktober 2010 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Risalah Al-Muawwanah 26

Dan takutlah kamu daripada menyakiti hati orang mukmin dengan menolak uluran tangan/kebaikannya, dan hendaklah engkau tahu bahwa apa yang kamu dapatkan melalui perantaraan orang lain tersebut sesungguhnya semua itu hakikatnya dari Alloh  SWT, dan sesungguhnya orang lain tersebut hanya sebagai perantara yang tunduk dan patuh kepada takdir Alloh SWT sehingga dapat menyampaikan kebaikan dari Alloh melalui mereka kepada dirimu.

Dan di dalam penolakan atas pemberian orang lain tersebut terdapat beberapa bahaya besar yaitu bahwasanya kebanyakan orang terbawa perasaan rendah diri kepada orang yang telah menolak pemberian atau kebaikannya. Dan terkadang pula terjadi pada sebagian wanita yang sedang hamil, mereka menolak pemberian, yang demikian ini dimaksudkan untuk memperlihatkan kezuhudan mereka sementara niat hatinya hanyalah untuk mendapatkan posisi atau kedudukan lebih dari orang lain.

Karena alasan inilah sebagian orang ahli hakikat mau mengambil/menerima pemberian orang secara lahiriah kemudian menyedekahkannya secara diam-diam.

Dan diharuskan menolak pemberian dalam beberapa kondisi, bahkan sangat dianjurkan jika engkau mengetahui atau menyangka bahwa apa yang diberikan kepadamu itu adalah sesuatu yang haram, atau engkau menyangka pemberian itu sebagai sedekah untuk kamu sementara kamu berpendapat bahwa engkau bukanlah orang yang pantas dan berhak menerima sedekah itu.

Dan diantara keharusan menolak pemberian adalah jika orang yang memberi tersebut adalah orang zalim yang berlarut-larut dalam kezalimannya, sehingga engkau khawatir apabila engkau menerima pemberian itu maka hatimu akan condong kepadanya. Atau bersangatan persangkaanmu apabila engkau menerima pemberian mereka maka engkau tidak akan dapat menyampaikan kebenaran kepada mereka. Dan termasuk kewajiban untuk menolak adalah apabila enkau mengetahui bahwa maksud pemberiannya itu adalah untuk menyesatkanmu dari jalan Alloh SWT dengan memasukkan rasa senang ke dalam hatimu pada kebatilan atau meninggalkan kebenaran (perkara yang haqq).

Dan termasuk yang dilarang menerimanya adalah dari apa yang diambil oleh hakim dan Amil dan lain sebagainya termasuk juga harta dari pemberian dua orang yang bersengketa atau salah satu dari mereka. Maka semua itu adalah kotor dan haram, maka wajib bagi kamu mengembalikan semua pemberian itu.

Dan takutlah kamu daripada menyakiti orang islam atau menyumpahi mereka tanpa alasan yang benar. RasuluLloh SAWW telah bersabda,

من أذا مسلما فقد أذاني ومن أذاني فقد أذى الله

“Barang siapa yang menyakiti orang islam sesungguhnya ia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang menyakitiku sesungguhnya ia menyakiti Alloh.”

Telah bersabda RasuluLloh SAWW, “Menghardik orang islam adalah perbuatan fasik, dan membunuh orang islam adalah kufur”.

Dan takutlah kamu daripada mela’nati orang islam, atau hewan, atau pembantu atau seseorang karena kondisi yang ada pada mereka meskipun  mereka itu orang kafir kecuali kepada mereka yang sudah jelas kematian mereka dalam kekafiran seperti firaun dan abu jahal, atau kepada mereka yang jelas bahwa rahmat Alloh tidak akan sampai kepada mereka seperti iblis. Dan ketahuilah sesungguhnya la’nat yang dikeluarkan seseorang, maka la’nat itu akan naik ke langit dan pintu langit akan tertutup. Kemudian la’nat itu turun ke bumi dan bumi telah menutup dirinya. Kemudian la’nat tersebut mendatangi apa yang dila’nati, sehingga apabila ia dapati maka ia akan sampai kepadanya, namun jika tidak didapati maka la’nat itu akan kembali kepada orang yang mengucapkan la’nat tersebut.

Dan wajib bagi kamu berdamai dengan orang mukmin berkasih sayang dengan mereka dengan memperlihatkan kebaikan mereka dan menutupi aib mereka.

Dan wajib bagi kamu untuk menyambung tali persaudaraan dengan mereka karena menyambung tali persaudaraan memiliki keutamaan lebih daripada salat sunah dan puasa sunah terlebih lagi antara orang tua dan anak, kerabat. Alloh SWT telah berfirman, “Sesungguhnya orang mukmin adalah saudara maka perbaikilah tali persaudaraan diantara kamu sekalian”.

Dan takutlah kamu merusak persahabatan diantara orang mukmin dengan mengadu domba dan menggunjing keburukan mereka dan lain sebagainya dimana hal itu harus dijauhi karena yang demikian itu besar dosanya bagi Alloh Ta’ala.

Adapun yang dimaksud mengadu domba adalah bahwasanya seseorang menukil perkataan dan disampaikannya kepada orang lain dengan maksud menimbulkan pertengkaran diantara kedua orang tersebut.

Telah bersabda RasuluLlah SAWW : la yadkhullul jannah namaam (Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba). Dan telah bersabda pula RasuluLlah SAWW, “Orang yang paling dimurka Alloh diantara kamu sekalian adalah orang yang merusak tali kasih sayang dengan mengadu domba, yang memisahkan tali persaudaraan, dan menggunjing orang (ghaibah) yaitu menceritakan keadaan seseorang tentang sesuatu yang tidak disenangi oleh orang yang dipergunjingkan baik orang itu hadir ataupun tidak, baik orang yang digunjing tadi mengetahui atau tidak, baik dengan bahasa yang jelas atau isyarat.

Telah bersabda RasuluLloh SAWW :

كل المسلم عل المسلم حرام دمه وماله وعرضه

“Bagi setiap orang muslim haram darahnya dan hartanya dan kehirmatannya”

Telah bersabda pula RasuluLloh SAWW

الزنا من اشد الغيبت

“Ghaibah itu lebih berat dosanya daripada zina”

Allah SWT telah member wahyu kepada Nabi Musa AS, “Barang siapa mati dalam keadaan taubat dari ghaibah maka ia adalah orang terakhir yang masuk surge. Dan barang siapa yang mati sebagai tukang ghaibah maka ia adalah orang yang paling awal masuk neraka”

Dan takutlah kamu daripada berbuat aniaya karena sesungguhnya perbuatan aniaya dapat menjadi kegelapan di hari kiyamat, terutama berbuat aniaya kepada hamba Alloh karena yang demikian itu tiada akan dibiarkan oleh Alloh.

Telah bersabda RasuluLloh SAWW, “Sesungguhnya yang menderita kerugian dari umatku adalah mereka yang datang pada hari kiyamat dengan kebajikan yang banyak, dan pula diapun telah melakukan pemukulan demikian….dan menghardik, dan mengambil harta orang lain. Maka diambilkan dari kebaikannya. Apabila amal kebaikannya telah habis, maka diambilkan dari keburukan (orang yang telah dianiaya) dan ditambahkan kepada timbangan kejahatannya kemudian dihalaulah dia  ke dalam neraka”.

Apabila kamu jatuh dalam perbuatan aniaya kepada seseorang, maka segeralah  keluar daripadanya dengan meminta qishas dan meminta halalnya, dan mengembalikan barang yang diambil jika perbuatan aniaya itu berkaitan dengan harta benda.

Telah datang keterangan di dalam hadits, “Barang siapa terdapat perbuatan aniaya atas saudaranya, maka memintalah halal kepadanya sebelum datang suatu hari dimana tidak ada dinar maupun dirham.”

Dan wajib bagi kamu untuk memelihara darah kaum muslimin dan kehormatan mereka dan harta benda mereka baik kerika mereka ada maupun ketika mereka pergi sebagai mana kamu memelihara milikmu, karena barang siapa yang menolong seorang muslim maka Alloh akan menolongnya, dan barang siapa merendahkan orang islam maka Alloh akan merendahkannya.

20 Oktober 2010 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Akhlak

Alloh SWT berfirman :
وانك لعللى خلق عظيم
    Dan sesungguhnya Engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Al-Qalam 4)
    Dari Anas bin Malik diriwayatkan tentang makna “yang paling baik akhlaknya” ditanyakan kepada Nabi SAWW, “Ya rasululLoh, siapakah orang mukmin yang paling utama imannya ?”
    Jawab beliau, “yang paling baik akhlaknya”.
    Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Akhlak yang baik adalah perjalanan hamba yang paling utama. Dengan akhlak yang baik maka cahaya sikap kesatrianya akan Nampak. Manusia yang tertutup (mastur) dari makhluk akan tersingkap akhlaknya”.
    Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Sesungguhnya Alloh mengkhususkan Nabi-Nya dengan apa-apa yang memang hanya dihususkan untuknya. Dia tidak memujinya dengan sesuatu dari sifat-sifatnya seperti yang dipujikan oleh makhluk-Nya. Alloh menegaskan fainnaka la’alla khuluqin adim.
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Sedangkan menurut tafsiran Muhammad Al-Washiti, ayat tersebut bermakna Tuhan mensifati Nabi Muhammad SAWW dengan akhlak yang agung karena beliau adalah manusia terbaik diantara penduduk alam dan cukup dengan pujian Alloh. Dia juga mengatakan, bahwa akhlak yang agung adalah ketiadaan orang yang membantah dan dibantah karena pengetahuannya yang begitu mendalam mengenai Alloh. Makna akhlak yang mulia menurut Husin bin Mansur adalah ketiadaan buih (kesia-siaan) bekas makhluk dalam diri seseorang setelah pencapaian penglihatan pada Al Haqq. Sedangkan menurut Ahmad bin Isa Al Kharaz adalah ketiadaan keinginan atau cita-cita selain yang ditujukan kepada Alloh.
    Menurut Muhammad Al-Kattani akhlak tercermin dalam sikap sufi. Artinya tasawuf adalah akhlak yang menjadi bekal dalam kebersamaanmu dengan Alloh.
    Fudhail bin Iyadh berkata, “Seandainya seorang hamba memperbaiki semua kebaikannya sementara dia mempunyai seekor ayam lalu memperlakukannya dengan tidak baik, maka dia bukanlah seorang yang berakhlak.
    Dikatakan bahwa Ibnu Umar RA jika melihat salah seorang budaknya yang memperbaiki salatnya maka dia memerdekakannya. Akhlaknya yang demikian itu sempat diketahui oleh budak-budak yang lain, maka mereka memperbaiki salatnya dengan menampak-nampakannya di hadapan Ibnu Umar dan Ibnu Umar memerdekakan mereka. Seseorang memprotesnya, “mereka shalat dengan ria” lalu dijawab, barang siapa menipuku didalam Alloh, hakikatnya dia sesungguhnya menipu saya karena Alloh”.
    Harits Al-Muhasibi berkata, “Kami mencari tiga hal yang hilang yaitu eloknya wajah bersama pemeliharaan kesucian diri, bagusnya ucapan bersama amanat, dan bagusnya persaudaraan bersama pemenuhan”. AbduLlah bin Muhammad Ar-Razi berkata, “Budi pekerti adalah sikap yang menganggap kecil pada apa yang berasal darimu, dan menganggap besar dari apa yang berasal dari selain dirimu”.
    Ditanyakan pada Ahnaf bin Qais, “Dari siapa Tuan belajar akhlak ?”
    “Dari Qais bin Ashim Al-Munqiry”.
    “Sampai sejauh mana akhlaknya ?”
    “Ketika kami duduk di rumahnya, tiba-tiba seorang budak wanita datang dengan mebawa besi panas, sebagai alat pemanggang daging. Benda itu lepas dari tangannya dan jatuh menimpa anak laki-laki Qais sehingga menyebabkan kematian-nya. Budak itu sangat ketakutan, tetapi Qais justru menghiburnya dengan megatakan, “Jangan takut, engkau bebas karena Alloh”.
Syah Al-Kirmani berkata, “Tanda akhlak yang baik diantaranya menahan penderitaan dan menangggung siksaan.” RasuluLloh SAWW bersabda, “
انكم لن تسعواالناس باموالكم فسعواهم ببسط الوجه وحسن الخلق
sesungguhnya kamu tidak akan bisa memuaskan manusia dengan hartamu, puaskanlah mereka dengan kecerahan wajah dan bagusnya budi pekerti”.
Ditanyakan kepada Dzunun Al-Mishri, “Siapakah yang paling menggelisahkan manusia ?”
“Yang paling buruk akhlaknya”.
Wahab mengatakan bahwa tidaklah seseorang yang menjalankan akhlak yang baik selama 40 hari melainkan Alloh SWT akan menjadikan akhlak itu sebagai karakternya.
Firman Alloh SWT berfirm :
وثيابك فطهر
Dan pakaianmu maka sucikanlah”.
    Dikatakan bahwa ada seorang dari jama’ah haji memiliki seekor kambing. Dia melihatnya sedang terpancang di atas tiga tombak.
    “Siapa yang melakukan ini ?”
    “Saya,” Jawab seorang anak budak.
    “Kenapa engkau lakukan ini ?”
    “Untuk menjagamu “. Kata budak itu.
    “Tidak, bahkan untuk menutupi perkaramu. Pergi dan engkau kini bebas.” Jawabnya.
    Ditanyakan kepada Ibrahim bin Adham,”Apakah egkau pernah bahagia di dunia ?”
    “Ya..dua kali”.
    “Apa saja itu ?”
    “Pertama, ketika saya sedang duduk, datang seseorang mengencingi saya. Kedua, ketika saya duduk, datang seseorang dan langsung menampar saya”.
    Adalah Uwais Al-Qarni apabila terlihat oleh anak-anak, maka mereka akan melempirnya dengan batu.
    “Anak-anak, “Sapanya lembut.
    “Jika kalian hendak melampariku dengan batu, saya mohon lemparilah dengan batu-batu yang kecil, agar lutuku tidak pecah sehingga menghalangiku dari mengerjakan shalat”.
    Ada seorang lelaki bengis mencaci maki Ahnaf bin Qais. Lelaki itu terus mengikutinya sambil mengeluarkan kata-kata kotor sampai dia malu sendiri dan berhenti dari mencaci maki.
    “Wahai kawan ,” Sapa Ahnaf.
    “Jika masih tersisa sesuatu di hatimu, maka muntahkanlah sekarang saja agar para ulama fikih tidak mendengarmu sehingga mereka akan mengadilimu”.
    Ditanyakan pada Hatim Al-Asham,” Apakah tiap orang memiliki tanggungan ?”
    “Ya, kecuali dirinya,” jawabnya.
    Dikisahkan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib RA memanggil seorang budak dan budak itu tidak menyahutinya. Beliau mengulanginya sampai tiga kali dan tetap tidak mendapat respon. Khalifah melangkah mendekat dan melihat budak itu sedang berbaring enak-enakan.
    “Apakah kamu tidak mendengar wahai bujang ?”
    “Mendengar,” Jawabnya ringan.
    “Apa yang membuatmu tidak menyahut ?”
    “Saya merasa aman dari ancaman siksamu, karena itu saya bermalas-malasan.”
    “Pergilah, engkau bebas karena Alloh”. Jawab Khalifah Ali RA.
    Diriwayatkan bahwa Ma’ruf Al Kharqi turun ke sungai Daljah untuk mengambil wudhu. Dia letakkan mushaf dan jubah luarnya, tiba-tiba datanglah seorang wanita dan mengambil dua barang itu. Ma’ruf melihat lalu membuntutinya.
    “Wahai saudariku, “sapanya. “Saya adalah Ma’ruf AL-Kharqi. Anda jangan takut sebab anda tidak bersalah. Apakah engkau memiliki anak yang bisa membaca ?”
    “Tidak.”
    “Sudah menikah ?”
    “Belum”
    “Kalau begitu, kembalikan mushaf saya dan ambilah baju itu”.
    Sekelompok pencuri memasuki rumah Syaikh Abu AbduRrahman As-Sulami dengan terang-terangan. Mereka berlagak seolah – olah tidak merasa takut. Mereka mengambil semua apa yang dijumpainya. Abu AbduRrahman mengetahuinya, namun membiarkan mereka pergi dengan begitu saja. Pada hari berikutnya dia keluar dan menemukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus pencurian.
    “Ketika saya melewati pasar,”jelasnya..,”saya melihat jubah saya pada seseorang yang sedang menawarkannya. Saya segera berpaling dan tidak menoleh kepadanya.”
    Ahmad Al-Jariri berkata, “Saya kembali dari Makkah dan segera mendahului Al-Junaid agar dai tidak menyulitkan saya (melayaniku sehingga membuatku sibuk membalasnya). Saya ucapkan salam kepadanya kemudian meninggalkannya dan terus beranjak pulang. Ketika saya shalat subuh di masjid, tiba-tiba dia berada di shaf belakang saya. Selesai shalat, saya berkata kepadanya, “Kemarin saya mendahuluimu supaya engkau tidak menyulitkan saya”.
    Dia menjawab, “Itu adalah keutamaanmu dan ini adalah hakmu”.
    Abu Hafsh pernah ditanya mengenai akhlak lalu dijawab, “Akhlak adalah apa yang dipilihkan Alloh SWT untuk Nabi-Nya sebagaimana yang tertulis di dalam firman-Nya :
خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهاين
    “Jadilah pemaaf, dan suruhlah orang berbuat kebajikan, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”.
    Disamping itu, banyak pendapat yang memberikan makna akhlak dalam beberapa pengertian. Ada yang mengartikan sebagai keberadaan seseorang yang dekat dengan manusia dan disertai keterasingannya dengan hal-hal yang berlaku di tengah-tengah kehidupan mereka. Ada juga yang mengartikan sebagai penerimaan sesuatu yang mendatangi dari kesia-siaan makhluk dan kepastian Al-Haqq, tanpa merasa jemu dan gelisah.
    Abu Dzar Al-Ghifari datang ke kolam hendak mengambil air untuk air minum untanya. Akan tetapi sebagian pengambil air yang lain menyerobotnya dengan kasar. Abu Dzar hanya bisa memandang , lalu duduk kemudian berbaring. Seseorang yang melihatnya heran dan bertanya, kemudian dijawab, “Sesungguhnya RasuluLloh SAWW memerintahkan kita jika seseorang marah, maka hendaknya ia duduk. Jika dengan duduk tidak juga hilang, maka hendaklah ia berbaring”.
    Disebutkan di dalam kitab injil, “Hamba-Ku, ingatlah Aku ketika engkau marah, maka Aku akan mengingatmu ketika Aku marah”.
    Luqman bertanya kepada anaknya,” Tidak akan diketahui tiga hal kecuali dalam tiga hal : Kasihan ketika marah, keberanian ketika dalam perang, persaudaraan ketika dibutuhkan”. Nabi Musa AS pernah mengadu kepada Alloh SWT, “Tuhan saya memohon kepada Engkau untuk mengatakan kepadaku apa yang tidak ada pada diriku”. Alloh mewahyukan kepadanya, “Engkau tidak melakukan demikian untuk-Ku, maka bagaimana Saya memperlakukanmu ?”
    Yahya bin Ziad Al-Haritsi memilki seorang pelayan yang sangat buruk akhlaknya. Tetangganya heran lalu menanyakan kepadanya, “Mengapa engkau pertahankan pelayan itu,”
    “Supaya saya bisa mengajarinya sifat asih,” Jawabnya.
    Firman Alloh SWT :
    واصبغ عليكم نعمه ظاهراوباطنا
    “dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya yang lahir maupun yang bathin”.
    Dalam ayat ini terkandung pengertian bahwa nikmat lahir adalah kelurusan akhlak, sedangkan nikmat bathin adalah kejernihan budi pekerti. Al Fudhail bin Iyadh mengatakan, “berkawan dengan orang durhaka yang berakhlak baik lebih saya sukai daripada berkawan dengan orang ahli ibadah yang berakhlak buruk”. Dikatakan bahwa akhlak yang baik adalah kemampuan memikul sesuatu yang dibenci dengan menggantinya dengan kebaikan yang ia tebarkan.
    Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin Adham keluar melewati segerombolan tentara. Seseorang dari mereka menemuinya dan berkata, “Dimana tempat hiburan ?” Ibrahim menunjuk ke arah kuburan. Wajah tentara itu memerah. Dia tersinggung dan langsung memukul kepada Ibrahim. Setelah dia pergi, seseorang memberitahukan tentara itu bahwa yang dipukulnya adalah Ibrahim bin Adham seorang ulama sufi yang zuhud yang berasal dari khurasan. Tentara itu terkejut dan ia menyesali perbuatannya dan langsung pergi menyusul Ibrahim.
    “Tuan maafkanlah saya, saya menyesal telah memukul tuan”
    “Ketika engkau memukul saya.” Kata Ibrahim, “Saya memohonkan kepada Alloh surga untukmu”.
    “Mengapa ?”
    “Saya tahu bahwa saya memasukkan perangkap terhadapmu. Saya tidak ingin mendapatkan bagianku yang baik darimu dan bagianmu yang buruk dariku”.
    Diceritakan bahwa Said bin Ismail Al-Hirri diundang seorang laki-laki untuk jamuan makan. Ketika sampai di depan pintu rumahnya, lelaki itu berkata, “Wahai Ustaz, bukan sekarang waktunya. Saya menyesal tidak bisa mengabarimu terlebih dahulu”.
    Abu Said pulang, dan sebentar kemudian kembali lagi. Ketika tiba didepan pintu, tuan rumah buru-buru keluar sambil menyapa,”Maaf Ustaz, undangan belum dimulai. Saya menyesal belum sempat mengabari ustaz. Datanglah sejam kemudian”.
    Abu Said berdiri mohon pamit kemudian pergi. Pada saat yang dijanjjikan tiba, dia berangkat dan ketika sampai di depan pintu, ia memperoleh jawaban yang sama sepeti semula. Dia pulang, datang lagi dan kembali pulang sampai bebeapa kali. Lelaki itu kagum menyaksikan ketabahan Abu Said. Dai menyesali sikapnya.
    “Wahai Ustaz, saya hanya ingin mengujimu,” Kata lelaki itu seraya menyambutnya dengan rasa hormat.
    “Jangan kau memujiku atas dasar perilakuku yang kau teukan seperti anjing. Anjing jika dipanggil dia datang, dan jika dicegah dia pergi.” Abu Said kemudian pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
    Abu Said ketika melewati sebuah gang besar, seseorang menumpahkan abu kotor dari balkon rumahnya. Teman-temannya yang melihatnya marah. Mereka mencaci maki orang yang melempar abu yang kotor tadi.
    “Janganlah kalian mengatakan sesuatu. Barang siapa yang patut mendapat siksaan neraka, lalu menerima lemparan abu itu dengan baik, maka baginya tidak boleh marah”. Katanya.
    Dikatakan bahwa ada seorang fakir yang singgah di rumah Ja’far bin Hanzalah. Ja’far melayaninya dengan baik. Orang fakir itu berkata,”Sebaik lelaki adalah engkau jiak saja engkau bukan orang yahudi”.
    “Akidahku tidak akan menodai apa yang engkau butuhkan untuk dilayani. Mintalah kesembuhan pada dirimu sendiri, sedang diriku butuh hidayah”.
    Diceritakan bahwa AbduLlah seorang penjahit, menenerima jahitan dari seorang Majusi. Setelah selesai, orang majusi tersebut membayarnya dengan uang palsu dan AbduLlah menerimanya. Bertepatan dia hendak keluar karena suatu urusan, majusi tadi datang lagi untuk membayar ongkos jahitan yang kesekian kalinya. Murid AbduLlah yang menerimanya mengetahui bahwa yang diterimanya itu adalah uang palsu maka dia menolaknya. Bahka orang majusi itu diserahkan kepada seorang peneliti uang. Beberapa saat kemudian AbduLlah datang dan bertanya kepada muridnya, “Mana baju majusi itu ?”
    Murid itu menceritakan kepada sang guru apa yang telah terjadi. Tentang kebohongannya, kepalsuannya, penolakannya, dan tindakannya kepada majusi itu.
    “Buruk sekali apa yang telah engkau lakukan !. sudah berapa kali dia memperlakukan saya seperti itu, dan saya sabar menerimanya. Uang palsu itu saya lemparkan ke sumur agar tidak menumbulkan bahaya kepada orang lain.” Tegur AbduLlah.
    Akhlak yang buruk menyempitkan hati pemiliknya karena tidak memperluaskan tempat selain yang dikehendaknya sebagaimana tempat yang sempit yang tidak tidak memberi keleluasaan selain pemiliknya. Akhlak yang baik tidak akan menjadikan engkau berubah sebab karena seseorang yang berdiri di shaf di sampingmu. Sedangkan keburukan akhlak terdapat pada kejatuhan pandanganmu pada keburukan akhalak terhadap selainmu. RasuluLloh SAWW pernah ditanya tentang kesialan lalu dijawab,” Keburukan akhlak”.
    Abu Hurairah RA menceritakan, “Seorang sahabat bertanya”
    “Ya RasuluLloh, mohonkanlah kepada Alloh agar kita dapat menghancurkan orang-orang musyrik.” Beliau menjawab, “Saya diutus untuk menebarkan kasih sayang, bukan siksaan”.

