بسم الله الرحمن الرحيم

Mengapa Asyura Diperingati Tiap Tahun?

Selama 14 abad ini, para pengikut Ahlul Bait tiap tahunnya selalu mengenang peristiwa heroik Asyura yang sangat tragis. Mereka mengenang kembali lembaran demi lembaran sejarah yang menghiasi darah-darah suci yang tertumpah di Karbala. Mereka menangis, terkadang sampai histeris. Di negeri-negeri muslim yang tradisi Syiah-nya sudah sangat kental, Asyura berarti upacara-upacara duka dengan cara turun ke jalan atau hadir di majelis-majelis duka cita.

Banyak kaum muslimin dunia yang belum mengenal madzhab Ahlul Bait ini yang mempertanyakan, mengapa orang-orang Syiah tiap tahun mengenang peristiwa tragis ini? Mengapa kematian sekelompok orang yang sudah berlalu sekian abad dari zaman kita masih terus ditangisi? Mengapa perasaan benci terhadap para pembantai keluarga Nabi masih dipelihara oleh orang-orang Syiah? Bukankah kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya melupakan masa lalu dan memaafkan segala kesalahan mereka?

Sejak Imam Husein a.s. gugur di Karbala dan kepemimpinan atas ummat Islam atau imamah berpindah tangan kepada puteranya Imam Ali bin Husein As-Sajjad a.s, mengenang peristiwa pahit Karbala itu sudah diperintahkan oleh para imam. Dalam berbagai kesempatan, para imam selalu meminta para penyair dan orator terkenal di zamannya untuk membacakan kembali berbagai kisah yang berlangsung pada tanggal 10 Muharam tahun ke-61 Hijriah tersebut. Kita bisa mengemukakan sejumlah hal yang menyebabkan para imam sampai menyuruh para pengikutnya agar menghidupkan terus peristiwa Karbala dalam ingatan mereka. Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | 19 Komentar

Ksatria Karbala

Perjalanan sejarah telah dipenuhi oleh figur-figur teladan dan tokoh-tokoh besar yang namanya abadi dan tindak-tanduknya layak diteladani. Lembaran hidup mereka mementaskan kepahlawanan, kedermawanan, keramahan, dan kebesaran. Di saat-saat genting sekalipun, kebesaran jiwa mereka tetap menjadi panutan. Kisah tragedi pembantaian keluarga Nabi di Karbala meski menjadi luka yang dalam bagi umat Islam sepanjang sejarah, namun penuh dengan hikmah. Tragedi Karbala adalah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, antara kemanusiaan dan kebinatangan, antara kemuliaan dan kehinaan, antara kebebasan dan keterbelengguan.

Di padang tandus Nainawa, figur-figur besar semisal Hurr bin Yazid Al-Riyahi, Habib bin Madhahir, Ali bin Al-Husein, Wahb bin Abdullah dan lainnya mengajarkan kepada umat manusia di sepanjang zaman tentang makna sejati dari kebesaran, keberanian, kepahlawanan, kehormatan, dan kesetiaan. Pada kesempatan kali ini, kami akan membawa Anda ke masa itu, saat lakon-lakon Karbala mementaskan drama kesucian. Kami akan mengajak Anda untuk mencermati fragmen-fragmen yang mereka mainkan.

Hurr bin Yazid Al-Riyahi
adalah komandan pasukan Ubaidillah bin Ziyad. Dengan sekitar seribu orang yang dipimpinnya, Hurr mendapat perintah untuk menghadang gerak Imam Husein dan rombongannya yang sedang menuju Kufah dan menggiring mereka menghadap Ibnu Ziyad. Untuk beberapa hari pertama setelah pasukannya berhadapan dengan rombongan Imam Husein a.s, mungkin Hurr dipandang sebagai orang yang paling berdosa terhadap keluarga Nabi itu. Sebab dengan menjalankan perintah demi perintah yang diterimanya dari Ibnu Ziyah, Hurr telah membuat posisi Imam Husein dan keluarganya terjepit sampai mereka kehabisan air minum.

