بسم الله الرحمن الرحيم

Khalwat/Uzlah

3.jpg

Khalwat/Uzlah/Menyepi

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. Bahwa RasuluLlah SAWW bersabda, “sesungguhnya sebaik-baik penghidupan manusia adalah orang yang mampu memegang kerasnya (kendali kuda) di jalan Allah. Jika mendengar hal yang mengejutkan dan menakutkan, ia tetap berada si atas punggungnya dengan pilihan mati atau terbunuh, atau orang yang mendapatkan harta rampasan perang yang bertempat tinggal di atas gunung atau di dasar jurang yang senantiasa menerjakan salat, memberikan zakat, dan beribadah kepada Tuhan sampai kematian menjemputnya, yang tidak dimiliki orang lain kecuali tetap dalam kebaikan”.

Khalwat adalah merupakan sifat orang sufi. Sedangkan uzlah adalah merupakan bagian dari tanda bahwa seseorang telah bersambung dengan Allah Ta’ala. Seharusnya bagi murid pemula (yaitu orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah) agar uzlah (mengasingkan diri dari bentuk-bentuk eksistensial kemudian di akhir perjalanannya melakukan khalwah (mneyepi) sehingga ifat lemah lembut akan dapat tercapai. Hakikat khalwah adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan Al-Haq yaitu Allah Subhanahu Wata’ala. Ahl demikian dikarenakan khalwah merupakan perjalanan ruhani dari nafsu menuju hati, dan hati menuju ruh dan daru ruh menuju alam rahasia /sirr dan dari alam rahasia menuju Dzat Maha pemberi segalanya.

Hamba yang melakukan uzlah haruslah diniatkan karena Allah Ta’ala dengan maksud dan niatan menjaga keselamatan orang lain dari perangai buruknya. Dan janganlah bermaksud menjaga keselamatan dirinya dari keburukan orang lain. Karena pernyataan yang pertama adalah wujud dari sikap rendah ahti /tawadhu’ sedangkan pernyataan yang kedua adalah menunjukkan sifat sombong yang ada pada dirinya.

Sebagian pendeta ditanya, “Apakah engkau seorang pendeta ?” maka dia menjawab, “Tidak saya hanyalah sebagai penjaga anjing. Jiwaku serupa dengan anjing yang dapat melukai orang lain, karena itu saya harus keluar dari mereka supaya mereka selamat”.

Pada suatu saat ada seorang bertemu dengan orang saleh yang sedang mengumpulkan pakaiannya. Lelaki itu bertanya “Mengapakah engkau kumpulkan pakaianmu. Apakah pakaianku itu najis ?” maka orang tua yang saleh etrsebut menjawab, “tidak, tetapi pakaiankulah yang najis dan aku kumpulkan agar tidak menajiskan pakaianmu”.

Sebagian dari tatacara uzlah adalah untuk memperoleh ilmu yang dibenarkan oleh akidah tauhid. Selain itu untuk memperoleh ilmu syari’at atas dasar kewajiban sehingga bentuk perintahnya menjadi pondasi yang kuat-untuk dilaksanakan. Esensi uzlah adalah menghindarkan diri ari perbuatan tercela. Sedangkan hakikatnya adalah menggantikan sifat yang tercela untuk di isi denagn sifat yang terpuji, bukan untuk menjauhkan diri dari tempat tinggalnya / tanah arinya. Ditanyakan, “Siapak orang yang ma’rifat itu ?” dijawab ,”mereka adalah orang yang selalu berada di tepi jauh, yakni dia selalu bersama orang lain sedangkan hatinya jauh dari mereka”.

Asyaikh Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Berpakaianlah sebagaimana orang berpakaian, makanlah sebagaimana orang makan, dan menyendirilah dengan bersembunyi”. Beliau juga mengatakan, “Suatu hari seseorang datang kepadaku dan bertanya, ‘Saya datang kepadamu dari perjalanan yang sangat jauh ?’. lalu aku jawab cerita ini dengan bukan dengan arti jaarak perjalanan yang terputus dan perjalanan yang melelahkan. Renggagkan jiwamu dengan satu langkah, maka tujuanmu akan tercapai’”.