13 Oktober 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

Firasat

FIRASAT
Alloh SWT berfirman :
إنّ في ذلك لآيةٍ للمتوسمين
    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda,(QS Al-Hijr 75)
    RasuluLloh SAWW bersabda, :
اتّقوافراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله
    “Takutlah kalian dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Alloh“.
    Ustadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Firasat adalah suara bathin yang masuk ke dalam hati dan meniadakan kontradiksi. Setiap suara hati memiliki nilai hukum yang menguasai hati. Kata firasat merupakan pecahan dari kata farasa yang mengandung makna menerkam atau memburu.Farisah as-sabu’u memiliki makna terkaman binatang buas. Akan tetapi makna pembandingnya tidak bisa diartikan dalam konteks hati secara apa adanya. Keberadaannya mengukuti kualitas iman. Setiap orang yang imannya lebih kuat, pasti firasatnya lebih tajam.”
    Abu Said Al-Kharaz mengatakan “Barang siapa melihat dengan cahaya firasat berarti dia melihat dengan cahaya Al-Haq. Sumber ilmu yang dipakai memandang berasal dari Al-Haq. Dia dapat melihat dengan tanpa lupa dan lalai. Hukum kebenaran Tuhan mengiringi gerakan lidah. Manusia semacam ini berbicara dengan menggunakan pancaran sinar kebenaran Tuhan. Ucapanya yang menyatakan dia memandang dengan cahaya Al-Haq artinya melihat dengan cahaya yang dikhususkan Alloh kepadanya.”
    Muhammad Al-Washiti mengatakan, “firasat adalah pancaran cahaya yang memancar ke dalam hati, dominasi ma’rifat yang membawa rahasia-rahasia ke dalam hati, dari sesuatu yang gaib menuju yang gaib sehingga dia mampu melihat sesuatumenurut sisi mana Tuhan memandang. Dia bisa berbicara dengan hati makhluk.”
    Abul Hasan Ad Dailami mengatakan, : Saya pernah memasuki kota Antakiya wilayah Turki, karena sebab seorang pria yang berkulit sangat hitam. Menurut kabar yang saya terima, dia bisa berbicara yang sifatnya sangat rahasia. Sayapun tinggal bersamanya sampai dia keluar dari daerah pegunungan Lukam. Sewaktu keluar, dia membawa sesuatu yang mubah yang hendak dijualnya. Sementara keadaan saya sudah dua hari tidak makan apa-apa. Saya lihat apa yang dibawanya bisa dimakan.
    “Berapa hargnya ?” tanya saya.
    Saya membayangkan bisa membeli sesuatu yang berada di tangannya.
    “Duduklah sampai saya selesai berjualan dan memberikan kamu apa yang hendak kamu beli.” Dia memberi saran kepada saya.
    Saya tidak mempedulikan omongannya. Saya biarkan dia menyelesaikan urusannya, sementara saya berjalan ke penjual lain yang saya kira akan menawarkan dagangannya. Akan tetapi penjual itu tidak membutuhkan penawaran saya, sehinga membuat saya harus kembali kepada lelaki hitam tersebut. Saya mengulangi tawaran saya dengan suara yang agak keras,”Jika engkau menjual barang ini, maka katakan pada saya berapa harganya “.
    “Engkau telah kelaparan selama dua hari. Duduklah hingga saya menjual dan memberikan kepadamu apa yang hendak engkau beli.” Dia kembali memberi saran kepada saya. Sayapun akhirnya duduk. Ketika dia menjual dan memberikan sesuatu kepada saya, kemudian dia pergi. Saya penasaran lalu mengikutinya. Dia menoleh kepada saya dan mengatakan,” Jika kamu ditimpa keperluan, maka Alloh pasti menurunkannya kecuali jika nafsumu meminta bagian yang dapat menutupi keterkabulan dari Alloh.”
    Muhammad Al-Kattani mengatakan, “Firasat adalah ketersingkapan keyakinan, kemampuan melihat ghaib, dan dia merupakan bagian dari derajat iman.” Dikatakan, Imam Syafi’i dan Muhammad bin Hasan berada di Masjidil Haram. Kemudian seorang pria measuki masjid. Muhammad bin Hasan mengatakan, “Menurut firasatku dia adalah tukang kayu.’ Namun Imam Syafi’i megatakan, “Menurutku dia adalah seorang tukang besi.” Keduanya lantas mendatangi orang tesebut dan menanyakan statusnya. Lelaki itu menjawab, “Saya sebelum tahun ini memang tukang besi, tetapi sekarang saya bekerja dalam perkayuan”.
    Abu Sa’id Al-Kharraz mengatakan, “Orang yang memiliki sumber adalah orang yang meneliti hal-hal ghaib selamanya dan hal-hal ghaib tidak tertutup dari pandngannya. Tidak ada yang tersembunyi darinya. Dialah gambaran orang yang ditunjukkan Alloh dengan firman-Nya :
لعلمه الدين يستنبطونه منهم
    …tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) (QS An-Nisa 83).
    Orang yang mencari tanda atau firasat adalah orang yang mengetahui tanda. Dai mengetahui sesuatu yang tersimpan dalam kemurungan hati. Kemampuannya didukung dengan petunjuk-petunjuk dan alamat-alamat. Alloh SWT berfirman :
إنّ في ذلك لآيةٍ للمتوسمين
    Sesungguhnya yang demikian ini benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda). (QS Al-Hijr 75).
    Artinya orang-orang yang mengerti apa yang ditampakkan oleh Tuhan dengan berbagai alamat / tanda-tanda. Mereka terbagi menjadi dua golongan : para wali Alloh dan para musuh-Nya. Orang yang mempunyai firasat melihat dengan cahaya Alloh. Demikian itu merupakan pancaran cahaya yang memancar ke dalam hati, sehingga ia dapat melihat berbagai makna atau niali-nilai yang termanifestasikan dalam alam semesta. Hal itu merupakan keistimewaan iman. Kebanyakan mereka adalah Rabbany. Alloh SWT berfirman :
كونوا ربّانيين

    Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbany(QS Ali Imran 79).
    Rabbany artinya para ulama ahli hikmah yang berakhlak dengan akhlak Tuhan dan berpikiran dengan pandangan Tuhan.
Mereka kosong dari pengaruh makhluk, Kecenderungan dari melihat mereka dan kosong dari kesibukan dengan mereka.
    Abul Qasim Al-Munadi, seorang ulama sufi dari Naisabur terbesar di zamannya menderita sakit. Banyak ulama yang menjenguknya, diantaranya Abul Hasan Al-Busanji dan Hasan Al-Hadad. Sebelum tiba ditempat tujuan, keduanya sempat membeli beberapa buah apel di tengah jalan secara kredit. Keduanya kemudian membawanya kepada Abul Qasim. Ketika kedua tamu ini masuk dan duduk di sisi pembaringan. Abul Qasim berkata, ” Kenapa suasana menjadi gelap ?”
    Kedua tamu itu terkejut. Seolah-olah ucapan itu ditujukan kepada mereka berdua. Keduanya gelisah dan kemudian mereka keluar dan bergumam, “Apa yang telah kita perbuat ?” Keduanya mencoba berfirir.
    “Barangkali kita belum membayar penuh harga apel,” Kata mereka. Keduanya lantas pergi ke tempat penjual apel dan melunasi pembayarannya, kemudian kembali ke rumah Abul Qasim. Ketika pandangan beliau jatuh kepada mereka berdua, maka beliau bergumam, “Mungkinkah secepat ini kegelapan yang menyelimuti seseorang keluar darinya. Kabarkan pada saya ada apa yang terjadi pada kalian .”
    Keduanyapun menuturkan kisah tentang apel, tentang harga dan tentang pemenuhan janjinya. Ulama itu diam mendengarkan. Beliau menemukan penyebab kegelapan ruang tidurnya.
    “Memang benar seseorang dari kalian terlalu percaya pada temannya untuk tidak membayar penuh harga apel. Dia percaya dengan kebaikan penjual apel, sementara penjual apel itu malu untuk tidak memenuhi tawarannya. Dia sungkan dan takut berperkara karena sadar bahwa yang dihadapinya adalah ulama. Dia takut menagih. Sedangkan saya adalah penyebab utama. Engkau datang dengan membawa apel karna saya. Itulah yang saya lihat pada diri kalian.”
    Semenjak saat itu, Abul Qasim AL-Munadi masuk pasar setiap ada pelelangan. Dan ketika tangannya menjamah sesuatu yang sekiranya mencukupi harga senilai seperenam hingga setengah dirham, maka dia keluar dan kembali pada pangkal waktunya dan meniti-niti hatinya.
    Husain bin Manshur berkata, “Al-Haqq” Telah menguasai rahasia (hati), maka rahasia-rahasia itu akan menguasainya, mengurusi dan memberitahukan kepadanya rahasia-rahasia itu”.
    Seorang sufi ditanya tentang makna firasat, lalu dijawab, “Beningnya nurani yang berputar-putar di dalam kerajaaan (alam jasad, alam ruhani, dan alam ghaib) sehingga dia dimuliakan dengan kemampuan melihat makna-makna ghaib, berbicara trentang rahasia-rahasia penciptaan dengan pembicaraan yang nyata, dan dia tidak berbicara dengan dugaan atau persangkaan.”
    Dikatakan bahwa antara Zakariya Asy-Syahtani sebelum dia tobat, dan seorang wanita terjalin hubungan asmara. Suatu hari dia menghadap gurunya, Abu Utsman, setelah menjadi salah seeorang murid seniornya. Abu Utsman duduk sambil menekurkan kepalanya, sementara Zakariya duduk bersila di depan gurunya dengan pikiran melayang mengkhayalkan keasihnya. Abu Utsma mengangkat kepalanya dan menatap muridnya. “Mengapa engkau tidak merasa malu ?” tanya gurunya.
    Syaikh Abul Qasim menceritakan kisah awal perjalanan sufinya, dia mengatakan, “Ketika di awal perjumpaan saya dengan ustadz Abu Ali, beliau mengikat saya dalam suatu acara di majlis ta’lim di masjid Al-Mathuraz. Saya meminta izin beliau untuk keluar sebentar ke kota Nasa dan beliau mengizinkannya. Kemudian saya berjalan bersamanya. Di tengah jalan menuju majlis ta’lim, hati saya berbisik,”Sekiranya beliau mau menggantikan saya di majlis selama saya tidak ada…’ belum selesai hati saya berbicara, Ustadz Abu Ali menoleh dna mengatakan kepda saya, “Saya akan menggantikanmu selama kamu tidak ada.: Kemudian kami berjalan, “hati saya kembali berbisik, “seandainya beliau sakit dan mengalami kesulitan untuk menggantikan saya selama dua hari dalam seminggu atau paling tidak sekali seminggu.’ Tiba-tiba beliau menoleh kepada saya dan mengatakan, “Jika tidak mungkin menggantikan kamu dua hari seminggu, paling tidak saya akan menggantikanu seminggu sekali.” Kami kembali berjalan dan ketika hati saya berbisik lagi dengan hal yang lain, beliau juga menoleh dan memberitahukan kepada saya apa yang telintas di hati saya”.
    Syah AL-Kirmani seorang ulama yang terkenal memiliki ketajaman firasat mengatakan, “Barang siapa yang mengatupkan pandangannya dari sesuatu yang haram, mencegah dirinya dari syahwat, menetapi bathinnya dengan keabadian perasaan diawasi Alloh, meneguhkan zahirnya untuk tetap mengikuti sunah RasuluLloh SAWW, dan membiasakan makan halal, maka firasatnya tidak mungkin salah”.
    Abul Husin An-Nuri pernah ditanya, “dari mana firasat orang-orang yang ahli firasat itu lahir ?”
    :Dari firman Alloh yang berbunyi :

وَنَفَحْتُ فيْهِ روْحيْ

    Dan Kami tiupkan Ruh-Ku ke dalamnya (QS Al-Hijr 29)
    Barang siapa cahayanya lebih sempurna maka kesaksian hukumnya lebih tepat. Hukumnya dengan penglihatan firasatnya lebih benar. Mengapa kamu tidak melihat bagaimana peniupan ruh itu menjadikan keharusan sujud kepada-Nya ? Firman Alloh SWT :

فإذاسَوَيْتُهُ وَنَفَحْتُ فِيْهِ مِنْ رُوحِيْ فقعُوا لَهُ ساجدين

    Ketika Aku sempurnakan penciptaannya, dan aku tiupkan ruh Ku ke dalamnya, maka mereka bertiarap sujud kepadanya (QS Al-Hijr 29)
    Uatadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Tafsiran berikut ini dari Abul Hasan An-Nuri yang menerangkan bahwa ayat teersebut mengandung kesamaan pengertian dengan penyebutan peniupan roh, bukan pembenaran seseorang yang mengatakan dengan pijakan kaki ruh, dan tidak sebagaimana ruh yang menyinari hati orang-orang yang lemah.jika benar baginya peniupan, penyambungan dan pemisahan, maka dia adalah orang yang menerima pengaruh dan perubahan. Itulah diantara beberapa ketinggian sesuatu yang baru. Alloh SWT telah mengkhususkan orang-orang mukmin dengan penglihatan dan cahaya yang dengan cahaya itu mereka berfirasat. Pada hakikatnya hal ini merupakan pengetahuan yang didasarkan sabda RasuluLlah SAWW, ” Sesungguhnya Dia melihat dengan cahaya Alloh”. Artinya dengan ilmu dan penglihatan yang dikhususkan kepadanya. Dia diistemawakan Alloh dengan kedua anugerah tersebut dan dipisahkan dari yang bukan bentuk-bentuknya. Penamaan ilmu dan penglihatan dengan istilah cahaya adalah bukan sesuatu yang diada-adakan. Sifat demikian itu tidak dijauhkan dengan penipuan karena maksud dari ayat tersebut adalah penciptaan.”
    Husain bin Manshur mengatakan, orang yang punya firasat adalah orang yang menembakkan kebenaran dengan lemparan pertama menuju sasaran yang tepat. Dia tidak condong kepada penafsiran, persangkaan dan dugaan.” Dikatakan, firasat para murid masih pada taraf persangkaan, yang megharuskan peningkatan pada tataran pemastian. Sedangkan firasat para ahli ma’rifat adalah berada pada tataran pemastian yang mengharuskan pada tataran kepastian.
    Ahmad bin Ashim Al-Anthaki mengatakan, “Jika kalian duduk bersama-sama orang yang ahli kebenaran, maka duduklah dengan kebenaran karena mereka adalah para mata-mata (spionase) hati. Merekad dapat memasuki hati kalian dan keluar dari hati kalian tanpa kalian sadari.” Abu Ja’far Al-Hadad mengatakan,” Firasat adalah awal bisikan hati dengan tanpa penentangan. Jiak timbul penentangan dari jenisnya, maka dia hanyalah sekedar lintasan dan bisikan nafsu.”
    Abu AbdiLlah Ar-Razi ketika singgah di Naisabur mengalami pengalaman sufi yang menarik. Dia mengatakan, “Ibnul Ambari pernah mengenakan pada saya pakaian yang terbuat dari bulu domba. Ketika itu saya melihat di kepala Dalf Asy-Syibli terdapat topi manis yang diikat dengan kain wol. Saya berbisik dalam diri saya, ‘alangkah baiknya jika kedua hiasan tersebut berkumpul pada diri saya.’ Ketika Asy-Syibli berdiri dari duduknya, dia menoleh kepadaku dan saya mengikutinya. Biasanya jika saya ingin mengikutinya, dia pasti menoleh kepadaku terlebih dahulu, namun kali ini tidak. Dai langsung berjalan dan masuk ke rumah tanpa memperhatikan saya.
    “Lepaskan kain bulu itu.” Perintahnya.
    Sayapun melepaskannya. Dia kemudian dia melipat kain itu, lalu menggabungkannya dengan topi dan memerintahkan seseorang untuk membakarnya.”
    Abu Hafs An-Naisaburi megatakan, “Tidak patut bagi seseorang mengaku memiliki firasat yang tajam sementara dia takut pada firasat orang lain karena Nabi SAWW pernah bersabda,”Takutlah kalian pada firasat orang mukmin”. Beliau tidak mengatakan “Berfirasatlah”. Maka bagaimana mungkin sah firasat seseorang sementara dia masih takut di maqam firasat.”
    Ahmad nin Masruq mengatakan, “Saya memasuki rumah seorang laki-laki yang sudah lanjut usia. Dia adalah satu diantara kawan-kawan kami. Saya memangilnya tetapi tidak mendapat sahutan. Sayapun masuk ke dalam dan mendapatinya dalam keadaan setengah lemah. Saya bergumam dalam hati,”Dari mana dia mendapat pertolongan, sementara dia adalah orang yang sudah sangat tua ?” Tiba-tiba dia menyahut, “Hai Abul Abas, tinggalkan bisikan hatimu yang busuk itu. Sesungguhnya bagi Alloh ada kelembutan yang sangat samar.”
    Az-Zubaidi mengatakan, “Saya bersama sekumpulan orang fakir tinggal beberapa lama di masjid Baghdad. Dalam beberapa hari kami tidak mengkonsumsi apa-apa. Sayapun mendatangi Ibrahim AL-Khawash untuk meminta sesuatu. Ketika pandangannya mengarah kepada saya, dia menyindir,’ Kebutuhan yang menyebabkan engkau datang kepada saya karenanya, apakah Alloh mengetahuinya atau tidak ?’
    “Ya.”
    ‘Kalau begitu diamlah dan jangan menampakkannya pada makhluk.’
    Saya akhirnya kembali ke Masjid dan berkumpul dengan orang-orang fakir. Kami diam, pasrah di hadapan Alloh dan tidak berapa lama, kami dibukakan rizki yang melebihi dari cukup.”
    Diceritakan,Sahal bin AbduLlah suatu hari tertimpa kelaparan. Dia mencoba berjalan tetapi jatuh. Rasa lapar dan penderitaan yang membuatnya tidak mampu bertahan hingga ia tergeletak di serambi masjid. Akan tetapi ia masih sempat berpesan, “Jika Syah AL-Kirmani mati pada hari ini atas kehendak Alloh, maka tulislah hal ini dan kirimkan kepadanya.” Waktupun berjalan dan apa yang difirasatkan itu benar terjadi.
    Ketika Abu AbdiLlah At-Turghandi seorang ulama besar di zamannya pergi ke kota Thus dan ketika sampai di daerah Kharwa, dia berkata kepada muridnya, “Belilah roti”.
    Daipun berangkat dan tidak lama kemudian kembali dengan membawa roti yang cukup dimakan untuk dua orang.
    “Belilah yang lebih banyak” pintanya lagi.
    Murid itupun berangkat dan membeli roti yang sekiranya cukup dimakan oleh sepuluh orang. Dai memang sengaja membeli lebih, tetapi tidak tahu apa maksudnya. Dia hanya berfikir bahwa perintah ini adalah perintah yang terakhir. Ketika keduanya melanjutkan perjalanan dan naik ke atas gunung, mereka dikejutkan oleh sekumpulan orng-orang yang ditawan para penyamun. Kaki dan tangan para tawanan itu dalam keadaan terikat. Kondisi mereka sangat tragis dan sudah beberapa hari tidak makan. Mereka meminta makanan kepada kedua orang tersebut.
    “Berikan makanan itu kepada saya,” pinta Abu AbdiLlah kepada muridnya.
    Ustadz imam Al-Qusyairi menuturkan kisah sufinya. “Ketika saya bersama Uastadz Abu Ali Ad-Daqaq” kisahnya..maka pengajian Syaikh Abu AbduRrahman As-Sulami sedang berlangsung. Dia sebenarnya lebih senang mendengar sambil memenuhi keluhan orang-orang fakir dari pada berbuat yang tidak jelas arahnya. Dalam keadaan yang sama, Ustadz Abu Ali juga mengatakan seperti apa yang dikatakan Syaikh Abu AbduRrahman . barang kali diam lebih utama baginya. Kemudian dalam majlis tersebut Ustadz berkata, “Pergilah kesana, engkau akan mendapati dia sedang duduk di ruangan perpustakaan pribadinya. Di dalam perpustakaan itu terdapat beberapa jilid buku sampul merah yang salah satunya berbentuk segi empat ukuran kecil yang di dalamnya terdapat tulisan beberapa syair Husin bin Manshur. Ambilah dan bawa kemari jilid yang ada syairnya dan jangan berkata apa-apa kepadanya.’
    Ketika itu matahari berada di pertengahan langit . saya berangkat di tengah terik matahari, kemudian masuk dan di dalam perpustakaan saya menjumpai Syaikh AbduRrahman dan buku-bukunya sebagaimana yang disebut ustadz. Ketika saya duduk, Syaikh mengucapkan sesuatu,’Sebagian orang mengingkari salah seorang ulama yang gerakannya ada dalam diamnya.’ Orang itu saya lihat sendirian di dalam rumah sambil berjalan berpuar-putar seperti orang yang dimabuk asmara, seperti inilah keadaan mereka.” Katanya kemudian.
    Ketika saya merenungkan apa ang diperintahkan Ustadz Abu Ali kepada saya dan beberapa gambarannya, kemudian membandingkannya dengan penjelasan-penjelasan syaikh AbduRrahman, saya menjadi bingung.’Bagaimana saya harus menyikapi dua hal ini ?” keluh saya. Sayapun berusaha berfikir dan memecahkannya tentang diri saya tersebut. Saya akhirnya berkata pada diri saya sendiri, “Tidak ada arah kecuali kebenaran. Ustadz memberi gambaran kepada saya tentang beberapa jilid buku dan perintahnya kepada saya untuk membawa buku-buku tersebut kepadanya tanpa harus meminta izin kepada pemiliknya. Saya sangat segan kepadanya dan tidak mungkin menentang perintahnya. Lantas untuk apa dia memerintahkan saya demikian ?
    Akhirnya saya mengeluarkan seperenam dari karangan Husin bin Manshur. Belum sempat berfikir macam-macam, syaikh AbduRrahman berkata kepada saya, “Bawalah lembaran itu kepadanya dan katakan kepadanya, sesungguhnya saya telah mempelajari jilid itu dan saya telah menukil beberapa syairnya ke dalam karangan saya.” Kemudian saya berangkat pulang.
    Diriwayatkan dari Hasan Al-Hadad yang mengatakan, “Saya bersama Aul Qasim Al-Munadi ketika ia bercengkerama bersama orang-orang fakir. Saya duduk bersama mereka, sampai Abul Qasim meminta saya mencari sesuatu. “Keluar dan bawalah sesuatu untuk mereka!’ Saya sangat senang mendapat tugas ini karena bisa melayani orang-orang fakir. Saya mendatangi mereka dengan sesuatu setelah memenuhi kebutuhan saya. Saya masuk kedalam rumah untuk mengambil keranjang, lantas keluar. Ketika melewati lorong jalan besar yang penuh dengan deretan para saudagar, saya dikejutkan oleh syaikh yang tiba-tiba berada di situ. Wajahnya tampak berseri-seri. Saya sampaikan salam kepadanya kemudian bertanya, “Orang-orang miskin saya pikir masih di majlis tuan, apakah tuan sudah punya sesuatu untuk menjamu mereka ?”
    Dia diam sebentar kemudian menunjukkan kepada saya roti, daging dan anggur. Ketika saya sampai di pintu, dia mendekati saya, dari arah belakang pintu dan mendorongnya pada tempat dimana saya memasukinya. Sayapun kembali dan meminta maaf kepada syaikh. Saya tidak menemukan mereka. Saya pikir mereka berpencar. Saya menyampaikan alasan kepadanya, kemudian keluar mendatangi pasar dan kembali membawa sesuatu. ‘masuk’. Katanya.
    Saya duduk dan menceritakan kepadanya pengalaman saya.
    “Benar, para saudagar yang kamu temui di jalan itu adalah para penguasa. Jika engkau mendatangkan sesuatu pada kaum fakir, maka berilah seperti ini.., tidak seperti itu (maksudnya yang diperoleh dari para saudagar / kaum bangsawan).
    Abul Hasan AL-Kurafi berkata, “Saya mengunjungi Abul Khair, kemudain berpamitan pulang dan dia keluar mengantarkan saya sampai di depan pintu masjid. ‘Hai Abul Hasan’ panggilnya. ‘Saya tahu kamu tidak membawa apa-apa. Karena itu bawalah dua apel ini’. Sayapun mengambilnya dan memasukkan nya ke dalam kantong baju lalu pergi melanjutkan perjalanan, dan tidak membukanya sampai tiga hari. Saya kemudian mengambil satu buah dan memakannya, dan ketika hendak mengambil yang sebuah lagi, tiba-tiba kedua buah itu kembali di dalam kantong baju saya. Saya memakan sebuah dan keduanya kembali lagi seperti semula sampai saya tiba di sebuah pintu. Saya berbisik, ‘Kedua apel ini merusak kondisi tawakal saya’. Ketika saya mengeluarkan kedua apel itu dari kantong, tiba-tiba saya melihat seorang miskin yang berselimut kain mantel. ‘Saya ingin apel’. Pintanya. Sayapun memberikan keduanya kepadanya. Ketika saya melanjutkan perjalanan, saya faham bahwa sebenarnya syaikh mengirimkan kedau apel tersebut kepada orang miskin tadi. Ketika itu saya berada di kerumunan orang yang berada di jalanan. Sayapun berbalik menemui orang miskin tadi akan tetapi tidak menemukannya.’
    Seorang pemuda menemui Al-Junaid. Dai sedang membicarakan suara bathin manusia, kemudian menyamapikannya kepada Al-Junaid.
    “Apa yang disebutkan orang ini tentang kamu ?” Tanya Al-Junaid.
    “Percayalah pada sesuatu”.
    “Engkau percaya ?”
    “Saya percaya demikian…demikian..”. tegasnya kemudian.
“tidak, tapi percayalah yang ke dua”. kata al-Junaid.
Dia melakukannya kemudian mengatakan,”Saya mempercayai demikian..demikian..”.
“Bukan demikian, percayalah yang ke tiga”.
Imam AL-Junaid kembali mengatakan seperti semula.
    “ini sangat mengherankan, engkau benar dan saya tahu hati saya.” Jawab pemuda itu akhirnya.
“Engkau memang sudah benar. Dalam perkara yang pertama dan kedua dan ketiga engkau benar. Saya melakukan yang demikian hanya untuk mengujimu, apakah hatimu berubah”. Jelas Al-Junaid.
Ibrahim, seorang sufi terkenal jatuh sakit. Lalu dibawakan kepadanya segelas obat. Dia mengambil gelas itu dan hanya memandangnya.
“Hari ini sedang terjadi peristiwa penting di kerajaan. Saya tidak akan makan dan minum sampai saya mengetahuinya.” Dai mengungkapkan firasatnya.
Beberapa hari keudian datang kabar kepadanya bahwa imam AL-Qurtubi pada hari itu (saat ia membuka firasatnya) masuk kota mekah dan terbunuh dalam peperangan tersebut.
Anas bin Malik mengatakan, “saya mampir ke rumah Utsma bin Affan. Dari rumahnya saya melihat seorang wanita yang tengah berjalan. Saya berfikir tentang kecantikan tubuhnya. Utsman tersenyum lantas menyindir saya, “Sedang bertamu kepada saya seseorang dari kamu sekalian, sementara pengaruh zina nampak di kedua matanya.’ Saya penasaran, lalu saya bertanya, ‘Apakah itu wahyu setelah RasuluLloh SAWW ?’
Dia menjawab, “Tidak, akan tetapi penglihatan, bukti dan firasat adalah kebenaran.'”
Ahmad Al-Kharaz berkata, “saya masuk Masjidil Haram dan saya melihat seorang fakir yang pakaiannya ada dua sobekan sedang meminta sesuatu. Saya berkata dalam hati, ‘Seperti inikah kemiskinan yang menimpa manusia ?’. tiba tiba mata orang fakir itu memandng saya. Pandangannya menembus sampai ke ulu hati saya. Dia menyindir saya dengan menyitir sebuah ayat :
واعلمواأنّ الله يعلم مافي انفسكم فاحذروْه
“”Dan ketahuilah bahwasanya Alloh mengetahui apa yang ada di dalam hatimu maka takutlah kepada-Nya’. (QS Al-Baqarah 235)
Kemudian saya mengatakan, ‘saya memohonkan ampun rahasia saya.’ Dia diam lalu memanggil saya seraya mengutip sebuah ayat lain :
وهوالذي يقبل التوبة عن عباده ويعفو عن السيّئات
‘Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.(QS Asy-Syura :25)
Ibrahim Al-Khawash menceritakan, “Saya di Baghdad di temapt kumpulan orang-orang kota. Dalam kumpulan itu terdapat juga kumpulan orang-orang fakir. Kemudian datang seorang pemuda yang sangat elok, baunya harum, dan wajahnya sangat menawan. Saya menoleh kepada kawan-kawan dan membisikkan sesuatu kepada mereka.’ Dia adalah yahudi’. Semua orang menjadi membencinya. Saya keluar dan saya juga keluar, kemudian dia kembali dan menanyakan sesuatu kepada jama’ah,’apa yang dikatakan syaikh teersebut tentang saya.’ Mereka marah dan tidak mempedulikan pertanyaannya. Akan tetapi dia terus mendesak sampai orang-orang menjawabnya,’Engkau adalah yahudi’. Pemuda itu terkejut. Dia heran dengan apa yang dikatakan orang-orang. Diapun beranjak pergi dan menemuhi saya. Dia duduk bersimpuh di hadapan saya lalu menyatakan keislamannya.
‘apa yang menyebabkan anda masuk islam ?’ seseorang bertanya
Dia menjawab, “Di dalam kitab-kitab kami disebutkn bahwa orang yang benar firasatnya tidak pernah salah. Saya hanya menguji orang-orang islam. Saya memikirkan mereka. Jika memang ada orang yang benar diantara mereka, maka di dalam kelompok islam inilah adanya karena mereka mengucapkan firman Alloh. Dan ketika hal itu diperlihatkan kepada saya dan saya berfirasat, maka tahulah saya bahwa dia benar.’ Pemuda itu akhirnya menjadi ulama sufi yang besar.’
Ahmad Al-Jariri mengatakan, “Diantara kalian ada orang-orang yang jika Al-Haqq menghendakinya bisa berbicara tentang kerajaan langit, apakah dia megetahuinya sebelum ditampakkan kepadanya ?’
“Tidak” jawab mereka.
“Saya menangisi hati manusia yang di dalamnya tidak dijumpai sesuatu yang berasal dari Alloh,” jelas saya.
Abu Musa Ad-Dailami mengatakan pengalamannya, Saya pernah bertamu ke rumah AbduRrahman bin Yahya untuk menanyakan makna tawakal, lalu dijawab, ‘Kalau engkau memasukkan tanganmu ke mulut seekor naga sampai ke pergelangan tangan, bersama Alloh engkau tidak takut apapun selain-Nya.’
Saya keluar dan pergi ke rumah Abu Yazid Al Bustomi juga untuk menanyakan makna tawakal. Saya ketuk pintu rumahnya dan dia menyahut dari dalam,’ Bukankah jawaban yang kamu peroleh dari AbduRrahman sudah cukup ?’ saya penasaran dan mengatakan kepadanya, ‘Bukalah pintunya.’ Dia menyahut dari dalam, engkau tidak mengunjungiku sebagai pengunjung, tetapi hanya untuk bertanya, dan saya cukup menjawabnya dari balik pintu.’
Saya diam sejenak di depan pintu lalu pulang. Setahun kemudian saya mendatangi lagi. “Selamat datang engkau sekarang adalah pengunjungku.’ Saya kemudian tinggal bersamanya selama sebulan. Selama itu tidak ada bisikan di dalam hati saya selain membisikkan tentangnya. Ketika hendak berpamitan saya sempat menanyakan sesuatu kepadanya, ‘apakah ada faedah untuk saya ?’ Dia menjawab, ‘Ibu saya ketika mengandung saya pernah membisikkan sesuatu kepada saya. Jika disodorkan kepadanya makanan yang halal maka beliau mengambilnya. Jika makanannya syubhat, beliau mencegah tangannya untuk mengambilnya.”‘
Ibrahim AL-Khawash berkata, “Saya masuk desa, namun di tengah perjalanan saya tertimpa musibah yang cukup berat. Ketika sampai di Makkah, sesuatu yang mengherankan menarik perhatian saya. Tiba-tiba seorang lelaki tua yang sangat lemah muncul di hadapan saya dan memanggil saya,’ Hai Ibrahim, saya memperhatikanmu sejak memasuki desa. Saya sengaja tidak menyapamu karena tidak ingin mengganggu kesibukan hatimu. Sekarang saya mengeluarkan rasa was-was dari dalam hatimu.'”
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abu Bakar AL-Furqani setiap tahun pergi ke Makkah untuk haji dan umrah. Ketika melakukan perjalanan haji, dia lewat Naisabur tetapi tidak mampir ke rumah Ali Abu Utsman Al-hirri. Pada haji berikutnya dia sempat mampir.
Dai mengatakan, “Sayapun masuk ke rumahnya dan mengucapkan salam kepadanya akan tetapi dia tidak menjawab. Saya membathin,’ Seorang muslim masuk rumahnya lalu mengucapkan salam kepadanya dan dia tidak menjawabnya.’ Barusaja hatiku berhenti berbisik, Abu Utsman menyahut,’ Apakah seperti ini seseorang melakukan ibadah haji, sementara ibunya dibiarkan di rumah sendirian. Dia tidak berbakti kepada seorang ibu.’
Saya takut. Pasti kata-kata itu ditujukan kepada saya. Saat itu juga saya pulang dan menemani ibu sampai beliau wafat. Kemudian saya berkunjung lagi ke rumah Abu Utsman, beliau menyambut saya dan menemani saya duduk. Saya tinggal bersamanya sampai beberapa waktu hingga beliau wafat.’
Khair An-Najas berkata, “Saya sedang di rumah. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh bayangan kehadiran al-Junaid yang muncul di samping pintu. Dia seperti berdiri mematung. Saya segera mematikan bisikan itu dari hati saya. Kejadian itu terulang sampai yang ketiga kalinya. Sayapun akhirnya kepuar dan ternyata Al-Juanid benar-benar berdiri di samping pintu. Dia menegur saya,’Mengapa tidak kamu keluarkan bisikan hati pada saat bisikan yang pertama ?’
Muhammad bin Husain Al-Busthami berkata, “Saya masuk rumah Abu Utsman AL-Maghribi, spontan hati saya berbisik,’semoga dia menawarkan sesuatu kepada saya.’ Abu Utsman menyahut, ‘Tidak akan mencukupi manusia yang saya mengambil sesuatu dari mereka sampai mereka menambah masalahku untuk mereka.'”
Seorang fakir menuturkan pengalamannya, dia mengatakan, “Ketika saya di Baghdad, saya membayangkan AbduLlah Al-Murta’isi memberi saya uang lima belas dirham untuk membeli sebuah bejana dan sepasang sandal. Sayapun masuk perkampungan dan menginap di sebuah penginapan. Tiba-tiba pintu rumah saya diketuk seseorang. Saya segera membukanya. AbduLlah berdiri di depan pintu dan saya terkejut memandangnya. Angin berhembus halus menyertai kedatangannya, masuk ke dalam dan menerpa badan saya. Dai mengatakan,”Ambil kantong ini”.
“Wahai tuan, saya tidak menginginkannya”.
“Mengapa engkau menyiksa (maksudnya AbduLlah tersiksa oleh suara firasatnya yang melihat seorang fakir yang menginginkan uang) kami ?” dan berapa yang engkau inginkan ?’
‘limabelas dirham’.
‘ini limabelas dirham’ Jelas AbduLah.
Alloh SWT berfirman :
أومن كان ميّتا فأحييناه