Namun sikap hormatnya kepada keluarga Rasul dan kebesaran jiwanya telah membuat dia terbangun dari tidur yang hampir membuatnya celaka. Hurr sadar bahwa dia berada di tengah pasukan yang berniat membantai Al-Husein dan keluarganya. Jika tetap bersama pasukan ini berarti dia akan mencatatkan namanya dalam daftar orang-orang terlaknat sepanjang masa. Hurr melihat dirinya berada di persimpangan jalan. Dia harus memilih, mati tercincang-cincang dengan imbalan surga atau selamat dan kembali ke keluarga dengan membawa cela dan janji akan siksa neraka. Hurr memilih surga meski harus melewati pembantaian sadis pasukan Ibnu Ziyad.

Dengan langkah mantap Hurr memacu kudanya ke arah perkemahan Imam Husein a.s. Semua mata memandang mungkinkah Hurr komandan yang pemberani itu akan menjadi orang pertama yang menyerang Imam Husein? Namun semua tercengang kala menyaksikan Hurr bersimbuh di hadapan putra Fatimah dan meminta maaf atas kesalahannya. Sebagai penebus kesalahannya, Hurr bangkit dan dengan gagah berani mencabik-cabik barisan musuh. Hurr gugur sebagai syahid dengan menghadiahkan darahnya untuk Islam. Imam Husein memuji kepahlawanan Hurr dan mengatakan, “Engkau benar-benar orang yang bebas, seperti nama yang diberikan ibumu kepadamu. Engkau bebas di dunia dan akhirat.â€‌ Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | 4 Komentar

Pertemuan Imam Husain as Dengan Hur bin Yazid Arrayahi

Tak lama setelah memasang tenda, rombongan Imam Husain as didatangi seribu pasukan kuda yang dipimpin oleh Hur bin Yazid Arrayahi. Pasukan yang tampak siap berperang itu berjajar di depan Imam Husain dan para sahabatnya yang juga siap bertempur dengan mengikatkan sarung pedang masing-masing dipinggang.

Gurun sahara semakin memanas. Matahari memanggang setiap kepala. Imam Husain dan para sahabatnya memerintahkan para pengikutnya supaya air yang masih tersisa diminum dan minumkan kepada kuda-kuda mereka. Hingga tengah hari itu suasana yang masih relatif tenang. Begitu waktu solat dhuhur tiba, Imam memerintah seorang pengikutnya yang bernama Hajjaj bin Masruq Al-Ja’fi untuk mengumandang azan. Seusai azan, beliau berdiri di depan pasukan Hur untuk menyampaikan suatu kata kepada mereka yang beliau pandang sebagai orang-orang Kufah tersebut.

“Hai orang-orang!” Seru Imam Husain setelah menyatakan pujian kepada Allah dan salawat kepada rasul-Nya. “Aku tidaklah kepada kalian kecuali setelah aku didatangi surat-surat dari kalian. Kalian, orang-orang Kufah, telah mengundangku. Kalian memintaku datang karena kalian merasa tidak memiliki pemimpin, dan agar kemudian membimbing kalian kepada jalan yang benar. Oleh sebab inilah aku pun bergerak ke arah kalian. Kini aku telah datang. Jika kalian masih berpegang pada janji kalian, maka aku akan menetap bersama kalian. Jika tidak, maka aku akan kembali ke negeriku.”

Rombongan pasukan berkuda yang diajak bicara oleh Imam Husain as itu terdiam seribu basa. Tak ada seorang yang angkat bicara.[1] Beliau kemudian memerintahkan muazzin tadi untuk mengumandangkan iqamah setelah meminta Hur supaya menunaikan sholat bersama pasukannya sebagaimana Imam Husain as juga sholat bersama para pengikut setianya. Uniknya, Hur menolak sholat sendiri. Dia meminta sholat berjamaah di belakang beliau. Kedua rombongan kemudian bergabung dalam sholat dhuhur berjamaah yang dipimpin Imam Husain as. Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | 6 Komentar

Karbala, Persinggahan Terakhir

Tentang keberadaan Imam Husain as di Karbala diriwayatkan bahwa ketika beliau tiba di padang ini kuda yang beliau tunggangi tiba-tiba berhenti. Kuda itu tetap bergeming dan memaku kendati beliau sudah menarik tali kekangnya kuat-kuat agar beranjak dari tempatnya berdiri. Beliau lalu mencoba menunggangi kuda lain, namun hasilnya tetap sama, kuda kedua itu juga tak menggerakkan kakinya. Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | 1 Komentar

Pertemuan Imam Husain as Dengan Umar Bin Sa’ad

Demi menuntaskan hujjahnya, Imam Husain as menyampaikan pesan kepada Umar bin Sa’ad bahwa beliau ingin bertemu dengannya. Umar setuju. Maka, diadakanlah sebuah pertemuan antara keduanya. Umar bin Sa’ad ditemani 20 orang dari pasukannya sebagaimana Imam Husain as juga ditemani oleh 20 pengikutnya. Namun, di tengah pertemuan ini keduanya memerintahkan semua pengikut masing-masing itu untuk keluar dari ruang pertemuan kecuali dua orang dari mereka masing-masing. Dari pihak Imam Husain yang dizinkan untuk terus terlibat dalam pertemuan adalah Abbas dan Ali Akbar as, sedangkan dari pihak Umar bin Sa’ad yang diperbolehkan tinggal adalah puteranya, Hafs, dan seorang budaknya.

Dalam pertemuan 6 orang ini terjadi dialog sebagai berikut:

Imam Husain as: “Hai putera Sa’ad, adakah kamu tidak takut kepada Allah, Tuhan yang semua orang akan kembali kepada-Nya. Kamu berniat memerangiku walaupun kamu tahu aku adalah cucu Rasulullah, putera Fatimah Azzahra, dan Ali. Hai putera Sa’ad, tinggalkanlah mereka (Yazid dan pengikutnya) itu, dan kamu lebih baik bergabung denganku karena ini akan mendekatkanmu dengan Allah.” Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | Tinggalkan komentar

Hari Tasyuâ

Detik-detik masa di padang Karbala terus bergulir. Kamis 9 Muharram Umar bin Sa’ad mendatangi pasukannya dan berseru: “Wahai lasykar Allah, tunggangilah kuda-kuda kalian! Semoga surga membahagiakan kalian.â€‌ [Nasikh Attawarikh juz 44 hal. 291]

Pasukan Umar segera mengendarai kuda dan bergerak ke arah daerah perkemahan Imam Husain as. Saat itu, Imam Husain as sedang dudur tertidur dalam posisi merebahkan kepala di atas lututnya. Beliau terjaga saat didatangi adindanya, Zainab Al-Kubra as yang panik mendengar suara ribut ringkik dan derap kaki kuda.

“Kakanda, adakah engkau tidak mendengar suara bising pasukan musuh yang sedang bergerak menuju kita?!â€‌ Seru Zainab as.

Imam Husain as menjawab: “Adikku, aku baru saja bermimpi melihat kakekku Rasalullah, ayahku Ali, ibundaku Fatimah, dan kakakku Hasan. Mereka berkata kepadaku: â€کHai Husain, sesungguhnya kamu akan menyusul kami.’[Nasikh Attawarikh juz 44 hal. 291] Rasulullah juga berkata kepadaku: â€کHai puteraku, kamu adalah syahid keluarga Mustafa, dan semua penghuni langit bergembira menyambut kedatanganmu. Cepatlah datang kemari karena besok malam kamu harus berbuka puasa bersamaku, dan sekarang para malaikat turun dari langit untuk menyimpan darahmu dalam botol hijau ini.’â€‌ Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | Tinggalkan komentar

Imam Husain as dan Para Pengikut Setianya

Karena Imam Husain as dan rombongannya diberi waktu satu malam, maka pasukan dari masing-masing pihak kembali ke perkemahan masing-masing dengan tenang. Pada malam Asyura itu, adegan-adegan yang semakin memilukan terjadi. Rintih tangis, munajat, doa, pembicaraan, dan puisi-puisi duka dan perjuangan Ahlul Bait mengiringi putaran detik-detik gulita malam sahara Karbala. Tentang ini, Imam Ali Zainal Abidin as putera Imam Husain as antara lain berkisah:

“Saat itu aku sedang menderita sakit. Akan tetapi, aku mencoba mendekati ayahku untuk mendengarkan apa yang beliau katakan kepada para sahabatnya. Aku mendengar beliau berkhutbah dimana setelah menyampaikan ucapan puji dan syukur kepada Allah, beliau berkata: â€کAmma ba’du, sesungguhnya aku tidak pernah mengetahui adanya sahabat yang lebih setia dan baik daripada sahabat-sahabatku, dan tidak pula mengenal keluarga yang lebih taat dan penyayang daripada keluargaku. Maka dari itu, Allah akan memberi kalian pahala…[1] Aku sudah memastikan bahwa aku tidak akan bisa selamat dari (kejahatan) orang-orang itu. Sekarang, kalian aku perbolehkan untuk meninggalkan dan membiarkan aku sendirian melawan orang-orang itu, karena yang mereka inginkan hanyalah membunuhku.â€‌ Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | Tinggalkan komentar

