بسم الله الرحمن الرحيم

Dermawan dan Murah hati

Abu Murtsid adalah seorang dermawan yang mulia, pernah mendapat pujian dari seorang penyair. Ketika pujian itu diperdengarkan di hadapannya, dia berkata,” Saya tidak mempunyai sesuatu yang dapat saya berikan kepada tuan. Akan tetapi tuan bisa mengajukan saya di hadapan hakim dengan tuduhan mencuri uang tuan sebesar 100.000 dirham. Saya akan mengakui tuduhan itu. Dengan demikian hakim akan memenjarakan saya dan tentunya keluarga saya tidak membiarkan saya dipenjara. Mereka akan menebus saya dengan memberikan uang ganti rugi kepada tuan,”

Penyair itu benar-benar melakukan saran Abu Murtsid. Dia akhirnya dipenjara, kemudian dikeluarkan setelah keluarganya memberikan ganti rugi kepada penyair. Abu Murtsid selamat dair penjara dan si penyair mendapat uang 100.000 dirham.

Selengkapnya baca di sini.

 

 

 

 

 

 

2 November 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 1 Komentar

Risalah Al Muawwanah 27

Dan wajib bagi kamu apabila engkau dipuji oleh seseorang dan engkau dapati hatimu tidak menginginkan pujian itu, kemudian orang tersebut tetap memujimu atas kebaikan yang ada di dalam dirimu, maka ucapkanlah :

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى أظْهَرَ الْجَمِيْل وَسَتَرَ الْقَبِيْح

Segala puji bagi Alloh yang telah menampakkan kebaikan dan menutup keburukan…..Selengkapnya baca di sini

 

 

 

 

27 Oktober 2010 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Risalah Al-Muawwanah 26

Dan diantara keharusan menolak pemberian adalah jika orang yang memberi tersebut adalah orang zalim yang berlarut-larut dalam kezalimannya, sehingga engkau khawatir apabila engkau menerima pemberian itu maka hatimu akan condong kepadanya. Atau bersangatan persangkaanmu apabila engkau menerima pemberian mereka maka engkau tidak akan dapat menyampaikan kebenaran kepada mereka. Dan termasuk kewajiban untuk menolak adalah apabila enkau mengetahui bahwa maksud pemberiannya itu adalah untuk menyesatkanmu dari jalan Alloh SWT dengan memasukkan rasa senang ke dalam hatimu pada kebatilan atau meninggalkan kebenaran (perkara yang haqq).

Baca Selengkapnya klik di sini

20 Oktober 2010 Posted by | Risalah Al-Muawwanah | Tinggalkan komentar

Akhlak

Menurut Muhammad Al-Kattani akhlak tercermin dalam sikap sufi. Artinya tasawuf adalah akhlak yang menjadi bekal dalam kebersamaanmu dengan Alloh.
Fudhail bin Iyadh berkata, “Seandainya seorang hamba memperbaiki semua kebaikannya sementara dia mempunyai seekor ayam lalu memperlakukannya dengan tidak baik, maka dia bukanlah seorang yang berakhlak.
Selengkapnya baca di sini

 

 

 

 

 

13 Oktober 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

Firasat

Alloh SWT berfirman :

إنّ في ذلك لآيةٍ للمتوسمين

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda,(QS Al-Hijr 75)

RasuluLloh SAWW bersabda, :

اتّقوافراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله

Takutlah kalian dengan firasat orang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Alloh“.

Ustadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Firasat adalah suara bathin yang masuk ke dalam hati dan meniadakan kontradiksi. Setiap suara hati memiliki nilai hukum yang menguasai hati. Kata firasat merupakan pecahan dari kata farasa yang mengandung makna menerkam atau memburu. Farisah as-sabu’u memiliki makna terkaman binatang buas. Akan tetapi makna pembandingnya tidak bisa diartikan dalam konteks hati secara apa adanya. Keberadaannya mengukuti kualitas iman. Setiap orang yang imannya lebih kuat, pasti firasatnya lebih tajam.”

Baca selengkapnya di sini

6 September 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

KEMERDEKAAN

اللّه SWT berfirman,

“وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةْ

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam keadaan kesusahan’” (Al-Hasyr 9)

Artinya, orang-orang Anshar mengutamakan orang-orang Muhajirin atas mereka sendiri untuk memurnikan dari apa yang mereka keluarkan.