Dan apakah orang yang suadah mati kemudian dia Kami hidupkan (QS Al-Abn’am 122)
Ayat ini menurut segolongan kaum sufi adalah pikiran mati, lalu Alloh menghidupkannya dengan cahaya firasat, lalu dijadikan untuknya cahaya tajalidan musyahadah. Dai tidak menjadi seperti orang yang berjalan diantara orang-orang yang lupa dalam keadaan lupa. Dikatakan pula jika firasat benar, pemiliknya naik sampai ke tingkat musyahadah.
Ahmad bin Masruq berkata, “seorang tua datang kepada saya, dia berbicara kepadaku tentang firasat dengan kata-kata yang bagus. Lidahnya lezat dan suara bathhinya baik. Sebagian ungkapan yang disampaikan mengatakan, “Setiap apa yang jatuh menjadi milikmu di dalam suara bisikan hatimu, katakanlah kepadaku.’ Lalu terlintas di hatiku bahwa dia seorang yahudi. Suara bathin ini sangat kuat dan tidak mungkin tergeser. Sayapun kahirnya menyampaikannya kepada Ahmad Al-Jariri. Dia kagum seraya mengucapkan takbir. Saya bergumam,’ saya harus mengabarkan hal itu kepada pak tua tadi.’ Maka saya mendatanginya dan mengatakan,’ engkau pernah berpesan kepadaku bahwa jika ada firasat yang jatuh ke dalam hatiku, saya harus megabarkanmu. Firasat yang timbul dalam hatiku mengatakan bahwa engkau adalah yahudi.’
Pak tua itu menundukkan kepalanya dan merenung beberapa saat kemudian dan lantas mengatakan, ‘Engkau benar’. Katanya. ‘Dan sekarang saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan-Nya.’ Saya telah menekuni semua mahzab agama.’ Saya menimpalinya.,’ jika memang bersama mereka ada sesuatu, maka apakah sesuatu itu ? Saya telah memasukimu dan telah mengabarkan kepadamu bahwa kamu berada dalam kebenaran.’ Lelaki tua itu dikemudian hari menjadi seorang muslim yang baik.”
Dikisahkan dari Al-Junaid bahwa Sarry As-Saqathy pernah berkata kepadanya, “Tinggalkanlah pesan untuk manusia !”. beliau menjawab, ‘di dalam hati saya ada rasa malu tentang ucapan yang ditujukan kepada manusia. Saya mendatangi dan mengabarkan kepada mereka bahwa diriku berhak mendapatkan hal itu. Pada suatu malam dalam mimpiku aku melihat RasuluLloh SAWW. Pada waktu itu malam Jum’at. Beliau mengatakan kepadaku, Sampaikan pesan kepada manusia.’ Saya lalu terjaga dari tidur dan kemudian mendatangi pintu rumah Sarry As-Saqathy sebelum subuh. Saya ketuk pintunya. Beliau menyahut, ‘mengapa engkau baru mempercayai kami sampai dikatakan kepadamu.'”Al-Junaid akan duduk di hadapan manusia besok di masjid”. Sementara di tengah-tengah manusia beredar kabar bahwa Al-Junaid akan duduk di hadapan manusia untuk memberi fatwa. Kemudian datang seorang anak nasrani menghadang Al-Junaid dan bertanya, ‘Wahai Syaikh, apa makna sabda RasuluLloh SAWW yang menyatakan : Takutlah kamu firasat orang mukmin karena orang mukmin melihat dengan cahaya Alloh ?” Al-Junaid menundukkan kepalanya, kemudian mengangkat lalu menjawab, “Masuklah Islam. Sungguh telah dekat waktu Islammu !” anak itupun segera masuk Islam.

6 September 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

KEMERDEKAAN

KEMERDEKAAN

اللّه SWT berfirman,

“وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةْ

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam keadaan kesusahan'” (Al-Hasyr 9)

Artinya, orang-orang Anshar mengutamakan orang-orang Muhajirin atas mereka sendiri untuk memurnikan dari apa yang mereka keluarkan.

Ibnu Abas RA. Menuturkan sabda َسُوْلُ اللّه SAWW yang mengatakan :

اِنَّمَا يَكْفِى أَحَدُكُمْ مَاقَنَعَتْ بِهِ نَفْسُهُ وَإِنَّمَا يَصِيْرُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَذْرَعٍ وَشِبْرٍ وَإِنَّمَايَرْجِعُ إِلَى آخِرِهِ

“Sesungguhnya seseorang dari kalian mencukupkan dengan apa yang menjadi kepuasan nafsunya, sampai menjadi empat hasta dan satu jengkal serta segala perkara kembali pada kesudahannya (akhirnya).”

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan,”Sesungguhnya makna kemerdekaan/kebebasan dibatasi dalam ketiadaan seorang hamba dibawah pengaruh perbudakan makhluk, tidak dikendalikan penguasa yang mengatur alam (para raja atau presiden) dan tanda sahnya kemerdekaan dibuktikan dengan kegugurnya sifat yang membedakan dari hatinya diantara hal-hal (yang menjadi pilihannya). Bagaimana semua posisi yang menghadangnya adalah sama”.

Haritsah RA pernah mengatakan pada َسُوْلُ اللّه SAWW, “Jiwaku zuhud dari dunia. Bagiku tidak ada bedanya antara batu dan emas”. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Barang siapa menghinakan dunia, maka dia bebas darinya, dan jika berpindah menuju kampung akhirat maka dia juga bebas darinya”. Beliau juga mengatakan bahwa orang yang bebas dari dunia maka akhirat kelak juga bebas darinya”.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan, “Ketahuilah bahwa hakikat kemerdekaan terletak dalam kesempurnaan penghambaan. Jika penghambaannya benar untuk اللّه, maka kemerdekaannya bersih dari perbudakan sesuatu yang berubah. Adapun orang yang berangan-angan bahwa dirinya dipasrahkan hanya kepada-Nya dengan melepaskan semua waktu untuk ibadah dan menyatukannya dengan lrikan-Nyadari batasan amar makruf nahi munkar maka dia termasuk orang yang mengerti dalam membedakan beban-beban hukum. Demikian itu menjadikannya terlepas dari dua dunia”.

اللّه SWT berfirman,

“وَاعْبُدْ رََّكَ حَتَّى يَأتِيَكَ الْيَقِيْنُ

“Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang keyakinan padamu” (Al-Hijr 99)

Yakni kematian. Penafsiran ini lebih disepakati para ahli tafsir.