Peristiwa Malam Asyura

Syeikh Mufid meriwayatkan kisah peristiwa malam Asyura dari Imam Ali Zainal Abidin Assajjad as yang menceritakannya antara lain sebagai berikut:

“Pada malam sebelum hari dimana ayahku syahid aku sedang sakit dan dirawat oleh bibiku, Zainab. Tanpa kuduga, tiba-tiba ayahku memasuki kemahku. Saat itu terdapat Jun, seorang budak yang sudah dibebaskan oleh Abu Dzar, sedang membenahi pedang milik ayahku. Saat itu, ayahku sempat melantunkan syair yang mengatakan:

‘Hai zaman, persahabatan bukanlah sesuatu yang abadi, kecintaan tanpa permusuhan bukan sesuatu yang berarti. Cukuplah siang dan malam sebagian dari sahabat menghendaki pembunuhan sambil menyembunyikan permusuhan. Namun, setiap kehidupan pastilah bergerak menuju kematian sebagaimana aku, kecuali Tuhan Yang Maha Agung.[1]

“Begitu mendengar syair ini aku yakin bahwa bencana akan segera tiba dan akan membuat manusia mulia itu pasrah kepada kematian. Karena itu, aku tak kuasa menahan tangis meski aku dapat menahan rasa takut. Namun, bibiku tak kuasa menahannya sehingga dia menangis keras dan membuka kerudungnya sambil beranjak mendekati ayahku dan berkata: Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | Tinggalkan komentar

Perundingan Pertengahan Malam Asyura

Hazrat Zainab as mengisahkan: “Pertengahan malam Asyura aku mendatangi tenda adikku, Abu Fadhl Abbas. Aku menyaksikan para pemuda Bani Hasyim berkumpul mengelilinginya. Abu Fadhl berkata mereka:

“Saudara-saudaraku sekalian, jika besok perang sudah dimulai, orang-orang yang pertama kali bergegas ke medan pertempuran adalah kalian sendiri agar masyarakat tidak mengatakan bahwa Bani Hasyim telah meminta pertolongan orang lain tetapi mereka (Bani Hasyim) ternyata lebih mementingkan kehidupan mereka sendiri ketimbang kematian orang-orang lain…”

“Para pemuda Bani Hasyim itu menjawab: ‘Kami taat kepada perintahmu.’”

Hazrat Zainab juga berkisah: “Dari kemah itu kemudian aku mendatangi tenda Habib bin Madhahir.[1] Aku mendapatinya sedang berunding dengan beberapa orang non-Bani Hasyim. Habib bin Madhahir berkata kepada mereka:

‘Besok, tatkala perang sudah dimulai, kalianlah yang harus terjun terlebih dahulu ke medan laga, dan jangan sampai kalian didahului oleh satupun orang dari Bani Hasyim, karena mereka adalah para pemuka dan junjungan kita semua…’” Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | Tinggalkan komentar

Penuntasan Hujjah

Demi menuntaskan hujjahnya, Imam Husain as kemudian berseru kepada manusia-manusia durhaka itu:

“Hai orang-orang, coba kalian perhatikan kata-kataku. Kalian semua tahu siapa aku dan dengan siapakah nasabku bersambung. Kembalilah kalian hati nurani kalian, niscaya kalian akan mencela diri kalian. Cobalah kalian sadari, apakah maslahat untuk kalian jika kalian membunuhku?! Bukankah aku adalah petera dari puteri Nabi kalian? Bukankah aku adalah putera washi dan sepupu nabi kalian? Bukankah aku adalah putera washi Nabi yang telah beriman sebelum orang lain beriman serta mengakui kebenaran apa yang dibawa Nabi dari Allah? Bukankah Hamzah, pemuka kaum syuhada, adalah paman ayahku? Bukankah Jakfar yang terbang di dalam surga dengan kedua sayapnya itu adalah pamanku? Bukankah tentang aku dan kakakku, Hasan, kalian telah mendengar sabda Rasulullah SAWW: ‘Sesungguhnya keduanya adalah pemuka kaum pemuda penghuni surga’?

“Hai orang-orang, jika kalian mengakui kebenaran kata-kataku, kalian akan pasti mengetahui mana yang hak. Demi Allah, Allah memusuhi para pendusta, dan karenanya aku tidak akan berdusta. Hai orang-orang, seandainya kalian meragukan kebenaran kata-kataku, apakah mungkin kalian meragukan bahwa aku adalah putera dari puteri Nabi kalian? Demi Allah, baik di tengah kalian maupun di tengah orang-orang lain, tidak ada putera dari puteri Nabi selain aku.”

“Alangkah celakanya kalian. Adakah kalian hendak menuntut darahku sedangkan aku tidak pernah membunuh siapapun diantara kalian? Adakah kalian akan meng-qisasku sedangkan aku tidak pernah mengusik harta benda kalian atau melukai seseorang dari kalian?” Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | Tinggalkan komentar

Istighotsah Imam Husain as dan Taubat Hur

Imam Husain as kemudian berdoa: “Ya Allah, janganlah Engkau turunkan air hujan dari langit untuk kaum ini. Azablah emreka dengan kekeringan dan kelaparan seperti pada zaman nabi yusuf. Kuasakan atas mereka nanti Astsaqafi agar mereka merasakan kegetiran karena mereka telah mendustakan kami, menisbatkan kebohongan kepada kami, dan menyia-nyiakan kami.

“Ilahi, kami bertawakkal kepada-Mu. Kepada-Mulah kami dan segala sesuatu pasti akan kembali.â€‌[Lama’aat AlHusain hal.63]

Imam Husain as kemudian mendekati para pengikutnya dan berkata: “Bersabarlah, sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian untuk berperang hingga titik penghabisan. Sesungguhnya kalian semua akan terbunuh kecuali Ali bin Husain.â€‌[Nasikh Attawarikh juz 2 hal.225]

Imam Husain as yang sudah siap bertempur berkata lagi: “Adakah lagi seseorang yang akan menolongku demi mendapatkan keridhaan Allah? Adakah lagi seseorang yang siap membela kehormatan Rasulullah?â€‌ Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | Tinggalkan komentar

Dimulainya Perang Tak Seimbang

Pasukan dari pihak yang hak dan pihak yang batil akhirnya bergerak maju dalam posisi frontal. Dari pihak Imam Husain as, nampak wajah-wajah cemerlang dan berbinar seakan tak sabar lagi untuk berjumpa dengan Yang Maha Kuasa. Mereka siap terbang bahu membahu dan berlomba menuju alam keabadian di sisi Al-Khalik dengan kepakan sayap-sayap imannya yang lebar. Dengan jiwa yang membaja mereka siap mengarungi lautan darah membela kehormatan dan cita-cita mulia Al-Husain as, bintang kejora dari keluarga suci Rasul. Jiwa mereka yang sudah terpatri dalam semangat altruisme telah siap menyongsong kematian yang suci dan sakral sebelum Imam Husain as sendiri meneguk puncak kemuliaan derajat syahadah.

Saat bayangan kecamuk perang sudah nampak di depan mata itu, Hur datang mendekati Imam Husain sambil berkata: “Hai Putera Rasul, saat Ubaidillah menggiringku untuk memerangimu, dan lalu aku keluar dari Darul Imarah aku mendengar suara lapat-lapat dari belakang mengatakan: ‘Berita gembira tentang kebaikan untukmu, Hai Hur.’ Saat aku berpaling ke belakang, aku tak melihat satu orangpun sehingga aku lantas berkata dalam hati bahwa demi Allah ini bukanlah berita gembira karena aku akan pergi untuk memerangi putera Rasul, dan aku tadinya tak pernah berpikir bahwa suatu saat nanti aku akan bertaubat. Baru sekarang aku menyadari bahwa itu memang berita gembira.”

“Hai Husain, aku adalah orang pertama yang berani menghadangmu. Karena itu sekarang perkenankan aku untuk menjadi orang pertama yang akan berkorban untukmu agar di hari kiamat kelak aku bisa menjadi orang pertama yang dapat berjabat tangan dengan Rasulullah SAWW.”[1] Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | Tinggalkan komentar

Banjir Darah Hari Asyura

Untuk sementara kalangan, hari Asyura saat itu adalah hari jihad, pengorbanan, dan perjuangan menegakkan kebenaran. Namun, untuk kalangan lain, hari itu adalah hari pesta darah, hari perang, dan hari penumpahan ambisi-ambisi duniawi. Akibatnya, terjadilah banjir darah para pahlawan Karbala yang terdiri anak keturunan Rasul dan para pecintanya.

Hari itu tanah Karbala sedang diguyur sengatan terik mentari yang mengeringkan tenggorokan para pahlawan Karbala. Hari itu, para pejuang Islam sejati itu satu persatu bergelimpangan meninggalkan sanjungan sejatinya, Husain putera Fatimah binti Muhammad SAWW. Bintang kejora Ahlul Bait Rasul ini akhirnya menatap pemandangan sekelilingnya. Wajah-wajah setia pecinta keluarga suci Nabi itu sudah tiada. Dari para pejuang gagah berani itu yang ada hanyalah onggokan jasad tanpa nyawa. Putera Amirul Mukminin sejati itu melantunkan kata mutiaranya:

Akulah putera Ali dari Bani Hasyim, dan cukuplah kiranya ini menjadi kebanggaan bagiku. Fatimah adalah ibundaku, dan Muhammad adalah kakekku. Dengan perantara kamilah Allah menunjukkan kebenaran dari kesesatan. Kamilah pelita-pelita Allah yang menerangi muka bumi. Kamilah pemilik telaga Al-Kautsar yang akan memberi minum para pecinta kami dengan cawan-cawan Rasul. Tak seorangpun dapat mengingkari kedudukan kami ini.

“Para pengikut kami adalah umat yang paling mulia di tengah makhluk, dan musuh-musuh kami adalah orang paling rugi pada hari kiamat. Beruntunglah hamba-hamba yang dapat berkunjung kepada kami di surga setelah kematian, surga yang keindahannya tak kunjung habis untuk disifati.“[1] Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | Tinggalkan komentar

Musibah Hazrat Qasim as

Pada malam Asyura Imam Husain as telah memberitahu para sahabatnya bahwa mereka besok akan syahid. “Kalian semua besok akan terbunuh.” Ujar beliau. Saat itu, Qasim bin Hasan bin Ali as, seorang remaja rupawan datang menghadap Imam Husain as.

“Paman,” Panggil putera Imam Hasan as itu, “apakah aku juga akan terbunuh?” Pertanyaan ini membuat sang Imam terharu dan segera memeluk erat kemenakannya itu lalu bertanya: “Bagaimanakah menurutmu kematian itu?”

Anak yang baru beranjak usia remaja itu menjawab: “Kematian bagiku adalah lebih manis daripada madu.”[Sugand Nameh hal.284] Mendengar jawaban ini, Imam segera memberitahu: “Kamu akan terbunuh setelah terjadi bencana besar, dan bahkan Ali Asghar pun juga akan terbunuh.” Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | Tinggalkan komentar

Musibah Hazrat Abu Fadhl Abbas as

Dalam riwayat disebutkan bahwa Abu Fadhl Abbas [Ayah Abu Fadhl Abbas adalah Ali bin Abi Thalib as. Ibunya adalah Fatimah AlKilabi, wanita yang lebih dikenal dengan sebutan Ummul Banin. Isterinya adalah Lababah binti Ubaidillah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Lababah mempunyai empat orang putera bernama Ubaidillah, Fadhl, Hasan, dan Qasim, serta seorang puteri. Abu Fadhl Abbas gugur di Karbala saat masih berusia 34 tahun. (Sardar Karbala hal.341)] as adalah pria yang berperawakan tinggi, tegap, dan kekar. Dadanya bidang dan wajahnya putih berseri. Sedemikian elok dan rupawannya fisik Abbas sehingga adik Imam Husain as dari lain ibu ini tenar dengan julukan â€کPurnama Bani Hasyim’ (Qamar bani Hasyim).

Dalam sejarah Abbas juga dikenal sebagai pemegang panji Karbala. Keberaniann, kehebatan, dan kekuatannya saat itu tak tertandingi oleh siapapun. Sebagai manusia yang tumbuh besar di tengah binaan keluarga suci dan mulia, dia memiliki keteguhan dan kesetiaan yang luar biasa kepada kepemimpinan dalam untaian figur-figur utama Ahlul Bait as. Perjuangan di Karbala telah menyematkan namanya dalam sejarah keislaman dan Ahlul Bait Rasul sebagai salah satu pahlawan yang sangat legendaris. Baca lebih lanjut

4 Oktober 2007 Posted by | Tragedi Karbala | 2 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.