Ibnu Abas RA. Menuturkan sabda َسُوْلُ اللّه SAWW yang mengatakan :

اِنَّمَا يَكْفِى أَحَدُكُمْ مَاقَنَعَتْ بِهِ نَفْسُهُ وَإِنَّمَا يَصِيْرُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَذْرَعٍ وَشِبْرٍ وَإِنَّمَايَرْجِعُ إِلَى آخِرِهِ

“Sesungguhnya seseorang dari kalian mencukupkan dengan apa yang menjadi kepuasan nafsunya, sampai menjadi empat hasta dan satu jengkal serta segala perkara kembali pada kesudahannya (akhirnya).”

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan,”Sesungguhnya makna kemerdekaan/kebebasan dibatasi dalam ketiadaan seorang hamba dibawah pengaruh perbudakan makhluk, tidak dikendalikan penguasa yang mengatur alam (para raja atau presiden) dan tanda sahnya kemerdekaan dibuktikan dengan kegugurnya sifat yang membedakan dari hatinya diantara hal-hal (yang menjadi pilihannya). Bagaimana semua posisi yang menghadangnya adalah sama”.

Haritsah RA pernah mengatakan pada َسُوْلُ اللّه SAWW, “Jiwaku zuhud dari dunia. Bagiku tidak ada bedanya antara batu dan emas”. Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Barang siapa menghinakan dunia, maka dia bebas darinya, dan jika berpindah menuju kampung akhirat maka dia juga bebas darinya”. Beliau juga mengatakan bahwa orang yang bebas dari dunia maka akhirat kelak juga bebas darinya”.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaaq mengatakan, “Ketahuilah bahwa hakikat kemerdekaan terletak dalam kesempurnaan penghambaan. Jika penghambaannya benar untuk اللّه, maka kemerdekaannya bersih dari perbudakan sesuatu yang berubah. Adapun orang yang berangan-angan bahwa dirinya dipasrahkan hanya kepada-Nya dengan melepaskan semua waktu untuk ibadah dan menyatukannya dengan lrikan-Nya dari batasan amar makruf nahi munkar maka dia termasuk orang yang mengerti dalam membedakan beban-beban hukum. Demikian itu menjadikannya terlepas dari dua dunia”.

اللّه SWT berfirman,

“وَاعْبُدْ رََّكَ حَتَّى يَأتِيَكَ الْيَقِيْنُ

“Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang keyakinan padamu” (Al-Hijr 99)

Yakni kematian. Penafsiran ini lebih disepakati para ahli tafsir.

Tanda kemerdekaan bagi seorang hamba diantaranya adalah ketiadaan hatinya di bawah penghambaan makhluk, kepentingan-kepentingan dunia dan tujuan-tujuan akhirat. Dirinya adalah dirinya. Tidak satupun keduniaan yang bersifat sementara mampu memperbudaknya, tidak juga keinginan, angan-angan, permintaan, tujuan, harapan, dan keuntungan. Dirinya bebas dari semua itu. Dalf As-Syibli pernah ditanya, “Tidakkah engkau tahu bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pengasih ?” lalu dijawab,”Benar semenjak saya mengetahui sifat kasih sayang-Nya, saya tidak lagi meminta dia untuk mengasihi saya. Maqam kemerdekaan amatlah mulia”.

Abul Abbas As-Sayyari berkata, “Seandainya shalat tanpa bacaan Al-Qur’an sah, maka sah pula gubahan syair ini :

Saya berangankan suatu kondisi

Berada dalam suatu zaman

Yang engkau akan melihat dua biji mata saya

Sebagai kemerdekaan yang terbit

Banyak pendapat para guru sufi tentang makna kemerdekaan diantaranya adalah pendapat Husain bin Manshur yang mengatakan, “Barang siapa menghendaki kemerdekaan, maka teruslah dalam penghambaan (kepada اللّه)”.

Imam Al-Junaid ditanya tentang orang yang tidak terpengaruh oleh dunia melainkan seukuran isapan satu biji-bijian terkecil, lalu dijawab, “Seorang budak juga tidak terpengaruh oleh keberadaan dirham. Sesungguhnya kau tidak akan sampai pada makna kemerdekaan sementara hakikat penghambaan yang menjadi tanggunganmu masih tersisa (terpengaruh kepentingan).