Tanda kemerdekaan bagi seorang hamba diantaranya adalah ketiadaan hatinya di bawah penghambaan makhluk, kepentingan-kepentingan dunia dan tujuan-tujuan akhirat. Dirinya adalah dirinya. Tidak satupun keduniaan yang bersifat sementara mampu memperbudaknya, tidak juga keinginan, angan-angan, permintaan, tujuan, harapan, dan keuntungan. Dirinya bebas dari semua itu. Dalf As-Syibli pernah ditanya, “Tidakkah engkau tahu bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih ?” lalu dijawab,”Benar semenjak saya mengetahui sifat kasih sayang-Nya, saya tidak lagi meminta dia untuk mengasihi saya. Maqam kemerdekaan amatlah mulia”.

Abul Abbas As-Sayyari berkata, “Seandainya shalat tanpa bacaan Al-Qur’an sah, maka sah pula gubahan syair ini :

Saya berangankan suatu kondisi

    Berada dalam suatu zaman

    Yang engkau akan melihat dua biji mata saya

    Sebagai kemerdekaan yang terbit

Banyak pendapat para guru sufi tentang makna kemerdekaan diantaranya adalah pendapat Husain bin Manshur yang mengatakan, “Barang siapa menghendaki kemerdekaan, maka teruslah dalam penghambaan (kepadaاللّه)”.

Imam Al-Junaid ditanya tentang orang yang tidak terpengaruh oleh dunia melainkan seukuran isapan satu biji-bijian terkecil, lalu dijawab, “Seorang budak juga tidak terpengaruh oleh keberadaan dirham. Sesungguhnya kau tidak akan sampai pada makna kemerdekaan sementara hakikat penghambaan yang menjadi tanggunganmu masih tersisa (terpengaruh kepentingan).

Bisyir Al-Hafi berkata, “Barang siapa menginginkan kelezatan makanan kebebasan dan terbebas dari perbudakan, maka sucikanlah rahasia yang berada diantaradirinya denganاللّه”.

Husain Al-Manshur juga pernah mengatakan, “Jika seorang hamba mengambil hak beberapa maqam penghambaan secara keseluruhan yang menjadikannya bebas dari kepayahan penghambaan, maka kerjakan fungsi penghambaan dengan tanpa tekanan dan beban. Itu adalah maqam para Nabi SAWW dan orang-orang yang ahli kebenaran. Artinya, menjadi orang yang terbebani namun merasa tidak terbebani dan hatinya tidak diliputi rasa berat (karena penghambaannya kepada اللّه), meski hukum syariat pada kenyataannya membemani yang demikian”.

Manshur Al-Faqih membacakan syair :

Tidakkah tersisa pada diri manusia

Kebebasan, dan tidak juga pada jin

Telah berlalu kebebasan dua golongan

Maka mereka menghiasi hidup dengan kepahitan

Ketahuilah bahwa sesungguhnya sebagian besar kebebasan terdapat dalam pemberian pelayanan pada orang-orang faqir. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Alloh memberikan wahyu kepada Nabi Dawud AS, ‘Jika kamu melihat-Ku dengan pencarian, maka jadikanlah dirimu sebagai pelayan-Ku'”.

RasluLlah SAWW bersabda :

سيّدُالْقوْمِ خادمهم

    “Tuan bagi suatu kaum adalah yang menjadi pelayan bagi mereka”.

Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Anak-anak dunia adalah orang yang dilayani para budak dan pelayan, sedang anak-anak akhirat adalah orang-orang yang dilayani kelompok orang merdeka lagi orang baik”.

Ibrahim bin Adham mengatakan, “Sesungguhnya kebebasan yang mulia adalah keluar (terbebasnya diri) dari penghambaan dunia sebelum dunia meninggalkannya”. Dia juga mengatakan, “Jangan berkawan kecuali kepada orang yang bebas (merdeka) lagi mulia. Mendengarlah dan jangan berbicara”.

6 September 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 1 Komentar

Jalan menuju Alloh sebanyak hitungan nafas makhluk

06/09/2010 4:35:57

ما من نفس تبديه الاّ وله قدر فيك يمضيه

Tiada satu nafaspun yang keluar dari diri manusia melainkan berasal dari pemberian Alloh SWT bukan dari manusia itu sendiri. Dan dari tiap-tiap nafas yang mengalir tersebut terdapat takdir / kepastian Alloh terhadap diri kita, adakalanya berupa keta’atan, atau maksiyat, atau ni’mat atau ujian.

Maka setiap nafas yang terjadi pada diri manusia itu merupakan tempat/cawan bagi takdir Alloh Yang Maha Haqq. Dan sepatutnya kita senantiasa menjaga adab/tatakrama kepada-Nya.

Dan kiranya inilah makna ucapan para ulama :

الطرق الى الله بعدد أنفاس الخلق

Jalan kepada Alloh sebanyak hitungan nafas para makhluk.

Dan bukankah tiada sesuatupun yang terjadi di dunia ini melainkan ada peran serta Alloh di dalamnya, tidak terkecuali nafas kita. Dan manakala nafas itu berlalu, maka saat itu juga waktu juga berlalu, dan umur kita juga berlalu tanpa bisa kembali lagi ke zaman dahulu. Oleh karena itu sayang sekali jika perbendaharaan yang tiada ternilaih ini dilewatkan begitu saja tanpa membawa makna penghambaan diri kehadirat Alloh SWT.

Dari itulah beberapa thariqah mengajarkan kepada kita zikir hifzul anfas, yaitu zikir menjaga nafas kita agar tidak berlalu dengan sia-sia, antara lain dengan melafalkan kalimat هو (Hu/Dia) ketika menarik nafas dan melafalkan lafaz لله ketika melepaskan nafas (dan itu dilakukan dengan zikir sirr/tersembunyi tidak terucap di lidah tetapi mengalir di dalam hati). Dan tentu saja lebih sempurna jika dilakukan dibawah bimbingan seorang syaikh thariqah.

6 September 2010 Posted by | Al-HIkam | 7 Komentar

Do’a hanya untuk melahirkan rasa butuh kepada-Nya

Senin, 06 September 2010
طلبك منه اتّهام له وطلبك له غيبت منك له وطلبك لغيره لقلت حيائك منه
Permintaanmu kepada-Nya (untuk memperoleh apa engkau inginkan) adalah kekhawatiran dan keraguanmu terhadap-Nya, dan pencarianmu kepada-Nya menunjukkan kehilanganmu terhadap-Dia, dan permintaanmu untuk sesuatu selain-Nya berarti sedikitnya rasa malu dirimu kepada-Nya
Yakni sesungguhnya seorang murid (yang sedang berproses mendekatkan diri kepada Alloh melalui bimbingan seorang guru), hendaklah menyibukkan diri di tengah perjalanannya dengan sesuatu yang dapat mendekatkan dirinya kepada Alloh SWT, dengan melaksanakan berbagai amal shaleh, dan tidak menyibukkan hatinya untuk mencari sesuatu yang lain karena sesungguhnya yang demikian ini tercela dan dapat menjadi sebab terputusnya perjalanan menuju Alloh. Karena sesungguhnya permintaanmu kepada-Nya agar Dia memberimu makanan atau rizki yang kamu harapkan dapat menguatkan dirimu dalam perjalanan menuju kepada-Nya apalagi keinginanmu mendapatkan lebih dalam hal rizki, sebenarnya yang demikian itu adalah kekuatiran (keraguan) dirimu kepada-Nya bahwa Dia tidak akan memberimu rizki. Karena sesunguhnya apabila kamu yakin kepada-Nya didalam menyampaikan kemanfaatan dan kebaikan kepada dirimu meski tanpa engkau minta, dan engkau yakin bahwa Dia lebih mengetahui akan kebutuhanmu, niscaya Dia mampu menyampaikan semua itu kepada dirimu tanpa engkau minta sekalipun.
Dan pencarianmu kepada-Nya dengan mencari kedekatan terhadap-Nya, dan keinginan hilangnya hijab / tirai yang menghalangi antara dirimu dengan-Nya sehingga engkau bisa menyaksikan-Nya dengan mata hatimu, itu menunjukkan kehilangan pandanganmu atas-Nya. Karena sesungguhnya apabila sesuatu itu hadir tidaklah ia memerlukan pencarian.
Dan permintaanmu kepada-Nya untuk (nendapatkan) sesuatu selain-Dia berupa beberapa macam harta benda dunia dan kemewahannya, dan beberapa keistimewaan semacam karomah, mukasyafah (terbukanya tirai), ahwal (beberapa kondisi spiritual) dan maqamat (beberapa kedudukan), semua itu menunjukkan sedikitnya rasa malu dirimu kepada-Nya. Karena jika engkau memiliki rasa malu kepada-Nya, niscaya engkau tidak akan menoleh kepada yang lain ataupun mencari sesuatu selain-Dia.
Dan permintaanmu kepada selain-Dia dengan menyandarkan diri kepada manusia didalam mendapatkan sesuatu harta benda dunia yang disertai rasa lalai terhadap Tuhannya, yang demikian itu menunjukkan jauhnya dirimu dari-Dia. Karena jika engkau dekat dengan-Nya, niscaya yang lain pasti jauh darimu. Demikian pula jika engkau menyaksikan dekat-Nya Dia denganmu, niscaya sudah mencukupimu dari kebutuhanmu kepada sekalian makhluk-Nya.
Oleh karena itu semua jenis meminta-minta bagi seorang murid pada hakekatnya kurang dibenarkan baik itu ditujukan kepada Al-Haq apalagi kepada makhluk kecuali permintaan itu dilakukan untuk sarana media beribadah kepada-Nya dan untuk memelihara etika dan tatakrama kepada-Nya dan untuk melahirkan rasa butuh kepada-Nya.

Adapun orang ‘Ariif, maka mereka tiada melihat selain hanya Alloh Ta’ala semata, yang mereka cari secara hakikat bukan dari makhluk meskipun secara lahiriah yang mereka dapatkan adalah melalui perantaraan makhluk.

6 September 2010 Posted by | Al-HIkam | 2 Komentar

PRAWIRA

PRAWIRA

Alloh SWT berfirman :

انّهم فتية آمنوا برّبهم وزدناهم هوداً

Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk “. (QS : Al-Kahfi 13)

RasuluLloh SAWW bersabda :

لا يزالُ الله تعالى في حاجة العبد مادام العبد في حاجة أخيه المسلم

Alloh Ta’ala senantiasa memenuhi kebutuhan hamba selama hamba tersebut memenuhi kebutuhan saudara muslimnya.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Asal sifat prawira atau pemuda yang satria adalah keberadaannya yang senantiasa dalam urusan saudaranya. Beliau berkata, “Kesempurnaan akhlak semacam ini tidak ada yang memiliknya selain RasuluLlah SAWW. Setiap orang pada hari kiyamat akan  mengatakan “diriku….diriku…” sementara Nabi kita mengucapkan “Umatku…umatku..”

Imam Al-Junaid mengatakan, “Sifat perwira atau satria adalah memaafkan kesalahan kawan-kawannya.” Dikatakan juga bahwa sifat al-futwah atau perwira adalah ketiadaan diri memandang lebih atas yang lainnya. Abu Bakar Al-Waraq mengatakan “Seorang pemuda satria adalah yang tidak memiliki musuh”. Muhammad bin Ali At-Turmudzi mengatakan,”Sifat perwira adalah menjadikan nafsu sebagai musuh Tuhanmu.” Dikatakan, seorang pemuda satria adalah yang tidak memiliki musuh dengan sapapun.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, saya pernah mendengar Nashr Abadzi mengatakan bahwa para pemuda Ashabul Kahfi dinamakan pemuda satria adalah karena keimanannya pada Alloh dengan tanpa perantara”.

Dikatakan juga bahwa pemuda satria adalah mereka yang berani menghancurkan berhala, sebagaimana yang digambarkan Alloh SWT dalam  firman-Nya :

سمعنا فتى يذكر هم يقال له ابراهيم

Kami dengar seorang pemuda yang dipanggil –dengan nama- Ibrahim (yang mencela berhala-berhala ini) QS Al-Anbiya 60)

Pemuda ini menghancurkan berhala-berhala kaum kafir.

فجعلهم جذذا

Maka Ibrahim menjadikan berhala-berhala itu terpotong-potong (QS Al-Anbiya 58)

Berhala pada diri manusia adalah hawa nafsunya, maka seseoarang yang mampu menentang hawa nafsunya pada hakikatnya adalah satria.

Harits Al-Muhasibi mengatakan, “Sifat perwira adalah kemampuan mengambil sifat tengah-tengah dan adil”. Amru bin Utsman Al-Maky mengatakan, “Perwira adalah budi pekerti yang luhur”. Al-Junaid pernah ditanya tentang ini lalu dijawab, “mereka adalah orang yang tidak menjauhi orang miskin dan tidak menentang orang kaya”.

Abul Qasim Nashr Abadzi mengatakan, “Sifat prawira adalah cabang dari sifat Al-Futuwah (satria) yang keberadaannya menentang rasa eksis dan harga diri”.

Ahmad bin Hambal ditanya tentang ini lalu   dijawab, “Meninggalkan apa yang kamu inginkan dan kami takutkan”. Sebagian kaum sufi ditanya, “Apakah yang dimaksud al-futuwah ?’  lalu dijawab, “tidak membeda-bedakan antara orang yang makan bersamanya adalah seorang wali atau orang kafir”. Sebagian orang sufi menceritakan kisah seorang majusi yang bertamu ke rumah Nabi Ibrahim AS. Majusi itu meminta jamuan makan kepadanya.

“Ya dengan syarat kamu harus masuk Islam”. Tawar Nabi Ibrahim AS.

Orang majusi tersebut tidak mau dan meninggalkan Nabi Ibrahim AS, lalu Alloh menegur Nabi Ibrahim AS, “Hai Ibrahim, semenjak 50 tahun Saya memberinya makan meski dia kafir. Seandainya engkau mampu memberinya sesuap saja dengan tanpa syarat untuk merubah agamanya…?”

Nabi Ibrahim AS merasa bahwa wahyu tersebut adalah teguran halus dari Alloh SWT. Beliau merasa bersalah atas sikapnya terhadap orang majusi tadi. Maka Nabi Ibrahim AS keluar mencari orang majusi tadi hingga menemukannya. Beliau meminta maaf atas sikapnya yang kurang meyenangkan. Orang majusi heran dan menanyakan sebab-musabanya. Maka Nabi Ibrahim pun menjelaskan sehingga orang majusi tersebut memeluk Islam dengan sendirinya.

Al-Junaid mengatakan, “sikap perwira adalah kemampuan menahan penderitaan dan mencurahkan kemurahan.” Sedangkan menurut Sahal bin AbduLlah adalah mengikuti sunah. Ada beberapa pendapat yang memberikan definisi al-futuwah. Sebagian mengartikan pemenuhan janji dan pemeliharaan baik. Sebagian lagi mengartikan sebagai perolehan nikmat dan anda tidak memandangnya sebagai kelebihan anda. Ada juga yang mengartikan tidak lari ketika seseorang peminta menghadapnya atau tidak menutup jalan orang yang hendak mendatangi tujuannya atau juga tidak merasa rendah , direndahkan atau mencari-cari alasan.

Terkadang juga diartikan perwira penampakan nikmat  dan merahasiakan penderitaan, atau digambarkan seperti orang yang mengundang sepuluh orang dan tidak merasa keberatan jika yang hadir sebelas orang. Pada prinsipnya, sikap perwira adalah kemampuan untuk meninggalkan sikap membeda-bedakan.

Ahmad bin Hadrawaih mengusulkan kepada isterinya untuk mengundang seseorang. “Saya ingin mengadakan jamuan yang mengundang seorang penyair pengembara yang cerdas. Dia di negerinya dikenal sebagaai seorang tokoh muda yang berjiwa satria,” katanya.

“Engkau tidak akan mendapatkan petunjuk dengan mengundang dia’” timpal isterinya.

“Saya harus mendapatkan”.

“Jika memaksakan, maka engkau harus menyembelih beberapa ekor kambing, sapi dan himar. Kemudian lemparkan binatang sembelihan itu dari pintu seseorang ke pintu rumahmu.”

Mengenai kambing dan sapi maka saya memahminya, tetapi mengenai himar apa fungsinya ?”

“Engkau hendak mengundang seorang pemuda satria untuk datang ke rumahmu, maka jangan menjadikannya lebih sedikit dari kebaikan yang dimiliki seekor anjing.”

Dikisahkan sekelompok ulama mengadakan jamuan makan yang diantaranya terdapat syaikh Syairazi. Ditengah-tengah mereka makan, tiba-tiba rasa kantuk menyerang meraka .

“Apa penyebab kami tertidur ?”

“Tidak tahu. Namun barang kali ada yang bisa mencari alasan dari cerita saya ini. Sebelum mengadakan jamuan ini saya telah berusaha keras untuk bisa mengumpulkan hidangan dengan bahan-bahan yang jelas kecuali seekor anak kambing. Saya belum sempat menanyakan status hukum anak kambing itu”.

Pagi berikutnya dia dan para undangan ini mendatangi penjual anak kambing. Mereka menanyakan asal mula anak kambing yang dibeli tuan pengundang.

“Saya sebelumnya tidak memiliki apa-apa,” jelas penjual kambing.” Kemudian saya mencucri seekor anak kambing dari seorang petani dan menjualnya.”