Diriwayatkan dari Abu Yazid Al Busthami, RA, beliau berkata, “Saya pernah bermimpi bertemu Tuhan, kemudian saya bertanya, ‘Bagaimana caranya agar aku isa bertemu denganNya ?” Dan Ia menjawab, “Pisahkan jiwamu dan bersegeralah datang”.

Abu Utsman Al-Maghribi mengatakan, “Barang siapa ingin meninggalkan masyarakat, selayaknya ia meninggalkan semua ingatan kecuali ingat kepada Tuhan, meninggalkan semua keinginan kecuali mencari ridha Tuhan, dan meninggalkan semua tuntutan hawa nafsu. Jika tidak demikian maka apa yang dikerjakan akan menimbulkan fitnah dan cobaan”. Menurut suatu pendapat, khalwat adalah pekerjaan yang paling dicintai untuk mendorong raa rindu.

Muhammad bin Hamid berkata, “Seseorang bertamu kepada Abu Bakar Al;-Waraq, ketika akan pulang ia meminta kepada Muhammad agar meberi wasiyat kepada dirinya. Abu Bakar Al-Waraq menjawab, “Engkau telah mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat karena engkau selalu menyendiri dan meninggalkan pergaulan masyarakat. Kejelekan dari keduanya terletak pada pencampur adukan dan pembauran”.

Abu Muhammad Al-Jariri ditanya tentang uzlah, dia menjawab, “Uslah adalah masuk ke tempat yang sempit, menjaga rahasia agar tidak terjadi gesek menggesek dan meninggalan keinginan hawa nafsu sehingga hatimu terkait dengan kebenaran”. Ada yang berpendapat, urgensi uzlah adalah menghasilkan kemuliaan.

Menurut Sahal, khalwat tidak dpat dibenarkan kecuali dengan meninggalkan yang haram. Dan meninggalkan barang yang halal juga tidak dibenarkan kecuali dengan melaksanakan hak Allah Ta’ala. Dzunun AL-Mishri berkata, “Saya tidak pernah melihat sesuatu yang dapat menimbulkan sikap ikhlas kecuali kekasihmu adalah khalwat, makananmu adalah lapar, dan pembicaraanmu adalah lapar. Apabila engkau meninggal dunia, engkau selalu bersambung kepada Allah”. Dzunun al-Mishri juga ppernah berkata,”Orang tidak akan terhalang dari makhluk hanya karena khalwat sebagaimana orang tidak orang tidak akan terhalang dari mereka karena mendekatkan diri kepada mereka”.

Menurut Al-Junaid, “Susahnya uzlah lebih mudah dari pada siklus kehidupan bermasyarakat”. Menurut makhul As-Syami, “Jika kehidupan bermasyarakat memperoleh kebaikan, maka uzlahpun juga memberikan keselamatan”. Sedangkan menurut Yahya bin Muadz, “Menggabungkan keduanya merupakan cara yang terbaik bagi orang yang mencari kebenaran”.

Syaikh Abu Ali berkata dengan mengutip apa yang disampaikan Imam As-syibli, “Manusia akan bengkrut dan bangkrut “. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa tanda-tanda orang yang bangkrut wahai Abu Bakar ?”. beliau menjawab, “Tamda orang yang bangkrut adalah orang yang menyakiti orang lain”.

Yahya bin Abu Katsir berpendapat, “Barang siapa yang bergaul dengan orang lain, maka ia akan didekati. Barang siapa yang mendekati orang lain maka ia akan dilihat”. Said bin Harits telah berkata, “Saya pernah mengunjungi Malik bin Mas’ud di kufah. Dia menyendiri di rumahnya. Setelah itu kutanyakan sesuatu kepadanya, ‘Apakah engkau tidak kesepian menyendiri di temapt ini ?’ Dia menjawab, “Saya tidak pernah melihat seseorang kesepian jika dia bersama – sama Allah”.