Bisyir Al-Hafi berkata, “Barang siapa menginginkan kelezatan makanan kebebasan dan terbebas dari perbudakan, maka sucikanlah rahasia yang berada diantaradirinya dengan اللّه”.

Husain Al-Manshur juga pernah mengatakan, “Jika seorang hamba mengambil hak beberapa maqam penghambaan secara keseluruhan yang menjadikannya bebas dari kepayahan penghambaan, maka kerjakan fungsi penghambaan dengan tanpa tekanan dan beban. Itu adalah maqam para Nabi SAWW dan orang-orang yang ahli kebenaran. Artinya, menjadi orang yang terbebani namun merasa tidak terbebani dan hatinya tidak diliputi rasa berat (karena penghambaannya kepada اللّه), meski hukum syariat pada kenyataannya membemani yang demikian”.

Manshur Al-Faqih membacakan syair :

Tidakkah tersisa pada diri manusia

Kebebasan, dan tidak juga pada jin

Telah berlalu kebebasan dua golongan

Maka mereka menghiasi hidup dengan kepahitan

Ketahuilah bahwa sesungguhnya sebagian besar kebebasan terdapat dalam pemberian pelayanan pada orang-orang faqir. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Alloh memberikan wahyu kepada Nabi Dawud AS, ‘Jika kamu melihat-Ku dengan pencarian, maka jadikanlah dirimu sebagai pelayan-Ku’”.

RasluLlah SAWW bersabda :

سيّدُالْقوْمِ خادمهم

“Tuan bagi suatu kaum adalah yang menjadi pelayan bagi mereka”.

Yahya bin Mu’adz mengatakan, “Anak-anak dunia adalah orang yang dilayani para budak dan pelayan, sedang anak-anak akhirat adalah orang-orang yang dilayani kelompok orang merdeka lagi orang baik”.

Ibrahim bin Adham mengatakan, “Sesungguhnya kebebasan yang mulia adalah keluar (terbebasnya diri) dari penghambaan dunia sebelum dunia meninggalkannya”. Dia juga mengatakan, “Jangan berkawan kecuali kepada orang yang bebas (merdeka) lagi mulia. Mendengarlah dan jangan berbicara”.

6 September 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 1 Komentar

Jalan menuju Alloh sebanyak hitungan nafas makhluk

06/09/2010 4:35:57

ما من نفس تبديه الاّ وله قدر فيك يمضيه

Tiada satu nafaspun yang keluar dari diri manusia melainkan berasal dari pemberian Alloh SWT bukan dari manusia itu sendiri. Dan dari tiap-tiap nafas yang mengalir tersebut terdapat takdir / kepastian Alloh terhadap diri kita, adakalanya berupa keta’atan, atau maksiyat, atau ni’mat atau ujian.

Maka setiap nafas yang terjadi pada diri manusia itu merupakan tempat/cawan bagi takdir Alloh Yang Maha Haqq. Dan sepatutnya kita senantiasa menjaga adab/tatakrama kepada-Nya.

Dan kiranya inilah makna ucapan para ulama :

الطرق الى الله بعدد أنفاس الخلق

Jalan kepada Alloh sebanyak hitungan nafas para makhluk.

Dan bukankah tiada sesuatupun yang terjadi di dunia ini melainkan ada peran serta Alloh di dalamnya, tidak terkecuali nafas kita. Dan manakala nafas itu berlalu, maka saat itu juga waktu juga berlalu, dan umur kita juga berlalu tanpa bisa kembali lagi ke zaman dahulu. Oleh karena itu sayang sekali jika perbendaharaan yang tiada ternilaih ini dilewatkan begitu saja tanpa membawa makna penghambaan diri kehadirat Alloh SWT.

Dari itulah beberapa thariqah mengajarkan kepada kita zikir hifzul anfas, yaitu zikir menjaga nafas kita agar tidak berlalu dengan sia-sia, antara lain dengan melafalkan kalimat هو (Hu/Dia) ketika menarik nafas dan melafalkan lafaz لله ketika melepaskan nafas (dan itu dilakukan dengan zikir sirr/tersembunyi tidak terucap di lidah tetapi mengalir di dalam hati). Dan tentu saja lebih sempurna jika dilakukan dibawah bimbingan seorang syaikh thariqah.