Merekapun ahirnya mendatangi petni dan meminta keridhaannya. Petaniitu bersedia dengan ganti rugi  seribu ekor anak kambing, dan kami memberinya dengan tambahan sebidang tanah, dua anak sapi, seekor himar, dan beberapa alat pertanian.

Dikisahkan pula tentang seorang pria yang menikahi seorang gadis. Sebelum menikmati malam pertamanya, laki-laki itu melihat penyakit cacar di sebagian tubuh isterinya. Dia terkejut dan spontan mengatakan “subhanaLloh, mataku sakit, saya menjadi buta”.  Isterinya terkejut tetapi tidak berapa lama ia kembali tenang karena suaminya masih bersikap baik dan setia. Dan waktupun berjalan. Sepasang suami isteri itupun hidup bahagia. Mereka menjalani hidup selama 20 tahun, selama itu pula ia tidak pernah mengalami perlakuan buruk dari suaminya sampai ia meninggal. Semenjak ditinggal mati isterinya, lelaki itu kembali membuka matanya.

“Bagaimana mungkin anda bisa menjadi demikian ?”tanya tetangga yang heran melihat dirinya tidak buta lagi.

“Saya sebenarnya tidak buta, hanya saja berpura-pura buta supaya isteriku tidak sedih karena  beban mental yang  disebabkan penyakit cacarnya”.

“Engkau adalah satria sejati”. Timpal seseorang.

Dzunun al-Mishri mengatakan,”Barang siapa yang menghendaki kepandaian (sikap satria) maka wajib atasnya meghidangkan air di Baghda”.

“Bagaimana keadaannya ?”

“Ketika saya dibawa menghadap khalifah karena tuduhan kafir, saya melihat seorang pelayan penghidang minuman yang memakai surban dan sarung tangan model mesir. Pelayan itu membawa beberapa guci keramik lengkap dengan gelasnya. Saya menunjuk ke arahnya seraya mengatakan, “Itu adalah seorang penghidang minuman khusus untuk raja.”

Orang-orang menyangkalnya. “Bukan, dia adalah penghidang minuman untuk umum’. Melihat pengakuan itu, sayapun langsung mengambil guci dan meminumnya. Saya mengatakan kepada orang-orang di sekitarku, ‘Barang siapa mengikutiku, maka saya memberinya dinar.’ Namun tidak seorangpun yang berani megambilnya.’

“Engkau hanyalah seorang tawanan. Bukanlah termasuk golongan satria jika kami mengambil sesuatu darimu.” Kata salah seorang pengunjung yang tidak setuju dengan tawaran Dzunun.

Dikatakan juga bahwa sikap mengambil untung dari seorang kawan termasuk bukan jiwa satria.

Diceritakan seorang pemuda Naisabur yang dikenal memiliki jiwa satria mengadakan perjalanan menuju kota Nasa. Ditengah istirahatnya disebuah penginapan, seorang pria bersama kawan-kawanya bertamu kepadanya untuk meminta jamuan. Para undangan itupun datang dan mereka makan bersama-sama. Selesai makan, seorang pelayan wanita keluar ke ruangan jamuan sambil membawa minuman. Dia menuangkan minuman ke masing-masing gelas di tangan para undangan. Namun begitu sampai kepada tuan rumah, dia menarik tangnnya dan mengambil wudhu. Para undangan keheranan dan bertanya-tanya. Pemuda itu mendekat seraya berkata, “Bukan termasuk orang yang satria jika membiarkan pelayan wanita menuangkan air ke dalam gelas di genggaman kaum pria”.

“Saya semenjak beberapa tahun memasuki rumah ini,” Kata seorang pengunjung,’ belum pernah melihat seorang wanitapun yang menuangkan air minuman ke dalam gelas di tangan kaum pria”.

Manshur Al-Maghribi berkata, “Seseorang bermaksud menguji Nuh Al-Ayyari An-Naisaburi, seorang ulama sufi naisabur. Orang itu kemudian membeli seorang budak wanita yang diberi pakaian laki-laki, dan memang budak itu dirias sehingga tampak seperti seorang pria tampan. Wajahnya sangat elok dan sikapnya menggemaskan. Budak itu dibawa ke rumah Nuh selama beberapa bulan. Selang beberapa waktu, bekas tuannya datang dan bertanya, “Apakah tuanmu (Nuh) telah mengetahui bahwa engkau adalah seorang budak wanita ?”

“Tidak, dida tidak pernah menyentuhku sama sekali. Dia hanya membayangkan bahwa aku adalah seorang budak laki-laki”.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki keji dan licik diminta istana untuk menyerahkan seorang budak guna melayani raja. Laki-laki itu menolak, maka raja memaksanya dengan memberi hukuman seribu cambuk, dan laki-laki itu tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau menyerahkan budaknya meski dihukum berat. Bersamaan dengan itu, dimalam harinya dia bermimpi sampai mengeluarkan air mani. Dia tidak segera mandi jinabat hingga pagi hari karena udaranya sangat dingin. Seseorang yang meilhatnya bertanya, “engkau telah mempertaruhkan jiwamu.” Lalu dijawab, “saya sebenarnya malu kepada Alloh yang hanya mampu bersabar menerima pukulan seribu cambukan hanya karena makhluk, sementara untuk mandi jinabat dengan air yang dingin saja saya tidak mampu, padahal itu untuk memenuhi syariatnya.”

Sekelompok pemuda berkunjung ke rumah seorang pemuda yang dikenal memiliki jiwa satria. Pemuda itu menerima mereka dan mengajaknya bepergian. Di tengah perjalanan mereka menghentikan langkah. Masing-masing mempersilahkan berangkat duluan,”Silahkan anda berangkat duluan’. Mereka diam tidak melangkah. Disusul orang kedua dan ketiga yang juga mengatakan hal yang sama, dan mereka tetap juga tidak bergeming dari posisinya. Hal itu berjalan cukup lama sampai tiap-tiap pengunjung saling berpandang-pandangan.

“Tidaklah satria seseorang yang mempekerjakan orang yang melanggarnya dalam mendahului perjalanan,” kata sebagian mereka.

“Lantas mengapa anda sendiri memperlambat langah ?” tanya seeorang kepada pemuda yang memiliki jiwa satria tadi.

“Dia menjawab, “Di tengah jalan saya dihadang seekor semut. Tidaklah termasuk orang yang sopan jika ia saling mendaului, sementara seekor semut dibiarkan tertinggal  di belakang ; juga bukan seorang satria / perwira seseorang yang menyingkirkan semut dari jalan yang sedang dilaluinya. Karena itu saya diam menanti sampai semut itu merayap menghilang”.

“alangkah baiknya engkau wahai pemuda !” para tamu itu kagum melihat kemuliaan akhlak pemuda itu. “Seperti engkaulah orang yang patut disebut satria”.

Dikisahkan juga tentang seorang jama’ah haji yang ketiduran di kota Madinah. Dalam setengah sadarnya, ia dikejutkan oleh bayangan yang seakan-akan berhasil mencuri kantong uang dinarnya. Laki-laki tersebut lagsung terjaga dari tidurnya, lalu keluar dan diluar tenda dia melihat Ja’far Ash-Shadiq. Dia mencurigai Ja’far karena dialah orang yang pertama kali dilihatnya.

“Engkau mencuri kantongku ?” Tuduhnya.

“Apa isi kantongmu ?”

Seirbu uang dinar.”

Ja’far tidak menyangkal. Beliau langsung pulang mengambil sejumlah uang yang dinyatakan hilang dan memberikannya kepada laki-laki tadi. Lelaki itu kemudian membawanya pulang dan di dalam rumahnya ia melihat kantong uang dinarnya yang disangkanya hilang. Dia menyesal karena telah gegabah menuduh seseorang mencurinya, padahal ia tidak mengenal siapa lelaki itu. Dai kemudian mendatangi lelaki itu dan meminta maaf kepadanya, lalu mengembalikan uang dinar yang diterima darinya. Ja’far menolak seraya mengatakan,”Sesuatu yang telah saya keluarkan dari tangan saya tidak mungkin saya minta kembali”.

Musafir ini merasa tidak enak, dia tidak tahu siapakah lelaki aneh  yang telah dituduhnya mencuri, “Siapakah beliau ?” tanyanya kepada seseorang.

“Ja’far  Ash-Shadiq” jawabnya.

Syaqiq Al-Balkhi pernah bertanya kepada Ja’far bin Muhmmad tentang alfutuwah ((jiwa satria)

“Menurutmu sendiri apa “

“Jika kami diberi, kami berterimakasih, jika tidak diberi kami bersabar”.

“Anjing-anjing di kota kami juga berbuat seperti itu,”Timpal Ja’far.

Wahai cucu RasuluLloh, kalau begitu menurut tuan apa makna alfutuwah ?”

“Jika diberi kami memuliakannya, jika tidak diberi kami berterimakasih”.

AbduLlah AL-Murta’isyi bercerita : Bersama Abu Hafsh kami serombongan menjenguk seorang ulama yang sedang menderita sakit keras.

“Apakah tuan ingin sembuh ?”

“ya”

“Pukulah dia”. Perintah Abu Hafsh

Si orang yang sakit tersebut kemudian berdiri lalu keluar bersama kami. Akhirnya, kami semua menjadi penghuni tempat tidur orang yang sakit dan kami menjadi orang yang dikunjungi.

22 Agustus 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 1 Komentar

MENJAGA HATI PARA GURU

Alloh berfirman menerangkan kisah Nabi Musa AS bersama Nabi Khidir AS :
قال له موسى هل أتبعك علَى ان تعلمني مما علمْت رشدا
Musa berkata kepada Khidir ,, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?” (QS Al-Kahfi 66)
Berkata Imam al Junaid, Ketika Nabi Musa AS ingin bersama Nabi Khidir AS, maka Nabi Musa AS disyaratkan untuk menjaga kesopanan yang telah disepakati dengannya. Syarat ini berkaitan dengan permintaan izin Nabi Musa AS untuk diperbolehkan bersahabat dengan Nabi Khidir AS, kemudian Nabi khidir AS memberikan syarat kepada Nabu Musa AS utuk tidak menentang atau memprotes keputusannya. Kemudian ketika Nabi Musa AS tidak menepati peraturan yang pertama dan kedua, maka kekeliruan Nabi Musa AS ini dimaafkan. Akan tetapi ketika pelanggaran itu sampai ketiga kalinya, tiga merupakan batas terakhir, maka Nabi Khidir AS memutuskan untuk berpisah dengannya seraya mengatakan,
هذا فراق بيني وبينك
“Inilah perjalanan antara aku dan kamu”. (QS Al-Kahfi 78).
RasuluLlah SAWW bersabda, “Tidaklah anak muda memuliakan seorang guru karena umurnya, melainkan Alloh akan mentakdirkannya di masa tuanya dengan dijadikan orang lain yang akan berganti menghormati (memuliakannya).”
Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq RahimahuLlah berkata, “awal setiap perpisahan adalah karena adanya pelanggaran, yakni orang yang melanggar gurunya sehingga ia tidak lagi tetap pada thariqah (jalan) gurunya dan hubungan antara keduanya menjadi terputus, walaupun keduanya berada dalam satu tanah. Barang siapa yang bersahabat dengan seorang syaikh atau guru kemudian menentangnya dengan hatinya, maka ia telah merusak perjanjian hubungan murid dengannya, dan ia wajib bertobat”.
Berkata seorang Syaikh, “Menentang guru tidak ada taubatnya (secara sempurna)”.
Syaikh Abu AbdruRrahman As-Sulami berkata, “Saya pernah keluar menuju Marwa di saat guru saya Al-Ustadz Abu Sahal Ash-Sha’luki masih hidup. Sebelum saya keluar beberapa hari yang lalu, dia mengadakan majlis pembacaan Al-Qur’an dan khataman. Ketika pulang, saya melihat dia sedang menggantikan majlis ini dan mengadakan pembicaraan dengan Abul Ghaffani pada saat itu. Saat itu hati saya merasa tidak setuju dan bergumam dalam diri saya sendiri, “Dia telah menggantikan majlis khataman dengan majlis pembicaraan”. Di hari yang lain, guru saya berkata kepada saya, “Wahai Abu AbduRrahman, apa yang dikatakan orang-orang tentang saya ?” Jawabku, “Mereka mengatakan bahwa tuan guru telah menggantikan majlis khataman Al-Qur’an dengan majlis pembicaraan”. Lalu Ustadz Abu Sahal Ash-Sha’luki menjawab dengan menjelaskan, “Barang siapa yang berkata kepada gurunya dengan mengatkan mengapa atau untuk apa, maka ia tidak akan beruntung selamanya”.
Telah diketahui bersama bahwa Al-Junaid berkata, “Saya pernah datang kepada Sarry As-Saqthi di suatu hari. Dia menyuruh saya untuk mengerjakan sesuatu, dan saya melaksanakannya dengan cepat. Ketika saya kembali kepadanya, ia memberi saya selembar kertas dengan berkata,” Inilah tempat pelaksananamu tentang keperluan saya yang kamu laksanakan dengan cepat”. Kemudian saya membaca tulisan kertas tersebut yang ternyata tertulis : “Saya mendengar seorang penggiring onta mendendangkan lagu di lembah :
Saya menangis
Tahukah kamu apa yang menyebabkan aku mnangis ?
Saya menangis karena takut kamu akan meninggalkanku
Dan takut kamu akan memutuskan tali hubunganku
Serta kamu biarkan aku hidup sendiri.
Diriwayatkan dari Abul Hasan Al-Hamdani Al-Alawi yang berkata, “Di suatu malam saya berada di tempat Abu Ja’far Al-Khuldi, saya diperintahkan untuk menggantungkan burung di sangkar di rumah saya, maka saya mengikuti petunjuknya. Kemudian Ja’far berkata kepadaku,, ‘Bangunkanlah di waktu malam’. Maka sayapun mengajukan suatu alasan (pertanyaan kepadanya) kemudian pulang ke rumah dan mengeluarkan burung dari sangkarnya. Burung itu berhenti di hadapan saya. Tiba-tiba muncul seekor anjing yang masuk lewat pintu , membawa burung tersebut ketika orang-orang yang hadir lengah. Ketika pagi hari tiba, saya datang kepada Ja’far. ketika dia melihatku, dia berkata, “Barang siapa tidak menjaga perasaan para guru maka Alloh akan menyuruh anjing untuk menyakiti (mengganggunya).”
AbduLlah ar-Razy telah mendengar Abu Utsman Said Al-Hirri menerangkan sifat Muhammad bin Al-Fadhal Al-Balkhi dan memujinya. AbduLlah ingin sekali mengunjunginya. Ketika mengunjunginya, hati AbduLlah tidak terkesan dengan Muhammad bin Al-Fadhal sebagimana yang diduga sebelumnya karena itu, AbduLlah kembali kepada Abu Utsman.
“Bagaimana kamu dapati dia ?”Tanya Abu Utsman.
“Saya menemuinya tidak seperti yang saya kira”. Jawab AbduLlah
“Karena kamu menganggap kecil (meremehkannya) . ketahuilah tidak seorangpun yang meremehkan orang lain melainkan ia akan dihalangi faedah darinya, karena itu kembalilah kepadanya dengan penuh penghormatan”.
AbduLlah akhirny kembali kepada Muhammad bin Al-Fadhal Al-Balkhi, dan dalam kunjungnnya itu dia membawa banyak manfaat.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Ketika penduduk Balkh mengusir Muhammad bin Al-Fadhal dari daerahnya, dia mendoakan mereka, “Ya Alloh hilangkanlah kejujuran dari mereka.” Maka di daerah Balkh sesudah itu tiada seorangpun yang bisa dipercaya’”.
Ahmad bin Yahya Al-Abiwardi rahimahuLlah berkata.”Barangsiapa yang diridhai gurunya maka sepanjang hidupnya tidak dibalas (kejelekan) oleh Alloh agar rasa ta’zimnya kepada gurunya tidak hilnag. Ketika guru itu telah meninggal, maka Alloh menampakkan balasan keridhaan gurunya. Barang siapa yang gurunya tidak meridhainya maka maka selama hidup guru itu tidak diberi balasan oleh Alloh agar guru tersebut tidak menaruh belas kasihan kepdanya. Sesungguhnya para guru diciptakan sebagai orang-orang yang mulia. Ketika guru itu telah meninggal, maka murid tersebut akan memperoleh balasannya.

18 Agustus 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 3 Komentar

CEMBURU

Alloh berfirman :

قل انّماحرّم ربّي الفواحش ما ظهر وما بطن

“Katakanlah , Tuhanku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi”.(QS Al-A’raf 33)

RasuluLlah SAWW bersabda :

ما احد اغير من الله تعالى ومن غيرته حرّم الفواحش ما ظهر منها وما بطن

“Tiadalah seseorang yang lebih cemburu dari Alloh. Termasuk kecemburuannya adalah mengharamkan perbuatan yang keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi”.

Sabda Beliau yang lain :

انّ الله يُغار وإنّ المؤمنين يغار وغيرة الله تعالى أن يأتي العبد المؤمن ما حرّمالله تعالى عليه

“sesungguhnya Alloh cemburu dan orang mukmin cemburu. Kecemburuan Alloh adalah jika seorang hamba yang beriman melakukan perbuatan yang diharamkan Alloh Ta’ala”.

Ustadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Cemburu adalah kebencian terhadap keikut sertaan orang lain”. Jika Alloh telah cemburu artinya Alloh tidak rela keikut sertaan selain-Nya yang berhak ditaati hamba-Nya. Diceritakan dari Sariy As-Saqthi bahwa pernah dibacakan sebuah ayat di hadapannya :

وإذا قرأت القرآن جعلنا بينك وبين الذين لا يؤمنون بألاخرت حجابا مستوراً

“Dan paabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup”. (QS Al-Isra 45)

Kata sarry kepada sahabat-sahabatnya, “Tahukah kamu apa yang  dimaksud dengan dinding itu ?” Dinding penutup adalah cemburu. Tiada seorangpun yang lebih cemburu daripada Alloh”. Adapun yang dimaksud Sariy dalam ucapannya, “dinding penutup ini adalah cemburu”, adalah Alloh tidak menjadikan orang-orang kafir mengetahui kebenaran agama”.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “sesungguhnya orang-orang yang malas beribadah adalah mereka yang mengikat kebenaran di bawah kaki mereka seperrti orang yang hina, sehingga mereka lebih suka menjauh dari Alloh dan Alloh menjadikan mereka menunda-nunda ibadahnya. Mereka menjadi terlambat dalam hal ini mereka seolah-olah mengatakan :

Aku adalah orang yang jatuh cinta

Pada orang yang aku cintai

Akan tetapi keburukan menghalangiku

Dari memandang orang yang saya cintai

Dalam hal ini mereka juga mengatakan,”Bagi orang sakit yang tidak dikunjungi bagaikan orang yang mengininkan akan tetapi tidak terbalaskan keinginannya”.

Al-Abbas Al-Zauzani berkata,”Saya memiliki suatu awal kebaikan. Saya tahu berapa jarak yang akan saya tempuh untuk mencapai tujuan keselamatan yang saya inginkan. Disuatu malam saya melihat dalam mimpi melihat saya tergelincir dari lereng yang tinggi, lalu saya ingin sekali sampai ke puncak. Saya sangat sedih sekali, kemudian saya terbangun. Saya mendengar seseorang berkata, “Wahai Abbas, Alloh belum menghendakimu sampai kepada sesuatu yang kamu ingini, namun Alloh membuka Al-Hikmah dari lisanmu”. Kata Al-Abbas “Lalu di pagi harinya saya diilhami beberapa kalimat Al-Hikmah”.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Seorang Syaikh memiliki kondisi dan waktu tesendiri bersama Alloh sehingga ia tidak tampak seaat di tengah-tengah orang fakir, kemudian setelah itu ia tampak tidak seperti pada waktu itu”. Hal itu ditanyakan kemudian dijawab, “Ah, sesungguhnya tabir telah menutupinya”.

Ustadz Abu Ali jika di tengah-tengah majlisnya terjadi sesuatu yang mengganggu hati para jama’ah, ia mengatakan, “Ini adalah termasuk kecemburuan Alloh, Dia menginginkkan cerahnya waktu ini tidak dilalui bersama mereka”.

Dia ingin mendatangi kita

Sehingga ketika melihat suatu cermin kecantikan wajahnya

Meka dia menghalanginya untuk mendatanginya

Sebagian ulama shufi ditanya, “Apakah kamu ingin melihatnya ?”

“Tidak”.

Kenapa?”

Saya mensucikan kecantikan itu dari pandangan orang sepertiku”

Sesungguhnya saya hasud

Terhadap kedua pandangan mataku terhadapmu

Sehingga kupejamkan mataku

Jika aku melihatmu

Saya melihatmu berlenggang penuh keindahan

Yang membuatku tertarik

Sehingga saya cemburu kepdamu

Karena keindahanmu

Dalf Asy-Syibli pernah ditanya.”Kapan kamu beristirahat ?”

“Jika saya tidak melihat orang yang mengingatnya” jawabnya.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq pernah menyampaikan sabda Nabi SAWW tentang tabiat beliau kepada seorang pasukan berkuda dari suku badui yang mengundurkan diri, lalu beliau mengijinkannya.

“Semoga Alloh memanjangkan usiamu,” kata Baduwi, “dari suku manakah kamu?”

Seseorang dari Quraisy” jawab Nabi SAWW.

Para sahabat yang mendengar menjadi marah dan langsung menghardiknya, “Celakalah kamu sampai kamu tidak tahu Nabimu”

Menurut Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq jawaban Rasul yang berbunyi “Seseorang dari Quraisy” adalah suatu gambaran tentang kecemburuan. Jika tidak, maka bagi setiap muslim wajib mengetahui RasuluLloh SAWW. Alloh kemudian menjadikan lisan para sahabat untuk memperkenalkan Beliau kepada orang baduwi. Sementara menurut sebagian ulama, cemburu adalah termasuk sifat sufi pemula. Sesunguhnya orang yang mengesakan tidak dapat menyaksikan kecemburuan dan tidak punya pilihan lain dan juga tidak bertindak sesuka hatinya dalam kekuasaan. Akan tetapi, urusan-urusan Alloh lah yang paling utama dalam memutuskan semua yang diputuskan.

Sa’id bin Salam Al-Maghribi berkata, “Cemburu itu perbuatan orang-orang yang belum mantap tauhidnya, adapun orang-orang yang ahli hakikat, tidak “

Dalf Asy-Syibli berkata, “Cemburu ada dua, kecemburuan manusia kepada yang lain dan kecemburuan Tuhan kepada hati memberi tenaga pada manusia untuk tidak peduli pada selain Alloh”. Lebih jelasnya dapat difahami pada keterangan berikut ini : Cemburu itu ada dua, kecemburuan Alloh pada haba yang mengandung makna mengajak manusia untuk tidak menjadikan makhluk sebagai sekutu-Nya sehingga ia menninggalkan-Nya. Kecemburuan hamba karena Alloh mengandung pengertian tentang seorang hamba yang tidak melakukan apa saja selain karena Alloh. Dengan demikian cemburu pada Alloh adalah suatu kebodohan, atau bisa saja menjadikannya meninggalkan agama. Sedangkan cemburu karena Alloh bisa menjadikannya megagungkan hak-hak Alloh dan membersihkan perbuatan untuk ditujukan semata-mata karena Alloh. Dan ketahuilah bahwa termasuk sunatuLloh kepada para Wali-Nya adalah bahwa jika mereka berada pada selain Alloh, cenderung pada selain-Nya, maka Alloh akan mengacaukan hati-Nya, sehingga mereka kembali membersihkan hatinya semata-mata karena Alloh tanpa tergiur kepada selain Alloh. Sebagaimana Nabi Adam AS ketika merasa senang diabadikan di surga, maka Alloh mengeluarkannya. Sebagaimana Nabi Ibrahim AS ketika Beliau heran diperintah untuk menyembelih Nabi Ismail AS, maka Alloh mengeluarkan sifat heran tersebut dari hati Nabi Ibrahim AS :

“Ketika keduanya berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya) (QS Ash-Shafat 103)

‘Dan Alloh pun membersihkan hatinya dengan tebusan yang lain’

Muhammad bin Hasan bercerita :Ketika saya mengelilingi gunung libanon, tiba-tiba muncul seorang pemuda di hadapan kami yang badannya terbakar oleh panasnya udara. Ketika melihat saya dia langsung berpaling dan berlari, lalu saya mengejar dan mengikutinya.

“Nasihatilah saya !” teriak saya dari jarak yang agak dekat.

Tanpa berpaling, pemuda itu meninggalkan pesan, Hati-hatilah sesungguhnya Dia sangat pencemburu. Dia tidak ingin di hati hamba-Nya ada ketertarikan kepada selain-Nya”. Pemuda itu segera menghilang dan saya merenungkan kata-katanya”.

An-Nashr Abadzi berkata, “Alloh itu sangat pencemburu. Diantara kecemburuann-Nya adalah Dia tidak memberikan jalan untuk menuju kepada-Nya di jalan selain jalan-Nya.” Dikatakan bahwa Alloh telah mewahyukan kepada sebagian Nabi-Nya bahwa si Fulan membutuhkan-Ku dan Aku juga membutuhkannya. Jika ia telah memenuhi kebutuhan-Ku maka Aku akan memenuhi kebutuhannya”.

Setelah memperoleh wahyu, maka Nabi tersebut bertanya dalam munajatnya, “Tuhan, bagaimana Engkau mempunyai kebutuhan ?”

“Dia mempunyai kecenderungan kepada selain-Ku, kemudian membersikan hatinya, sehingga Aku memenuhi kebutuhan-Nya, “ Jelas Alloh

Al-Kisah, Abu Yazid Al-Bustami pernah melihat dalam mimpi ada sekelompok bidadari. Dai memandang mereka sampai menghabiskan waktunya dalam berapa hari. Ketika mimpinya terulang lagi, ia tidak menoleh dan mengatakan kepada mereka, “Kamu sekalian hanya akan menyibukkan saya”.

Suatu hari Rabiah Al-Adawiyah mengalami sakit. Salah seorang pengunjung menanyakan keadaannya.

“Apa penyebab penyakitmu ?”

“Saya telah melihat surga di hatiku, lalu Tuhan mendidikku. Dia menegurku,dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Dia berkata sambil memandang Tuhan di dalam hatinya.

Diriwayatkan dari Sariy As-Shaqthi yang menceritaakan, :Saya pernah mencari seorang teman. Daerah-daerah yang saya duga menjadi tempat tinggalnya saya datangi, sampai akhirnya saya tiba dan melewati daerah berbukitan. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh sekelompok orang yang terkena penyakit parah. Diantara mereka ada yang buta, ada pula yang menderita penyakit yang menyengsarakan. Saya Tanya kepada seseorang tentang keadan mereka.

“Di tempat ini setahun sekali dilewati oleh seorang laki-laki aneh yang mendoakan orang-orang sakit yang meminta doanya, dan ternyata mereka sembuh”. Jawab mereka.

Kemudian dengan sabar saya ikut menananti kedatangannya bersama mereka. Waktupun berjalan dan waktu yang saya tunggu pun tiba, ia mendekati orang-orang yang memohon berkah doanya, lalu mendoakan dan mereka sembuh. Tanpa berkata berkata apa-apa lelaki aneh itu melanjutkan perjalanannya. Saya memandangnya sejenak lalu mengikuti jejaknya. Setelah agak jauh, saya menyapanya, “Tuan saya mempunyai penyakit bathin, apa obatnya ?”.

“Wahai Sariy, tinggalkanlah saya. Sesunguhnya Dia sangat pencemburu. Dia tidak mau melihatmu cenderung kepada selain-Nya sehingga Dia berpaling darimu.” Laki-laki aneh itu meninggalkan pesan kemudian pergi.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Diantara kecemburuan-Nya terlihat ketka orang-orang berzikir kepada-Nya dengan hati yang lengah, maka Dia tidak mempedulian mereka”.

Ustaz Abu Ali Ad-Daqaq  RahimahuLloh berkata, “ketika seorang Baduwi masuk masjid RasuluLloh SAWW dan kencing di dalamnya, para sahabat marah dan mengusirnya. Mereka merasa malu dan tidak bisa menerima perbuatannya. Demikian juga seorang hamba yang tahu keagungan Tuhannya. Dia merasa sulit mendengarkan zikir orang yang lengah dan beribadah dengan tidak menjaga kesopanan”.

Al-Kisah ketika Dalf Asy-Syibli ditinggal mati puteranya yang bernama Abul Hasan, isterinya gelisah dan memotong-motong rambutnya. Sementara Asy-Syibli masuk kamar mandi dan melumuri jenggotnya dengan sabun yang hendak dicukurnya. Setiap orang yang datang hendak berta’ziyah menanyakanya, “Apa yang kamu lakukan, wahai Abu Bakar ?”

“Ikut berduka cita bersama isteriku”. Jawabnya.

“Jelaskan kepada kami wahai Abu Bakar, mengapa seperti itu yang kamu lakukan ?”

“Saya tahu mereka mengucapkan bela sungkawa kepadaku dengan hati yang lengah. Mereka mengatakan, ‘semoga Alloh memberimu pahala’ maka saya menebus kelengahan zikir mereka dengan jenggotku.” Jawab Asy-Syibli.

Ahmad An-Nuri seoarng shufi pengembara ketika sedang dalam perjalanannya dia mendengar suara azan, lalu menjawabnya dengan jawaban lain, “Tusukan dan racun kematian.” Selang beberapa detik dia mendengar lolongan suara anjing, lalu menjawab, “Baik, semoga engkau berbahagia”. Orang yang mendengarnya memprotes,” Sesungguhnya hal ini sama dengan meninggalkan agama karena mengatakan tusukan dan racun kematian untuk jawaban suara azan dan menyambut lolongan anjing dengan jawaban yang baik.” Dia menjawab, “Karena suaranya bagaikan kepala orang yang berzikir kepada Alloh dengan hati yang lengah. Sedangkan tentang anjing itu Alloh berfirman :

وإنّ من شئء إلا يسبح بحمده

Dan tidak satupun makhluk melainkan bertasbih dengan memuji-Nya (QS Al-Isra 44)

Dalf Asy Syibli pernah berazan. Ketika sampai pada kalimat syahadatain ia berkata, “Kalau bukan karena Engkau memerintahkan saya, pasti saya tidak ingat selain-Mu”.

Al-Kisah seseorang mengucapkan “Maha besar Alloh” lalu ditmpali seorang ulama sufi, “Saya suka jika kamu membersihkan zikirmu ini”.

Abul Hasan Al-Khazfani mengatakan, Tiada Tuhan selain Alloh dari dalam hati : Muhammad utusan Alloh,dari telinga. Barang siapa melihat dari lahir kata ini, pasti dia akan mengira bahwa ucapan ini meremehkan syariat dan tidak mengingat bahaya kecemburuan Alloh. Karena kekuasaan Alloh mengecilkan yang lain-Nya”

18 Agustus 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

Sifat sifat orang Munafik*(al Imam Jakfar Shodiq salam Allah atasnya)

Org munafik itu rela jika dia jauh dari rahmat Allah swt. Dia mengamalkan amalan lahiriah sejalan syariat,namun hatinya lalai,ceroboh dan tdk mengakui kebenarannya n mengolok oloknya.
Tanda kemunafikan itu adalah tdk peduli dengan banyaknya dusta, khianat, licik, membuat banyak pernyataan palsu, khianat mata, perangai kasar, pandir, tidak mempunyai rasa malu, menganggap remeh kemaksiatan, menginginkan orang orang beriman kehilangan iman mereka, menganggap ringan musibah yg berkenaan dengan agama, sombong, senang pujian, kedengkian, mengutamakan dunia atas akhirat, lebih memilih keburukan dari kebaikan, suka mengadu domba, suka berlengah lengah, suka berurusan dengan orang fasik, membantu orang jahat, berpaling dari kebaikan, menghina orang-orang yg berbuat kebaikan, menganggap baik kejahatan yg dilakukan, menganggap buruk kebaikan yg dilakukan orang lain, merendahkan diri terhadap orang kaya, merendahkan diri terhadap orang yg berkuasa-dholim, dan banyak lagi yg serupa dengan itu.

Allah telah menyebutkan sifat-sifat kaum munafik di beberapa tempat dalam kitabnya. Dia berfirman: ‘dan diantara manusia ada yg mengabdi kepada Allah secara setengah setengah, apabila dia mendapat kebaikan, dia merasa tenteram, sedangkan apabila dia mendapat musibah, dia kembali atas wajahnya (mjd kafir), dia rugi di dunia dan di akhirat, itu adalah kerugian yg nyata (QS 22:11), juga …’dan diantara manusia ada yg mengatakan kami telah beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka bukanlah orang orang yg beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang orang yg beriman, namun mereka tdk menipu kecuali diri mereka sendiri, sementara mereka tdk menyadari. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit lagi pada mereka’(QS 2:8-10), Nabi saw bersabda, “Orang munafik itu apabila dia berjanji dia mengingkari, apabila dia berbuat dia bertindak jahat, apabila berkata dia berdusta, apabila diberikan amanat dia berkhianat, apabila diberi rizki dia melanggar, dan apabila tdk diberi dia menonjol nonjolkan kehidupannya”, beliau juga bersabda “Barangsiapa yg batinnya bertentangan dengan perilaku lahirnya, maka dia adalah munafik, siapapun dia,di manapun adanya,pada zaman apapun dia hidup dan dalam peringkat manapun dia berada’, juga bersabda ‘orang beriman makan untuk mengisi satu perut sedangkan orang munafiq untuk tujuh perut’.

Naudzubillah betapa banyaknya kita (maaf saya) masih memiliki sebagian atau semua tanda tanda kemunafikan semoga kita diberi kesempatan dan diberi kekuatan olehNya agar terlepas dari kemunafikan yang tampak (lahiriah) maupun yg tidak tampak (batiniah), hanya Allahlah yang Maha bekuasa atas segala sesuatu.

10 Mei 2010 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Penemu Sungai Dalam Laut Itu Pun Masuk Islam

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Baca selengkapnya klik gambar di bawah ini

17 Maret 2010 Posted by | Uncategorized | 3 Komentar

Kemerdekaan


اللّه SWT berfirman,

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةْ

“dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) tas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam keadaan kesusahan’” (Al-Hasyr 9)

Artinya, orang-orang Anshar mengutamakan orang-orang Muhajirin atas mereka sendiri untuk memurnikan dari apa yang mereka keluarkan.

Ibnu Abas RA. Menuturkan sabda َسُوْلُ اللّه SAWW yang mengatakan :

اِنَّمَا يَكْفِى أَحَدُكُمْ مَاقَنَعَتْ بِهِ نَفْسُهُ  وَإِنَّمَا يَصِيْرُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَذْرَعٍ وَشِبْرٍ  وَإِنَّمَايَرْجِعُ إِلَى آخِرِهِ

“Sesungguhnya seseorang dari kalian mencukupkan dengan apa yang menjadi kepuasan nafsunya, sampai menjadi empat hasta dan satu jengkal serta segala perkara kembali pada kesudahannya (akhirnya).”


Baca selengkapnya di sini

18 Februari 2010 Posted by | Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani | 1 Komentar

ZIKIR

ZIKIR

اللّه SWT Berfirman

ياأيّهاالذيْن أمنوااذْكراللّه ذكرا كثيْرا

Yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada اللّه dengan ingatan (zikir) yang banyak”. (Al-Ahzab 41)

َسُوْلُ اللّه SAWW bersabda :

ألا أنبّئكم بخير أعمالكم وأزْكاها عند ملككم وارفعها في درجاتكمْ وخير منْ إعطاءالذّهب والورق وأنتلقوا عدوّكم  وتضْربوا أعْناقهم ويضْربوا أعْناقكم قالوا ماذاك يارسول اللّه قال ذكراللّه

Artinya ”Ingatlah, akan aku beri tahu kalian tentang sebaik-baik amal kalian, paling suci dari amal kalian di sisi Raja kalian, dan paling tinggi untuk derajad kalian, dan lebih baik daripada pemberian emas dan perak, ataupun daripada engkau bertemu musuh kalian sehingga kalian memukul leher mereka atau mereka memukul leher kalian ?”

Para Sahabat bertanya, ”Apa itu wahai َسُوْلُ اللّه ?.

Beliau menjawab, ”ZikruLlah”.

َسُوْلُ اللّه SAWW bersabda :

لاتقوم الساعة على احد يقوال اللّه اللّه

”Hari kiyamat tidak akan terjadi pada seseorang yang mengucapkan اللّه اللّه

َسُوْلُ اللّه SAWW juga pernah bersabda :

لاتقوم الساعة حتّى لا يقال في الارض اللّه اللّه

”Kiyamat tidak akan terjadi sehingga di bumi ini tidak ada yang mengucapkan اللّه اللّه

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ”Zikir adalah rukun yang sangat kuat dalam perjalanan menuju Al-Haq, bahkan keberadaannya merupakan tiang. Seseorang tidak akan sampai menuju اللّه kecuali dengan melanggengkan zikir.

Zikir ada dua macam, zikir lisan dan zikir hati. Zikir lisan diperuntukkan bagi hamba yang mempergunakan kemampuannya sehingga menghantarkannya pada kelanggengan zikir di dalam hati. Zikir lisan ini memiliki pengaruh kepada zikir hati. Jika seorang hamba berzikir dengan lidah dan hatinya sekaligus, maka dia adalah seorang ahli zikir yang sempurna dalam sifat dan keadaan perjalanan spiritualnya.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ”Zikir menyebarkankewalian. Barang siapa menetapi zikir maka dia akana dianugerahi penyebaran dan jika ia melepas zikirnya maka penyebaran kewalian akan dicabut darinya”.

Diceritakan bahwa Dalf As-Syibli dalam permulaan perjalanan sufinya setiap hari menyerap sedikit demi sedikit dan mengendalikan nafsunya dengan teguh supaya tidak terputus dari kontinuitas zikir. Jiak sifat lupa memasuki hatinya, maka dia memukul nafsunya sampai pecah. Terkadang keteguhan ini lenyap sebelum menyentuh. Terkadang pula ia memukul dinding pembatas dengan dua tangan dan dua kakinya. Dikatakan, zikir kepada اللّه dengan hati adalah pedang para murid. Dengan pedang itu mereka berperang melawan musuh-musuh dan menghalau beberapa penyakit yang mencoba mengganggunya. Musibah ketika membayangi hamba dan sempat menggetarkan hatinya, maka dia membatasinya dari semua yang dibencinya pada saat itu juga.

Muhammad Al-Washiti pernah ditanya tentang zikir maka dijawab, ”Zikir adalah keluar dari medan kelupaan menuju kepastian musyahadah yang mampu mengalahkan tekanan ketakutan dan tarikan rasa cinta”. Dzunun Al-Mishri berkata, ”Barang siapa ingat اللّه dengan ingatan yang hakiki, maka dia pasti lupa segala sesuatu di sisi ingatan-Nya (zikir kepada اللّه) dan اللّه akan menjaganya dari segala sesuatu. Baginya punya pengganti dari segala hal.

Abu Utsman pernah ditanya dari hal yang demikian, ”Kami berzikir kepada اللّه tetapi tidak menemukan kemanisan di dalam hati kami”. Kemudian dijawab,”Pujilah اللّه agar menghiasi diantara luka-lukamu dengan ketaatan”.

Di dalam hadits yang masyhur َسُوْلُ اللّه SAWW pernah bersabda, ”

إِذَارأيْتم الْجنّة فارْتعوا بها قيْل له وما رياض الجنة فقال مجالس الذكر

Jika kamu melihat surga maka merumputlah. Ditanyakan kepada Beliau, “Apakah itu kebun surga ?”. Beliau menjawab, “’Majlis zikir”.

Jabir bin AbdiLlah menceritakan, “Suatu hari َسُوْلُ اللّهSAWW keluar menuju kami lalu bersabda, “

يا أيّهاالنْاس ارتعوا فيْ رياض الجنّة قلنا يا رسول اللّه ما رياض الجنة قال مجالس الذّكر قال اغدوا وروْحواْ والذْكروا من كان يحبُّ أنْ يعْلم منزلته عنْد اللّه تعالى فلينظر كيف منْزلة اللّه تعالى عنده فانّ اللّه تعالى ينزل العبد حيْث أنزله منْ نفْسه

Hai manusia merumputlah kalian semua di kebun surga.’Kami bertanya, ‘Wahai َسُوْلُ اللّه, apakah kebun surga itu ?’ Beliau menjawab, ‘Majlis zikir. Makan pagilah kalian dengan zikir, makan sorelah kalian dengan zikir. Barang siapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi اللّهmaka pandanglah bagaimana kedudukan اللّه di sisinya (di hatinya). Sesunggguhnya اللّه turun pada hamba menurut turunnya hamba di sisi-Nya”.

Dalf As-Syibli mengatakan, “ Bukankah اللّه telah berfirman, “Aku duduk di sisi orang yang mengingat-Ku. Apa yang kalian peroleh wahai manusia, dari majlis Al-Haqq ini ?”’.

As-Syibli kemudian mendendangkan sya’ir :

 

Saya ingat pada-Mu

          Tidak, saya lupa pada-Mu sepintas

          Apa yang lebih ringan dalam zikir

          Selain zikir lidahku

          Saya dengan tanpa cinta

Mati dari keninginan

Hati pergi tanpa arah menujuku

Berputar dari timur ke barat

Ketika cinta melihatku

Sesungguhnya Engkau hadir padaku

Saya menyaksikan-Mu ada

Di segala tempat

Saya berdialog dengan yang diadakan

Dengan tanpa ucapan

Saya melirik yang diketahui

Dengan tanpa pandangan

Diantara keistimewaan zikir adalah tidak dibatasi waktu, bahka tidak ada waktu melainkan seorang hamba diperintahkan berzikir, baik yang bersifat wajib maupun sunah. Salat meski memiliki kedudukan sebagai ibadah yang paling mulia, namun pada  waktu-waktu tertentu tidak boleh dilakukan. Sedangkan zikir dilakukan sepanjang waktu dalam berbagai keadaan.

اللّه berfirman :

الّذين يذكرون اللّه قياماً وقعوْداَ وعلى جنوبهمْ

“Orang-orang yang mengingat اللّه baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring (Ali Imran 191).

Abu Bakar bin Furak mengatakan, “Posisi berdiri dengan kebenaran zikir dan posisi duduk dengan menahan diri dari sikap berpura-pura (berzikir).

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq pernah ditanya, “Apakah berzikir atau berpikir yang lebih mulia ?”

“Apa yang terjadi pada Syaikh ?”

“Syaikh AbduRrahman menajwab, “Bagi saya, zikir lebih sempurna daripada berfikir karena اللّه Dzat Al-Haqq disifati dengan zikir tidak dengan berfikir. Sesuatu yang menjadi sifat asli Al-Haqq adalah lebih sempurna dari sesuatu yang dikhususkan oleh makhluk sebagai sifat Al-Haqq”.

Maka ustadz Abu Ali tersenyum membenarkan jawaban As-Syaikh.

 

Muhammad Al-Kattani mengatakan, “seandainya tidak ada ketentuan yang mengatakan bahwa zikir kepada-Nya adalah kewajiban terhadap saya, niscaya saya tidak mengingat-Nya sebagai pengagungan kepada-Nya sebagaimana saya mengingat-Nya”.

Ustadz Abu Ali mendendangkan syair kepada teman-temannya :

Tidakkah saya jika mengingat-Mu

Selain keninginan mengusirku

Hatiku, rahasiaku, ruhku

Ketika mengingat-Mu

Sehingga sekaan-akan mata-mata

Dari-Mu membisiku untuk-Mu

Celakalah

Zikir adalah untuk-Mu semata.

Diantara keistimewaan zikir adalah menjadikan diterimanya zikir-zikir yang lain.

Firman اللّه SWT :

فاذْكروْنِي اذْكركُمْ

Ingatlah Aku, maka aku akan mengingatmu (Al-Baqarah 152)

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa Jibril As pernah berkata kepada َسُوْلُ اللّه SAWW bahwa اللّه SWT berfirman “Aku memberi umatmu sesuatu yang belum pernah Aku berikan kepada umat-umat yang lain”.

“Apa itu wahai Jibril ?”

“Yaitu firman-Nya yang mengatakan, ‘(Karena itu) ingatlah kalian maka Aku akan mengingatmu (Al-Baqarah 152). Tidak ada seorangpun selain umat ini yang pernah mengucapkannya.

Menurut penafsiran, ayat tadi bermakna bahwa malaikat selalu berkonsultasi dengan orang yang berzikir ketika hendak mencabut nyawanya.

Di dalam sebagian kitab-kitab agama disebutkan bahwa Nabi Musa AS pernah bertanya, “Wahai Tuhan, di mana Engkau berada ?”

“Di hati hamba-Ku yang beriman”.

Sufyan Atsauri pernah bertanya kepada Dzunun Al-Mishri tentang zikir lalu dijawab, “Zikir adalah kegaiban orang yang berzikir dari zikir itu sendiri”. Kemudian beliau melantunkan sebuah syair :

Tidak, karena saya melupakan-MU
lebih banyak dari mengingat-Mu

Namun dengan itu lidahku mengalir.

Sahal bin AbdiLlah berkata, Tiada hari melainkan Dzat Yang Maha Agung memanggil-manggil, “Wahai hamba-Ku, kalian tidak pernah berlaku adil terhadap-Ku. Engkau memohon kepada-Ku tetapi engkau pergi kepada selain-Ku. Aku menghilangkan musibah-misibah darimu tetapi engkau memikul beban-beban kesalahan. Wahai anak Adam, apa yang akan kamu katakan kelak ketika datang kepada-Ku ?”

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Di surga terdapat lembah yang subur. Ketika seseorang berzikir, maka para malaikat menanam pohon-pohon di lembah itu. Ketika sebagian malaikat berhenti, maka ditanyakan kepadanya, “Mengapa kamu berhenti ?” lalu dijawab, “Kawanku (orang yang berzikir) telah membuat badanku lelah dan payah ”.

Dikatakan bahwa mencari kelezatan yang hilang ada di dalam tiga hal yaitu di dalam shalat, zikir dan membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya kalian pasti menemukannya karena jika tidak maka ketahuilah bahwa pintu sedang ditutup.

Ahmad Al-Aswad bercerita, “Saya pernah bersama Ibrahim Al-Khawas dalam suatu perjalanan. Kami mendatangi suatu tempat yang di dalamnya banyak terdapat ular. Ketika tiba pada suatu pesisir pantai, Ibrahim merapatkan sampannya lalu duduk dan sayapun ikut duduk. Akhirnya malampun tiba. Udara yang sangat dingin mendorong ular keluar dari sarang mereka. Binatang berbisa tersebut merayap kesana kemari untuk mencari mangsa dan terus berjalan hingga mendekati kami. Ibrahim berbisik kepadaku, ”berzikirlah kepada اللّه”. Sayapun mengucapkan zikir, dan anehnya binatang-binatang tersebut menjauh. Tidak berapa lama ular ular tersebut mendatangi kami, dan Ibrahim mengingatkan kami seperti semula, dan saya menurutinya hingga pagi hari. Setelah matahari cerah, dia berdiri dan berjalan, kemudian saya ikut berdiri dan berjalan. Baru beberapa langkah kami berjalan, tiba-tiba seekor ular besar jatuh di bekas tempat duduk Ibrahim dalam keadaan tidur melingkar. Sayapun berkata, “ alangkah pulas tidur ular ini”. Lalu dijawab Ibrahim, “Tidak, semenjak beberapa masa yang silam, saya tidak pernah tidur malam lebih nyaman daripada pagi ini “.

Dikatakan, “Barang siapa yang tidak merasakan kerasnya lupa, maka dia tidak dapat merasakan manisnya zikir.” Sarry As- Saqathy berkata, Dalam sebagian kitab disebutkan, “Jika mengingat-Ku lebih menguasai hamba-Ku, berarti dia rindu kepada-Ku yang membuat Aku rindu kepadanya”. Sarry mengatakan, “اللّه memberi wahyu kepada Dawud AS, “Bersama-Ku, bergembiralah dan dengan mengingat-Ku, bersenang-senanglah”.

Ahmad An-Nuri mengatakan, “Segala sesuatu memiliki siksaan, dan siksaan bagi orang makrifat adalah keterputusannya dari zikir”. Di dalam kitab Injil disebutkan, “Ingatlah Aku ketika kamu marah, maka Aku pasti mengingatmu ketika Aku marah. Ridhalah dengan pertolongan-Ku karena pertolongan-Ku lebih baik daripada pertolonganmu kepada dirimu sendiri”.

Seorang pendeta yahudi pernah ditanya, “Apakah tuan puasa ?”

“Saya puasa dengan mengingat-Nya. Jika saya mengingat selain-Nya berarti saya telah berbuka”.

Seseorang yang mengabadikan hatinya dengan zikir maka setan yang mendekatinya pasti terbanting, sebagaimana manusia yang mendekati setan tanpa zikir juga pasti terbanting. Para setan bingung menyaksikan hal ini. Mereka bermusyawarah, “Apa yang dimilikinya ?” lalu dijelaskan, “Manusia telah menyentuhnya”.

Sahal bin AbduLlah mengatakan, “Saya tidak mengetahui maksiyat yang lebih buruk melebihi lupa/lalai kepada Tuhan”. Dinyatakan bahwa zikirkhafi (secara rahasia) tidak bisa diangkat ke langit oleh para malaikat karena tidak tampak baginya. Zikir semacam ini merupakan rahasia antara seorang hamba dengan اللّه. Salah seorang ulama sufi menuturkan pengalaman anehnya. Dia mengatakan, “Diceritakan kepada saya tentang seorang ahli zikir yang tinggal di sarang harimau. Sayapun mendatanginya. Di sana saya melihat dia sedang duduk berzikir. Tiba-tiba seekor harimau menerkam dan berusaha merobek-robek badannya. Dia pingsan dan sayapun pingsan. Ketika dia sadar dan saya juga mampu berdiri, maka saya bertanya kepadanya, “Ada apa?”. Diapun menjawab bahwa اللّه telah merobohkan harimau itu”.

AbduLlah Al- Jariri mengatakan, “Diantara sahabat-sahabat kami ada seorang pria yang banyak mengucapkan اللّه..اللّه. ketika dia berjalan di sela-sela barisan pohon kurma, tiba-tiba sebatang pohon kurma tumbang dan menimpa kepala ahli zikir tersebut.kepalanya pecah dan darah mengalir dari sekujur tubuhnya. Di tanah tertulis ribuan kata اللّه, اللّهdengan tinta darahnya”.

11 Februari 2010 Posted by | Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani | 5 Komentar

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.