Al Junaid berkata, “Barang siapa yang hendak menyerahkan agamanya dab menentramkan tubuh dan hatinya, hendaknya ia menjauhkan diri dari orang lain. Masa sekarang adalah masa kesepian. Oleh karena itu, orang yang memiliki akal sehat, tentu akan menyendiri”. Al-Junaid telah mendengar Abu Bakar Ar-Razi berkata, “Abu Ya’qub As-Susi berkata bahwa seseorang tidak akan mampu menyendiri kecuali hanya orang-orang yang kuat. Oleh karena itu orang seperti kita bermasyarakat tentu lebih baik dan lebiih bermanfaat”. Abul Abbas Ad-Danaghani berkata, “Imam Syibli berwasiyat kepadaku, ‘ menyendirilah dan hapus namamu dan menghadaplah ke dinding sampai engkau mati”.

Ada seorang laki-laki datang kepada Syu’aib bin Harb, beliau bertanya , “Apa yang menyebabkan engkau datang kepadaku ?”. dia menjawab, “Agar saya dapat selalu bersamamu”. Kemudain Syu’aib berkata, “Wahai saudara, ibadah tidak akan bermanfaat jika berbaur dengan syirik. Barang siapa yang tidak mencintai Allah, maka ia tidak akan menjumpai sesuatu yang dicintainya”.

Sebagian ulama ditanya, “Apakah yang membuatmu heran / ujub ?”. Dia menjawab, “Keindahan yang dapat mendorong persahabatan. Oleh akrena itu aku selalu takut menyerahkan diriku kepada Allah Ta’ala akan menjadi rusak”. Ulama yang lain juga pernah ditanya, “Apakah di sana ada orang yang mencintaimu ?”. Dia menjawab, “Ya, dia selalau merentangkan kekuasaannya di dalam kiatbnya dan meletakkannya di atas batu”. Dalam konteks seperti ini ada sya’ir :

Kitab-kitabMu ada di sekelilingku

Oleh karena itu jangan kau pisahkan dari tempat tidurku

Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan orang

Yang saya sendiri adalah yang menyembunyikannya

Seorang lelaki bertanya kepada Dzunun Al Mishri, “Kapan saya boleh uzlah ?”. Beliau menjawab, “Jka engkau telah mampu mengasingkan dirimu sendiri”.

Ibnu Mubatrak telah ditanya, “Apa obat hati ?” Dia menjawab, “Meminimalkan pergaulan dengan masyarakat”. Menurut suatu pendapat jika Allah hendak memindahkan seseorang dari kemaksiyatan yang hina menuju kemuliaan ta’at, Allah Ta’ala pasti mencintai dia dengan menyendiri, mencukupi dia dengan menerima, dan memperlihatkan dia segala cacat yang tertanam di dlm jiwanya. Apabila hal tersebut telah diberikan, maka kebaikan dunia danakhirat pasti akan diberikan kepadanya”.

 

Silakan mengutip / mengcopy dengan mencantumkan

WWW.MANAKIB.WORDPRESS.COM

About these ads

22 Mei 2007 - Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah

7 Komentar »

  1. Askum, saya amat memerlukan bantuan dari pihak tuan dan sesiapa agar dapat menyenaraikan nama-nama kitab dan rujukan berkenaan uzlah dan khalwah dalam tasawuf atau tarekat sufi kerana saya ingin tahu golongan yang menyokong dan menentang amalan uzlah dan khalwah… sekian

    Komentar oleh Awang | 13 Januari 2008 | Balas

  2. Beberapa rujukan dapat di lihat pada beberapa kitab yang menyokong amalan uzlah seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, kitab Risalah Al-Qusyairiyah karya Syaikh Abu AL-Qasim Al Qusyairy dan berbagai kitab yang mengajarkan tasawuf. dan tiada perlu diperdebatkan karena amalan tasawuf adalah amalan khusus (khas) bagi orang yang ingin mendalami disiplin ilmu ini. adapun bagi golongan lain tiada diwajibkan mendalami ilmu ini. Jadi ilmu ini lebih besifat pribadi dan tidak umum.