6 September 2010 Posted by | Al-HIkam | 7 Komentar

Do’a hanya untuk melahirkan rasa butuh kepada-Nya

Senin, 06 September 2010
طلبك منه اتّهام له وطلبك له غيبت منك له وطلبك لغيره لقلت حيائك منه
Permintaanmu kepada-Nya (untuk memperoleh apa engkau inginkan) adalah kekhawatiran dan keraguanmu terhadap-Nya, dan pencarianmu kepada-Nya menunjukkan kehilanganmu terhadap-Dia, dan permintaanmu untuk sesuatu selain-Nya berarti sedikitnya rasa malu dirimu kepada-Nya
Yakni sesungguhnya seorang murid (yang sedang berproses mendekatkan diri kepada Alloh melalui bimbingan seorang guru), hendaklah menyibukkan diri di tengah perjalanannya dengan sesuatu yang dapat mendekatkan dirinya kepada Alloh SWT, dengan melaksanakan berbagai amal shaleh, dan tidak menyibukkan hatinya untuk mencari sesuatu yang lain karena sesungguhnya yang demikian ini tercela dan dapat menjadi sebab terputusnya perjalanan menuju Alloh. Karena sesungguhnya permintaanmu kepada-Nya agar Dia memberimu makanan atau rizki yang kamu harapkan dapat menguatkan dirimu dalam perjalanan menuju kepada-Nya apalagi keinginanmu mendapatkan lebih dalam hal rizki, sebenarnya yang demikian itu adalah kekuatiran (keraguan) dirimu kepada-Nya bahwa Dia tidak akan memberimu rizki. Karena sesunguhnya apabila kamu yakin kepada-Nya didalam menyampaikan kemanfaatan dan kebaikan kepada dirimu meski tanpa engkau minta, dan engkau yakin bahwa Dia lebih mengetahui akan kebutuhanmu, niscaya Dia mampu menyampaikan semua itu kepada dirimu tanpa engkau minta sekalipun.
Dan pencarianmu kepada-Nya dengan mencari kedekatan terhadap-Nya, dan keinginan hilangnya hijab / tirai yang menghalangi antara dirimu dengan-Nya sehingga engkau bisa menyaksikan-Nya dengan mata hatimu, itu menunjukkan kehilangan pandanganmu atas-Nya. Karena sesungguhnya apabila sesuatu itu hadir tidaklah ia memerlukan pencarian.
Dan permintaanmu kepada-Nya untuk (nendapatkan) sesuatu selain-Dia berupa beberapa macam harta benda dunia dan kemewahannya, dan beberapa keistimewaan semacam karomah, mukasyafah (terbukanya tirai), ahwal (beberapa kondisi spiritual) dan maqamat (beberapa kedudukan), semua itu menunjukkan sedikitnya rasa malu dirimu kepada-Nya. Karena jika engkau memiliki rasa malu kepada-Nya, niscaya engkau tidak akan menoleh kepada yang lain ataupun mencari sesuatu selain-Dia.
Dan permintaanmu kepada selain-Dia dengan menyandarkan diri kepada manusia didalam mendapatkan sesuatu harta benda dunia yang disertai rasa lalai terhadap Tuhannya, yang demikian itu menunjukkan jauhnya dirimu dari-Dia. Karena jika engkau dekat dengan-Nya, niscaya yang lain pasti jauh darimu. Demikian pula jika engkau menyaksikan dekat-Nya Dia denganmu, niscaya sudah mencukupimu dari kebutuhanmu kepada sekalian makhluk-Nya.
Oleh karena itu semua jenis meminta-minta bagi seorang murid pada hakekatnya kurang dibenarkan baik itu ditujukan kepada Al-Haq apalagi kepada makhluk kecuali permintaan itu dilakukan untuk sarana media beribadah kepada-Nya dan untuk memelihara etika dan tatakrama kepada-Nya dan untuk melahirkan rasa butuh kepada-Nya.

Adapun orang ‘Ariif, maka mereka tiada melihat selain hanya Alloh Ta’ala semata, yang mereka cari secara hakikat bukan dari makhluk meskipun secara lahiriah yang mereka dapatkan adalah melalui perantaraan makhluk.

6 September 2010 Posted by | Al-HIkam | 2 Komentar

PRAWIRA

Alloh SWT berfirman :

انّهم فتية آمنوا برّبهم وزدناهم هوداً

Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk “. (QS : Al-Kahfi 13)

RasuluLloh SAWW bersabda :

لا يزالُ الله تعالى في حاجة العبد مادام العبد في حاجة أخيه المسلم

Alloh Ta’ala senantiasa memenuhi kebutuhan hamba selama hamba tersebut memenuhi kebutuhan saudara muslimnya.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Asal sifat prawira atau pemuda yang satria adalah keberadaannya yang senantiasa dalam urusan saudaranya. Beliau berkata, “Kesempurnaan akhlak semacam ini tidak ada yang memiliknya selain RasuluLlah SAWW. Setiap orang pada hari kiyamat akan  mengatakan “diriku….diriku…” sementara Nabi kita mengucapkan “Umatku…umatku..”

BACA SELENGKAPNYA DI SINI

22 Agustus 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 1 Komentar

MENJAGA HATI PARA GURU

Alloh berfirman menerangkan kisah Nabi Musa AS bersama Nabi Khidir AS :
قال له موسى هل أتبعك علَى ان تعلمني مما علمْت رشدا
Musa berkata kepada Khidir ,, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?” (QS Al-Kahfi 66)

Berkata Imam al Junaid, Ketika Nabi Musa AS ingin bersama Nabi Khidir AS, maka Nabi Musa AS disyaratkan untuk menjaga kesopanan yang telah disepakati dengannya. Syarat ini berkaitan dengan permintaan izin Nabi Musa AS untuk diperbolehkan bersahabat dengan Nabi Khidir AS, kemudian Nabi khidir AS memberikan syarat kepada Nabu Musa AS utuk tidak menentang atau memprotes keputusannya.

Selengkapnya baca di sini

18 Agustus 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | 3 Komentar

CEMBURU

Alloh berfirman :

قل انّماحرّم ربّي الفواحش ما ظهر وما بطن

“Katakanlah , Tuhanku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi”. (QS Al-A’raf 33)RasuluLlah SAWW bersabda :

ما احد اغير من الله تعالى ومن غيرته حرّم الفواحش ما ظهر منها وما بطن

“Tiadalah seseorang yang lebih cemburu dari Alloh. Termasuk kecemburuannya adalah mengharamkan perbuatan yang keji baik yang tampak maupun yang tersembunyi”.Sabda Beliau yang lain :

انّ الله يُغار وإنّ المؤمنين يغار وغيرة الله تعالى أن يأتي العبد المؤمن ما حرّم الله تعالى عليه

“sesungguhnya Alloh cemburu dan orang mukmin cemburu. Kecemburuan Alloh adalah jika seorang hamba yang beriman melakukan perbuatan yang diharamkan Alloh Ta’ala”.Ustadz Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Cemburu adalah kebencian terhadap keikut sertaan orang lain”. Jika Alloh telah cemburu artinya Alloh tidak rela keikut sertaan selain-Nya yang berhak ditaati hamba-Nya.

Selengkapnya klik di sini

18 Agustus 2010 Posted by | Risalah Al-Qusyairiyah | Tinggalkan komentar

Sifat sifat orang Munafik*(al Imam Jakfar Shodiq salam Allah atasnya)

Org munafik itu rela jika dia jauh dari rahmat Allah swt. Dia mengamalkan amalan lahiriah sejalan syariat,namun hatinya lalai,ceroboh dan tdk mengakui kebenarannya n mengolok oloknya.
Tanda kemunafikan itu adalah tdk peduli dengan banyaknya dusta, khianat, licik, membuat banyak pernyataan palsu, khianat mata, perangai kasar, pandir, tidak mempunyai rasa malu, menganggap remeh kemaksiatan, menginginkan orang orang beriman kehilangan iman mereka, menganggap ringan musibah yg berkenaan dengan agama, sombong, senang pujian, kedengkian, mengutamakan dunia atas akhirat, lebih memilih keburukan dari kebaikan, suka mengadu domba, suka berlengah lengah, suka berurusan dengan orang fasik, membantu orang jahat, berpaling dari kebaikan, menghina orang-orang yg berbuat kebaikan, menganggap baik kejahatan yg dilakukan, menganggap buruk kebaikan yg dilakukan orang lain, merendahkan diri terhadap orang kaya, merendahkan diri terhadap orang yg berkuasa-dholim, dan banyak lagi yg serupa dengan itu.

Allah telah menyebutkan sifat-sifat kaum munafik di beberapa tempat dalam kitabnya. Dia berfirman: ‘dan diantara manusia ada yg mengabdi kepada Allah secara setengah setengah, apabila dia mendapat kebaikan, dia merasa tenteram, sedangkan apabila dia mendapat musibah, dia kembali atas wajahnya (mjd kafir), dia rugi di dunia dan di akhirat, itu adalah kerugian yg nyata (QS 22:11), juga …’dan diantara manusia ada yg mengatakan kami telah beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka bukanlah orang orang yg beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang orang yg beriman, namun mereka tdk menipu kecuali diri mereka sendiri, sementara mereka tdk menyadari. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit lagi pada mereka’(QS 2:8-10), Nabi saw bersabda, “Orang munafik itu apabila dia berjanji dia mengingkari, apabila dia berbuat dia bertindak jahat, apabila berkata dia berdusta, apabila diberikan amanat dia berkhianat, apabila diberi rizki dia melanggar, dan apabila tdk diberi dia menonjol nonjolkan kehidupannya”, beliau juga bersabda “Barangsiapa yg batinnya bertentangan dengan perilaku lahirnya, maka dia adalah munafik, siapapun dia,di manapun adanya,pada zaman apapun dia hidup dan dalam peringkat manapun dia berada’, juga bersabda ‘orang beriman makan untuk mengisi satu perut sedangkan orang munafiq untuk tujuh perut’.

Naudzubillah betapa banyaknya kita (maaf saya) masih memiliki sebagian atau semua tanda tanda kemunafikan semoga kita diberi kesempatan dan diberi kekuatan olehNya agar terlepas dari kemunafikan yang tampak (lahiriah) maupun yg tidak tampak (batiniah), hanya Allahlah yang Maha bekuasa atas segala sesuatu.

10 Mei 2010 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Penemu Sungai Dalam Laut Itu Pun Masuk Islam

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Baca selengkapnya klik gambar di bawah ini

17 Maret 2010 Posted by | Uncategorized | 3 Komentar

Kemerdekaan


اللّه SWT berfirman,

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةْ

“dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) tas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam keadaan kesusahan’” (Al-Hasyr 9)

Artinya, orang-orang Anshar mengutamakan orang-orang Muhajirin atas mereka sendiri untuk memurnikan dari apa yang mereka keluarkan.

Ibnu Abas RA. Menuturkan sabda َسُوْلُ اللّه SAWW yang mengatakan :

اِنَّمَا يَكْفِى أَحَدُكُمْ مَاقَنَعَتْ بِهِ نَفْسُهُ  وَإِنَّمَا يَصِيْرُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَذْرَعٍ وَشِبْرٍ  وَإِنَّمَايَرْجِعُ إِلَى آخِرِهِ

“Sesungguhnya seseorang dari kalian mencukupkan dengan apa yang menjadi kepuasan nafsunya, sampai menjadi empat hasta dan satu jengkal serta segala perkara kembali pada kesudahannya (akhirnya).”


Baca selengkapnya di sini

18 Februari 2010 Posted by | Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani | 1 Komentar

ZIKIR


اللّه SWT Berfirman

ياأيّهاالذيْن أمنوااذْكراللّه ذكرا كثيْرا
Yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada اللّه dengan ingatan (zikir) yang banyak”. (Al-Ahzab 41)
َسُوْلُ اللّه SAWW bersabda :

ألا أنبّئكم بخير أعمالكم وأزْكاها عند ملككم وارفعها في درجاتكمْ وخير منْ إعطاءالذّهب والورق وأنتلقوا عدوّكم  وتضْربوا أعْناقهم ويضْربوا أعْناقكم قالوا ماذاك يارسول اللّه قال ذكراللّه

Artinya ”Ingatlah, akan aku beri tahu kalian tentang sebaik-baik amal kalian, paling suci dari amal kalian di sisi Raja kalian, dan paling tinggi untuk derajad kalian, dan lebih baik daripada pemberian emas dan perak, ataupun daripada engkau bertemu musuh kalian sehingga kalian memukul leher mereka atau mereka memukul leher kalian ?” Para Sahabat bertanya, ”Apa itu wahai َسُوْلُ اللّه ?.

Beliau menjawab, ”ZikruLlah”.

Selengkapnya baca di sini

11 Februari 2010 Posted by | Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani | 5 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.