    Komentar oleh masharryy | 14 Januari 2008 | Balas

  3. Saya masih belum berpuas hati dengan jawaban yang diberikan oleh saudara masharryy kerana pada pandangan saya tasawuf itu adalah ilmu yang telah disisih oleh umat islam pada hari ini,kerna ahli-ahli tasawuf tidak berani menyatakannya secara terbuka, mengapa? sedangkan tasawuf itulah satu-satunya ilmu psikologis utk umat islam yang telah ditinggalkan, akibatnya segala ilmu dari orang barat di ambil bagi mengubati jiwa umat islam yang akhirnya merusakkan umat islam itu sendiri…

    Komentar oleh awang | 17 April 2008 | Balas

  4. Menurut hemat saya, tasawuf sebagai disiplin ilmu boleh dipelajari oleh siapa saja, dan itu berdampak baik untuk menyegarkan kembali jiwa/ruh Islam seperti mendalami kitab Ihya Ulumuddin, kitab-kitab lain. Akan tetapi tasawuf sebagai ajaran (Dalam hal ini masuk ke dalam suatu komunitas thariqah) maka hal ini menjadi lebih bersifat pribadi, karena di dalamnya ada beberapa syarat-syarat yang tidak semua orang mahu memenuhinya, seperti Bai’at kepada Syaikh/Mursyid, dan selalu mentha’ati perintah Syaikh. Dan umpama Syaikh memerintahkan untuk melakukan khalwat/uzlah, atau berpuasa untuk beberapa hari, atau berzikir dengan jumlah tertentu atau amalan-amalan lain maka ia harus dengan ikhlas dan suka cita melaksanakannya. Dan sepanjang pengetahuan saya, masuk dalam tasawuf (thariqah) lebih bersifat panggilan hati dan petunjuk Allah, karena terkadang kita dengan bersusah payah mengajak orang lain atau saudara kita untuk bai’at masuk thariqah namun tidak mahu juga. dan terkadang pula kita melihat seseorang yang banyak melakukan perbuatan kriminal, namun karena hidayah Allah maka ia dengan mudah masuk thariqah dan menjadi orang yang baik. inilah yang saya maksudkan tasawuf ini lebih bersifat pribadi. Dan kalau ilmu tasawuf diatakan saat ini telah disisihkan oleh umat Islam menurut saya tidak juga, karena banyak juga jama’ah thariqah semakin berkembang dan banyak pengikut. mungkin komunitas anak – anak muda muda kurang berminat, karena ada beberapa thariqah yang mensyaratkan usia dewasa yang dapat mengikuti bai’at.

    Komentar oleh masharryy | 19 April 2008 | Balas

  5. T.kasih jazakallah diucapkan kpd saudara masharry di atas penjelasan.. saya sebenarnya sekarang ini sedang menyiapkan satu tesis berkaitan konsep khalwah dan uzlah dalam tasawuf.. bagi membela golongan sufi yang dianggap menentang kemajuan , hidup mengasingkan diri dari masyarakat..seperti yang didakwa oleh sebagian orang..kerana itu penjelasan dan bantuan dari sesiapa yang mempunyai pengetahuan yang mendalam dalam hal ini dapat dikongsi pengetahuannya..

    Komentar oleh awang | 19 April 2008 | Balas

  6. Sdr Awang untuk mengetahui pandangan sesiapa yang menentang ajaran yang dimaksud, sdr boleh baca bukunya Hartono Ahmad Jais, Abdulfatah harun, Ihsan Ilahi Dhahir, buku-buku JAKIM di Malaysia, dan banyak lagi. Semoga berhasil

    Komentar oleh Bejo | 27 April 2008 | Balas

  7. terima kasih, jazakallah khairal jaza’ di atas bantuan dari sdr bejo.. insya Allah saya akan cari dan baca buku-buku yg dicdgkan itu..

    Komentar oleh awang | 3 Mei 2008 | Balas


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: